Share

Janji

Author: Rintik Riani
last update publish date: 2026-09-01 12:12:38

"Jaga kesehatannya, Zan. Jangan terlalu dipaksakan kalau kerja tuh."

Pesan Nadif itu membuat Rizan tertawa kecil.

"Iya Bang, aman tuh. Ya sudah kami pamit dulu ya, Bang." Ia lalu menoleh pada Nasrul, "Yah, pamit dulu."

"Iya, Nak. Hati-hati."

Rizan menggenggam tangan Nayna, lalu menariknya pelan untuk ikut berjalan menuju mobil.

Dengan langkah yang berat Nayna mengikuti Rizan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nayna kembali menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang memandangnya.

Wajah Nasrul memang tersenyum, tetapi entah mengapa, Nayna merasa ada kesedihan yang disembunyikan pria tua itu.

"Ayo masuk, Nay." Ucap Rizan.

Nayna menghela napas dengan berat lalu masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia masih memandangi Nasrul. Dalam hati, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya itu.

Rizan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Nayna. Pria itu terlihat fokus menyetir tanpa memerhatikan Nayna. Sementara Nayna memandangi rumahnya dari balik jendela mobil hingga benar-benar hilang dalam pandangannya. Entah kapan lagi ia akan bisa bertemu dengan keluarganya itu.

Nayna berpaling dan menghadap ke depan. Wajahnya berubah menjadi murung, matanya terlihat berembun, tampak seperti sedang menahan tangis. 

"Kamu masih marah sama saya?" Tanya Rizan.

"Enggak."

Jawaban singkat itu tampaknya tidak melegakan Rizan. Tangan kanannya lalu terulur, menyentuh kaki Nayna dan mengusapnya dengan lembut.

"Saya minta maaf, ya." Ucap Rizan.

"Iya, sudah dimaafkan."

"Kamu juga, jangan selalu pancing saya buat marah. Saya tak akan begitu kalau bukan kamu yang mulai duluan." Jelas Rizan.

Mendengar itu Nayna hanya diam. Belum satu menit pria itu mengucapkan maaf tetapi, ia bahkan sudah menyalahkan Nayna lagi. Seolah semua ini terjadi karena Nayna.

Nayna menggeser pelan tangan Rizan dari kakinya.

"Fokus menyetir saja, mas." Pinta Nayna.

Rizan terdiam, tangannya diletakkan kembali ke kemudi. Beberapa detik kemudian ia menyalakan playlist musik dari sistem audio mobil.

"Sayang..."

Panggilan Rizan itu membuat Nayna menoleh. 

"Kamu sudah selesai haidkah?" Tanya Rizan.

"Kenapa?"

"Tak apa." Rizan menyunggingkan senyum menggoda Nayna, "Cuma kangen saja."

Melihat itu Nayna langsung memalingkan wajahnya. Bukannya senang, ia justru merasa kesal saat mengetahui maksud Rizan.

"Kemarin kan sudah diceraikan."

"Sayang, itukan karena saya terbawa emosi. Kamu yang mintakan."

Nayna hanya diam tanpa menoleh pada suaminya.

"Lagipun talak itu tidak berlaku kalau saya dalam keadaan marah."

Nayna langsung menoleh, "Kata siapa?" Tanyanya.

Rizan terdiam dengan pertanyaan Nayna.

"Kalau begitu mas akan terus begitu dan beralasan sedang marah, sementara mas tuh selalu marah. Bahkan sama sesuatu yang harusnya gak diributkan."

"Sudahlah, Nay, cukup. Kamu ini terlalu berlebihan." Ucap Rizan.

Nayna berdecak kesal, "Selalu begitu, intinya semuanya di aku. Aku yang salah."

"Saya tak salahkan kamu."

"Mas nyalahin aku."

"Kalau kamu ngerasa salah, ya berubah. Kamu tuh banyak belajar lagi deh, kalau dikasih tau sama yang paham jangan ngelawan."

Nayna terdiam. Ia tahu, percuma berdebat dengan Rizan. Apa pun yang ia katakan akan selalu diputarbalikkan hingga dirinya kembali menjadi pihak yang bersalah.

Nayna menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke kursi, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.

Rizan menghela napas kesal. Ia kembali menatap jalan dan mempercepat laju mobil.

