Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 9. Fase Inersia

Share

9. Fase Inersia

Author: KoTz
last update publish date: 2026-07-10 10:26:29

"Kalau aku tidak mau?" balas Reyhan. Ia menyentil abu rokoknya ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang teramat santai, menantang balik ancaman maut Wisnu menggunakan sorot matanya yang tak kalah tajam.

"Haha, kamu yakin mau nolak?!" Wisnu terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat kalap dan membawa hawa kematian. "Kalau sampai aku nyuruh anak buahku yang turun tangan, resikonya nggak bakal sesederhana satu jari kelingking. Lebih baik kamu pikiran baik-baik sebelum memberikan jawaban terakhir."

Bilah pisau yang menancap di atas meja kayu itu memantulkan kilau mengerikan. Hawa pembunuhan yang menguar dari Wisnu dan barisan pengawalnya membuat tekanan udara di dalam ruang VVIP tersebut terasa mencekik.

Siska, yang sejak tadi meringkuk memeluk lututnya, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Batas kewarasannya hancur. Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang pucat pasi kini beralih menatap Reyhan dengan sorot mata bersalah.

"Reyhan! Kamu bener-bener gila, ya? Jangan seret kami ke dalam masalah ini!" jerit Siska histeris. Air mata ketakutan sudah menghapus riasan wajahnya.

Tanpa memedulikan tatapan semua orang, Siska melangkah menjauh dari posisi Reyhan dan Hana, terang-terangan bergeser mendekati kubu lawan.

"Tuan Muda Wisnu, sumpah aku sama sekali nggak terlibat! Aku cuma diajak sama mereka ke sini! Aku nggak tahu apa-apa, tolong lepasin aku!" ratap Siska, mencoba merendahkan diri demi keselamatannya.

Hana terkesiap. Matanya membulat sempurna melihat kelakuan temannya itu. "Siska? Kamu ngomong apaan sih? Kita kan temen! Kok kamu malah nyalahin Reyhan yang berusaha nyelamatin kita?"

"Temen? Temen mana yang mau mati konyol?! Nggak, makasih! Kalau kalian bertiga mau mati malam ini, jangan bawa-bawa aku!" sahut Siska cepat, tidak merasa bersalah sedikitpun.

Hana terdiam, rasa kecewa yang teramat sangat langsung menghantam dadanya. Ia tidak pernah menyangka Siska memiliki sifat selicik dan seegois itu saat dihadapkan pada bahaya.

Berbeda dengan Hana, Reyhan sama sekali tidak repot-repot menoleh. Ia bahkan tidak merasa terkejut. Tumbuh sebagai laki-laki gagal telah mengajarkannya satu hukum alam: manusia akan selalu menunjukkan wajah aslinya saat nyawa dan hartanya terancam. Pengkhianatan Siska hanyalah hiburan murahan di matanya.

Perhatian Reyhan tetap terkunci pada wajah congkak Wisnu. Otaknya berhitung cepat, memperkirakan seberapa besar peluang menumbangkan puluhan pengawal bersenjata tajam ini hanya dengan mengandalkan tenaga kasarnya.

Tepat pada detik yang sangat genting itu, jarum jam analog dalam ruangan VVIP itu menunjuk lurus ke angka dua belas malam.

[Ding! Selamat Host. Waktu sign-in harian telah direset.]

[Ding! Selamat Host. Sign-in harian berhasil dilakukan. Anda mendapatkan: Fase Inersia.]

[Ding! Menampilkan deskripsi hadiah: Fase Inersia merupakan kemampuan manipulasi energi tingkat lanjut. Kemampuan ini memfasilitasi Host untuk memindahkan aliran energi langsung ke titik pusat suatu objek tanpa menimbulkan kerusakan pada permukaan luar, serta memfokuskan seluruh tekanan energi pada satu titik internal objek tersebut.]

Seketika itu juga, sensasi dingin yang luar biasa menjalar dari dasar tulang belakang Reyhan hingga ke ujung jarinya. Bukan hanya sekadar teori, Sistem langsung memformat ulang saraf dan aliran energinya.

Dalam sekejap, Reyhan memahami esensi dari teknik tersebut: kemampuan untuk memanipulasi energi di dalam sebuah objek tanpa merusak permukaan luarnya. Itu adalah teknik destruksi internal.

