Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 6. Bidadari di Royal Suite

Share

6. Bidadari di Royal Suite

Author: KoTz
last update publish date: 2026-07-09 21:55:42

Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.

Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran."

Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot."

"Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai.

Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya."

Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke dalam keranjang pesanan. Total tagihan di layar dengan cepat menembus angka tiga ratus juta Rupiah, tetapi Reyhan langsung menekan tombol konfirmasi tanpa berkedip sedikit pun. Uang sebanyak itu tidak ada artinya bagi saldo rekeningnya saat ini.

Beberapa saat kemudian, suasana kembali cair. Mereka berempat mengobrol santai, bertukar cerita lucu tentang masa-masa kuliah dulu, dan menertawakan kekonyolan Wira serta wajah pucat Reno di pelataran hotel tadi.

Siska yang sudah kembali menemukan jiwa cerianya mulai menyanyikan beberapa lagu dengan suara lantang, membuat ruangan itu dipenuhi gelak tawa.

Tak lama berselang, suara bel halus terdengar dari arah pintu. Pintu kayu peredam suara itu terbuka perlahan, dan seorang wanita berparas anggun dengan setelan blazer kerja yang sangat elegan melangkah masuk. Ia diiringi oleh empat orang pelayan pria yang membawa nampan berlapis kain beludru, berisi deretan botol minuman mahal dan hidangan yang Reyhan pesan.

Siska yang sedang bernyanyi langsung menurunkan mikrofonnya. Ia dan Hendra terdiam melihat rombongan pelayan tersebut.

Wanita berblazer itu melangkah maju, lalu menunduk sopan dengan senyum yang sangat profesional. "Selamat malam, Tuan Reyhan. Mohon maaf jika kami mengganggu waktu santai Anda. Saya adalah kepala pelayan sekaligus manajer operasional di kelab ini."

"Ada masalah?" tanya Reyhan santai, tubuhnya bersandar nyaman di sofa.

"Sama sekali tidak, Tuan. Kami hanya melihat lonjakan pesanan yang luar biasa dari Royal Suite ini. Sebagai bentuk apresiasi karena Anda telah memesan koleksi minuman paling langka milik kami malam ini, manajemen memutuskan untuk menaikkan status kartu akses Anda menjadi keanggotaan VVIP Platinum."

Wanita itu menjelaskan seraya menyodorkan sebuah kartu logam berwarna hitam elegan menggunakan kedua tangannya, melayani Reyhan layaknya seorang tamu kehormatan tingkat tinggi.

"Selain itu, kami membawakan beberapa camilan eksklusif buatan koki utama kami sebagai hadiah penyambutan. Jika Tuan Reyhan membutuhkan sesuatu yang khusus, silakan panggil saya secara langsung."

Reyhan menerima kartu logam tersebut dan mengangguk pelan. "Makasih. Pelayanan di sini lumayan bagus."

"Sudah menjadi tugas utama kami untuk melayani tamu kehormatan seperti Anda," balas manajer wanita itu.

Setelah memastikan semua pesanan tersaji dengan sangat rapi di atas meja, ia memberi isyarat kepada para pelayan prianya untuk keluar dari ruangan. Namun, manajer wanita itu sendiri tetap berdiri di dekat meja, bersiap menjalankan tugas utamanya melayani tamu VVIP.

Hendra menelan ludah. Matanya melotot menatap deretan botol minuman yang berkilau mewah di bawah lampu ruangan. "Rey... kamu pesen minuman apaan nih? Sampai manajernya turun tangan langsung begini."

Siska ikut menelan ludah, menatap deretan botol itu dengan ngeri. "Aku pernah lihat botol yang ini di internet. Ini harganya puluhan juta sebotol, kan?"

Reyhan menatap botol-botol itu sekilas, lalu mengangkat bahunya santai. "Aku juga kurang tahu sih. Kelihatannya enak aja, dan harganya emang yang paling mahal di menu tadi."

Mendengar jawaban yang sangat santai tersebut, manajer wanita itu hanya tersenyum profesional. Dengan gerakan yang sangat elegan dan terlatih, ia membuka salah satu botol sampanye termahal itu tanpa menimbulkan suara keras, lalu mulai menuangkan cairan keemasannya ke dalam gelas kristal.

"Ini adalah salah satu koleksi terbaik kami, Tuan," ucap manajer itu lembut seraya menyajikan gelas pertama tepat di hadapan Reyhan, sebelum beralih menuangkan untuk Hana, Siska, dan Hendra.

"Mbak, tolong panggilkan semua ladies terbaik kalian ke sini. Temenku butuh hiburan," perintah Reyhan santai.

Manajer wanita itu tersenyum anggun. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia mencondongkan tubuhnya hingga sebelah tangannya bersandar santai di bahu Reyhan.

"Tentu, Tuan Rey. Gadis-gadis VVIP kami adalah yang paling sempurna di kota ini," bisiknya lembut. "Anda benar-benar dermawan malam ini. Saya pastikan Tuan dan rekan Tuan akan mendapatkan pelayanan paling eksklusif."

