Mag-log inNayna duduk di kursi bus yang berada tepat di dekat jendela. Pandangannya tertuju pada pemandangan jalanan yang mereka lewati. Raganya memang berada di sana. Namun pikirannya masih berada di rumah suaminya.
Tatapan Nayna lalu beralih pada tangannya. Melirik jari manisnya yang masih melingkar cincin pernikahan mereka. Cincin berlian yang begitu indah, seperti indahnya saat pertama mereka menikah. Dahulu, Rizan adalah suami yang baik dan sangat menyayanginya. Meskipun pernikahan mereka berawal dari perjodohan, bagi Nayna, sejak Rizan sah menjadi suaminya, ia merasa dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada pria itu. Mereka begitu bahagia di awal pernikahan, dan kebahagiaan mereka bertambah seiring hadirnya buah hati di rahim Nayna. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Nayna mengalami keguguran. Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Rizan perlahan berubah. Sering berkata kasar dan terus menghina Nayna, bahkan tanpa segan akan memukulinya. Seolah setiap kali Nayna melakukan kesalahan, ia layak dihukum. Nayna menghela napasnya berat. Hatinya terasa sakit saat kembali mengingat semua. Ia juga tak mau kehilangan anak mereka, tetapi ia pun tak punya kuasa untuk hal itu, semua terjadi atas kehendak-Nya. Sama seperti Rizan ia juga merasai kehilangan yang luar biasa. Ditambah lagi setelah empat tahun penantian, mereka belum diamanahkan kembali seorang anak. "Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita, agar kita tak lagi saling menyakiti." Ujar Nayna dalam hati. Ia menyeka air matanya yang hendak jatuh, rasanya sakit tetapi ia juga tidak mungkin untuk menangis melampiaskan semuanya di sini, di hadapan orang lain yang ia tidak kenal. Setelah lebih dari satu jam perjalanan, Nayna akhirnya tiba di tujuannya. Ia segera turun dengan membawa tas berukuran sedang. Saat bus kembali jalan, pandangan Nayna pun beralih menatap pada rumah di seberang jalan tempat ia berdiri. Dengan ragu, ia perlahan mulai melangkah menyeberangi jalan menuju rumah itu. Rumah sederhana tempat ia menghabiskan waktu masa kecil dan remajanya, sebelum ia menikah dengan Rizan. Mata Nayna seketika membulat sempurna kala melihat seorang pria paruh baya yang keluar dari rumah itu. Dadanya berdesir pelan, ada kerinduan yang seketika membuncah. "Ayah!" Panggil Nayna berteriak. Mendengar suara itu, pria paruh baya itu menoleh. Ia menyipitkan matanya, mengamati dalam-dalam orang yang memanggilnya. Dan ketika ia menyadari bahwa sosok itu tak asing baginya. Ia langsung berlari mendekat pada Nayna. "Nay..." Ucap pria paruh baya itu sembari berlari menuju Nayna. Nayna pun langsung berhambur memeluk ayahnya itu. "Ayah... Aku kangen ayah." "Ayah juga kangen sama Nay." Sesaat mereka berpelukan saling melepaskan kerinduan. Hampir setahun mereka tidak bertemu. Padahal jarak tempat tinggal mereka hanya berbeda kota. Namun, Nasrul selalu merasa sungkan mengunjungi Nayna tanpa diminta. Nadif, kakak Nayna, juga sering melarang ayahnya berpergian jauh seorang diri. "Kamu sehat nak?" "Iya. Ayah gimana?" Nayna balik bertanya, ia lalu memandangi wajah ayahnya itu, "Apa masih harus sering kontrol ke klinik?" Terlihat raut khawatir yang terpancar dari wajah Nayna kala menyadari kondisi Nasrul yang tampak lebih pucat dari terakhir mereka bertemu. Nayna memegang kedua lengan ayahnya itu, "Ayah baik-baik aja kan?" "Iya, Nay. Memang masih harus kontrol setiap seminggu sekali." Mendengar itu Nayna menghela napasnya pelan, "Ayah harus rajin minum