Chapter: Bab 32Keributan terjadi di klub Viper, kekalahan Reza membuat pria itu tak terima. Ia memukul siapapun yang ada di dekatnya membuatnya di pukul balik oleh pengunjung lain. Kericuhan yang ia timbulkan membuatnya di seret satpam keluarBahkan rencana malam bersama Camilla, sang pelacur mahal harus gagal total sebelum mencicipi tubuh molek wanita itu.Langkahnya terhuyung, tubuhnya terasa remuk hingga ia memutuskan pulang. Kehilangan uang tak sedikit kembali membuatnya kesal dan marah namun apa daya, amarah hanya bisa ia telah, kecewa hanya bisa ia rasakan.Ia tak menyangka Dragon sehebat itu, ia sudah berlatih berkali-kali dan berkali-kali juga telah memenangkan pertaruhan namun kali ini ia gagal dalam satu putaran."Sial...pria itu Aku akan membunuhnya lain kali."Reza mendorong pintu rumahnya, matanya menangkap seorang wanita yang sangat di kenalinya.Diana.Wanita itu nampak sibuk menghitung lembaran merah yang sangat banyak, ia terkejut namun berusaha terlihat biasa saja.Perlahan ia mend
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: Bab 31Suara teriakan dan desahan bercampur, menyatu dengan asap rokok dan tumpukan alkohol. Tak sedikit sepasang pria dan wanita memadu kasih dengan panas. Di sudut klub, sebuah meja melingkar dengan beberapa pria duduk di kursinya. Ketegangan meraup wajah mereka ketika dua kali putaran tak sekalipun meraup keuntungan. Namun lain hal dengan Reza, malam ini adalah malam keberuntungan, dalam dua kali putaran itu ia telah memenangkan dua ratus juta. Ia congkak, menatap remeh lawan-nya yang nampak panik dan marah. Celotehan-celotehan penonton dan pendukung semakin membuatnya besar kepala dan bangga. Sesekali mengecup singkat bibir sang wanita di pangkuan semakin menunjukan bahwa ialah rajanya malam ini. "Hahaha....kau hebat Reza. Malam ini kau sangat beringas, dua kali putaran kau selalu menang hahaha..." "Ya benar, aku tak menyangka anak muda sepertimu bisa melawan kami yang sudah lebih dari lima puluh tahun bermain judi." Reza semakin menaikan dagunya, tersenyum pongah. Dadanya
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: Bab 30“Ada apa?”Diana menolehkan wajahnya ke arah suara. Seorang pria yang beberapa hari terakhir mengacaukan hidupnya berdiri tenang, kedua tangan terselip di saku celana.Tatapan datar dengan alis terangkat menjadi penyambutnya. Sejenak ia gugup untuk mengutarakan apa maksud kedatangannya.Setelah beberapa hari merenung, pada akhirnya Diana nekat kembali datang ke rumah mewah yang kini ia pijak. Untuk apa lagi selain mencari informasi tentang liontin yang harus ia cari.Bram yang melihat keterdiaman Diana perlahan mendekat. Langkahnya tenang dan hening hingga wanita yang biasanya menatap sinis itu tak menyadarinya.“Apa kau merindukan sentuhanku hingga kembali datang kemari?”Sebuah suara menyapa telinga Diana. Serak dan berat membuatnya tersentak, matanya melebar saat menyadari ujung sepatu pantofel mengkilap menabrak kakinya yang tak terbungkus apa pun.“Bu-bukan…a..aku...” ujarnya gugup. Tangannya bergerak gelisah berusaha menolak pertanyaan itu.Bram tak bereaksi lebih, namun tubuhny
Last Updated: 2025-11-27
Chapter: Bab 29"Cara apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkan liontin itu." "Dan, di mana Reza menyimpan liontin itu." "Apakah mungkin di rumah ini? Tapi di mana?" Diana berputar-putar menatap sekeliling kamar. Otaknya berpikir keras mencari di mana letak liontin itu. "Bodoh. Bahkan bentuk liontin itu aku tidak tahu." Diana memukul kepalanya. "Lalu bagaimana caranya bisa tahu dan mencarinya?" Bahkan ia lupa bertanya pada Bram bentuk dan bagaiaman liontin itu. Tangannya membuka lemari, lemari yang dulu ia acak-acak kini kembali ia bongkar. Ia tak peduli pada tubuhnya yang terasa lelah remuk redam. "Di mana ya?" gumam Diana sambil menarik tumpukan pakaian Reza. Walaupun baju mereka dalam satu lemari yang sama namun tidak jadi satu tempat. Dan hanya lemari itu Diana mengijinkan Reza menyimpan barang yang sama ndgsna Diana. Dikarenakan mereka cukup lama pisah ranjang, lebih tepatnya sejak Reza berubah menjadi brengsek dan tak tahu diri itu. Bahkan ia tak peduli jika pria itu sakit bad
