INICIAR SESIÓNNayna memandangi Rizan yang tengah menyantap sarapan di hadapannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Rizan melalui kontak bernama Abdul. Selama tiga hari itu pula, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Siapa perempuan itu? Kalau memang hanya teman seperti yang Mas Rizan bilang, kenapa dia memanggil Mas Rizan dengan panggilan sayang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Nayna menghela napas panjang. Tangannya terangkat memegang pelipis, lalu memijatnya perlahan. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya. "Kenapa, Nay?" Suara Rizan membuat Nayna tersentak kecil. Pria itu segera meletakkan sendoknya. Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Nayna memijat kepalanya. "Nay? Kamu sakit?" Nayna menggeleng pelan, "Gak kok, Mas. Cuma sedikit pusing." Rizan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berpindah ke kursi di samping Nayna, kemudian tangannya terulur menyentuh wajah istrinya dengan lembut. "Kita ke dokter, ya?" "Mas kan mau kerja. Aku gak apa-apa kok." "Tak bisa begitu, sayang." Rizan memegang kedua lengan Nayna, menatapnya dengan penuh perhatian. "Kamu sekarang ganti baju, ya. Kita pergi berobat." Nayna terdiam. Tatapannya tertuju pada wajah Rizan. Beberapa hari terakhir, suaminya memang terlihat jauh lebih lembut. Tidak mudah marah, tidak membentaknya, bahkan beberapa kali bersikap perhatian seperti saat ini. Seharusnya Nayna merasa bahagia. Namun, kejadian tiga hari lalu seolah menjadi bayangan yang terus mengikuti pikirannya. Suara perempuan itu masih terngiang jelas di telinganya. "Nay?" Panggilan Rizan membuyarkan lamunannya, "Kamu kenapa, sayang?" Nayna perlahan melepaskan tangan Rizan dari lengannya. Ia kemudian bangkit dari kursi sambil membawa piring yang sudah kosong. "Sudah gak pusing kok." Ia berjalan menuju wastafel. "Kamu lanjutkan saja makannya, Mas." Rizan masih memandanginya, "Serius, Nay? Kalau kamu ngerasa kurang sehat, biar saya libur kerja hari ini." "Gak perlu, Mas." Jawaban Nayna terdengar lebih tegas dari sebelumnya. Ia meletakkan piring ke wastafel, lalu menghela napas kasar. Rizan memperhatikan punggung istrinya beberapa saat. Ia kemudian bangkit dan berjalan mendekat. "Sayang..." Tangannya kembali meraih tangan Nayna. Jemarinya mengusap punggung tangan wanita itu perlahan. "Masih marah sama saya?" Nayna menatap tangan mereka sejenak sebelum menarik napas, "Aku gak marah, Mas. Tapi..." Ucapannya terhenti. Rizan mengernyit heran, "Tapi apa, sayang?" Nayna menatapnya. Ada keraguan di matanya, seolah ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menanyakan sesuatu yang sejak tiga hari lalu mengganggu pikirannya. "Bisakah Mas jujur sama aku?" Tatapan Rizan berubah. Ia menatap Nayna lebih dalam. "Maksud kamu? Saya selalu jujur sama kamu, Nay." Nayna berdecak pelan. Jawaban itu justru membuat dadanya semakin sesak. Ia menarik tangannya dari genggaman Rizan. "Sudahlah, Mas. Pergilah kerja." Nayna hendak meninggalkan dapur, tetapi Rizan segera mengejarnya dan kembali menahan tangannya. "Kamu kenapa lagi sih, Nay?" "Aku gak apa-apa, Mas." "Terus kamu kenapa bersikap begini?" Nayna berhenti melangkah. Ia menoleh dengan tatapan tak percaya. "Gini gimana?" Rizan terdiam. Nayna menarik napas panjang. Kali ini ia tak ingin menghindar lagi. "Mas, sekarang gini..." Suaranya terdengar bergetar. "Kamu jujur sama aku. Perempuan yang telepon kamu kemarin siapa?" Rizan seketika membeku. Hanya beberapa detik, tetapi Nayna bisa melihat perubahan raut wajahnya. "Jawab jujur, Mas." "Teman, Nay." Jawaban