Share

Bab 7

Penulis: KoTz
last update Tanggal publikasi: 2026-07-09 22:07:29

Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya.

"Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut.

Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya.

"Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke.

"Nggak ada," jawab Reyhan pendek.

"Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang jujur, ya?"

"Boleh. Tanya aja."

"Kudenger mobilmu tadi harganya sampai ratusan miliaran?"

"Iya, bener."

"Kamu... nggak lagi ikut bisnis yang melanggar hukum, kan?" Suara Hana bergetar, sarat akan tuduhan.

Reyhan mendongak cepat. Sorot matanya menajam. Perasaan kecewa langsung menghantam dadanya. Alih-alih melihat hal ini sebagai sebuah pencapaian, gadis pujaannya di masa lalu itu justru mencurigainya sebagai pelaku kriminal.

Belum sempat Reyhan membalas, pintu ruangan terbuka lebar. Kepala pelayan tadi melangkah masuk, kali ini membawa barisan wanita penghibur dengan gaun malam yang sangat menawan dan lumayan berani.

"Bagaimana, Tuan Reyhan? Apakah ini bidadari-bidadari yang Anda harapkan?" sapa manajer itu seraya kembali mengambil posisi duduk di dekat Reyhan.

Hana seketika mengerucutkan bibirnya. Rentetan pertanyaannya terhenti di ujung lidah. Matanya menatap cemburu saat melihat wanita-wanita cantik tersebut.

"Kalian semua, tetep di sini," perintah Reyhan dingin. Tuduhan Hana baru saja menghancurkan seluruh suasana hatinya malam ini.

"Sesuai permintaan Anda, Tuan," balas manajer itu. Ia menjentikkan jarinya pelan memberikan aba-aba.

"Kalian baris di sana. Dan kamu, duduk di sana," perintah Reyhan.

Gadis-gadis penghibur itu sangat pandai membaca situasi. Mereka langsung berhamburan mengelilingi Hendra. Pemuda itu awalnya memasang wajah berwibawa, tetapi sepuluh detik kemudian, pertahanannya jebol total. Ia pasrah tenggelam dalam godaan.

Kondisi ruangan kini terpecah menjadi dua. Satu sisi begitu liar dan dipenuhi gelak tawa, sementara kursi Reyhan terasa sangat canggung. Sang manajer pun akhirnya memilih diam, menyadari perubahan aura dingin dari klien VVIP-nya itu.

"Aku keluar merokok sebentar," ucap Reyhan tiba-tiba. Ia bangkit dan melangkah keluar ruangan.

"Aku ikut!" seru Hendra. Ia tidak tahan lagi dengan kecanggungan itu dan langsung melepaskan diri dari kerumunan gadis-gadis, memilih mengekor di belakang Reyhan.

Dalam kondisi normal, fasilitas ruangan semewah ini pasti sudah membuat Hendra lupa daratan. Namun malam ini berbeda. Kehadiran Hana membuat Hendra merasa berutang budi untuk menjaga etika demi menghargai sahabatnya.

Di ujung koridor kelab, Reyhan mengeluarkan sebuah korek api dan sebungkus rokok kretek yang belum terbuka.

"Mau satu, Hend?" tawar Reyhan.

"Gila, Rey. Kamu masih nyimpen rokok ginian?" Hendra tertawa kecil. Ia mendekat dan mengendus aroma tembakau murahan tersebut.

"Ini kan saksi bisu zaman susah kita," balas Reyhan dengan senyum tipis, menyembunyikan rasa pahit di hatinya. Ia menyalakan rokok tersebut dan mengembuskan kepulan asap ke udara.

"Tadi Hana nanya apaan ke kamu?" selidik Hendra. Ia bersandar di dinding koridor, ikut menyalakan rokoknya.

"Nggak penting. Cuma nanya apa aku kerja ilegal. Kayaknya dia mau nyuruh aku nyerahin diri ke pihak berwajib," jawab Reyhan bernada sinis.

Hendra terdiam. Ia menghisap rokoknya perlahan. Setelah setengah batang habis terbakar, ia baru bersuara. "Rey, tadi di dalem aku emang sempet kepikiran kalau kamu itu bandar ilegal. Tapi sekarang, aku seratus persen yakin kamu nggak gitu."

"Kenapa bisa gitu?"

