Dulu ada seseorang yang selalu membuat jantungku berdegup kencang setiap kali tersenyum. Aku menyimpan semua momen bersamanya seperti kolektor memelihara barang berharga—setiap obrolan singkat di kantin, setiap tawa yang terlempar saat kerja kelompok, bahkan cara dia mengikat rambutnya dengan karet yang selalu putus. Tapi seperti cerita klasik, perasaanku hanya berlabuh di satu sisi. Awalnya kupikir ini hanya fase, sampai suatu hari dia bercerita tentang gebetan barunya dengan mata berbinar. Aku tersenyum, mendengarkan, sementara tangan di saku mencengkram pulpen sampai retak.
Yang paling menusuk justru ketika dia meminta nasihat 'cinta' dariku. Aku menjadi semacam dewa penolong romantisnya, membantu menyusun pesan untuk orang lain. Ironi itu terasa seperti pisau tumpul—luka yang tak cukup dalam untuk berdarah, tapi cukup sakit untuk membuatku terjaga di malam hari. Sekarang, setelah bertahun-tahun, aku bisa tertawa melihat kebodohan masa lalu itu. Tapi kadang, saat mendengar lagu tertentu atau mencium aroma parfum yang mirip miliknya, dadaku masih bergetar sebentar.