I Saed Lupyu
teriakku, melanjutkan ucapan sebelumnya yang sempat tertunda, yang pada kenyataanya, bukan kata itulah yang seharusnya keluar dari mulutku.
Dia mengangkat satu tangannya yang mengepal, memberi tanda bahwa dia datang untukku. Bibirnya merekah lebar. Aku bisa melihat aliran semangat yang Sae pancarkan dari raut mukanya.
Tanpa membuang waktu lagi, kutarik kembali standing mic dan siap kembali memulai pidato. Namun, ketika aku baru saja akan memulai, salah satu juri mengangkat kedua tangan di depan wajahnya dengan membentuk pola X, yang artinya waktuku untuk berpidato sudah habis.
Hot Chapters