SENDIAKALA
Wajah itu terlalu dikenal bagiku, tak lain adalah Wangsa Satya.
Dada ku langsung terasa sesak dan mengeras, seperti ada batu yang tertanam di dalamnya. Tatapan kami bertemu sebentar, tidak ada senyum, tidak ada kata, hanya pandangan yang penuh dengan emosi yang sulit diucapkan. Mbak Aiza mengikuti arah pandang ku dan segera mengenali pria itu, kemudian melangkah kecil mendekat dengan senyum sopan.
Hot Chapters