Rizan dengan cepat. Nayna menatapnya lekat, "Kalau teman, kenapa kamu simpan nomornya pakai nama Abdul? Itu kan nama cowok?" Rizan tak langsung menjawab. Ia membuang muka menolak untuk menatap Nayna. Mata Nayna mulai memerah. Genangan air memenuhi pelupuk matanya. "Kamu selingkuh, Mas?" Pertanyaan Nayna itu membuat Rizan tampak gugup, "Apa sih? Selingkuh apa maksud kamu?" Ia berbalik badan, lalu mengambil tas kerjanya yang berada di atas meja, "Aneh-aneh saja kalau ngomong." "Kamu yang aneh, Mas." Rizan menghela napas panjang, "Aneh apa? Kamu yang selalu berlebihan. Sudah dibilang cuma teman, kenapa masih maksa nanya itu terus?" Nayna menahan napas, "Teman kok panggil sayang." Rizan terdiam. Nayna tak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan menjauh. Namun, beberapa langkah kemudian, suara Rizan membuatnya berhenti. "Kamu tahu saya capek nungguin kamu yang tak hamil-hamil, Nay?" Tubuh Nayna seketika kaku. Perlahan ia berbalik. Tatapannya langsung tertuju pada Rizan. "Kamu pikir aku juga gak capek, Mas?" Tanyanya dengan suara yang bergetar. Rizan mengembuskan napas kasar, "Itulah, kamu tahu kan? Terus kenapa kita tak fokus saja supaya kita cepat punya anak? Ngapain kamu debatin yang kayak gini? Buat nambah-nambah pikiran kamu saja. Nanti tambah susah kita punya anak." Nayna mengepalkan tangannya di sisi tubuh, "Anak itu kuasa Allah. Kalau Dia belum memperkenankan kita punya anak, mau bagaimana?" "Setidaknya kita berusaha, kan?" "Berusaha, Mas..." Nayna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bukan memaksa." Rizan terdiam mendengar itu. "Kalau sekarang aku belum hamil, aku bisa apa?" lanjut Nayna. "Selain menerima takdir ini, mungkin memang belum waktunya." Untuk beberapa saat, suasana rumah itu benar-benar hening. Rizan tidak membalas lagi. Nayna menundukkan wajah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan tangis yang sejak tadi menggantung di pelupuk matanya. Tak lama kemudian, Rizan mengalihkan pandangan. "Ya sudah. Saya pergi kerja dulu." Ia meraih gagang pintu. "Assalamualaikum." "Waalaikumussalam." Pintu pun tertutup. Nayna masih berdiri di tempatnya. Perlahan ia mengangkat kepala dan memandangi pintu yang baru saja dilewati Rizan. Dadanya terasa berat. Lagi-lagi, ia tidak mendapatkan jawaban atas kegelisahan yang selama tiga hari ini menghantuinya. Nayna tahu, Rizan tidak menjawab pertanyaannya dengan jujur. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. Dan kali ini, Nayna tidak ingin hanya diam dan menunggu. Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah, lalu menarik napas dalam-dalam. "Kalau Mas Rizan tidak mau jujur, aku akan mencari tahu sendiri." Tatapannya berubah penuh tekad. Siapa perempuan itu? Dan apa sebenarnya hubungan mereka? Nayna harus menemukan jawabannya. Ia harus memastikan sendiri apakah suaminya benar-benar berselingkuh atau tidak.“Nanti kita ke tempat Ummi, ya,” ajak Rizan.Nayna yang semula hendak pergi langsung menoleh. “Mau ngapain?”“Saya nanti ada kerjaan di luar kota. Kamu di tempat Ummi aja, ya, Nay. Biar kamu tak kesepian.”Mendengar penjelasan itu, wajah Nayna seketika berubah murung. Ia menghela napas kasar, lalu memilih pergi tanpa menjawab.Rizan bangkit dari duduknya dan menyusul Nayna yang berjalan menuju halaman belakang.“Kenapa sih, Nay? Kamu tak suka ke rumah Ummi?”“Bukan gak suka, Mas. Aku cuma malas. Nanti ketemu sama Mbakmu, terus ditanya-tanya lagi.”“Ya, kamu kalau ditanya tinggal jawab.”Nayna berdecak kesal. Ia menghentikan langkah, lalu menatap Rizan.“Mereka itu gak suka aku, Mas.”“Kenapa bilang begitu sih, Nay? Jangan berprasangka buruklah sama dia. Dia itu baik.”“Yang bilang Mbak Farah jahat siapa?”“Ya, kamu. Kenapa tak mau ketemu Mbakku? Wajarlah kita ditanya, karena mereka keluarga kita.”Nayna hanya diam mendengar jawaban Rizan. Tatapannya beralih ke halaman belakang, seolah
