RUSAK
Safa tersenyum, lebih tepatnya meringis.
"Lebih baik mampir di kafe ku, yuk?" Safa menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Safa hanya punya uang untuk makannya selama sebulan ini, itupun ia dapatkan dari sisa uang beasiswa semester terakhir. Cukup untuk menyambung hidup dengan menu makan sederhana, biaya skincare juga perlu, belum lagi jika ada keperluan mendadak. Sayang sekali jika uangnya terpakai untuk bersantai di kafe yang jelas tak akan membuatnya kenyang.
Hot Chapters