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: Bab 28 Matahari sudah cukup tinggi ketika Diana akhirnya berhasil bangun lagi. Tubuhnya masih terasa letih, tapi Bram sudah lebih dulu menariknya untuk turun ke ruang makan. Meja makan itu panjang, dengan taplak putih bersih dan peralatan makan berkilat rapi berjajar. Piring porselen putih di hadapan mereka hanya berisi menu bermacam-macam sup hangat, ayam panggang, beberapa olahan ikan dan potongan buah segar. Terlihat mewah bagia Diana yang terbiasa makan dengan orek tempe, aroma masakannya menusuk hidungnya, nikmat dan berkelas khas rumah besar dengan chef profesional. Namun anehnya, ruang makan yang luas itu terasa kosong. Hening. Tidak ada maid yang berbaris di sisi ruangan seperti kemarin, tidak ada bodyguard yang lalu-lalang menjaga. Hanya mereka berdua. Sunyi begitu kental hingga suara sendok menyentuh piring terdengar terlalu jelas. Diana duduk agak menunduk, berusaha makan dengan tenang, meski tangannya sedikit gemetar. Sementara Bram duduk tegap di ujung meja, menikmati mak
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: Bab 27Perlahan, kelopak mata Diana terangkat. Pandangannya langsung tertumbuk pada dada bidang yang tengah merengkuhnya erat. Hangat. Nyaman. Dan… terlalu dekat.Ia terdiam sejenak, membiarkan telinganya menangkap dentum jantung Bram yang berdetak stabil di dadanya. Lengan kokoh pria itu melingkar di pinggangnya, membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana. Pipi Diana memanas, semburat merah menjalar hingga telinganya.'Nafasnya begitu teratur… bahkan hembusannya saja bisa membuatku gugup begini.'Matanya pelan-pelan mengangkat kepala, menatap wajah Bram yang masih terpejam. Rambut hitam pria itu sedikit berantakan, garis rahangnya tegas, dan ada sedikit sisa lelah di rautnya. Namun justru di situlah letak ketampanannya wajah pria dewasa yang baru saja memberikan malam panjang tak terlupakan.Diana menahan napasnya. "Ya Tuhan, bagaimana bisa ia terlihat lebih tampan saat tidur begini?" Bibirnya bergerak tanpa suara, seperti ingin tersenyum tapi malu sendiri.Ia mencoba menarik tubuhnya menjauh
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: Bab 12. Makan BersamaLintang terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Ceria dan semangat. Namun keceriaan itu lenyap saat ia melihat Eden yang sudah duduk di ujung kasurnya.Bibirnya terbuka lebar, menatap terkejut Eden. Sedangkan orang yang di tatap berpangku tangan menatapnya."apa dia sudah lama di sini?" batin lintang dengan masih terkejut.Eden tersenyum tipis. senyum yang pertama kali terbit setelah berhenti di umurnya sembilan tahun.Melihat Lintang yang terbangun dengan muka bantal dan tampang bodoh membawa kehangatan dalam dirinya."ku kira kau mati." tukas Eden santai. "Kau tak bangun padahal sudah pukul dua belas siang"ia tak menyadari perubahan raut lintang yang tiba-tiba kecut.Lintang yang diejek menatap sengit Eden. “Padahal kau yang mengganggu tidur malamku,” sungutnya tak terima namun Eden tak mendengar itu.Kemudian melirik jendela yang sudah terang benderang. Kemudian tatapannya berpindah pada Eden "kenapa kau kemari?”Eden memperhatikan gerakan bibir Lintang, dalam s
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 11. FantasiBaru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak dudukMatanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga.Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat.ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya.Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan.Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri.Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal.“Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan.Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali merin
