Share

Petaka Jadi Janda
Petaka Jadi Janda
Author: Rintik Riani

Talak

Author: Rintik Riani
last update publish date: 2026-09-01 12:10:26

Di dalam masjid, para jamaah duduk khidmat mendengarkan ceramah seorang pria. Suara mikrofon menggema memenuhi ruangan.

“Jadi, Bapak-bapak jamaah sekalian, Rasulullah itu sangat memuliakan istrinya...” ucap pria yang mengenakan jubah putih itu.

Kalimat tersebut seketika membuat salah satu jamaah wanita terdiam. Untuk sesaat, pikirannya terasa hening. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat. Matanya menatap lurus ke arah sosok pria yang sangat ia kenali, lebih dari siapa pun yang berada di masjid itu. Pria dengan wajah berseri dan senyum ramah yang seolah tak pernah surut itu adalah suaminya.

Sementara wanita itu adalah Nayna Banafsha. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal. Kacamata yang menghiasi mata indahnya pun menjadi salah satu ciri khas dirinya. Nayna adalah istri dari pria yang sedang berceramah itu, Ahmad Fahrizan.

Orang-orang biasa memanggilnya Ustadz Rizan. Ia merupakan seorang arsitek profesional yang cukup terkenal di lingkungannya, lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Riau, sekaligus penghafal Al-Qur’an.

Rizan juga merupakan putra seorang kiai yang cukup disegani. Keluarganya terpandang dan hidup berkecukupan. Wajah tampan serta postur tubuhnya yang tinggi semakin menambah kesempurnaan sosoknya. Dalam hal ekonomi, fisik, pendidikan, maupun keturunan, Rizan tampak seperti laki-laki yang sempurna.

Berbeda dengan Nayna. Istrinya itu berasal dari keluarga sederhana dan hanya lulusan SMA. Bagi sebagian orang, satu-satunya hal yang dianggap membuat Nayna sepadan dengan Rizan hanyalah kecantikannya. Mungkin, itulah alasan Rizan menikahinya.

Begitulah pemikiran orang-orang yang memandang pasangan tersebut dari luar. Tanpa pernah tahu bahwa Nayna jauh lebih dari sekadar perempuan cantik.

Nayna adalah wanita yang cerdas, baik hati, mulia akhlaknya, dan lembut dalam bertutur. Dahulu, ia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Namun, impian itu harus ia kubur ketika ayahnya menerima lamaran Rizan dan melarangnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ayahnya hanya percaya bahwa masa depan seorang wanita ditentukan oleh suaminya, bukan oleh kemampuan anaknya sendiri. Dan bagi pria paruh baya itu, Rizan adalah sosok sempurna yang mampu menjamin masa depan serta kebahagiaan putrinya.

Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Namun, bagi Nayna, keputusan tersebut akan menjadi sesuatu yang ia ingat seumur hidup. Ia harus melupakan segala impiannya dan menjalani kehidupan sebagai seorang istri yang hanya hidup untuk suaminya, mengikuti aturan dan menaati setiap perkataannya.

“Zah Nayna...” Panggilan seorang wanita membuyarkan lamunan Nayna.

Ia menoleh mencari asal suara. Saat itulah ia baru menyadari bahwa acara telah selesai dan para jamaah perlahan mulai bubar. Lagi-lagi ia melamun sampai tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

“Maaf, Zah. Ustadz Rizan sudah menunggu di depan,” jelas wanita itu.

Nayna segera bangkit dari duduknya, “Oh, iya,” jawabnya sedikit gugup. Ia kemudian berjalan didampingi wanita tersebut menuju sebuah mobil Alphard berwarna putih.

Setibanya di sana, Nayna segera masuk. Di dalamnya sudah ada Rizan yang duduk sambil memegang sebuah tablet.

“Maaf, Mas,” ucap Nayna pelan.

Ia sempat memandang Rizan sejenak. Namun, suaminya itu hanya diam dan tetap fokus pada layar tablet. Nayna pun mengalihkan pandangannya ke depan.

Mesin mobil menyala. Sopir perlahan menjalankan mobil yang mereka tumpangi. Beberapa detik berlalu. Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Sampai akhirnya Rizan berdehem pelan. Nayna sontak menoleh. Tubuhnya sedikit menegang. Ia takut telah melakukan kesalahan lagi dan membuat suaminya kesal.

“Kalau kamu tidak suka ikut pengajian, bilang saja. Lebih baik di rumah daripada hadir tapi tidak mendengarkan dan tidak mendapatkan ilmunya,” ucap Rizan tegas.

Tatapan Rizan berubah tajam, membuat Nayna kembali merasa tidak nyaman.

“Dengar, sayang?” tanyanya.