obatnya juga, apa yang dokter larang dan perbolehkan harus diikuti." Ucap Nayna lembut. Nasrul tersenyum hangat, "Iya, Nay, kamu tenang saja." Nasrul lalu melihat pada tas yang Nayna bawa, matanya menelisik seolah sedang mencari sesuatu. "Suami kamu mana, Nay?" Tanya Nasrul. "Gak ikut, Yah." "Loh, jadi kamu sendirian ke sini?" "Iya, naik bus tadi turun di situ." Jelas Nayna sembari menunjuk ke seberang jalan. "Kenapa gak diantar suami kamu? Kenapa dia gak ikut ke sini?" Mendengar pertanyaan itu Nayna diam sejenak. Ia pikir sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Nasrul soal Rizan yang sudah menalaknya. "Mas Rizan ada kerjaan, Yah, sibuk dia jadi gak bisa ngantar." Jawab Nayna. "Kenapa gak ngabari ayah mau ke sini biar abangmu yang jemput." "Aku udah terlalu rindu sama Ayah, jadi langsung ke sini aja deh." Ucap Nayna dengan ekspresi manjanya. Nasrul pun tersenyum melihat putrinya itu, "Yasudah, ayo masuk, pasti lapar kan... Makan dulu." Ucapnya. "Tau aja, Ayah, kalau aku lapar, banget malah." Mereka pun tertawa. Nasrul mengambil tas Nayna dan mengajaknya masuk ke rumah. Saat memasuki rumah sederhana itu, pandangan Nayna langsung berubah sendu. Kepalanya bergerak melihat sekeliling rumah. Ada kenyamanan yang seketika hadir, seperti rasa aman yang lama tak ia rasakan. Rumah ini isinya masih sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan. Dan suasana rumah seperti biasa, seperti suasana yang yang selalu ia rindukan. Nayna kembali melihat Ayahnya yang tampak sibuk menyiapkan makanan untuk di letakkan ke meja. "Ayah masak apa hari ini?" Tanya Nayna, ia lalu bantu memindahkan makanan itu juga, "Iih ada asam patin, sedap ini." Ucap Nayna dengan wajah antusias. Ia duduk dan mengambil piring lalu menyendok nasi dengan penuh semangat karena rasa laparnya sejak tadi. "Nadif yang masak, itu lauk tadi pagi, Nay. Sini biar Ayah hangatkan dulu." Nasrul hendak mengambil semangkuk asam patin itu. Namun Nayna mencegahnya. "Tak usah, Yah, masih enak kok." Ujar Nayna. Ia hanya tidak ingin membuat Ayahnya repot. Mendengar itu Nasrul langsung menawarkan lauk yang lain, "Ini baru Ayah masak, masih hangat." Semangkuk semur ayam diberikan pada Nayna. Nayna pun menyendoknya ke piringnya. "Wah, best ini," Nayna pun memakannya, "Hmm sedapnya... Pandai Ayah masak." Ucap Nayna memuji masakan Ayahnya itu. Nasrul hanya tersenyum sembari menggelang pelan melihat tingkah putrinya itu. "Makanlah yang kenyang, nak." Nayna tersenyum mendengarkan Ayahnya. Perlahan banyaknya masalah yang memenuhi pikirannya terasa hilang sejenak. Dengan melihat wajah dan senyum Ayahnya, Nayna merasa lebih tenang. "Oh, iya? Abang kapan pulang kerja, Yah?" Tanya Nayna. Nasrul melihat jam bulat yang terpajang di dinding rumahnya. "Jam empat biasanya sampai rumah, sebentar lagi dia pulang." Jawab Nasrul. "Ooh." Nayna mengangguk pelan. Nasrul kembali memandangi putrinya yang makan dengan lahap sambil terus tersenyum hangat. "Ayah juga makan." Tawar Nayna. "Sudah makan tadi. Kamu saja makan yang banyak, yang kenyang." Ucap Nasrul. Nayna pun tersenyum mendengar ucapan Ayahnya. Memang benar bahwa tempat terbaik adalah di rumah sendiri. Baru saja pulang, ia sudah disuguhkan makanan. Di sini juga biasanya ayahnya akan memanjakan ia dengan tidak membiarkan Nayna mengerjakan pekerjaan rumah. Kecuali hanya sekedar pekerjaan ringan atau membantu saja. "Aku sayang banget sama Ayah." Ucap Nayna pelan. Mendengar itu, dada Nasrul terasa hangat, ia lalu kembali mengulas senyum di