Home / Urban / Sistem Sign-In Harian / 5. Kejutan di Ruang VIP

Share

5. Kejutan di Ruang VIP

Author: KoTz
last update publish date: 2026-06-06 21:18:15

Belum sempat Hendra mengiyakan ajakan Reyhan untuk masuk, Siska sudah lebih dulu maju.

"Rey, aku mau dong ngerasain duduk di mobil ratusan miliar!" seru Siska dengan mata berbinar. Ia langsung melangkah maju menggeser Hendra dan mendekati Bugatti tersebut.

"Boleh aja. Sini naik," jawab Reyhan santai.

Siska baru saja hendak membuka pintu, tetapi gerakannya terhenti saat menyadari sesuatu. Ia mengintip ke dalam kabin dan melihat hanya ada satu kursi penumpang di sebelah kursi pengemudi. Gadis itu menoleh ke arah Hana. Sebagai teman yang peka, Siska tahu betul bahwa Reyhan sejak dulu memendam rasa kagum pada primadona kelas mereka itu.

"Eh, ternyata kursinya cuma dua. Ya udah, kursi penumpangnya buat Hana aja," ucap Siska cepat. Ia menahan rasa mindernya dengan tawa ringan, lalu menatap Reyhan. "Tapi Rey, aku pinjem kursinya bentar buat muter pelataran hotel, ya? Penasaran banget rasanya!"

"Boleh. Ayo masuk," balas Reyhan sambil tersenyum.

Siska kegirangan. Ia masuk ke dalam hypercar itu, dan Reyhan langsung memacu mobilnya mengelilingi area pelataran lobi dengan kecepatan rendah. Suara mesin W16 yang menderu halus sukses membuat Siska berteriak histeris dari dalam kabin. Setelah satu putaran singkat, mobil kembali berhenti di titik awal, dan Siska keluar dengan wajah sangat puas.

"Gila, nyaman banget! Yuk, Han, sekarang giliran kamu," kata Siska sambil menarik tangan Hana.

Tepat pada saat itu, Reno melangkah menghampiri mereka. Ia berusaha mengabaikan rasa malu yang masih membakar wajahnya demi menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. Niat awalnya mengadakan reuni ini adalah untuk pamer dan menarik perhatian Hana. Ia tidak rela target utamanya lepas begitu saja.

"Han, kamu naik Mercy-ku aja. Di situ kursinya lebih luas, kita bisa ngobrol santai di jalan," tawar Reno dengan senyum yang dipaksakan.

Mendengar hal itu, Siska langsung menempelkan bibirnya ke telinga Hana dan berbisik cepat, "Udah, tolak aja. Kita misah rombongan sama dia. Mending kita ikut Reyhan."

Hana tersenyum sopan ke arah Reno. "Makasih banyak tawarannya, Ren. Tapi aku bareng Reyhan sama Siska aja. Kalian berangkat duluan aja, ya."

Reno mengatupkan giginya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Ia sudah menghamburkan uang jutaan Rupiah untuk mentraktir makan malam ini, tetapi gadis yang menjadi target utamanya justru menolak dan memilih masuk ke mobil musuh bebuyutannya.

"Kalau gitu, kita misah rombongan aja yuk, Rey. Biar lebih bebas," kompor Siska bersemangat. Ia lalu menoleh ke arah Hendra. "Hend, aku nebeng mobilmu ya? Nggak apa-apa, kan?"

Hendra menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mobilku cuma tua lho, Sis. Nggak senyaman Mercy, apalagi Bugatti. Yakin mau ikut aku?"

"Alah, santai aja. Yang penting AC-nya dingin," balas Siska tanpa beban.

Akhirnya, rombongan terpecah. Reno dan para pengikutnya melaju lebih dulu dengan wajah masam, sementara Reyhan memacu Bugatti-nya membelah jalanan malam bersama Hana di sampingnya, disusul oleh mobil kecil Hendra di belakang mereka.

**

Dua puluh menit kemudian, mereka berempat tiba di sebuah kelab malam eksklusif di pusat kota. Karena tidak ingin bergabung dengan rombongan Reno yang entah memesan ruangan di mana, Reyhan berinisiatif memesan ruangannya sendiri.

"Mbak, aku pesen ruang VVIP yang paling gede, yang privasinya paling bagus," ucap Reyhan kepada resepsionis.