Wajah wanita itu merapat perlahan. Bibir merah menyalanya nyaris menyentuh pipi Reyhan, menebarkan aroma parfum mahal yang memabukkan.

Melihat raut wajah Hana yang langsung masam, Hendra segera bertindak. Ia bangkit berdiri, lalu duduk diantara mereka dan merangkul pinggang manajer wanita itu.

"Bisa agak dicepetin nggak, Mbak?" potong Hendra.

"Kenapa terburu-buru sekali, Tuan?" goda wanita tersebut, sengaja menjatuhkan sedikit bobot tubuhnya ke pelukan Hendra dengan tawa kecil yang elegan.

"Waktu itu emas, Mbak. Cepet masuk, cepet keluar," balas Hendra. Ia setengah menggiring manajer kelab itu menuju pintu.

"Baiklah, saya tidak akan lama, Tuan-tuan." Wanita itu menunduk hormat sebelum melangkah keluar dengan gaya berlengak-lenggok sempurna.

Begitu pintu tertutup, Hana meraih tasnya. "Mending kalian bertiga aja yang lanjut. Aku mau pulang sekarang."

Siska buru-buru menahan tangan Hana. "Han, kita kan udah sampai sini. Masa kamu mau balik gitu aja? Ayolah, temenin aku seneng-seneng malam ini, ya?"

Siska jelas tidak rela pulang cepat. Duduk di ruangan seharga seratus juta adalah kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Ia harus menikmatinya sampai titik darah penghabisan demi mengumpulkan bahan cerita.

"Rey, primadona kita ngambek nih. Biarin aja dia pulang?" celetuk Hendra.

Ia sangat tahu masa lalu Reyhan yang pernah tergila-gila pada gadis itu. Ia sengaja memancing reaksi sahabatnya, berharap kesuksesan Reyhan saat ini bisa mengubah takdir asmara mereka berdua.

Reyhan terdiam sejenak, lalu bangkit dari tempatnya. "Jangan pulang dulu, Han. Soal cewek-cewek nanti, biar Hendra yang urus. Aku cuma mau muasin hasrat jomblo karatan ini. Nggak mungkin aku batalin cuma gara-gara kalian berdua, kan?"

"Kampret kamu, Rey," umpat Hendra. Namun, tatapan tajam Reyhan seketika mengunci mulutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   108. Menagih Hutang Darah

    "Rey..." Hendra menahan napas, tak berani membayangkan amarah sahabatnya.Di atas bekas fondasi rumah itu, berdiri sebuah bedeng darurat beratap terpal. Beberapa pria berwajah kasar tampak sedang asyik bermain kartu di bawah cahaya lampu redup, diselingi tawa dan umpatan kasar.Tanpa sepatah kata pun, Reyhan melangkah maju menerobos puing-puing."Woi! Siapa kau?!" Seorang pria gemuk yang sedang memegang kartu mendongak kaget."Di mana orang tuaku?" Suara Reyhan terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan niat membunuh."Mana aku tahu! Pergi sana, jangan cari mampus di sini!" Pria gemuk itu bangkit, tangan kanannya refleks menyambar botol bir kosong dari atas meja.Reyhan tidak mengulang pertanyaannya. Ia menutup jarak dalam sekejap mata. Tangan kanannya melesat mencekik leher pria itu, mengangkat tubuh gempalnya dari kursi dengan tenaga brutal."Di mana. Orang tuaku."Pria itu meronta panik karena kehabisan napas. Dalam keputusasaan, ia mengayunkan botol bir di tangannya ke arah k

  • Sistem Sign-In Harian   107. Amarah Reyhan

    "Kabar apa? Terakhir aku pulang pas libur tahun kemarin, semuanya baik-baik saja," dahi Reyhan berkerut bingung."Rey, keluargamu sedang hancur. Kau benar-benar tidak tahu?" Azlan merendahkan suaranya, menatap temannya kasihan. "Kaki Bapakmu dipatahkan oleh anak kepala desa. Ibumu jatuh sakit parah karena syok, dan... rumah kalian sudah diratakan dengan tanah." Brak! Reyhan menggebrak meja dan langsung berdiri. Gelas whiskey-nya terguling. Sorot matanya menajam, memancarkan aura membunuh. "Apa kau bilang?!"Azlan menelan ludah, lalu menceritakan semuanya dengan cepat. Ternyata, orang tua Reyhan dulu diam-diam meminjam uang dari kepala desa untuk membiayai pendidikan Reyhan di kota. Bukannya bantuan, pinjaman itu berbunga mencekik layaknya lintah darat. Selama tiga tahun bekerja banting tulang, uang hasil panen orang tuanya bahkan tidak cukup untuk menutupi bunganya saja. Mereka menutup rapat rahasia ini agar Reyhan bisa fokus belajar dan meniti karier. Saat Reyhan pulang tahun lal

