Aku Ingin Kau Jadi Milikku
Papan kapur besar, berdiri sendirian, seolah memanggil.
Vin pun berhenti.
Ia memiringkan kepala sedikit, mengamati. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengenali kualitas dalam setiap garisnya. Gaya tulisan itu bukan sekadar estetika—itu bercerita. Warna-warnanya berani tapi tidak norak. Komposisinya punya kepercayaan diri yang jujur, bukan dibuat-buat.
Ia mendekat dan menyentuh papan itu pelan, ujung jarinya menyusuri tepian garis. Rasanya seperti menemukan sesuatu yang langka—bukan karena sempurna, tapi karena jujur.