Ketika Cinta Menemui Titik Jenuh, Hati Pun Berubah
"Semua orang tahu kamu ini cewek penjual nasi goreng di pasar malam, cinta pertama yang menemani Neo si gila itu melewati tiga tahun masa terpuruknya. Dia menganggapmu lebih penting daripada nyawanya."
"Aku bisa saja membantumu pura-pura mati dan meninggalkannya, tapi risikonya terlalu besar. Aku dapat keuntungan apa?"
Musuh bebuyutan Neo, Cedric, menyesap sedikit alkohol. Tatapannya ke arah Helen penuh ejekan.
"Imbalannya adalah sesuatu yang selalu kamu inginkan, 30% saham Keluarga Winata atas namaku." Suara serak Helen terdengar tenang, seolah-olah sedang membicarakan diskon supermarket. "Syarat tambahannya, sebelum aku pergi, kamu atur satu operasi aborsi lagi untukku."
Dua kalimat itu membuat lawannya langsung terdiam karena kaget. Tatapan mengejeknya seketika lenyap, hanya tersisa keterkejutan.
"Kamu gila ya? Belakangan ini di samping Neo memang ada burung kecil baru, katanya mantan tunangannya. Keluarganya bangkrut, lalu dia beralih jadi wanita penghibur."
"Tapi di lingkaran keluarga kaya, siapa yang nggak punya simpanan yang dimanja? Dia juga nggak bisa mengancam posisimu sebagai Nyonya Winata, kenapa kamu harus peduli?"