Nayna segera mengalihkan pandangannya ke depan, “Iya, Mas. Maaf,” jawabnya.

Mendengar itu, Rizan tersenyum. Pandangannya kembali beralih pada layar tablet.

Nayna menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Jemarinya mencengkeram ujung jilbab panjang yang dikenakannya. Ia kesal sekaligus bingung dengan sikap Rizan. Padahal sebelumnya Nayna sudah meminta izin untuk tidak ikut karena merasa kurang enak badan. Perutnya sedang terasa nyeri akibat menstruasi. Namun, Rizan tetap menyuruhnya ikut.

Nayna hanya bisa menghela napas pelan. Pandangannya beralih ke jendela mobil, memperhatikan jalanan yang mereka lewati.

Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Nayna segera turun dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Jarak rumah mereka dengan Masjid Raya sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun, perjalanan tadi terasa begitu panjang baginya.

Rizan yang melihat itu langsung menyusul Nayna masuk ke dalam rumah.

“Kenapa hari ini kamu tidak sopan, Nay?” tanya Rizan sedikit berteriak.

Nayna yang hendak masuk ke kamar berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap Rizan dengan raut wajah penuh tanda tanya.

“Tidak sopan bagaimana?” tanyanya.

Rizan mendengus kesal. “Berhenti terus bersikap seperti anak-anak.” Ia melangkah mendekati Nayna. “Jangan buat saya malu.”

“Aku nggak ada niat buat Mas malu. Malu bagaimana maksud Mas? Apa yang aku buat?”

“Jadilah istri yang nurut dan pandai menjaga marwah suami.”

Rizan kemudian berlalu menuju kamarnya. Nayna berjalan mengekor di belakangnya. Jawaban Rizan justru semakin membuatnya bingung. Setiap hari terasa berat bagi Nayna. Hal-hal kecil yang seharusnya tidak menjadi masalah selalu berhasil diubah menjadi kesalahan besar.

“Mas tadi ingat, kan, ceramah tentang apa? Memuliakan istri, kan? Kenapa apa yang Mas sampaikan tadi tidak Mas terapkan dalam rumah tangga kita?” tanya Nayna yang tak lagi mampu menahan kekesalannya.

Rizan yang mendengar perkataannya langsung menoleh, “Kurang ajar kamu kalau ngomong.”

“Aku cuma tanya.”

“Kamu mau saya jawab apa?”

“Kenapa Mas tidak melakukan apa yang Mas ajarkan kepada mereka tadi? Berlemah lembut kepada istri, berlaku baik...”

Belum sempat Nayna menyelesaikan ucapannya, tangan Rizan melayang ke pipinya.

Plak!

Nayna seketika terdiam. Tangannya perlahan terangkat menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih. Memang bukan pertama kalinya Rizan melakukan itu kepadanya. Namun, setiap kali terjadi, rasa sakitnya tetap terasa hingga ke relung hati.

“Dengar. Kamu tidak pantas dimuliakan karena kamu makhluk rendahan yang tidak tahu diuntung.”

Rizan mendekat, lalu menoyor kening Nayna dengan keras.

“Kamu ingat kamu ini siapa? Bapakmu itu jual kamu ke saya supaya kamu berguna.”

Jika Rizan sudah bersikap kasar seperti itu, Nayna hanya bisa diam. Ia tahu, jika melawan, pria itu akan semakin marah. Ia hanya bisa menahan diri dan membiarkan Rizan meluapkan amarahnya.

“Anak kecil banyak tingkah. Syukur kamu saya nikahi, dikasih hidup enak. Kalau tidak, bakal melacurkan kamu seperti ibumu.”

Dada Nayna terasa seperti dipukul. Ucapan itu membuatnya sakit hati. Napasnya tercekat dan matanya seketika memanas. Ia memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Kali ini, ucapan Rizan benar-benar sudah kelewatan.

“Kenapa dinikahi kalau memang masih kecil?” tanya Nayna akhirnya.

Rizan sedikit terkejut mendengarnya. Namun, bukannya merasa bersalah, pria itu justru tersenyum melihat reaksi Nayna.

“Aku nggak pernah minta dinikahkan sama Mas. Mas, kan, yang mau nikahi aku?”

“Kalau nggak kunikahi, mau nikah sama siapa kamu? Sama gembel itu?” Rizan mengernyit, “Siapa itu namanya? Habib? Mau sama Habib kamu?”

“Kenapa malah bawa-bawa Habib?”

“Kenapa? Nggak suka kamu? Masih cinta?”

“Nggak ada cinta. Dia cuma temanku dan dia bukan gembel.”

“Kamu sama dia sama-sama gembel.”