"Baik, Kak. Kita punya Royal Suite dengan fasilitas hiburan lengkap. Minimum tagihannya seratus juta Rupiah. Kakak bersedia?"

Siska dan Hendra nyaris tersedak ludah mereka sendiri mendengar nominal tersebut. Namun, Reyhan hanya mengangguk pelan dan menyerahkan kartu debitnya tanpa sedikit pun keraguan.

Setelah selesai mengurus pembayaran, seorang pelayan mengantar mereka menuju Royal Suite. Ruangan itu sangat luas, dilengkapi sofa kulit mewah, layar raksasa, dan meja bar pribadi. Pintu ruangan tersebut terbuat dari kayu tebal peredam suara, yang langsung terkunci otomatis dari dalam dan hanya bisa dibuka menggunakan kartu akses khusus demi menjaga privasi tamu VVIP.

Mereka berempat duduk bersantai di sofa. Pelayan menyajikan minuman dan makanan ringan, lalu undur diri meninggalkan ruangan.

Suasana awalnya terasa canggung, hingga Hendra akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Reyhan dengan raut wajah sangat serius.

"Rey, jujur deh sama aku. Setahun ini kamu kerja apa sih? Gaji karyawan biasa nggak mungkin bisa buat beli mobil ratusan miliar, terus bayar ruangan seratus juta tanpa mikir. Kamu dapet uang dari mana?"

Hana dan Siska ikut menatap Reyhan, sama-sama menanti jawaban.

Reyhan meletakkan gelas minumannya di meja. Ia menatap ketiga temannya dengan wajah sedatar tembok, ekspresinya berubah menjadi sangat gelap dan serius.

"Kalian beneran pengen tahu?" tanya Reyhan dengan nada berat.

Hendra menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

"Setahun ini..." Reyhan merendahkan suaranya, menatap mereka satu per satu. "Aku kerja di jalur bawah tanah. Jual beli senjata api, nyelundupin barang ilegal, dan... bisnis organ dalem manusia."

Ruangan itu seketika berubah mencekam.

Wajah Hendra memucat pasi. Hana tanpa sadar menggeser duduknya menjauh, sementara Siska yang sejak tadi selalu bersikap centil dan ceria langsung kehilangan jiwanya. Wajah gadis itu pias seperti mayat.

"R-Rey... kamu lagi bercanda, kan?" suara Siska bergetar hebat.

"Menurut kamu mukaku kelihatan kayak lagi bercanda?" Reyhan membalas dengan tatapan tajam.

Siska tidak tahan lagi. Ia melompat dari sofa dan berlari menuju pintu, berniat kabur saat itu juga. Ia menarik gagang pintu panik, tetapi pintu logam tebal itu tidak bergerak sedikit pun.

"Pintunya dikunci! Hendra, tolong bukain pintunya! Reyhan gila!" jerit Siska histeris, memukul-mukul pintu dengan panik.

Melihat kepanikan luar biasa itu, Reyhan menghela napas panjang dan menggeleng pelan. "Ya ampun, Sis. Jelas aja aku bercanda. Emangnya mukaku ada potongan jadi mafia organ?"

Hendra yang tadinya sudah bersiap untuk ikut lari langsung mengusap dadanya lega. Siska bersandar lemas di pintu, napasnya memburu.

"Reyhan! Jantungku mau copot tahu nggak!" sembur Siska dengan mata berkaca-kaca.

"Lagian, ngurus bisnis organ tuh terlalu repot," lanjut Reyhan dengan wajah kembali datar. "Sebenernya aku cuma narik pesugihan. Syarat utamanya gampang, aku cuma butuh tumbal cewek cantik setiap malam Jumat buat diserahin ke siluman. Dan kebetulan, hari ini hari Kamis malam. Waktunya pas banget."

"KYAAA!"

Siska kembali menjerit histeris. Ia memukul-mukul pintu dengan brutal sambil menangis sungguhan, sementara Hana sudah menyembunyikan separuh wajahnya di balik bantal sofa karena ketakutan. Hendra mematung di tempat, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

Melihat pemandangan kocar-kacir di depannya, Reyhan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa lepas, suara tawanya menggema memenuhi ruangan mewah tersebut.

"Astaga, kalian ini gampang banget sih dikibulin! Berhenti mukul-mukul pintu itu, Sis, nanti rusak aku yang harus ganti," ucap Reyhan di sela tawanya.