"Gara-gara ini." Hendra mengangkat puntung rokok murah di tangannya, menatap Reyhan dengan senyum penuh arti.

"Bisa aja kamu," balas Reyhan seraya menggeleng pelan.

Otak akademis Hendra memang hancur berantakan, tetapi tingkat kecerdasan emosional pemuda itu luar biasa tinggi.

"Terus, kamu beneran udah nyerah ngejar Hana?" tanya Hendra sambil mematikan rokoknya.

"Nggak tahu. Aku bener-bener lagi frustrasi dan pusing mikirin perasaanku sendiri sekarang," aku Reyhan.

"Dengerin kata hatimu aja, Rey. Inget zaman kuliah dulu? Aku udah larang kamu nembak dia karena kalian beda kasta, tapi kamu tetep keras kepala. Sekarang situasinya sama, cuma posisinya yang kebalik. Jauh di dalem hatimu, kamu pasti udah tahu jawabannya, kan?" ucap Hendra menasihati.

"Aku akan memikirkannya," gumam Reyhan. Pikirannya mendadak melayang, ditarik kembali ke masa-masa perkuliahan yang menyesakkan dalam sekejap.

"Maaf, Bos, sepertinya kalian salah ruangan."

Lamunan Reyhan terputus oleh sayup-sayup keributan dan suara manajer wanita dari arah pintu masuk.

"Kayaknya ada masalah," cetus Hendra. Ia menepuk bahu Reyhan sekilas, lalu bergegas memutar langkah.

Reyhan segera mematikan rokoknya di asbak koridor dan menyusul sahabatnya. Keributan dari dalam ruangan VVIP mereka terdengar semakin jelas seiring langkah mereka yang mendekat.

"Minggir!"

Dua pria berbadan tegap tiba-tiba memblokir jalan masuk sebelum mereka bisa mendekat. Wajah kedua pria itu terlihat sangat sangar saat membentak. Setelan jas hitam rapi yang dipadukan dengan kacamata hitam mengilap mempertegas identitas mereka sebagai pengawal pribadi.

"Temen-temenku ada di dalem?" tanya Reyhan santai. Tatapannya menajam, saat berhadapan langsung dengan kedua pengawal tersebut.

"Tuan Rey, syukurlah Anda kembali. Ini..." Manajer wanita itu muncul dari sela-sela pintu. Wajahnya yang biasa terlihat anggun kini panik luar biasa.

"Minggir kalian," perintah Reyhan dingin, bersiap menerobos barikade pengawal itu.

"Ahhh, Rey!"

Namun, langkahnya terhenti saat jeritan panik Hana melengking memecah udara dari dalam ruangan.

"Banyak bacot!" umpat Hendra mendadak.

Tanpa peringatan, Hendra mengayunkan sebuah botol anggur kosong tepat ke kepala salah satu pengawal di depannya. Suara pecahan kaca bergema keras, disusul tubuh besar pengawal tersebut yang langsung ambruk ke lantai tanpa perlawanan.

Reyhan terkesiap. Ia sama sekali tidak menyangka sahabat karibnya bisa bertindak sebrutal itu. Ia bahkan tidak menyadari dari mana Hendra memungut botol anggur tersebut.

"Rey, buruan masuk! Biar orang ini aku yang urus," seru Hendra seraya memasang kuda-kuda bersiap menghadapi pengawal yang tersisa.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 7

    Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya."Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut.Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya."Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke."Nggak ada," jawab Reyhan pendek."Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang jujur, ya?

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 6

    Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran."Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot.""Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai.Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya."Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke dalam kera

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 5 Kejutan di Ruang VIP

    Belum sempat Hendra mengiyakan ajakan Reyhan untuk masuk, Siska sudah lebih dulu maju."Rey, aku mau dong ngerasain duduk di mobil ratusan miliar!" seru Siska dengan mata berbinar. Ia langsung melangkah maju menggeser Hendra dan mendekati Bugatti tersebut."Boleh aja. Sini naik," jawab Reyhan santai.Siska baru saja hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia mengintip ke dalam kabin dan melihat hanya ada satu kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi. Gadis itu menoleh ke arah Hana. Sebagai teman yang peka, Siska tahu betul bahwa Reyhan sejak dulu memendam rasa kagum pada primadona kelas mereka itu."Eh, ternyata kursinya cuma dua. Ya udah, kursi penumpangnya buat Hana aja," ucap Siska cepat. Ia menahan rasa mindernya dengan tawa ringan, lalu menatap Reyhan. "Tapi Rey, aku pinjem kursinya bentar buat muter pelataran hotel, ya? Penasaran banget rasanya!""Boleh. Ayo masuk," balas Reyhan sambil tersenyum.Siska kegirangan. Ia masuk ke dalam hypercar itu

