Sisa Rasa
“Iya, Pa. Mama tunggu di rumah.”
Telepon ditutup. Ruang keluarga yang biasanya hangat terasa sunyi. Mama Selin menutup wajahnya dengan kedua tangan, berdoa lirih di sela isak tangis yang tak bisa lagi ditahan.
Diwaktu yang sama, Dika menghubungi Rendra ketika ia baru saja menyelesaikan rapatnya.
Ponselnya bergetar. Lalu mengangkatnya.
“Hallo Ren, maaf aku mengganggu ?”