Siska menoleh dengan wajah memerah, napasnya naik turun. "Kamu... kamu beneran cuma bercanda, kan?!"

Reyhan mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa. "Iya, bercanda. Aku cuma main saham sama aset kripto doang. Kebetulan belakangan ini portofolio investasiku lagi meroket gila-gilaan, makanya aku bisa nikmatin hasil sebanyak ini."

Bugh!

Sebuah bantal sofa mendarat telak di wajah Reyhan. Hana yang sejak tadi diam akhirnya bereaksi, menatap pemuda itu dengan pipi menggembung kesal namun bercampur helaan napas lega. "Jelek banget candaannya!"

Reyhan hanya tertawa sambil menangkap bantal tersebut. Di sisi lain, Siska menghela napas sangat panjang hingga tubuhnya merosot ke lantai berkarpet. Jiwa centilnya benar-benar sudah melayang entah ke mana malam itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sistem Sign-In Harian   108. Menagih Hutang Darah

    "Rey..." Hendra menahan napas, tak berani membayangkan amarah sahabatnya.Di atas bekas fondasi rumah itu, berdiri sebuah bedeng darurat beratap terpal. Beberapa pria berwajah kasar tampak sedang asyik bermain kartu di bawah cahaya lampu redup, diselingi tawa dan umpatan kasar.Tanpa sepatah kata pun, Reyhan melangkah maju menerobos puing-puing."Woi! Siapa kau?!" Seorang pria gemuk yang sedang memegang kartu mendongak kaget."Di mana orang tuaku?" Suara Reyhan terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan niat membunuh."Mana aku tahu! Pergi sana, jangan cari mampus di sini!" Pria gemuk itu bangkit, tangan kanannya refleks menyambar botol bir kosong dari atas meja.Reyhan tidak mengulang pertanyaannya. Ia menutup jarak dalam sekejap mata. Tangan kanannya melesat mencekik leher pria itu, mengangkat tubuh gempalnya dari kursi dengan tenaga brutal."Di mana. Orang tuaku."Pria itu meronta panik karena kehabisan napas. Dalam keputusasaan, ia mengayunkan botol bir di tangannya ke arah k

  • Sistem Sign-In Harian   107. Amarah Reyhan

    "Kabar apa? Terakhir aku pulang pas libur tahun kemarin, semuanya baik-baik saja," dahi Reyhan berkerut bingung."Rey, keluargamu sedang hancur. Kau benar-benar tidak tahu?" Azlan merendahkan suaranya, menatap temannya kasihan. "Kaki Bapakmu dipatahkan oleh anak kepala desa. Ibumu jatuh sakit parah karena syok, dan... rumah kalian sudah diratakan dengan tanah." Brak! Reyhan menggebrak meja dan langsung berdiri. Gelas whiskey-nya terguling. Sorot matanya menajam, memancarkan aura membunuh. "Apa kau bilang?!"Azlan menelan ludah, lalu menceritakan semuanya dengan cepat. Ternyata, orang tua Reyhan dulu diam-diam meminjam uang dari kepala desa untuk membiayai pendidikan Reyhan di kota. Bukannya bantuan, pinjaman itu berbunga mencekik layaknya lintah darat. Selama tiga tahun bekerja banting tulang, uang hasil panen orang tuanya bahkan tidak cukup untuk menutupi bunganya saja. Mereka menutup rapat rahasia ini agar Reyhan bisa fokus belajar dan meniti karier. Saat Reyhan pulang tahun lal

  • Sistem Sign-In Harian   106. Reuni yang Tak Terduga

    Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai jendela, jatuh tepat di wajah Reyhan. Pria itu perlahan membuka kelopak matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya. Ranjang di sebelahnya sudah kosong; Sandra ternyata berangkat kerja lebih awal.***Siang harinya, Reyhan mampir ke kantor Starlight bersama Hendra. Berkat kerja keras Evan, fondasi perusahaan semakin solid, membuat suasana kantor terasa lebih hidup dan terstruktur. Reyhan tidak lagi menyinggung soal jari Hendra yang putus, ia membiarkan luka itu sembuh dengan sendirinya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Elsa kini diam-diam mulai memberi perhatian lebih pada Hendra."Pak Rey, Anda memanggil saya?" Evan melangkah masuk ke ruangan."Bawa ini ke Rania. Dia yang akan menghubungkanmu dengan pihak lain," ujar Reyhan seraya menyerahkan flashdisk berisi cetak biru Tesla Note yang asli kepada Evan. "Ingat, kita hanya mengambil persentase hak kita. Dan terlepas dari siapa pun yang memegangnya nanti, b

