TARO
ia melirik tanganku yang masih sibuk menggerus obat yang memang sudah hampir halus.
“Ini sudah halus, kan?”
“Iya, sudah.” Kepala Aksa ikut mengangguk. “Ayo kita makan.” Ajaknya.
Kami makan dalam keheningan. Aku yang menikmati Soto Babat, dan dia yang sok sibuk dengan laptopnya sembari menyambi makan serta kecanggungan yang meliputi untuk memulai pembicaraan. Maksudku, aku sudah menjudge-nya di awal dan ternyata simbiosis yang ia berikan benar-benar merupakan simbiosis mutualisme. Setidaknya, tinggal di apartemennya yang so tumblr ini saja sudah sangat cukup membantuku melupakan kejadian beberapa jam yang lalu.
Hot Chapters