wajahnya, "Ayah pun, sayang sangat dengan Nay." Balas Nasrul. Tak lama kemudian ponsel Nayna berdering. Sebuah panggilan masuk. Nayna cukup terkejut kala melihat layar ponselnya. Panggilan telepon dari Rizan. Mas Rizan nelpon? Mau ngapain? Apa dia mau marah-marah lagi? Tanya Nayna dalam hati. Ia lalu melirik pada Nasrul. Kalau ia mengangkatnya dan mendengar Rizan marah-marah, malah akan membuat ayahnya khawatir. Nayna pun menolak panggilan itu dan mematikan layar ponselnya. Namun sebuah pesan pun masuk. Pesan dari Rizan. Nay, kamu dimana? Nayna segera membalasnya. Di rumah Ayah. Kenapa? Sedetik kemudian balasan pesan dari Rizan kembali masuk. Saya tak ingin pisah sama kamu, Nay. Saya minta maaf, saya salah. Pulang ya, Nay. Mata Nayna sontak melotot, ia terkejut membaca pesan dari Rizan. Apa maksud mas Rizan? Dia tak jadi menceraikan aku? Nayna bertanya dalam hati. Dengan perasaan bingung ia meletakkan kembali ponselnya. "Kenapa Nay?" Tanya Nasrul. "Gapapa, Yah." Jawab Nayna, ia lalu kembali menyendok nasi dan melanjutkan makannya.Sepanjang perjalanan, Nayna hanya menatap kosong ke arah jendela mobil. Pemandangan kota yang ramai dengan kendaraan berlalu-lalang silih berganti di hadapannya, tetapi tidak benar-benar menarik perhatiannya.Pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja dilihatnya. Tentang Anna. Istri Rizan yang tadi terlihat begitu mesra bersama seorang pria lain.Nayna menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis."Persis seperti dulu yang kulihat saat dia bersama Rizan. Apakah ini yang dinamakan karma? Secepat itu?" tanyanya dalam hati.Senyum itu kembali terukir tanpa ia sadari. Habib yang sejak tadi fokus menyetir sempat meliriknya. Tatapan Nayna terlihat berbeda. Ada sesuatu yang seolah sedang berputar-putar di dalam kepalanya.“Nay? Kamu kenapa?” tanya Habib.Nayna segera menoleh, “Gak papa kok,” jawabnya cepat.“Serius?”“Iya, Bib.”“Baiklah.”Habib kembali memusatkan pandangannya pada jalan. Namun beberapa detik kemudian, suara Na
Habib turun dari mobilnya dan melangkah cepat menuju Kafe Nuansa yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.Saat memasuki kafe, ia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, mencari seseorang di antara beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang. Hingga akhirnya matanya berhenti pada satu meja di sudut ruangan, Nayna.Perempuan itu duduk sendirian dengan pandangan kosong. Sesekali tangannya mengaduk minuman di hadapannya, meskipun es di dalam gelas sudah hampir sepenuhnya mencair.Habib menghela napas pelan. Bibirnya terkatup rapat. Ada sedikit kekhawatiran dalam tatapannya ketika melihat wajah Nayna yang tampak murung.Ia berjalan mendekat. Nayna bahkan tidak menyadari keberadaannya sampai Habib menarik kursi dan duduk di sampingnya.Nayna menoleh, “Habib... Kamu udah dari tadi sampai?” tanyanya dengan wajah sedikit terkejut.Habib tersenyum, “Gak kok, baru aja.”“Oh...” Nayna mengangguk kecil. “Kamu mau pesan apa?”Ia langsung menyerahkan buk
Nayna masih terpaku di halaman rumah. Di hadapannya, Farah dan Rizan berjalan mendekat. Mata Nayna membelalak, seolah belum percaya dua orang yang paling tidak ingin ditemuinya itu kini berdiri di depan rumahnya.“Hai, Nay. Apa kabar?” sapa Farah dengan senyum yang tampak ramah.Namun bagi Nayna, senyum itu justru terasa seperti basa-basi yang dibuat-buat. Nayna tidak menjawab. Tatapannya tajam, jelas menunjukkan ketidaksukaan atas kedatangan mereka.Rizan ikut tersenyum. “Mau kerja, kah, Nay?”Nayna akhirnya bersuara. “Kalian ngapain ke sini?”“Mau ketemu Bang Nadif,” jawab Rizan santai.“Ada urusan apa cari abangku?”Belum sempat Rizan menjawab, pintu rumah terbuka. Nadif keluar dengan pakaian kerja yang sudah rapi.“Eh, Rizan... Farah. Ada apa?” tanyanya sembari menghampiri mereka.“Mau kerja, Bang?” tanya Rizan.“Iya. Kalian mau ke mana nih?”“Mau ngobrol sama Bang Nadif.”“Gak boleh.” Nayna langsung menyela. Nadanya tegas. “Kalian mau apa lagi sih? Masih pagi begini, orang mau pe
