Aku Dan Tuan Duke
Pria itu bertandas pada sebuah tongkat kayu mahal untuk menyeimbangkan tubuhnya dari kaki kiri yang pincang.
Suara deburan api di tungku menderu-deru. Pegawai-pegawai sibuk melempar-lempar bongkahan kayu-kayu ke dalam perapian. Hawa di sini sedikit panas, tapi aku tidak pernah keberatan. Mungkin karena aku juga ada di ruang terpisah yang lebih tenang. Kami ada di bagian atas, dengan sebuah jendela kaca yang besar. Suara melengking tumbukan alat-alat besi terdengar samar. Dari sini aku dan ayah bisa melihat jelas semua orang. Mulut-mulut tungku yang berkobar, orang-orang yang meniupi gumpalan kaca cair panas yang menyala-nyala dari sebuah pipa besi panjang, dan orang-orang yang menyusun berke