Compartilhar

Pulang

last update Data de publicação: 2026-09-01 12:11:25

Nayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya. 

Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah.

Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah.

Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan kesalahan, ia layak dihukum.

Nayna menghela napasnya berat. Hatinya terasa sakit saat kembali mengingat semua. Ia juga tak mau kehilangan anak mereka, tetapi ia pun tak punya kuasa untuk hal itu, semua terjadi atas kehendak-Nya. Sama seperti Rizan ia juga merasai kehilangan yang luar biasa. Ditambah lagi setelah empat tahun penantian, mereka belum diamanahkan kembali seorang anak.

"Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita, agar kita tak lagi saling menyakiti."

Ujar Nayna dalam hati.

Ia menyeka air matanya yang hendak jatuh, rasanya sakit tetapi ia juga tidak mungkin untuk menangis melampiaskan semuanya di sini, di hadapan orang lain yang ia tidak kenal.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan, Nayna akhirnya tiba di tujuannya. Ia segera turun dengan membawa tas berukuran sedang.

Saat bus kembali jalan, pandangan Nayna pun beralih menatap pada rumah di seberang jalan tempat ia berdiri.

Dengan ragu, ia perlahan mulai melangkah menyeberangi jalan menuju rumah itu. Rumah sederhana tempat ia menghabiskan waktu masa kecil dan remajanya, sebelum ia menikah dengan Rizan.

Mata Nayna seketika membulat sempurna kala melihat seorang pria paruh baya yang keluar dari rumah itu. Dadanya berdesir pelan, ada kerinduan yang seketika membuncah.

"Ayah!" Panggil Nayna berteriak.

Mendengar suara itu, pria paruh baya itu menoleh. Ia menyipitkan matanya, mengamati dalam-dalam orang yang memanggilnya. Dan ketika ia menyadari bahwa sosok itu tak asing baginya. Ia langsung berlari mendekat pada Nayna.

"Nay..." Ucap pria paruh baya itu sembari berlari menuju Nayna.

Nayna pun langsung berhambur memeluk ayahnya itu. 

"Ayah... Aku kangen ayah."

"Ayah juga kangen sama Nay."

Sesaat mereka berpelukan saling melepaskan kerinduan. Hampir setahun mereka tidak bertemu. Padahal jarak tempat tinggal mereka hanya berbeda kota. Namun, Nasrul selalu merasa sungkan mengunjungi Nayna tanpa diminta. Nadif, kakak Nayna, juga sering melarang ayahnya berpergian jauh seorang diri.

"Kamu sehat nak?"

"Iya. Ayah gimana?" Nayna balik bertanya, ia lalu memandangi wajah ayahnya itu, "Apa masih harus sering kontrol ke klinik?" 

Terlihat raut khawatir yang terpancar dari wajah Nayna kala menyadari kondisi Nasrul yang tampak lebih pucat dari terakhir mereka bertemu. 

Nayna memegang kedua lengan ayahnya itu, "Ayah baik-baik aja kan?"

"Iya, Nay. Memang masih harus kontrol setiap seminggu sekali."

Mendengar itu Nayna menghela napasnya pelan, "Ayah harus rajin minum obatnya juga, apa yang dokter larang dan perbolehkan harus diikuti." Ucap Nayna lembut.

Nasrul tersenyum hangat, "Iya, Nay, kamu tenang saja."

Nasrul lalu melihat pada tas yang Nayna bawa, matanya menelisik seolah sedang mencari sesuatu.

"Suami kamu mana, Nay?" Tanya Nasrul.

"Gak ikut, Yah."

"Loh, jadi kamu sendirian ke sini?"

"Iya, naik bus tadi turun di situ." Jelas Nayna sembari menunjuk ke seberang jalan.

"Kenapa gak diantar suami kamu? Kenapa dia gak ikut ke sini?"

Mendengar pertanyaan itu Nayna diam sejenak. Ia pikir sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Nasrul soal Rizan yang sudah menalaknya.

"Mas Rizan ada kerjaan, Yah, sibuk dia jadi gak bisa ngantar." Jawab Nayna.

"Kenapa gak ngabari ayah mau ke sini biar abangmu yang jemput."

"Aku udah terlalu rindu sama Ayah, jadi langsung ke sini aja deh." Ucap Nayna dengan ekspresi manjanya.

Nasrul pun tersenyum melihat putrinya itu, "Yasudah, ayo masuk, pasti lapar kan... Makan dulu." Ucapnya.

"Tau aja, Ayah, kalau aku lapar, banget malah."

Mereka pun tertawa. Nasrul mengambil tas Nayna dan mengajaknya masuk ke rumah.