Setelah perdebatan itu, sepanjang perjalanan mereka tidak lagi berbicara. Hingga tanpa sadar, Nayna tertidur. Rizan melirik istrinya sekilas. Wajah Nayna yang tertidur masih terlihat cantik di matanya. Sama seperti saat pertama kali ia jatuh cinta kepada perempuan itu. Baginya, Nayna adalah wanita yang sempurna. Hanya saja, ada satu hal yang tidak pernah bisa ia terima.

Nayna memiliki pendirian. Ia cukup keras ketika mempertahankan sesuatu yang diyakininya benar. Dan bagi Rizan, seorang istri seharusnya berada dalam kendali suaminya. Itulah sebabnya ia tidak pernah mengizinkan Nayna melanjutkan pendidikan, meskipun ia tahu istrinya adalah perempuan yang cerdas dan memiliki cita-cita besar.

* * *

“Nayna!”

Teriakan Rizan sama sekali tidak membuat langkah Nayna berhenti. Ia terus berjalan menuju kamar. Begitu sampai, Nayna segera duduk di tepi ranjang dan meletakkan kacamatanya di meja samping.

Matanya memerah. Bukan karena rasa kantuk yang tadi ia paksakan, melainkan karena rasa lelah menghadapi Rizan. Pria itu seolah tidak pernah kehabisan hal untuk dipermasalahkan.

Perlahan, air mata jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat Nayna menghapusnya.

Tak lama kemudian, Rizan tiba di kamar. Ia berdiri sejenak di ambang pintu sebelum akhirnya mendekat.

Nayna segera membuang wajah, "Aku mau tidur, mas."

"Kamu masih marah sama saya kan?"

"Marah gimana? Bukannya mas yang daritadi marahi aku?"

"Wajar saya marah karena saya harus mendidik istri saya."

"Ya apa yang salah dariku mas? Kenapa semuanya seolah kamu yang benar dan aku yang salah?"

"Karena kamu tak pernah mau dengar saya, Nayna."

"Tak dengar bagaimana? Selama ini aku selalu nurut sama Mas.”

Suara Nayna mulai bergetar.

“Aku selalu berusaha jadi istri yang baik. Selalu sabar. Selalu memaafkan. Tapi Mas yang selalu marah, emosi, bahkan mukul aku.”

Air matanya kembali jatuh.

“Aku nggak pernah dipukul sama Ayah. Sama Bang Nadif juga nggak pernah.”

Nayna terisak.

“Tapi Mas malah mukul aku. Bahkan sudah terlalu sering setiap kita bertengkar.”

Rizan terdiam. Untuk sesaat, tidak ada bantahan yang keluar dari mulutnya. Ia mengambil tisu di meja dan menyodorkannya pada Nayna.

Nayna menerimanya tanpa menatap suaminya itu.

Rizan kemudian duduk di sampingnya. Perlahan, ia menarik Nayna ke dalam pelukannya. Dan justru karena perlakuan lembut itu, tangis Nayna semakin pecah.

"Mas sebenarnya bisakan untuk bersikap lembut padaku? Seperti apa yang mas tunjukkan pada orang-orang di luar sana." Ucap Nayna dengan suara yang bergetar, ia ragu mengucapkan itu. Namun ia juga berharap Rizan mengerti padanya.

Rizan melepas pelukan itu, ia lalu menghapus air mata Nayna. Tangannya lalu beralih memegang lengan Nayna dan membelainya lembut. Senyum hangat terbit di wajahnya.

"Saya minta maaf, ya, Nay."

"Mas jangan kasar lagi, ya?"

Rizan mengangguk, "Iya, sayang."

"Janji?"

Rizan mengangguk lagi, "iya, sayang, janji. Saya sayang sama kamu, Nay." Ia memeluk Nayna lagi dengan erat. Nayna juga membalas pelukan itu.

Sesaat Nayna merasa lega. Seperti ada secercah harapan di hatinya, rumah tangganya masih bisa diperbaiki dan ia akan berjuang memperbaikinya selagi Rizan juga bersedia untuk itu.

"Saya mandi dulu, ya sayang."

Nayna mengangguk pelan.

Rizan pun beranjak dan hendak pergi namun langkahnya terhenti.

