Rahasia Memalukan Bersama Ayah Muridku
Di tengah padatnya jam sibuk pagi hari di dalam kereta, dengan mata yang memerah, aku terdesak oleh lautan manusia hingga ke sudut gerbong dan ikut terhuyung mengikuti laju kereta.
Sosok tubuh pria yang terasa hangat menempel begitu erat di tubuhku, sementara hembusan napasnya sesekali terasa menyapu lembut di telingaku.
Yang lebih parahnya lagi, aku bisa merasakan dengan sangat jelas sebuah benda keras yang terhalang oleh kain rok tipisku, berulang kali bergesekan dan membentur area sensitifku.
Benturan itu membuat kakiku terasa lemas. Gemetar reflek dari tubuhku tampaknya malah memicu desahan napas tertahan dari pria itu, yang perlahan mulai meruntuhkan akal sehatku.
Awalnya kupikir, begitu melangkah keluar dari gerbong itu, perasaan yang membuatku hilang kendali ini bisa kutinggalkan sepenuhnya di masa lalu.
Namun, semua berubah ketika pria itu kembali muncul di hadapanku dan mulai berbicara dengan suaranya yang serak.
Barulah aku menyadari, sejak mencicipi momen yang begitu mendebarkan, sepertinya diriku tak bisa lagi benar-benar lepas darinya.