Nayna memandangi Rizan yang tengah menyantap sarapan di hadapannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Rizan melalui kontak bernama Abdul. Selama tiga hari itu pula, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.Siapa perempuan itu? Kalau memang hanya teman seperti yang Mas Rizan bilang, kenapa dia memanggil Mas Rizan dengan panggilan sayang?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Nayna menghela napas panjang. Tangannya terangkat memegang pelipis, lalu memijatnya perlahan. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya."Kenapa, Nay?"Suara Rizan membuat Nayna tersentak kecil.Pria itu segera meletakkan sendoknya. Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Nayna memijat kepalanya."Nay? Kamu sakit?"Nayna menggeleng pelan, "Gak kok, Mas. Cuma sedikit pusing."Rizan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berpindah ke kursi di samping Nayna, kemudian tangannya terulur menyentuh wajah istrinya dengan lembut."Kita ke dokter, ya?""Mas kan m
"Jaga kesehatannya, Zan. Jangan terlalu dipaksakan kalau kerja tuh."Pesan Nadif itu membuat Rizan tertawa kecil."Iya Bang, aman tuh. Ya sudah kami pamit dulu ya, Bang." Ia lalu menoleh pada Nasrul, "Yah, pamit dulu.""Iya, Nak. Hati-hati."Rizan menggenggam tangan Nayna, lalu menariknya pelan untuk ikut berjalan menuju mobil.Dengan langkah yang berat Nayna mengikuti Rizan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nayna kembali menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang memandangnya.Wajah Nasrul memang tersenyum, tetapi entah mengapa, Nayna merasa ada kesedihan yang disembunyikan pria tua itu."Ayo masuk, Nay." Ucap Rizan.Nayna menghela napas dengan berat lalu masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia masih memandangi Nasrul. Dalam hati, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya itu.Rizan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Nayna. Pria itu terlihat fokus menyetir tanpa memerhatikan Nayna. Sementara Nayna memandangi rumahnya dari balik jendela mobil hingga benar-benar hila
Nayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya. Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah.Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah.Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan k
Di dalam masjid, para jamaah duduk khidmat mendengarkan ceramah seorang pria. Suara mikrofon menggema memenuhi ruangan.“Jadi, Bapak-bapak jamaah sekalian, Rasulullah itu sangat memuliakan istrinya...” ucap pria yang mengenakan jubah putih itu.Kalimat tersebut seketika membuat salah satu jamaah wanita terdiam. Untuk sesaat, pikirannya terasa hening. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat. Matanya menatap lurus ke arah sosok pria yang sangat ia kenali, lebih dari siapa pun yang berada di masjid itu. Pria dengan wajah berseri dan senyum ramah yang seolah tak pernah surut itu adalah suaminya.Sementara wanita itu adalah Nayna Banafsha. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal. Kacamata yang menghiasi mata indahnya pun menjadi salah satu ciri khas dirinya. Nayna adalah istri dari pria yang sedang berceramah itu, Ahmad Fahrizan.Orang-orang biasa memanggilnya Ustadz Rizan. Ia merupakan seorang arsitek profesional