Ucapan Rizan membuat Nayna terdiam. Ia sangat menyayangkan sikap suaminya yang selalu kelewat batas. Setiap kali ia mencoba berbicara dan menyampaikan perasaannya, selalu saja berakhir menjadi keributan yang pada akhirnya menyakiti dirinya.

Air mata perlahan menetes membasahi pipinya. Namun, kali ini Nayna tidak ingin mundur. Ia melangkah mendekati Rizan, memberanikan diri menantang pria itu meskipun ia tahu mungkin saja ia akan kembali menerima tamparan atau kekerasan lainnya. Ia sudah terlalu lelah menahan semuanya.

“Kalau memang aku serendah itu di mata kamu... ceraikan saja aku, Mas,” ucap Nayna ragu.

Jika bisa memilih, Nayna sebenarnya hanya ingin Rizan berubah. Memperbaiki semuanya. Menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik dan menjadi istri yang taat kepada suaminya. Andai Rizan seperti sosok yang dikenal banyak orang, mungkin Nayna akan hidup bahagia. Namun, pria yang dikenal banyak orang itu bukanlah Rizan yang ia kenal di rumah. Suaminya justru menjadi orang yang terus menyakitinya, berlaku kejam tanpa memikirkan bahwa ia juga memiliki perasaan yang harus dijaga.

Mendengar itu Rizan terkekeh pelan, ia mundur beberapa langkah menjauhi Nayna.

“Wah... sudah berlagak minta cerai kamu, ya. Nanti kalau saya ceraikan betulan, baru tahu rasa kamu.”

“Ceraikan aku, Mas,” jawab Nayna lagi.

Dengan terisak, ia menatap Rizan. Ia berharap setelah itu akan keluar kalimat yang mampu menenangkannya. Bukan sumpah serapah yang semakin membuatnya merasa tidak berharga. Namun, Rizan tetaplah pria yang keras dan tidak akan mau mengalah.

“Kamu mau cerai?” tanya Rizan.

Nayna diam. Napasnya memburu bersamaan dengan isakan yang berusaha ia tahan.

“Kamu mau saya ceraikan?” tanya Rizan sekali lagi.

“Iya. Ceraikan aku.”

Rizan mengangguk, “Baik. Saya ceraikan kamu.” Ia lalu membalikkan badan, “Pulanglah ke rumahmu sekarang juga. Jangan bawa apa pun yang pernah saya berikan. Pergilah...”

Setelah mengucapkan itu, Rizan berlalu pergi meninggalkan Nayna yang terpaku. Ia masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang baru saja didengarnya tidak benar-benar terjadi. Sejatinya ia tidak benar-benar menginginkan perceraian. Ia hanya ingin didengar dan dimengerti. Namun, rasanya justru dirinya yang dianggap tidak pantas untuk diperlakukan dengan baik.

Nayna akhirnya jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar hebat, sementara isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada sesuatu yang meremukkannya dari dalam.

“Ya Allah...” lirihnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Petaka Jadi Janda    Fakta terungkap

    Sepanjang perjalanan, Nayna hanya menatap kosong ke arah jendela mobil. Pemandangan kota yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang silih berganti di hadapannya, tetapi tidak benar-benar menarik perhatiannya.Pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja dilihatnya. Tentang Anna. Istri Rizan yang tadi terlihat begitu mesra bersama seorang pria lain.Nayna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Persis seperti dulu yang kulihat saat dia bersama Rizan. Apakah ini yang dinamakan karma? Secepat itu?" tanyanya dalam hati.Senyum itu kembali terukir tanpa ia sadari. Habib yang sejak tadi fokus menyetir sempat meliriknya. Tatapan Nayna terlihat berbeda. Ada sesuatu yang seolah sedang berputar-putar di dalam kepalanya.“Nay? Kamu kenapa?” tanya Habib.Nayna segera menoleh, “Gak papa kok,” jawabnya cepat.“Serius?”“Iya, Bib.”“Baiklah.”Habib kembali memusatkan pandangannya pada jalan. Namun beberapa detik kemudian, suara Na

  • Petaka Jadi Janda    Persimpangan

    Habib turun dari mobilnya dan melangkah cepat menuju Kafe Nuansa yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.Saat memasuki kafe, ia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari seseorang di antara beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Hingga akhirnya matanya berhenti pada satu meja di sudut ruangan, Nayna.Perempuan itu duduk sendirian dengan pandangan kosong. Sesekali tangannya mengaduk minuman di hadapannya, meskipun es di dalam gelas sudah hampir sepenuhnya mencair.Habib menghela napas pelan. Bibirnya terkatup rapat. Ada sedikit kekhawatiran dalam tatapannya ketika melihat wajah Nayna yang tampak murung.Ia berjalan mendekat. Nayna bahkan tidak menyadari keberadaannya sampai Habib menarik kursi dan duduk di sampingnya.Nayna menoleh, “Habib... Kamu udah dari tadi sampai?” tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.Habib tersenyum, “Gak kok, baru aja.”“Oh...” Nayna mengangguk kecil. “Kamu mau pesan apa?”Ia langsung menyerahkan buk