"Sayang, belum selesai berhalangan?" Tanya Rizan.

Mendengar pertanyaan itu Nayna pun menggeleng, "Belum bersih, mas." Jawabnya sembari nyengir.

Rizan tersenyum kecut, "Yaaa... Masih harus puasa dong."

"Sabar ya, mas."

Rizan mengangguk lalu berlalu pergi menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka.

Melihat itu Nayna menggeleng sembari tersenyum malu.

Tak lama kemudian layar ponsel Rizan yang berada di meja tampak menyala dan bergetar. Nayna segera berdiri dan melihatnya. Ada sebuah panggilan telepon dari kontak bernama Abdul.

Ia membiarkan ponsel itu bergetar sampai panggilan berhenti. Namun saat ia hendak beranjak pergi, ponsel Rizan kembali bergetar dengan panggilan dari nomor yang sama.

Nayna melirik ke kamar mandi, ia pikir itu panggilan yang penting. Ia segera mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.

'Sayang, kamu kemana aja sih? Kenapa hilang seharian gak ngabari aku?'

Deg.

Jantung Nayna terasa seperti berhenti berdetak kala mendengar ucapan itu dari seseorang di telepon. Matanya membulat sempurna, mulutnya terbuka seperti tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Suara seorang perempuan.

'Sayang? Hallo?'

Nayna menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan kembali menatap layar ponsel yang menampilkan kontak dengan nama Abdul. Namun yang baru saja ia dengar jelas-jelas suara seorang perempuan.

Napas Nayna mulai memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Tenggorokannya terasa tercekat.

'Sayang? Kamu kok diam aja?'

Dengan tangan gemetar, Nayna segera mematikan panggilan tersebut.

Ponsel itu masih berada dalam genggamannya. Jemarinya mencengkeram benda tersebut begitu erat. Dadanya terasa sesak. Sakitnya bahkan menjalar hingga membuat tubuhnya lemas. Nayna mundur beberapa langkah sebelum akhirnya terduduk di tepi ranjang. Ia buru-buru meletakkan ponsel itu.

"Astaghfirulahaladzim..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Petaka Jadi Janda    Fakta terungkap

    Sepanjang perjalanan, Nayna hanya menatap kosong ke arah jendela mobil. Pemandangan kota yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang silih berganti di hadapannya, tetapi tidak benar-benar menarik perhatiannya.Pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja dilihatnya. Tentang Anna. Istri Rizan yang tadi terlihat begitu mesra bersama seorang pria lain.Nayna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Persis seperti dulu yang kulihat saat dia bersama Rizan. Apakah ini yang dinamakan karma? Secepat itu?" tanyanya dalam hati.Senyum itu kembali terukir tanpa ia sadari. Habib yang sejak tadi fokus menyetir sempat meliriknya. Tatapan Nayna terlihat berbeda. Ada sesuatu yang seolah sedang berputar-putar di dalam kepalanya.“Nay? Kamu kenapa?” tanya Habib.Nayna segera menoleh, “Gak papa kok,” jawabnya cepat.“Serius?”“Iya, Bib.”“Baiklah.”Habib kembali memusatkan pandangannya pada jalan. Namun beberapa detik kemudian, suara Na

  • Petaka Jadi Janda    Persimpangan

    Habib turun dari mobilnya dan melangkah cepat menuju Kafe Nuansa yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.Saat memasuki kafe, ia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari seseorang di antara beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Hingga akhirnya matanya berhenti pada satu meja di sudut ruangan, Nayna.Perempuan itu duduk sendirian dengan pandangan kosong. Sesekali tangannya mengaduk minuman di hadapannya, meskipun es di dalam gelas sudah hampir sepenuhnya mencair.Habib menghela napas pelan. Bibirnya terkatup rapat. Ada sedikit kekhawatiran dalam tatapannya ketika melihat wajah Nayna yang tampak murung.Ia berjalan mendekat. Nayna bahkan tidak menyadari keberadaannya sampai Habib menarik kursi dan duduk di sampingnya.Nayna menoleh, “Habib... Kamu udah dari tadi sampai?” tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.Habib tersenyum, “Gak kok, baru aja.”“Oh...” Nayna mengangguk kecil. “Kamu mau pesan apa?”Ia langsung menyerahkan buk