Nayna duduk di tepi pantai sembari memandang langit senja yang mulai berubah kemerahan. Semburat jingga menyelimuti permukaan laut, menciptakan pemandangan yang menenangkan.Di sebelahnya, Habib duduk dalam diam. Sejak tadi, pandangan pria itu justru lebih sering tertuju kepada Nayna daripada kepada matahari yang perlahan tenggelam. Bagi Habib, perempuan di sampingnya jauh lebih indah daripada pemandangan apa pun yang terbentang di hadapan mereka. Namun, ketenangan antara mereka tiba-tiba pecah ketika Nayna membuka suara.“Kalau aku meninggal... apakah ibuku akan datang melihatku untuk kali terakhir?”Senyum di wajah Habib perlahan menghilang. Tatapannya berubah sendu.Nayna masih menatap lurus ke arah laut.“Andai semua ibu di dunia ini tahu betapa beratnya hidup seorang anak tanpa ibu di sisinya.” Bibirnya melengkung tipis, tetapi senyum itu terasa pahit. “Mengapa melahirkan kami ke dunia kalau mereka bahkan nggak berniat mengurusnya?” Ia menoleh kepada Habib. “Kita nggak pernah min
Nayna terpaku menatap ke depan. Beberapa langkah di hadapannya, Rizan berdiri dengan senyum tipis yang justru membuat dada Nayna terasa sesak. Pria itu kemudian mulai berjalan mendekatinya.Nayna yang merasa muak dan tidak ingin berurusan dengan drama apa pun langsung membalikkan tubuh. Ia hendak pergi meninggalkan Rizan, tetapi baru hendak melangkah, tangan pria itu sudah lebih dahulu meraih tangannya.“Hei, Nay.” Rizan menariknya sedikit. “Kenapa kamu?”“Lepasin!” Nayna segera menepis tangan Rizan dengan kasar. Tatapannya berubah tajam. “Jangan berani kamu sentuh aku, ya.”Rizan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. “Sorry. Oke, Nay. Saya tak sentuh kamu.”Nayna tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Rizan dengan sorot mata yang sulit diartikan.“Santai, Nay.” Rizan terkekeh kecil. “Kenapa menatap saya seperti itu?”“Ngapain kamu ke sini?”“Mau mainlah.” Rizan mengangkat bahu. “Kenapa? Tak bolehkah saya main ke rumah mantan istri saya?”“Jelas tidak. Sekarang kamu pulang!” ja
“Ustadzah, kenapa kita tidak boleh membalas orang yang jahat sama kita?”Nayna yang sedang merapikan beberapa buku di atas meja sontak menghentikan gerakannya. Ia menoleh kepada salah seorang murid perempuan yang duduk tidak jauh darinya.Gadis kecil itu bernama Aisyah. Selama beberapa hari mengajar di kelas tersebut, Nayna memperhatikan bahwa Aisyah termasuk murid yang pendiam. Ia jarang berbicara, lebih sering menundukkan kepala, dan selalu memilih duduk sendiri. Namun kali ini, tiba-tiba saja Aisyah mengajukan pertanyaan.Nayna menatapnya dengan hangat. “Karena kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan yang sama, sayang.”“Enak dong mereka, Zah,” sahut Aisyah polos. “Jahat sama kita, tetapi kita gak boleh jahat sama mereka.”Nayna tersenyum tipis. Ia lalu mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan gadis kecil itu.“Sayang, semua perbuatan kita pasti ada balasannya. Kita punya Allah, kan?” jelas Nayna lembut. “Jadi, kita harus berusaha berbuat baik supaya mendapat