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 10. Telepon dari JuliaEden kembali ke rumah saat malam telah larut.Tumpukan dokumen dan masalah kantor hari ini benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lelah, dan saat ia melangkah masuk, rumah sudah gelap gulita.Eden menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga. Namun saat melewati lantai dua entah mengapa bayang-bayang Lintang tiba-tiba muncul di benaknya.Gadis itu, apa sudah baik-baik saja telah kejadian malam kemarin?Eden melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lewat tengah malam, ia ragu sejenak, tapi entah mengapa seperti ada yang menariknya untuk melihat kondisi wanita itu. Ada rasa khawatir yang berusaha ia tepis membuat langkahnya terhenti di depan pintu yang tertutup rapat.Ada dorongan aneh yang membuatnya mendekat, dengan langkah hati-hati agar tak berbunyi, Eden mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkan ke lubang kunci.Klik,Pintu terbuka pelan, Eden masuk dan menutupnya kembali tanpa suara.Ruangan remang-remang, hanya diterangi sorot rembulan yang mener
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 9. 'Dia datang, memaksaku'Setelah sarapan selesai, piring-piring kosong dibiarkan begitu saja di atas meja kecil di sudut kamar. Ema tidak langsung pergi seperti biasanya. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, ragu, lalu kembali mendekat. Tatapannya tertuju pada Lintang yang duduk di tepi ranjang, tubuhnya agak membungkuk, pandangan kosong ke arah jendela yang selalu tertutup rapat. Ema mengerti. Tanpa perlu kata-kata, ia tahu apa yang telah terjadi malam tadi. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas bahkan semakin jelas ,memar merah di lengan, kissmark merah keunguan mengintip di balik leher, wajah yang lebih pucat dari biasanya, dan cara Lintang duduk dengan kaki rapat dan tangan memeluk bantal seolah ingin melindungi diri dari dunia. Meski begitu, naluri seorang ibu—meskipun ia hanya pelayan—tetap mendorongnya untuk mendengar langsung dari mulut gadis itu. Ema menghela napas pelan, lalu duduk miring di pinggir kasur. Tangannya dengan lembut memijat betis Lintang yang terasa kaku, gerakan itu lebih untuk
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 8. PingsanWaktu sekarang… Seorang pelayan, berjalan tergopoh-gopoh, di tangannya nampan berisi sarapan pagi. Langkahnya bergema di lorong panjang menuju pintu hitam yang tertutup rapat. Hatinya terasa senang ketika ia bisa kembali ke ruangan ini, lebih tepatnya bertemu dengan seseorang di dalamnya. Namanya Ema, Hari ini ia telat beberapa menit karena kondisi dapur yang sibuk, sehingga tugasnya melayani sang nona lebih lambat dari waktu biasanya. Ketika ia masuk ke dalam kamar, Ema disambut dengan kondisi kamar yang berantakan. Lebih tepatnya hanya kasur yang berantakan, sprei terlepas dari kasur dan selimut yang teronggok di depan kamar mandi. Ia menggelengkan kepala, namun senyum tercetak di bibirnya. “Nona Lintang seperti anak kecil saja.” Gumamnya sambil merapikan sprei yang terlepas. Semenjak kejadian dimana ia mengobati Lintang sebulan yang lalu ia merasa begitu senang ketika dekat dengan Lintang, gadis itu seperti mawar cantik dan mempesona. Selama 30 tahun menikah tak dikaru
Last Updated: 2025-12-30
Chapter: Bab 7. Aku bukan penyusupPOV Lintang. Namaku Lintang Sabiru, aku hanyalah seorang gadis bisu dan miskin. Bekerja sebagai pencuci piring di sebuah restoran untuk menyambung hidupku. Setelah kematian ayah 3 tahun yang lalu, aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di usiaku yang masih muda. Sembilan belas tahun. Aku tak mengeluh, karena ayah tak pernah e mengajariku untuk mengeluh, walau dunia selalu jahat padaku, aku akan tetap bersinar seperti yang ayah ucapkan padaku. Hal yang tak pernah aku sangka adalah terkurung dalam rumah mewah yang menyeramkan. Padahal aku datang untuk mengantar pesanan tapi mereka menuduhku penyusup. Malam ini, di ruangan bawah tanah yang busuk dan berbau amis, aku merasa seluruh dunia menindih dadaku. Rantai besi yang mengikat kedua pergelangan ku sudah menggigit kulit hingga berdarah. Setiap kali aku bergerak sedikit saja, logam itu seperti mengingatkanku bahwa aku tak punya kuasa apa-apa di sini. Bahkan untuk lepas pun sulit. Tubuhku... ya Tuhan, aku bahkan tak beran
Last Updated: 2025-12-30