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 4 Tamparan Keras Untuk Sang Tuan Muda

    "Tampaknya gelar mahasiswa terbaik kurang disukai di sini," ucap Reyhan santai. Ia sama sekali tidak terpancing oleh ejekan Reno dan komplotannya. "Kalian menertawakanku, padahal dulu nilai kalian hancur berantakan. Ini sama saja seperti karyawan bergaji kecil yang merasa lebih pintar dari atasannya. Menurut kalian itu masuk akal?"Kalimat blak-blakan itu meluncur tanpa beban. Reyhan enggan berbasa-basi. Sindiran telaknya sukses membuat Wira dan yang lainnya bungkam seribu bahasa."Sudah, sudah, jangan tegang begini. Kita kan jarang bisa kumpul, dinikmati saja acaranya," sela Siska cepat, berusaha mencairkan suasana."Benar kata Siska. Momen ini spesial. Kita lupakan dulu masalah lama," sahut Hana diiringi senyum lembut. Primadona kampus itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Reyhan, kamu duduk di sini saja, sebelahku."Mendengar tawaran Hana, wajah Wira dan teman-temannya langsung pias menahan kesal."Han, Reyhan kan laki-laki. Laki-laki tempatnya di meja sana, dekat minuman. Kita

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 3 Primadona Kampus

    Sambil mengunyah permen karet santai, Reno menjawab, "Nggak mahal-mahal amat kok, cuma 1,5 miliar.""Cuma 1,5 miliar? Kamu memang selalu merendah, Tuan Muda!""Astaga, 1,5 miliar. Gajiku saja cuma 5 juta sebulan. Berapa tahun aku harus puasa biar bisa beli itu?" celetuk seorang gadis cantik dengan nada tidak percaya.Gadis itu bernama Siska. Dari segi wajah dan penampilan, ia memang lumayan menonjol di lingkaran itu.Tiba-tiba seseorang dari kerumunan itu melontarkan godaan, "Kalau kamu bisa luluhin Tuan Muda Reno, siapa tahu kamu bisa ngisi kursi kosong di sebelahnya!"Siska tersipu mendengar komentar tersebut. Ia membalas dengan raut cemberut yang sengaja dibuat-buat, "Ehh! Walaupun aku naksir, belum tentu Tuan Muda Reno ngerasain hal yang sama ke aku!"Gelak tawa pun pecah di antara mereka.Pada saat yang sama, sebuah taksi berhenti di area lobi. Seorang gadis anggun melangkah keluar. Ia mengenakan blus bergaya Korea berwarna ungu muda yang dipadukan dengan celana jins hitam pas ba

  • Sistem Sign-In Harian   Bab 2 Bugatti La Voiture Noire

    Tidak lama kemudian, pesanan steak yang ia tunggu tiba di meja. Wangi daging panggang kelas satu berpadu dengan lelehan mentega langsung memanjakan indra penciumannya.Pisau di tangannya memotong daging itu dengan sangat mudah. Begitu masuk ke mulut, teksturnya luar biasa lembut dan lumer. Sangat jauh berbeda dengan daging alot yang biasa ia beli di pasar. Sambil menikmati hidangan mahal pertamanya, tatapan Reyhan menyapu seisi restoran. Orang-orang di sekitarnya mengenakan setelan rapi, gaun desainer, dan berbicara dengan suara pelan yang elegan. Beberapa jam lalu, ia masih berada di kasta yang sangat berbeda dengan mereka. Sekarang, ia bisa duduk sejajar, menikmati fasilitas yang sama, bahkan mendapat perlakuan super istimewa.***Satu jam berlalu. Piring di depannya sudah bersih tanpa sisa. Anggur di dalam botol tinggal setengah. Pelayan wanita tadi mendekat dengan sopan. "Permisi, Kak. Apakah botol minumannya ingin saya bungkus sekarang?"Reyhan menatap botol itu sejenak, lalu t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status