공유

Ten

작가: Haze Hales
last update 게시일: 2026-06-14 22:31:02

Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.

Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

"Kau tidak harus mencerita
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twelve

    Suara garukan kuku di atas kayu jati yang tebal itu bergema, seolah-olah makhluk di luar sana hendak menguliti pintu sampai habis. Rei menenggelamkan wajahnya di antara lutut, meringkuk di atas lantai dapur yang dingin. Kedua tangannya memepuk erat gagang lentera besi yang apinya menari liar. Lentera itu tidak mengeluarkan kehangatan. Alih-alih membakar, cahayanya yang berpendar biru justru memancarkan hawa sedingin es yang menusuk sampai ke sumsum tulang. Setiap kali ada benturan keras yang menghantam dinding rumah, lidah api di dalam kaca melompat liar, menari-nari dengan gelisah seakan ikut merasakan ketakutan yang menghantui Rei saat ini. Dada Rei naik turun dengan cepat. Detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinga, seperti saat ia dikejar oleh anjing. Pikiran tentang nenek Jeanne kembali merayap ke kepalanya, membawa amarah kembali ke dalam dadanya. Nenek sialan itu benar-benar inhin dirinya mati rupanya. Tidak di sangka bahwa nenek Jeanne ternyata sekejam ini.

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eleven

    "Ini." Kieran memberikan secarik kertas dengan nomer di dalamnya. Rei memandang sebentar kertas tersebut. Sebelum ia menyangkat kepalanya dan menatap Kieran dengan pandangan bertanya. "Nomer pribadiku," jelas Kieran. "Kalau kau mungkin butuh bantuan atau butuh teman mengobrol. Telfon saja nomerku. Kali ini Kieran tersenyum kecil, senyumnya persis seperti anak kecil yang bangga dia mendapatkan teman baru. Rei tidak enak hati jika harus menolak, jadi dia berterima kasih dan menyimpan nomernya. Kieran kembali lima menit setelahnya, Rei kembali ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Matanya menyapu setiap sudut rumah dengan pandangan rumit, serumit isi otaknya saat ini. Rei berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa sambil memandang tempat perapian kemudian merebahkan dirinya di sofa. Menatap langit-langit ruang tengah dan lampu kristal menggantung dengan indahnya. Ia masih berusaha menerima kenyataan bahwa neneknya sengaja mengirim Rei kemari sebagai pengganti. Rei

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Ten

    Rei terdiam sambil memeluk lututnya, memandang ke arah padang rumput di mana hewan ternak milik tetangga Kieran berkeliaran dnegan bebas. Ia berjengit kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Kieran kembali dengan sekaleng minuman dingin dan samosa dari kedai ibunya, bau nikmat rempah-rempah membuat Rei hampir meneteskan air liur. Rei mengucapkan terima kasih dengan nada pelan, membuka kaleng sodanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak harus menceritakannya." Rei menoleh bingung, menatap Kieran yang dengan santainya mengigit samosa yang masih panas, uap putih mengepul keluar dari makanan mirip pastel yang dulu ibu Rei sering buat. "Aku sudah hidup di sini lebih lama darimu, aku paham apa yang kau alami," lanjut Kieran sambil menyeruput sodanya. "Nenekmu mengirim kau kemarin bukan untuk memberikan warisan tapi mengiri mu untuk mati kan?" Rei membeku di tempat, matanya langsung menatap ke arah Kieran seakan bertanya. Bagaimana dia bisa

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nine

    Buku sialan, selama ini ternyata terselip di antara buku kamasutra si nenek lampir itu. Bagi yang tidak tau buku kamasutra itu apa, itu buku tentang cara bercocok tanam alis reproduksi. Kalau mau coba gaya ngangkang melayang, buku itu akan memberikan instruksi agak tahan lama dan nikmat. Hush, ngomong apa sih, malah bahasa gaya ngangkang nikmat. Lanjut ke ceritanya... Intinya, nenek lampir itu punya selera dan kelakuan nyeleneh yang harusnya Rei tidak kaget lagi. Tapi setia kali menemukan koleksi aneh neneknya, Rei mempertanyakan kewarasan si nenek dan dirinya sendiri. "Anuh...kalau begitu saya akan kembali bekerja." ucap pria itu di ikuti senyum kecil. Rei tertawa canggung untuk kesekian kalinya, mempersilahkannya untuk kembali bekerja. Sementara Rei meletakkan bukunya di meja dan duduk kembali sambil memijat pelipisnya. Pusing, radany mendadak kepalanya berputar. Mungkin tekanan darahnya menurun saking stressnya menghadapi kelakuan dan hal aneh di rumah ini. Ia menyand

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eight

    Rei mematikan wastafelnya, meletakkan semua gelas dan piring yang baru saja ia cuci kembali ke lemari. Kru yang di kirim tuan Powell sekarang berpindah ke atas semua. Nampaknya lantai satu sudah benar-benar bersih. Rei berkeliling sejenak untuk memastikan, ruang tamu memang sudah ia bersihkan. Tetapi para kru sepertinya menata ualng letak perabotan dan memberikan beberapa tempat yaglng Rei lewatkan. Tempatnya jadi rapih dan estetik kalau kata anak zaman sekarang. Dapur juga tadi terasa lebih bersih dan udaranya tidak pengap. Meski ada sedikit iklan horor lewat dari arag ruang bawah tanah. Ruang baca dan beberapa ruangan santai lainnya juga sudah di bersihkan dan di lap hingga kinclong. Koleksi buku neneknya yang tifak sempat Rei bersihkan sudah tertata rapih di dalam rak buku. Sampul kulitnya juga terlihat bersih, seperti baru saja di beli dari toko buku. Jemarinya menyisir buku-buku di dalam rak, membaca beberapa judul yang kenarik perhatiannya. Beberapa adalah buku pengetahu

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seven

    Rei masih berdiri mematung di depan rak bumbu, berusaha memproses apa yang baru saja dia dengar. Kalung giok pemberian si nenek masih ia genggam, terasa dingin and agak berat. Rei menatap kalung dalam genggamannya seakan benda itu akan meledak. Otaknya memutar ulang percakapan yang baru saja terjadi. Intinya, nenek Jeanne mengirimnya kemari untuk mati. Wah sialaan, dia di jadikan tumbal. Tangannya gemetar, entah karena takut, marah atau miris saja dengan nasibnya. Jadi mirip sinetron horor soal anak haram yang di jadikan tumbal. Wah, bisa di jadikan judul cerita sinetron tuh. Hahahahaha, ngawur. Setelah kurang lebih melongo selama sepuluh menit seperti ayam kesurupan. Rei meletakkan kalung giok tersebut ke dalam saku celananya. Ia menggelengkan kepalanya dan fokus belanja dulu, tim pembersih akan datang hari ini. Dan Rei setidaknya ingin menyediakan camilan, tangannya meraih beberapa barang yang ia butuhkan dan sekitarnya ia butuhkan nanti. Biarlah jadi urusan nanti jika ha

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status