  • Petaka Jadi Janda    Benturan

    Nayna masih terpaku di halaman rumah. Di hadapannya, Farah dan Rizan berjalan mendekat. Mata Nayna membelalak, seolah belum percaya dua orang yang paling tidak ingin ditemuinya itu kini berdiri di depan rumahnya.“Hai, Nay. Apa kabar?” sapa Farah dengan senyum yang tampak ramah.Namun bagi Nayna, senyum itu justru terasa seperti basa-basi yang dibuat-buat. Nayna tidak menjawab. Tatapannya tajam, jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kedatangan mereka.Rizan ikut tersenyum. “Mau kerja, kah, Nay?”Nayna akhirnya bersuara. “Kalian ngapain ke sini?”“Mau ketemu Bang Nadif,” jawab Rizan santai.“Ada urusan apa cari abangku?”Belum sempat Rizan menjawab, pintu rumah terbuka. Nadif keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi.“Eh, Rizan... Farah. Ada apa?” tanyanya sembari menghampiri mereka.“Mau kerja, Bang?” tanya Rizan.“Iya. Kalian mau ke mana nih?”“Mau ngobrol sama Bang Nadif.”“Gak boleh.” Nayna langsung menyela. Nadanya tegas. “Kalian mau apa lagi sih? Masih pagi begini, orang mau pe

  • Petaka Jadi Janda    Jejak luka

    Nayna duduk di tepi pantai sembari memandang langit senja yang mulai berubah kemerahan. Semburat jingga menyelimuti permukaan laut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.Di sebelahnya, Habib duduk dalam diam. Sejak tadi, pandangan pria itu justru lebih sering tertuju kepada Nayna daripada kepada matahari yang perlahan tenggelam. Bagi Habib, perempuan di sampingnya jauh lebih indah daripada pemandangan apa pun yang terbentang di hadapan mereka. Namun, ketenangan antara mereka tiba-tiba pecah ketika Nayna membuka suara.“Kalau aku meninggal... apakah ibuku akan datang melihatku untuk kali terakhir?”Senyum di wajah Habib perlahan menghilang. Tatapannya berubah sendu.Nayna masih menatap lurus ke arah laut.“Andai semua ibu di dunia ini tahu betapa beratnya hidup seorang anak tanpa ibu di sisinya.” Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu terasa pahit. “Mengapa melahirkan kami ke dunia kalau mereka bahkan nggak berniat mengurusnya?” Ia menoleh kepada Habib. “Kita nggak pernah min

  • Petaka Jadi Janda    Simpul

    Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan Rizan dengan kasar. Tatapannya berubah tajam. “Jangan berani kamu sentuh aku, ya.”Rizan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Sorry. Oke, Nay. Saya tak sentuh kamu.”Nayna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Rizan dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Santai, Nay.” Rizan terkekeh kecil. “Kenapa menatap saya seperti itu?”“Ngapain kamu ke sini?”“Mau mainlah.” Rizan mengangkat bahu. “Kenapa? Tak bolehkah saya main ke rumah mantan istri saya?”“Jelas tidak. Sekarang kamu pulang!” ja

  • Petaka Jadi Janda    Langkah

    “Ustadzah, kenapa kita tidak boleh membalas orang yang jahat sama kita?”Nayna yang sedang merapikan beberapa buku di atas meja sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada salah seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darinya.Gadis kecil itu bernama Aisyah. Selama beberapa hari mengajar di kelas tersebut, Nayna memperhatikan bahwa Aisyah termasuk murid yang pendiam. Ia jarang berbicara, lebih sering menundukkan kepala, dan selalu memilih duduk sendiri. Namun kali ini, tiba-tiba saja Aisyah mengajukan pertanyaan.Nayna menatapnya dengan hangat. “Karena kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang sama, sayang.”“Enak dong mereka, Zah,” sahut Aisyah polos. “Jahat sama kita, tetapi kita gak boleh jahat sama mereka.”Nayna tersenyum tipis. Ia lalu mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan gadis kecil itu.“Sayang, semua perbuatan kita pasti ada balasannya. Kita punya Allah, kan?” jelas Nayna lembut. “Jadi, kita harus berusaha berbuat baik supaya mendapat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status