FAZER LOGINTanpa berpikir dua kali, Reyhan menerjang masuk.
Begitu masuk pemandangan di dalam ruangan sukses membuat darahnya mendidih. Hana tengah meronta di dalam dekapan seorang pria, bajunya terlihat ditarik kusut. Pemuda tidak dikenal itu menyeringai bodoh, aroma alkohol menguar begitu kuat dari tubuhnya. Di sudut lain, Siska meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut di sudut sofa. "Rey, tolongin aku!" jerit Hana putus asa begitu melihat kedatangan Reyhan. Ia memanggil nama pemuda itu layaknya satu-satunya tali penyelamat yang ia miliki. Tanpa sedikit pun keraguan, Reyhan melesat maju. Ia melayangkan satu tendangan telak ke arah pemuda mabuk tersebut. Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang hingga mulutnya menghantam tepi meja marmer. Darah segar seketika mengucur membasahi dagunya. Begitu cengkeramannya terlepas, Hana langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Reyhan layaknya anak kecil yang ketakutan. Reyhan bisa merasakan jemari gadis itu gemetar hebat saat mencengkeram punggungnya. "Ada yang mau bunuh orang!" Jeritan Siska semakin membuat suasana mencekam. Orang pertama yang bergegas masuk menyusul adalah bawahan sang manajer wanita. Ia berdiri mematung di ambang pintu, wajahnya pias melihat kekacauan di hadapannya. Sebaliknya, Reyhan justru berdiri tegak dengan tatapan tenang tapi mengintimidasi. Detik berikutnya, pengawal bertubuh besar yang tadi dihadang Hendra melangkah masuk dari balik pintu. Pria itu menyeret paksa tubuh Hendra yang sudah babak belur bersamanya. Kondisi sahabat Reyhan itu terlihat menyedihkan. Sebelah matanya bengkak parah, napasnya memburu, dan bibirnya pecah meneteskan darah. "Tuan Muda Wisnu!" seru pengawal itu begitu melihat bosnya terkapar di sisi meja. Ia langsung mencampakkan tubuh Hendra ke lantai karpet dan bergegas memberikan pertolongan pertama. "Gila, kamu nendang dia sekeras itu, Rey?" gumam Hendra tertatih. Ia menyeret langkahnya mendekati Reyhan sambil terus memegangi matanya yang membengkak. "Reyhan nggak sengaja kok. Dia kan cuma berusaha nyelamatin aku," potong Hana cepat. Ia mulai mendapatkan kembali sedikit ketenangannya dan langsung membenarkan tindakan Reyhan. Reyhan memilih bungkam. Tatapannya terkunci rapat pada pemuda yang dipanggil Tuan Muda Wisnu tersebut. Di balik wajah datarnya, otaknya berputar cepat. Jika pemuda itu terluka parah atau kehilangan nyawa, urusannya akan menjadi sangat panjang dan merepotkan. Kendati kini memiliki uang tanpa batas, ia tahu betul hukum tetaplah hukum. Penyesalan panjang selalu setia menanti di ujung tindakan gegabah. "Tuan Reyhan, sebaiknya Anda dan teman-teman Anda segera pergi dari sini." bisik manajer wanita itu dengan suara bergetar. Ia merapat selangkah ke arah Reyhan, memberikan peringatan tulus. "Iya, mending kita cabut sekarang aja," timpal Hendra setuju. Perhatiannya menangkap beberapa sosok berjas hitam yang mulai berkumpul di luar ruangan tersebut. Mereka jelas baru saja mencari masalah dengan sosok petinggi dunia bawah yang sangat berbahaya. Reyhan baru saja hendak mengambil keputusan. Namun pemuda yang tersungkur di sudut meja itu mendadak bangkit berdiri. Sisa-sisa mabuk di wajahnya menguap tanpa jejak. Sorot matanya berubah menjadi es yang dingin dan sarat akan niat membunuh, mengunci tepat di mata Reyhan seolah sedang menatap mangsa buruannya. Pengawal di sampingnya masih berusaha menyeka darah yang menetes dari bibir pemuda itu. Namun dalam sepersekian detik, Wisnu melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah anak buahnya sendiri. "Tidak berguna," desis Wisnu. Wajah pengawal kekar itu seketika memerah, menjadi bukti nyata seberapa besar tenaga di balik tamparan sang tuan muda. Pria berjas hitam itu tidak berani membalas apalagi memprotes, ia hanya menunduk diam menerima hukumannya. "Lumayan juga tenaga kamu, Bocah. Punya nyali juga ya kamu memukul wajahku? Kamu nggak tahu siapa aku?" Wisnu mencibir congkak. Ia menyeka sisa darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan, lalu mengecap rasa asin amis tersebut dengan santainya sebelum kembali menatap tajam ke arah Reyhan. Alih-alih terintimidasi, Reyhan justru merasa jauh lebih rileks. Beban di pikirannya terangkat setelah memastikan pemuda arogan di hadapannya itu tidak mengalami cedera fatal. Ia menuntun Hana agar duduk perlahan di sofa terdekat, mengambil sebatang