author-banner
Haze Hales
Haze Hales
Author

Novels by Haze Hales

Kota di Tengah Antah Berantah

Kota di Tengah Antah Berantah

Dapat uang warisan, rumah besar di tengah kota kecil di antah berantah dengan pemandangan asri. Ah mantap. Penduduknya ramah, agak nyeleneh dikit tapi nggak apa-apa lah. Meski banyak hujan tai ayam dari pohon, karena burung laknat itu suka nangkring di atas pohon, yang penting rumah gratis. Di temani oleh tangan tanpa badan, menggeliat manja di pojokan. Iya, kalian tidak salah baca kok. Emang ceritanya aja agak nyeleneh.
Read
Chapter: Twenty One
Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: Twenty
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Nineteen
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Eighteen
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Seventeen
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Terlalu cepat. Rei menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku catatan neneknya—dia sudah sampai halaman dua puluh lima dari tiga puluh halaman—dan menghafal mantra pematah. Dia mengulangi mantra itu setiap kali dia punya waktu luang, sampai kata-kata Latin itu terasa seperti bagian dari dirinya. Kieran datang setiap hari, membawa makanan dan menemani Rei. Mereka tidak banyak bicara tentang rencana Rei—Kieran menghormati keinginan Rei untuk tidak melibatkan dia terlalu jauh—tapi kehadiran pemuda itu membuat Rei merasa sedikit lebih tenang. Nenek Lin juga sesekali muncul, biasanya untuk memastikan Rei tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti lupa makan atau begadang sampai pagi. Wanita tua itu tidak banyak bicara, tapi Rei bisa merasakan bahwa dia peduli. Dan kemudian, tanpa terasa, malam bulan baru tiba. Rei berdiri di halaman belakang rumahn
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Sixteen
Rei bangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda. Bukan perasaan takut atau cemas seperti biasanya. Tapi perasaan... tekad. Dia punya misi sekarang. Misi yang jelas. Misi yang bisa dia fokuskan.Gali ari-ari. Patahkan mantra. Keluar dari Moorbridge.Tiga langkah sederhana. Kecuali semuanya jauh dari sederhana.Rei turun ke dapur dan membuat kopi. Sambil menunggu air mendidih, dia membuka buku catatan neneknya dan mencari bagian tentang "malam bulan baru". Dia menemukannya di halaman sembilan belas, di antara catatan tentang cara membuat jimat dari tulang ayam dan resep untuk kue yang bisa membuat roh tertidur.Malam bulan baru adalah waktu ketika batas antara dunia orang hidup dan dunia orang mati paling tipis. Pada malam itu, roh-roh bisa berkeliaran dengan bebas, dan mantra-mantra menjadi lebih lemah. Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan ritual yang melibatkan komunikasi dengan dunia lain.Rei membaca lebih lanjut. Menurut buku itu, untuk mematahkan mantra yang dipasang
Last Updated: 2026-09-22
You May Also Like
Tukang Pijat Super
Tukang Pijat Super
Fantasi · Frands
245.4K views
Pendekar Naga Biru
Pendekar Naga Biru
Fantasi · Zhu Phi
243.5K views
Kultivator Inti Semesta
Kultivator Inti Semesta
Fantasi · Evanscapenovel
227.8K views
Warisan Artefak Kuno
Warisan Artefak Kuno
Fantasi · Jimmy Chuu
227.6K views
Hamil Anak Ular
Hamil Anak Ular
Fantasi · Evhae Naffae
227.1K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status