author-banner
Haze Hales
Haze Hales
Author

Novels by Haze Hales

Kota di Tengah Antah Berantah

Kota di Tengah Antah Berantah

Dapat uang warisan, rumah besar di tengah kota kecil di antah berantah dengan pemandangan asri. Ah mantap. Penduduknya ramah, agak nyeleneh dikit tapi nggak apa-apa lah. Meski banyak hujan tai ayam dari pohon, karena burung laknat itu suka nangkring di atas pohon, yang penting rumah gratis. Di temani oleh tangan tanpa badan, menggeliat manja di pojokan. Iya, kalian tidak salah baca kok. Emang ceritanya aja agak nyeleneh.
Read
Chapter: Eleven
"Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Ten
Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: Nine
Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Eight
Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Seven
Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Six
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya bangun. Matanya mengerjap malas, memandang gorden seperti hendak mengajar benda tipis itu bertengkar. Rei menark tubuhnya turun dari kasur dengan langkah sempoyongan. Menarik gorden m9tif bunga itu dengan kesal. Cahaya remang-remang matahari pagi di ikutin teriakan ayam menyambut. Otot urat di kepala Rei mendadak berkedut, ayam-ayam di pekarangan rumahnya berkokok lagi. KOK KOK PEK—OGHHH Suara nyanyian cempreng ayan itu terputus karena sendal kelinci pink milik Rei melayang, dan menghantam tenggorokan ayam di bawah. "Diam!" gerutunya kesal. Binatang warna-warni tersebut bubar teratur setelah perjaka tanggung mereka tumbang oleh sendal kelinci pink. Rei merengut kembali, berjalan
Last Updated: 2026-05-20
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status