MasukSiska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.
Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran." Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot." "Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai. Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya." Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke dalam keranjang pesanan. Total tagihan di layar dengan cepat menembus angka tiga ratus juta Rupiah, tetapi Reyhan langsung menekan tombol konfirmasi tanpa berkedip sedikit pun. Uang sebanyak itu tidak ada artinya bagi saldo rekeningnya saat ini. Beberapa saat kemudian, suasana kembali cair. Mereka berempat mengobrol santai, bertukar cerita lucu tentang masa-masa kuliah dulu, dan menertawakan kekonyolan Wira serta wajah pucat Reno di pelataran hotel tadi. Siska yang sudah kembali menemukan jiwa cerianya mulai menyanyikan beberapa lagu dengan suara lantang, membuat ruangan itu dipenuhi gelak tawa. Tak lama berselang, suara bel halus terdengar dari arah pintu. Pintu kayu peredam suara itu terbuka perlahan, dan seorang wanita berparas anggun dengan setelan blazer kerja yang sangat elegan melangkah masuk. Ia diiringi oleh empat orang pelayan pria yang membawa nampan berlapis kain beludru, berisi deretan botol minuman mahal dan hidangan yang Reyhan pesan. Siska yang sedang bernyanyi langsung menurunkan mikrofonnya. Ia dan Hendra terdiam melihat rombongan pelayan tersebut. Wanita berblazer itu melangkah maju, lalu menunduk sopan dengan senyum yang sangat profesional. "Selamat malam, Tuan Reyhan. Mohon maaf jika kami mengganggu waktu santai Anda. Saya adalah kepala pelayan sekaligus manajer operasional di kelab ini." "Ada masalah?" tanya Reyhan santai, tubuhnya bersandar nyaman di sofa. "Sama sekali tidak, Tuan. Kami hanya melihat lonjakan pesanan yang luar biasa dari Royal Suite ini. Sebagai bentuk apresiasi karena Anda telah memesan koleksi minuman paling langka milik kami malam ini, manajemen memutuskan untuk menaikkan status kartu akses Anda menjadi keanggotaan VVIP Platinum." Wanita itu menjelaskan seraya menyodorkan sebuah kartu logam berwarna hitam elegan menggunakan kedua tangannya, melayani Reyhan layaknya seorang tamu kehormatan tingkat tinggi. "Selain itu, kami membawakan beberapa camilan eksklusif buatan koki utama kami sebagai hadiah penyambutan. Jika Tuan Reyhan membutuhkan sesuatu yang khusus, silakan panggil saya secara langsung." Reyhan menerima kartu logam tersebut dan mengangguk pelan. "Makasih. Pelayanan di sini lumayan bagus." "Sudah menjadi tugas utama kami untuk melayani tamu kehormatan seperti Anda," balas manajer wanita itu. Setelah memastikan semua pesanan tersaji dengan sangat rapi di atas meja, ia memberi isyarat kepada para pelayan prianya untuk keluar dari ruangan. Namun, manajer wanita itu sendiri tetap berdiri di dekat meja, bersiap menjalankan tugas utamanya melayani tamu VVIP. Hendra menelan ludah. Matanya melotot menatap deretan botol minuman yang berkilau mewah di bawah lampu ruangan. "Rey... kamu pesen minuman apaan nih? Sampai manajernya turun tangan langsung begini." Siska ikut menelan ludah, menatap deretan botol itu dengan ngeri. "Aku pernah lihat botol yang ini di internet. Ini harganya puluhan juta sebotol, kan?" Reyhan menatap botol-botol