Pembalasan Untuk Suami Mati Palsu
Saat kabar kematian suami asuh itu datang, aku tidak menangis dan tidak buat keributan. Aku justru segera menarik kembali saham miliknya dan mengurus surat kematian.
Aku melakukan semua itu karena aku telah terlahir kembali.
Di kehidupan sebelumnya, ayah khawatirkan aku, putri keluarga terkaya akan menderita setelah menikah. Sehingga beliau memilihkan tiga orang suami asuh, lelaki yang sejak kecil dibesarkan untuk menjadi pendampingku.
Dari ketiganya, aku memilih Kevin yang paling menonjol untuk jadi suamiku, tetapi baru tiga hari setelah pernikahan, dia tiba-tiba meninggal mendadak.
Dalam kesedihan, atas bujukan dua orang lainnya, aku memadamkan niat untuk menikah lagi dan menjalani hidup sebagai janda hingga akhir hayat.
Namun, pada usia 80 tahun, ketika aku kembali ke Provens, tempat kenangan cinta kami, aku justru melihat Kevin yang telah mati 60 tahun lalu.
Dia hidup bersama pengasuhku yang dulu menghilang, dikelilingi anak dan cucu dan menikmati kehidupan yang begitu bahagia.
Aku menyadari telah ditipu seumur hidupku. Amarah membuat pandanganku menggelap, lalu aku meninggal akibat pendarahan otak.
Ketika kembali membuka mata, aku mendapati diriku telah kembali ke hari saat kabar kematiannya pertama kali datang.
Aku ingin melihat sendiri bagaimana seorang mayat tanpa nama dan identitas bisa terus hidup.