Reyhan merasakan perubahan drastis pada tubuhnya. Ia tidak lagi melihat meja marmer atau benda di sekitarnya hanya sebagai benda mati. Ia bisa melihat kepadatan molekul dan titik-titik lemah di bagian dalam objek tersebut.

"Fase Inersia," batin Reyhan. "Sistem benar-benar memberiku kekuatan yang tidak masuk akal."

Reyhan mengepalkan kedua tangannya perlahan. Tulang-tulangnya bergemeretak pelan. Rasa percaya dirinya melonjak tajam. Ia tidak lagi melihat barisan pengawal berjas hitam itu sebagai ancaman mematikan, melainkan sekadar samsak hidup yang pergerakannya sangat lambat.

Tepat saat Reyhan bersiap mengambil langkah pertama untuk menghancurkan lengan Wisnu, pintu ganda ruang VVIP itu terbuka dengan sangat kasar.

Suara dobrakan tersebut menghentikan seluruh pergerakan di dalam ruangan. Sekelompok pria berbadan tegap yang memegang senjata api laras pendek merangsek masuk dengan formasi militer, langsung mengepung posisi anak buah Wisnu dari segala arah.

Di tengah barisan pria bersenjata itu, melangkah masuk seorang wanita dengan aura dominasi yang luar biasa. Ia mengenakan gaun malam belahan tinggi berwarna merah marun, memancarkan pesona anggun sekaligus villain. Ia adalah Rania Maheswari, pemilik Elara Club yang misterius dan sangat dihormati di dunia malam.

Tanpa membuang waktu dengan obrolan basi, Rania berjalan lurus membelah kerumunan. Ia mengangkat tangan kanannya, menempelkan moncong pistol berwarna perak tepat di tengah dahi Wisnu.

"Wisnu, jangan pernah berani membuat keributan kotor di tempatku kalau kamu masih mau pulang sambil bernapas," ucap Rania, intimidasi yang ia pancarkan membuat para pengawal Wisnu berkeringat dingin.

Tubuh Wisnu menegang. Wajah arogan pemuda itu langsung berubah kaku merasakan dinginnya logam senjata api di dahinya.

"Rania? Kamu berani merusak hubungan keluarga besar kita cuma buat belain bajingan rendahan ini?" desis Wisnu, mencoba menjaga sisa harga dirinya di hadapan anak buahnya.

"Aku tidak peduli siapa yang kalian hadapi malam ini," balas Rania tanpa sedikit pun memiringkan moncong pistolnya. Ujung jarinya menempel erat pada pelatuk. "Tapi kau merusak bisnisku. Bawa anak buahmu keluar dari ruangan ini sekarang juga, atau biar orang-orangku yang mengirim kalian semua ke kamar mayat."

Ruangan itu sunyi senyap. Wisnu tahu betul bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah wanita sembarangan. Rania memiliki bekingan kekuatan yang bahkan membuat ayah Wisnu berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya.

Mendengus kasar karena merasa dipermalukan, Wisnu akhirnya mengalah. Ia memberikan isyarat tajam menggunakan tangannya, menyuruh seluruh pengawalnya menurunkan senjata dan mundur.

"Urusan kita belum selesai. Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak setelah ini," ancam Wisnu sambil tersenyum tipis, lalu pergi tanpa menoleh.

Pemuda itu melangkah keluar dari ruangan VVIP tersebut dengan ego yang hancur berantakan. Rania pun menurunkan senjatanya, puas karena mengira krisis malam ini sudah berhasil ia redam.

Namun, prediksinya meleset total.

"Tunggu," suara bariton Reyhan tiba-tiba terdengar, cukup keras untuk menghentikan langkah kaki Wisnu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   11. Bawah Tatapan Reyhan

    "Cukup!" seru Jason dari samping Rania."Cukup? Kita masih jauh dari kata selesai," balas Reyhan datar. Ujung pisau itu kini mengarah lurus, mengancam akan memotong jari kelingking Wisnu.Seseorang dari kubu Wisnu mencoba bergerak menyerang, namun terlambat. Tepat sebelum bilah tajam itu menyentuh targetnya, sebelah tangan kekar mencengkeram erat pergelangan tangan Reyhan."Kekuatan di belakang Wisnu bukan sesuatu yang bisa Anda lawan sembarangan. Dan Nona Rania tidak akan membiarkan Anda memotong jarinya di sini," bisik Jason. Pria itu sebenarnya tidak peduli pada nasib Wisnu. Ia hanya tidak ingin melihat pemuda bernyali gila seperti Reyhan harus mati konyol diburu oleh keluarga besar pemuda tersebut.Reyhan hanya tersenyum tipis. Ia membuka genggamannya, membiarkan pisau itu terlepas sesuai dengan perhitungannya. Bilahnya yang luar biasa tajam sempat menggores kelingking kiri Wisnu saat terjatuh, membuat darah segar kembali menetes."Argh!" Wisnu menjerit kesakitan.Jason tersenta