itu sekilas, lalu mengangkat bahunya santai. "Aku juga kurang tahu sih. Kelihatannya enak aja, dan harganya emang yang paling mahal di menu tadi." Mendengar jawaban yang sangat santai tersebut, manajer wanita itu hanya tersenyum profesional. Dengan gerakan yang sangat elegan dan terlatih, ia membuka salah satu botol sampanye termahal itu tanpa menimbulkan suara keras, lalu mulai menuangkan cairan keemasannya ke dalam gelas kristal. "Ini adalah salah satu koleksi terbaik kami, Tuan," ucap manajer itu lembut seraya menyajikan gelas pertama tepat di hadapan Reyhan, sebelum beralih menuangkan untuk Hana, Siska, dan Hendra. "Mbak, tolong panggilkan semua ladies terbaik kalian ke sini. Temenku butuh hiburan," perintah Reyhan santai. Manajer wanita itu tersenyum anggun. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia mencondongkan tubuhnya hingga sebelah tangannya bersandar santai di bahu Reyhan. "Tentu, Tuan Rey. Gadis-gadis VVIP kami adalah yang paling sempurna di kota ini," bisiknya lembut. "Anda benar-benar dermawan malam ini. Saya pastikan Tuan dan rekan Tuan akan mendapatkan pelayanan paling eksklusif." Wajah wanita itu merapat perlahan. Bibir merah menyalanya nyaris menyentuh pipi Reyhan, menebarkan aroma parfum mahal yang memabukkan. Melihat raut wajah Hana yang langsung masam, Hendra segera bertindak. Ia bangkit berdiri, lalu duduk diantara mereka dan merangkul pinggang manajer wanita itu. "Bisa agak dicepetin nggak, Mbak?" potong Hendra. "Kenapa terburu-buru sekali, Tuan?" goda wanita tersebut, sengaja menjatuhkan sedikit bobot tubuhnya ke pelukan Hendra dengan tawa kecil yang elegan. "Waktu itu emas, Mbak. Cepet masuk, cepet keluar," balas Hendra. Ia setengah menggiring manajer kelab itu menuju pintu. "Baiklah, saya tidak akan lama, Tuan-tuan." Wanita itu menunduk hormat sebelum melangkah keluar dengan gaya berlengak-lenggok sempurna. Begitu pintu tertutup, Hana meraih tasnya. "Mending kalian bertiga aja yang lanjut. Aku mau pulang sekarang." Siska buru-buru menahan tangan Hana. "Han, kita kan udah sampai sini. Masa kamu mau balik gitu aja? Ayolah, temenin aku seneng-seneng malam ini, ya?" Siska jelas tidak rela pulang cepat. Duduk di ruangan seharga seratus juta adalah kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup. Ia harus menikmatinya sampai titik darah penghabisan demi mengumpulkan bahan cerita. "Rey, primadona kita ngambek nih. Biarin aja dia pulang?" celetuk Hendra. Ia sangat tahu masa lalu Reyhan yang pernah tergila-gila pada gadis itu. Ia sengaja memancing reaksi sahabatnya, berharap kesuksesan Reyhan saat ini bisa mengubah takdir asmara mereka berdua. Reyhan terdiam sejenak, lalu bangkit dari tempatnya. "Jangan pulang dulu, Han. Soal cewek-cewek nanti, biar Hendra yang urus. Aku cuma mau muasin hasrat jomblo karatan ini. Nggak mungkin aku batalin cuma gara-gara kalian berdua, kan?" "Kampret kamu, Rey," umpat Hendra. Namun, tatapan tajam Reyhan seketika mengunci mulutnya.Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya."Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut.Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya."Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke."Nggak ada," jawab Reyhan pendek."Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang jujur, ya?
Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran."Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot.""Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai.Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya."Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke dalam kera
Belum sempat Hendra mengiyakan ajakan Reyhan untuk masuk, Siska sudah lebih dulu maju."Rey, aku mau dong ngerasain duduk di mobil ratusan miliar!" seru Siska dengan mata berbinar. Ia langsung melangkah maju menggeser Hendra dan mendekati Bugatti tersebut."Boleh aja. Sini naik," jawab Reyhan santai.Siska baru saja hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia mengintip ke dalam kabin dan melihat hanya ada satu kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi. Gadis itu menoleh ke arah Hana. Sebagai teman yang peka, Siska tahu betul bahwa Reyhan sejak dulu memendam rasa kagum pada primadona kelas mereka itu."Eh, ternyata kursinya cuma dua. Ya udah, kursi penumpangnya buat Hana aja," ucap Siska cepat. Ia menahan rasa mindernya dengan tawa ringan, lalu menatap Reyhan. "Tapi Rey, aku pinjem kursinya bentar buat muter pelataran hotel, ya? Penasaran banget rasanya!""Boleh. Ayo masuk," balas Reyhan sambil tersenyum.Siska kegirangan. Ia masuk ke dalam hypercar itu
"Tampaknya gelar mahasiswa terbaik kurang disukai di sini," ucap Reyhan santai. Ia sama sekali tidak terpancing oleh ejekan Reno dan komplotannya. "Kalian menertawakanku, padahal dulu nilai kalian hancur berantakan. Ini sama saja seperti karyawan bergaji kecil yang merasa lebih pintar dari atasannya. Menurut kalian itu masuk akal?"Kalimat blak-blakan itu meluncur tanpa beban. Reyhan enggan berbasa-basi. Sindiran telaknya sukses membuat Wira dan yang lainnya bungkam seribu bahasa."Sudah, sudah, jangan tegang begini. Kita kan jarang bisa kumpul, dinikmati saja acaranya," sela Siska cepat, berusaha mencairkan suasana."Benar kata Siska. Momen ini spesial. Kita lupakan dulu masalah lama," sahut Hana diiringi senyum lembut. Primadona kampus itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Reyhan, kamu duduk di sini saja, sebelahku."Mendengar tawaran Hana, wajah Wira dan teman-temannya langsung pias menahan kesal."Han, Reyhan kan laki-laki. Laki-laki tempatnya di meja sana, dekat minuman. Kita
Sambil mengunyah permen karet santai, Reno menjawab, "Nggak mahal-mahal amat kok, cuma 1,5 miliar.""Cuma 1,5 miliar? Kamu memang selalu merendah, Tuan Muda!""Astaga, 1,5 miliar. Gajiku saja cuma 5 juta sebulan. Berapa tahun aku harus puasa biar bisa beli itu?" celetuk seorang gadis cantik dengan nada tidak percaya.Gadis itu bernama Siska. Dari segi wajah dan penampilan, ia memang lumayan menonjol di lingkaran itu.Tiba-tiba seseorang dari kerumunan itu melontarkan godaan, "Kalau kamu bisa luluhin Tuan Muda Reno, siapa tahu kamu bisa ngisi kursi kosong di sebelahnya!"Siska tersipu mendengar komentar tersebut. Ia membalas dengan raut cemberut yang sengaja dibuat-buat, "Ehh! Walaupun aku naksir, belum tentu Tuan Muda Reno ngerasain hal yang sama ke aku!"Gelak tawa pun pecah di antara mereka.Pada saat yang sama, sebuah taksi berhenti di area lobi. Seorang gadis anggun melangkah keluar. Ia mengenakan blus bergaya Korea berwarna ungu muda yang dipadukan dengan celana jins hitam pas ba
Tidak lama kemudian, pesanan steak yang ia tunggu tiba di meja. Wangi daging panggang kelas satu berpadu dengan lelehan mentega langsung memanjakan indra penciumannya.Pisau di tangannya memotong daging itu dengan sangat mudah. Begitu masuk ke mulut, teksturnya luar biasa lembut dan lumer. Sangat jauh berbeda dengan daging alot yang biasa ia beli di pasar. Sambil menikmati hidangan mahal pertamanya, tatapan Reyhan menyapu seisi restoran. Orang-orang di sekitarnya mengenakan setelan rapi, gaun desainer, dan berbicara dengan suara pelan yang elegan. Beberapa jam lalu, ia masih berada di kasta yang sangat berbeda dengan mereka. Sekarang, ia bisa duduk sejajar, menikmati fasilitas yang sama, bahkan mendapat perlakuan super istimewa.***Satu jam berlalu. Piring di depannya sudah bersih tanpa sisa. Anggur di dalam botol tinggal setengah. Pelayan wanita tadi mendekat dengan sopan. "Permisi, Kak. Apakah botol minumannya ingin saya bungkus sekarang?"Reyhan menatap botol itu sejenak, lalu t