Saat memasuki rumah sederhana itu, pandangan Nayna langsung berubah sendu. Kepalanya bergerak melihat sekeliling rumah. Ada kenyamanan yang seketika hadir, seperti rasa aman yang lama tak ia rasakan. Rumah ini isinya masih sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan. Dan suasana rumah seperti biasa, seperti suasana yang yang selalu ia rindukan. 

Nayna kembali melihat Ayahnya yang tampak sibuk menyiapkan makanan untuk di letakkan ke meja. 

"Ayah masak apa hari ini?" Tanya Nayna, ia lalu bantu memindahkan makanan itu juga, "Iih ada asam patin, sedap ini." Ucap Nayna dengan wajah antusias. Ia duduk dan mengambil piring lalu menyendok nasi dengan penuh semangat karena rasa laparnya sejak tadi.

"Nadif yang masak, itu lauk tadi pagi, Nay. Sini biar Ayah hangatkan dulu."

Nasrul hendak mengambil semangkuk asam patin itu. Namun Nayna mencegahnya.

"Tak usah, Yah, masih enak kok." Ujar Nayna. Ia hanya tidak ingin membuat Ayahnya repot.

Mendengar itu Nasrul langsung menawarkan lauk yang lain, "Ini baru Ayah masak, masih hangat."

Semangkuk semur ayam diberikan pada Nayna. Nayna pun menyendoknya ke piringnya.

"Wah, best ini," Nayna pun memakannya, "Hmm sedapnya... Pandai Ayah masak." Ucap Nayna memuji masakan Ayahnya itu.

Nasrul hanya tersenyum sembari menggelang pelan melihat tingkah putrinya itu.

"Makanlah yang kenyang, nak."

Nayna tersenyum mendengarkan Ayahnya. Perlahan banyaknya masalah yang memenuhi pikirannya terasa hilang sejenak. Dengan melihat wajah dan senyum Ayahnya, Nayna merasa lebih tenang.

"Oh, iya? Abang kapan pulang kerja, Yah?" Tanya Nayna.

Nasrul melihat jam bulat yang terpajang di dinding rumahnya.

"Jam empat biasanya sampai rumah, sebentar lagi dia pulang." Jawab Nasrul.

"Ooh." Nayna mengangguk pelan.

Nasrul kembali memandangi putrinya yang makan dengan lahap sambil terus tersenyum hangat. 

"Ayah juga makan." Tawar Nayna.

"Sudah makan tadi. Kamu saja makan yang banyak, yang kenyang." Ucap Nasrul.

Nayna pun tersenyum mendengar ucapan Ayahnya. Memang benar bahwa tempat terbaik adalah di rumah sendiri. Baru saja pulang, ia sudah disuguhkan makanan. Di sini juga biasanya ayahnya akan memanjakan ia dengan tidak membiarkan Nayna mengerjakan pekerjaan rumah. Kecuali hanya sekedar pekerjaan ringan atau membantu saja.

"Aku sayang banget sama Ayah." Ucap Nayna pelan.

Mendengar itu, dada Nasrul terasa hangat, ia lalu kembali mengulas senyum di wajahnya, "Ayah pun, sayang sangat dengan Nay." Balas Nasrul.

Tak lama kemudian ponsel Nayna berdering. Sebuah panggilan masuk. Nayna cukup terkejut kala melihat layar ponselnya. Panggilan telepon dari Rizan.

Mas Rizan nelpon? Mau ngapain? Apa dia mau marah-marah lagi?

Tanya Nayna dalam hati. Ia lalu melirik pada Nasrul. Kalau ia mengangkatnya dan mendengar Rizan marah-marah, malah akan membuat ayahnya khawatir.

Nayna pun menolak panggilan itu dan mematikan layar ponselnya. Namun sebuah pesan pun masuk. Pesan dari Rizan.

Nay, kamu dimana?

Nayna segera membalasnya.

Di rumah Ayah. Kenapa?

Sedetik kemudian balasan pesan dari Rizan kembali masuk.

Saya tak ingin pisah sama kamu, Nay. Saya minta maaf, saya salah. Pulang ya, Nay.

Mata Nayna sontak melotot, ia terkejut membaca pesan dari Rizan.

Apa maksud mas Rizan? Dia tak jadi menceraikan aku?

Nayna bertanya dalam hati. Dengan perasaan bingung ia meletakkan kembali ponselnya. 

"Kenapa Nay?" Tanya Nasrul.