  • Sistem Sign-In Harian   105. Gairah Reyhan

    "Bisa atau tidaknya kau memimpin proyek ini, penentunya bukan aku, melainkan dirimu sendiri, Rania. Semuanya bergantung pada seberapa besar keberanianmu merebut kekuasaan dari bayang-bayang keluarga Cross. Soal kemungkinan kau menusukku dari belakang... aku akui itu membuatku ragu. Tapi intuisiku bilang, kau tidak akan memilih jalan sebodoh itu," balas Reyhan percaya diri. Melihat obrolan tingkat tinggi yang penuh kode dan kalkulasi itu, Jason memilih menepi. Ia berjalan dalam diam dan membuka jendela lebar, membiarkan asap rokok yang menyesakkan dada itu tersapu angin malam. Setelah kesepakatan tercapai, Reyhan akhirnya pamit undur diri. Sebuah flashdisk berisi data purwarupa Tesla Note yang sedari tadi ia bawa kini telah berpindah aman ke tangan Rania. "Nona, Anda yakin ingin mengambil risiko bersekutu dengannya?" tanya Jason dengan wajah cemas begitu pintu tertutup rapat. "Kenapa tidak? Tesla Note, cetak biru energi masa depan... itu godaan yang terlalu manis untuk dilewatkan.

  • Sistem Sign-In Harian   104. Tawaran Besar Reyhan

    Di bawah tatapan Reyhan yang menusuk, Evan akhirnya menyerah. Dengan suara pelan, ia menyebutkan satu nama. Ryan Yudistira.Nama itu membuat darah Reyhan mendidih.Rupanya, Ryan menyuruh anak buahnya menyelidiki Reyhan, Hendra, dan Evan sejak kemarin. Berkas mereka sampai ke tangan Ryan dalam waktu singkat.Ia lalu menyuruh anak buahnya memotong jari kelingking Hendra dan Evan sebagai hadiah peringatan untuk Reyhan. Jelas sekali, urusan antara Ryan dan Reyhan makin memanas."Dia juga titip pesan, Starlight akan dihancurkan. Dan setelah itu... nyawamu yang jadi target," aku Hendra akhirnya, sadar ia tidak bisa lagi berbohong.Reyhan terdiam, lalu sudut bibirnya berkedut membentuk senyum dingin. "Menarik. Rupanya keluarga Yudistira memang tidak pernah rela menerima kekalahan."Tanpa bicara lagi, Reyhan berbalik dan melangkah keluar rumah.Ditinggal begitu saja, Hendra dan Evan saling berpandangan cemas, sama sekali tidak tahu apa yang akan ucapkan Reyhan barusan.Reyhan memacu mobilnya

  • Sistem Sign-In Harian   103. Jari yang Hilang

    "Kakek, Reyhan sudah tiba," bisik David pelan dari samping.Kakek Theo menoleh, menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Pemuda tampan. Kudengar kau yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkan orang tua ini?" tanya Kakek Theo datar."Benar, Kek," jawab Reyhan tenang."Bagus! Dan kabarnya kau juga membuat kekacauan besar di rumah keluarga Yudistira, bahkan ribut dengan Anderson dan menyeret Dokter Kemal ke dalam masalah?"Reyhan tersenyum tipis. "Ehem... keadannya kebetulan memang tidak bisa di hindari, Kek.""Bagus sekali. Pemuda yang menjanjikan." Suara Kakek Theo berubah dingin. "Tapi kau juga sudah menggagalkan pertunangan cucuku, dan itu harus kita luruskan.""Kakek, Sandra sudah menjadi kekasihnya," sela David cepat.Kakek Theo tidak memedulikan omongan itu. Ia menatap lurus ke arah Reyhan. "Aku tahu, Nak. Sekarang jawab aku, bagaimana kau akan memperlakukan Sandra ke depannya?"Reyhan menegakkan punggungnya. "Tenang, Kakek. Sandra itu yang utama bagiku. Aku men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status