  • Petaka Jadi Janda    Benturan

    Nayna masih terpaku di halaman rumah. Di hadapannya, Farah dan Rizan berjalan mendekat. Mata Nayna membelalak, seolah belum percaya dua orang yang paling tidak ingin ditemuinya itu kini berdiri di depan rumahnya.“Hai, Nay. Apa kabar?” sapa Farah dengan senyum yang tampak ramah.Namun bagi Nayna, senyum itu justru terasa seperti basa-basi yang dibuat-buat. Nayna tidak menjawab. Tatapannya tajam, jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kedatangan mereka.Rizan ikut tersenyum. “Mau kerja, kah, Nay?”Nayna akhirnya bersuara. “Kalian ngapain ke sini?”“Mau ketemu Bang Nadif,” jawab Rizan santai.“Ada urusan apa cari abangku?”Belum sempat Rizan menjawab, pintu rumah terbuka. Nadif keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi.“Eh, Rizan... Farah. Ada apa?” tanyanya sembari menghampiri mereka.“Mau kerja, Bang?” tanya Rizan.“Iya. Kalian mau ke mana nih?”“Mau ngobrol sama Bang Nadif.”“Gak boleh.” Nayna langsung menyela. Nadanya tegas. “Kalian mau apa lagi sih? Masih pagi begini, orang mau pe

  • Petaka Jadi Janda    Jejak luka

    Nayna duduk di tepi pantai sembari memandang langit senja yang mulai berubah kemerahan. Semburat jingga menyelimuti permukaan laut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.Di sebelahnya, Habib duduk dalam diam. Sejak tadi, pandangan pria itu justru lebih sering tertuju kepada Nayna daripada kepada matahari yang perlahan tenggelam. Bagi Habib, perempuan di sampingnya jauh lebih indah daripada pemandangan apa pun yang terbentang di hadapan mereka. Namun, ketenangan antara mereka tiba-tiba pecah ketika Nayna membuka suara.“Kalau aku meninggal... apakah ibuku akan datang melihatku untuk kali terakhir?”Senyum di wajah Habib perlahan menghilang. Tatapannya berubah sendu.Nayna masih menatap lurus ke arah laut.“Andai semua ibu di dunia ini tahu betapa beratnya hidup seorang anak tanpa ibu di sisinya.” Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu terasa pahit. “Mengapa melahirkan kami ke dunia kalau mereka bahkan nggak berniat mengurusnya?” Ia menoleh kepada Habib. “Kita nggak pernah min

  • Petaka Jadi Janda    Simpul

    Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan Rizan dengan kasar. Tatapannya berubah tajam. “Jangan berani kamu sentuh aku, ya.”Rizan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Sorry. Oke, Nay. Saya tak sentuh kamu.”Nayna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Rizan dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Santai, Nay.” Rizan terkekeh kecil. “Kenapa menatap saya seperti itu?”“Ngapain kamu ke sini?”“Mau mainlah.” Rizan mengangkat bahu. “Kenapa? Tak bolehkah saya main ke rumah mantan istri saya?”“Jelas tidak. Sekarang kamu pulang!” ja

  • Petaka Jadi Janda    Langkah

    “Ustadzah, kenapa kita tidak boleh membalas orang yang jahat sama kita?”Nayna yang sedang merapikan beberapa buku di atas meja sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada salah seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darinya.Gadis kecil itu bernama Aisyah. Selama beberapa hari mengajar di kelas tersebut, Nayna memperhatikan bahwa Aisyah termasuk murid yang pendiam. Ia jarang berbicara, lebih sering menundukkan kepala, dan selalu memilih duduk sendiri. Namun kali ini, tiba-tiba saja Aisyah mengajukan pertanyaan.Nayna menatapnya dengan hangat. “Karena kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang sama, sayang.”“Enak dong mereka, Zah,” sahut Aisyah polos. “Jahat sama kita, tetapi kita gak boleh jahat sama mereka.”Nayna tersenyum tipis. Ia lalu mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan gadis kecil itu.“Sayang, semua perbuatan kita pasti ada balasannya. Kita punya Allah, kan?” jelas Nayna lembut. “Jadi, kita harus berusaha berbuat baik supaya mendapat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status