"Gapapa, Yah." Jawab Nayna, ia lalu kembali menyendok nasi dan melanjutkan makannya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Petaka Jadi Janda    Kebohongan

    “Nanti kita ke tempat Ummi, ya,” ajak Rizan.Nayna yang semula hendak pergi langsung menoleh. “Mau ngapain?”“Saya nanti ada kerjaan di luar kota. Kamu di tempat Ummi aja, ya, Nay. Biar kamu tak kesepian.”Mendengar penjelasan itu, wajah Nayna seketika berubah murung. Ia menghela napas kasar, lalu memilih pergi tanpa menjawab.Rizan bangkit dari duduknya dan menyusul Nayna yang berjalan menuju halaman belakang.“Kenapa sih, Nay? Kamu tak suka ke rumah Ummi?”“Bukan gak suka, Mas. Aku cuma malas. Nanti ketemu sama Mbakmu, terus ditanya-tanya lagi.”“Ya, kamu kalau ditanya tinggal jawab.”Nayna berdecak kesal. Ia menghentikan langkah, lalu menatap Rizan.“Mereka itu gak suka aku, Mas.”“Kenapa bilang begitu sih, Nay? Jangan berprasangka buruklah sama dia. Dia itu baik.”“Yang bilang Mbak Farah jahat siapa?”“Ya, kamu. Kenapa tak mau ketemu Mbakku? Wajarlah kita ditanya, karena mereka keluarga kita.”Nayna hanya diam mendengar jawaban Rizan. Tatapannya beralih ke halaman belakang, seolah

  • Petaka Jadi Janda    Rahasia

    Nayna memandangi Rizan yang tengah menyantap sarapan di hadapannya. Sudah tiga hari berlalu sejak ia mendengar suara seorang perempuan yang menelepon Rizan melalui kontak bernama Abdul. Selama tiga hari itu pula, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.Siapa perempuan itu? Kalau memang hanya teman seperti yang Mas Rizan bilang, kenapa dia memanggil Mas Rizan dengan panggilan sayang?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.Nayna menghela napas panjang. Tangannya terangkat memegang pelipis, lalu memijatnya perlahan. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya."Kenapa, Nay?"Suara Rizan membuat Nayna tersentak kecil.Pria itu segera meletakkan sendoknya. Raut wajahnya berubah khawatir saat melihat Nayna memijat kepalanya."Nay? Kamu sakit?"Nayna menggeleng pelan, "Gak kok, Mas. Cuma sedikit pusing."Rizan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia berpindah ke kursi di samping Nayna, kemudian tangannya terulur menyentuh wajah istrinya dengan lembut."Kita ke dokter, ya?""Mas kan m

  • Petaka Jadi Janda    Janji

    "Jaga kesehatannya, Zan. Jangan terlalu dipaksakan kalau kerja tuh."Pesan Nadif itu membuat Rizan tertawa kecil."Iya Bang, aman tuh. Ya sudah kami pamit dulu ya, Bang." Ia lalu menoleh pada Nasrul, "Yah, pamit dulu.""Iya, Nak. Hati-hati."Rizan menggenggam tangan Nayna, lalu menariknya pelan untuk ikut berjalan menuju mobil.Dengan langkah yang berat Nayna mengikuti Rizan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Nayna kembali menoleh ke belakang, melihat ayahnya yang memandangnya.Wajah Nasrul memang tersenyum, tetapi entah mengapa, Nayna merasa ada kesedihan yang disembunyikan pria tua itu."Ayo masuk, Nay." Ucap Rizan.Nayna menghela napas dengan berat lalu masuk ke dalam mobil. Dari balik kaca mobil ia masih memandangi Nasrul. Dalam hati, ia masih ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya itu.Rizan melajukan mobil meninggalkan halaman rumah Nayna. Pria itu terlihat fokus menyetir tanpa memerhatikan Nayna. Sementara Nayna memandangi rumahnya dari balik jendela mobil hingga benar-benar hila

  • Petaka Jadi Janda    Pulang

    Nayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya. Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah.Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah.Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan k

  • Petaka Jadi Janda    Talak

    Di dalam masjid, para jamaah duduk khidmat mendengarkan ceramah seorang pria. Suara mikrofon menggema memenuhi ruangan.“Jadi, Bapak-bapak jamaah sekalian, Rasulullah itu sangat memuliakan istrinya...” ucap pria yang mengenakan jubah putih itu.Kalimat tersebut seketika membuat salah satu jamaah wanita terdiam. Untuk sesaat, pikirannya terasa hening. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum kecil. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk perlahan terangkat. Matanya menatap lurus ke arah sosok pria yang sangat ia kenali, lebih dari siapa pun yang berada di masjid itu. Pria dengan wajah berseri dan senyum ramah yang seolah tak pernah surut itu adalah suaminya.Sementara wanita itu adalah Nayna Banafsha. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal. Kacamata yang menghiasi mata indahnya pun menjadi salah satu ciri khas dirinya. Nayna adalah istri dari pria yang sedang berceramah itu, Ahmad Fahrizan.Orang-orang biasa memanggilnya Ustadz Rizan. Ia merupakan seorang arsitek profesional

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status