rokok, lalu memantiknya. Reyhan mengembuskan kepulan asap pertamanya dengan sangat tenang sebelum membalas, "Terus, sekarang kamu maunya apa?" "Kamu nanya aku maunya apa?" Wisnu mengulangi pertanyaan tersebut dengan senyum miring, lalu mengambil langkah pelan mendekati posisi Reyhan. "Heh, kamu mau ngapain?" Hendra langsung melangkah protektif, menjadikan tubuhnya tameng di depan Reyhan. Meskipun kondisi wajahnya yang bengkak membuatnya sulit berbicara, genggaman tangannya pada leher pecahan botol anggur membuktikan bahwa ia sama sekali tidak takut. Alih-alih takut mundur, teror mencekam di dalam ruangan ini justru memompa adrenalin Hendra hingga ke batas maksimal. "Haha, lucu sekali kalian ini," tawa Wisnu pecah, menggelegar sinis di seluruh penjuru ruangan. Pemuda itu mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jari di udara. Mendapat sinyal tersebut, barisan pengawal berjas hitam yang sedari tadi berkumpul di luar langsung merangsek masuk dan mengepung ruangan VVIP itu. "Tuan Muda Wisnu, mohon maaf. Ini bukan area bertarung, dan atasan kami..." Manajer wanita itu mencoba menengahi dengan suara bergetar, berusaha mencegah keributan lebih lanjut. Namun kalimatnya terputus seketika. Sebuah tendangan kasar dari Wisnu bersarang di perut sang manajer, membuat wanita anggun itu terlempar ke belakang hingga menabrak meja. "Kau diam! Siapa yang memberi kamu izin untuk bicara?" bentak Wisnu, melirik wanita itu dengan tatapan serendah mungkin. Wanita itu terpaksa menelan kembali sisa kata-katanya. Ia merintih tertahan, memendam rasa sakit dan penghinaan itu sendirian di sudut lantai tanpa berani melawan. Tanpa aba-aba, Wisnu menarik paksa sebilah pisau lipat taktis dari pinggang salah satu pengawalnya. Bilah baja itu memantulkan kilau cahaya yang mengerikan, menegaskan ketajamannya yang siap merobek kulit. Dengan gerakan santai, Wisnu mengayunkan pisau tersebut ke atas meja. Ujungnya menancap dalam, menembus setengah lapisan kayu mahoni premium itu dengan sangat mudah. "Kamu mau ngapain? Aku peringatkan ya, aku udah telepon pihak berwajib!" seru Hendra menggertak. Tangannya meraba saku celana, bersandiwara mencari ponselnya. "Seumur hidupku, belum pernah ada satu orang pun yang berani mukul wajahku," desis Wisnu diiringi seringai kejam, sama sekali tidak peduli dengan gertakan tentang pihak berwenang tersebut. "Biar urusan ini cepet kelar, syaratnya gampang. Tinggalin satu jari kelingking kamu di meja ini. Cuma itu permintaanku," lanjut Wisnu. Tatapan Psikopat itu mengunci lurus ke arah Reyhan. "Ahh!" Permintaan mengerikan dan tidak masuk akal tersebut otomatis memancing jeritan tertahan dari mulut Siska yang semakin meringkuk menyembunyikan wajahnya."Kalau aku tidak mau?" balas Reyhan. Ia menyentil abu rokoknya ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang teramat santai, menantang balik ancaman maut Wisnu menggunakan sorot matanya yang tak kalah tajam."Haha, kamu yakin mau nolak?!" Wisnu terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat kalap dan membawa hawa kematian. "Kalau sampai aku nyuruh anak buahku yang turun tangan, resikonya nggak bakal sesederhana satu jari kelingking. Lebih baik kamu pikiran baik-baik sebelum memberikan jawaban terakhir."Bilah pisau yang menancap di atas meja kayu itu memantulkan kilau mengerikan. Hawa pembunuhan yang menguar dari Wisnu dan barisan pengawalnya membuat tekanan udara di dalam ruang VVIP tersebut terasa mencekik.Siska, yang sejak tadi meringkuk memeluk lututnya, sudah tidak sanggup lagi menahan rasa takutnya. Batas kewarasannya hancur. Gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dengan napas memburu. Wajahnya yang pucat pasi kini beralih menatap Reyhan dengan sorot mata bersalah."Reyhan! Kamu bener-ben
Tanpa berpikir dua kali, Reyhan menerjang masuk.Begitu masuk pemandangan di dalam ruangan sukses membuat darahnya mendidih. Hana tengah meronta di dalam dekapan seorang pria, bajunya terlihat ditarik kusut. Pemuda tidak dikenal itu menyeringai bodoh, aroma alkohol menguar begitu kuat dari tubuhnya. Di sudut lain, Siska meringkuk ketakutan sambil memeluk lutut di sudut sofa."Rey, tolongin aku!" jerit Hana putus asa begitu melihat kedatangan Reyhan. Ia memanggil nama pemuda itu layaknya satu-satunya tali penyelamat yang ia miliki.Tanpa sedikit pun keraguan, Reyhan melesat maju. Ia melayangkan satu tendangan telak ke arah pemuda mabuk tersebut. Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang hingga mulutnya menghantam tepi meja marmer. Darah segar seketika mengucur membasahi dagunya.Begitu cengkeramannya terlepas, Hana langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Reyhan layaknya anak kecil yang ketakutan. Reyhan bisa merasakan jemari gadis itu gemetar hebat saat mencengkeram punggungnya