  • Sistem Sign-In Harian   106. Reuni yang Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di wajah Reyhan. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya. Ranjang di sebelahnya sudah kosong; Sandra ternyata berangkat kerja lebih awal.***Siang harinya, Reyhan mampir ke kantor Starlight bersama Hendra. Berkat kerja keras Evan, fondasi perusahaan semakin solid, membuat suasana kantor terasa lebih hidup dan terstruktur. Reyhan tidak lagi menyinggung soal jari Hendra yang putus, ia membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Elsa kini diam-diam mulai memberi perhatian lebih pada Hendra."Pak Rey, Anda memanggil saya?" Evan melangkah masuk ke ruangan."Bawa ini ke Rania. Dia yang akan menghubungkanmu dengan pihak lain," ujar Reyhan seraya menyerahkan flashdisk berisi cetak biru Tesla Note yang asli kepada Evan. "Ingat, kita hanya mengambil persentase hak kita. Dan terlepas dari siapa pun yang memegangnya nanti, b

  • Sistem Sign-In Harian   105. Gairah Reyhan

    "Bisa atau tidaknya kau memimpin proyek ini, penentunya bukan aku, melainkan dirimu sendiri, Rania. Semuanya bergantung pada seberapa besar keberanianmu merebut kekuasaan dari bayang-bayang keluarga Cross. Soal kemungkinan kau menusukku dari belakang... aku akui itu membuatku ragu. Tapi intuisiku bilang, kau tidak akan memilih jalan sebodoh itu," balas Reyhan percaya diri. Melihat obrolan tingkat tinggi yang penuh kode dan kalkulasi itu, Jason memilih menepi. Ia berjalan dalam diam dan membuka jendela lebar, membiarkan asap rokok yang menyesakkan dada itu tersapu angin malam. Setelah kesepakatan tercapai, Reyhan akhirnya pamit undur diri. Sebuah flashdisk berisi data purwarupa Tesla Note yang sedari tadi ia bawa kini telah berpindah aman ke tangan Rania. "Nona, Anda yakin ingin mengambil risiko bersekutu dengannya?" tanya Jason dengan wajah cemas begitu pintu tertutup rapat. "Kenapa tidak? Tesla Note, cetak biru energi masa depan... itu godaan yang terlalu manis untuk dilewatkan.

  • Sistem Sign-In Harian   104. Tawaran Besar Reyhan

    Di bawah tatapan Reyhan yang menusuk, Evan akhirnya menyerah. Dengan suara pelan, ia menyebutkan satu nama. Ryan Yudistira.Nama itu membuat darah Reyhan mendidih.Rupanya, Ryan menyuruh anak buahnya menyelidiki Reyhan, Hendra, dan Evan sejak kemarin. Berkas mereka sampai ke tangan Ryan dalam waktu singkat.Ia lalu menyuruh anak buahnya memotong jari kelingking Hendra dan Evan sebagai hadiah peringatan untuk Reyhan. Jelas sekali, urusan antara Ryan dan Reyhan makin memanas."Dia juga titip pesan, Starlight akan dihancurkan. Dan setelah itu... nyawamu yang jadi target," aku Hendra akhirnya, sadar ia tidak bisa lagi berbohong.Reyhan terdiam, lalu sudut bibirnya berkedut membentuk senyum dingin. "Menarik. Rupanya keluarga Yudistira memang tidak pernah rela menerima kekalahan."Tanpa bicara lagi, Reyhan berbalik dan melangkah keluar rumah.Ditinggal begitu saja, Hendra dan Evan saling berpandangan cemas, sama sekali tidak tahu apa yang akan ucapkan Reyhan barusan.Reyhan memacu mobilnya

  • Sistem Sign-In Harian   103. Jari yang Hilang

    "Kakek, Reyhan sudah tiba," bisik David pelan dari samping.Kakek Theo menoleh, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Pemuda tampan. Kudengar kau yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan orang tua ini?" tanya Kakek Theo datar."Benar, Kek," jawab Reyhan tenang."Bagus! Dan kabarnya kau juga membuat kekacauan besar di rumah keluarga Yudistira, bahkan ribut dengan Anderson dan menyeret Dokter Kemal ke dalam masalah?"Reyhan tersenyum tipis. "Ehem... keadannya kebetulan memang tidak bisa di hindari, Kek.""Bagus sekali. Pemuda yang menjanjikan." Suara Kakek Theo berubah dingin. "Tapi kau juga sudah menggagalkan pertunangan cucuku, dan itu harus kita luruskan.""Kakek, Sandra sudah menjadi kekasihnya," sela David cepat.Kakek Theo tidak memedulikan omongan itu. Ia menatap lurus ke arah Reyhan. "Aku tahu, Nak. Sekarang jawab aku, bagaimana kau akan memperlakukan Sandra ke depannya?"Reyhan menegakkan punggungnya. "Tenang, Kakek. Sandra itu yang utama bagiku. Aku men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status