  • Sistem Sign-In Harian   10. Tidak Ada Jalan Mundur

    Wisnu berhenti di ambang pintu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Reyhan dengan tatapan heran bercampur geli. "Kenapa? Kamu mau sujud minta maaf? Boleh juga, mumpung ada yang melindungi kamu."Reyhan berjalan maju melewati Rania, berhenti tepat dalam jarak dua langkah dari Wisnu. "Tidak," jawab Reyhan dingin. Tatapannya menajam layaknya srigala. Ia menunjuk ke arah Hendra yang bersandar di sofa dengan wajah memar dan sudut bibir yang masih meneteskan darah. "Temanku, babak belur gara-gara kelakuan anjing-anjingmu. Jadi, pilihannya malam ini hanya ada dua. Kamu menanggung rasa sakit yang sama persis seperti temanku, atau... kamu tinggalkan satu jari kelingkingmu di atas meja itu sebelum keluar dari ruangan ini."Pernyataan tersebut ibarat bom yang baru saja meledak. Semua orang di ruangan itu melotot tidak percaya. Wisnu sendiri mematung, menatap Reyhan tidak percaya sekaligus penasaran. Ia benar-benar tidak habis pikir dari mana pemuda tanpa identitas ini mendapatkan nyali sebe

  • Sistem Sign-In Harian   9. Fase Inersia

    "Kalau aku tidak mau?" balas Reyhan. Ia menyentil abu rokoknya ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang teramat santai, menantang balik ancaman maut Wisnu menggunakan sorot matanya yang tak kalah tajam."Haha, kamu yakin mau nolak?!" Wisnu terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat kalap dan membawa hawa kematian. "Kalau sampai aku nyuruh anak buahku yang turun tangan, resikonya nggak bakal sesederhana satu jari kelingking. Lebih baik kamu pikiran baik-baik sebelum memberikan jawaban terakhir."Bilah pisau yang menancap di atas meja kayu itu memantulkan kilau mengerikan. Hawa pembunuhan yang menguar dari Wisnu dan barisan pengawalnya membuat tekanan udara di dalam ruang VVIP tersebut terasa mencekik.Siska, yang sejak tadi meringkuk memeluk lututnya, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Batas kewarasannya hancur. Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang pucat pasi kini beralih menatap Reyhan dengan sorot mata bersalah."Reyhan! Kamu bener-ben

  • Sistem Sign-In Harian   8. Ultimatum Tuan Muda Wisnu

    Tanpa berpikir dua kali, Reyhan menerjang masuk.Begitu masuk pemandangan di dalam ruangan sukses membuat darahnya mendidih. Hana tengah meronta di dalam dekapan seorang pria, bajunya terlihat ditarik kusut. Pemuda tidak dikenal itu menyeringai bodoh, aroma alkohol menguar begitu kuat dari tubuhnya. Di sudut lain, Siska meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut di sudut sofa."Rey, tolongin aku!" jerit Hana putus asa begitu melihat kedatangan Reyhan. Ia memanggil nama pemuda itu layaknya satu-satunya tali penyelamat yang ia miliki.Tanpa sedikit pun keraguan, Reyhan melesat maju. Ia melayangkan satu tendangan telak ke arah pemuda mabuk tersebut. Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang hingga mulutnya menghantam tepi meja marmer. Darah segar seketika mengucur membasahi dagunya.Begitu cengkeramannya terlepas, Hana langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Reyhan layaknya anak kecil yang ketakutan. Reyhan bisa merasakan jemari gadis itu gemetar hebat saat mencengkeram punggungnya

  • Sistem Sign-In Harian   7. Ambruk Tanpa Perlawanan

    Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya. "Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut. Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya. "Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke. "Nggak ada," jawab Reyhan pendek. "Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang j

  • Sistem Sign-In Harian   6. Bidadari di Royal Suite

    Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran." Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot." "Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai. Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya." Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status