Tidak ada lagi yang berbicara. Reyhan kembali duduk di sudut sofa, sementara Hana masih berdiri di tempatnya. Melihat suasana semakin canggung, Siska akhirnya angkat bicara, berusaha membujuk sahabatnya. "Tuh, denger sendiri kan? Rey aja nyuruh santai. Udah, duduk lagi sini," paksa Siska seraya menarik Hana kembali ke atas sofa empuk tersebut. Reyhan memisahkan diri dan memilih duduk di sofa sudut. Pikirannya melayang. Sosok Hana pernah menjadi pusat semestanya semasa kuliah. Sebuah angan-angan indah yang ia simpan sangat dalam. Namun, seiring kerasnya hantaman realita, perasaan itu telah lama mati. Matinya harapan tersebut bukan karena ia mendadak menjadi miliarder, melainkan karena ia sudah terlalu paham bagaimana dunia menilai manusia dari isi dompetnya. "Lagi mikir apaan?" bisik Hana. Gadis itu tiba-tiba duduk di sebelah Reyhan, mengabaikan Siska yang sedang sibuk memegang mikrofon karaoke. "Nggak ada," jawab Reyhan pendek. "Rey, aku mau nanya sesuatu. Tolong jawab yang j
Siska kembali duduk di sofa sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. "Jahat banget sih kamu, Rey! Muka udah serius gitu, siapa yang nggak jantungan coba?" gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Hendra tertawa lepas seraya bersandar di sandaran sofa. "Aku juga hampir percaya tadi. Habisnya, mukamu datar banget kayak pembunuh bayaran beneran." Hana ikut tertawa pelan. "Lain kali jangan bercanda kayak gitu lagi ya, Rey. Jantungku rasanya mau copot." "Iya, iya, sori. Anggap aja pemanasan sebelum kita nyanyi," balas Reyhan santai. Ia mengambil tablet digital yang terletak di atas meja marmer untuk memesan hidangan. "Sekarang kalian mau pesen apa? Kita pesan sepuasnya, mumpung portofolioku lagi hijau-hijaunya." Reyhan mulai menelusuri layar tablet tersebut. Tanpa perlu melihat deretan harga di sebelah kanan layar, ia memasukkan beberapa botol sampanye vintage edisi terbatas, sebotol wiski premium, sepiring kaviar kualitas terbaik, dan berbagai hidangan mewah lainnya ke d
Belum sempat Hendra mengiyakan ajakan Reyhan untuk masuk, Siska sudah lebih dulu maju. "Rey, aku mau dong ngerasain duduk di mobil ratusan miliar!" seru Siska dengan mata berbinar. Ia langsung melangkah maju menggeser Hendra dan mendekati Bugatti tersebut. "Boleh aja. Sini naik," jawab Reyhan santai. Siska baru saja hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia mengintip ke dalam kabin dan melihat hanya ada satu kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi. Gadis itu menoleh ke arah Hana. Sebagai teman yang peka, Siska tahu betul bahwa Reyhan sejak dulu memendam rasa kagum pada primadona kelas mereka itu. "Eh, ternyata kursinya cuma dua. Ya udah, kursi penumpangnya buat Hana aja," ucap Siska cepat. Ia menahan rasa mindernya dengan tawa ringan, lalu menatap Reyhan. "Tapi Rey, aku pinjem kursinya bentar buat muter pelataran hotel, ya? Penasaran banget rasanya!" "Boleh. Ayo masuk," balas Reyhan sambil tersenyum. Siska kegirangan. Ia masuk ke dalam h
"Tampaknya gelar mahasiswa terbaik kurang disukai di sini," ucap Reyhan santai. Ia sama sekali tidak terpancing oleh ejekan Reno dan komplotannya. "Kalian menertawakanku, padahal dulu nilai kalian hancur berantakan. Ini sama saja seperti karyawan bergaji kecil yang merasa lebih pintar dari atasannya. Menurut kalian itu masuk akal?" Kalimat blak-blakan itu meluncur tanpa beban. Reyhan enggan berbasa-basi. Sindiran telaknya sukses membuat Wira dan yang lainnya bungkam seribu bahasa. "Sudah, sudah, jangan tegang begini. Kita kan jarang bisa kumpul, dinikmati saja acaranya," sela Siska cepat, berusaha mencairkan suasana. "Benar kata Siska. Momen ini spesial. Kita lupakan dulu masalah lama," sahut Hana diiringi senyum lembut. Primadona kampus itu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Reyhan, kamu duduk di sini saja, sebelahku." Mendengar tawaran Hana, wajah Wira dan teman-temannya langsung pias menahan kesal. "Han, Reyhan kan laki-laki. Laki-laki tempatnya di meja sana, dekat minum







