MasukCatherine, menghadapi sebuah pilihan sulit, cari calon sendiri atau di jodohkan dengan lelaki pilihan Papanya. Tidak memiliki calon, Catherine akhirnya menerima calon pilihan Papanya. Pengusaha muda, anak partner bisnisnya. Siapa sangka, di hari pernikahan, Catherine mendengar suara erotis di kamar mandi, dan melihat mempelainya bersama seorang gadis. Merekam dan mengirimkan di WA Grup keluarganya. Catherine berlari dari salah satu ballroom di gedung berlantai 8 itu, dia bertemu dengan mempelai pria, yang juga kabur sepertinya di dalam lift. Sebuah project pun di sepakati Catherine dan pria tersebut dalam lift tersebut.
Lihat lebih banyakI heard the loud voice from where I hid, and I knew it was game over. I had to run.
“Get her!"
I kicked against the door as hard as I could, bolting through it almost immediately. They were behind me, all four of them. I didn't stop running.
The sound of grasses and twigs being trampled upon by our feets echoed through the night. My hands gripped the object in my hand tighter, as I kept running.
“Stop!" One of them yelled. "Stop now, and we will let you go freely."
Lies!
I'm not a fool, and they're all liars. If their Alpha is a liar, then they are too.
My heart ached as I thought about the situation that led me here. I had my doubts, but he overrode them, and made me fall in love with him, only to be rejected at the last minute when it actually mattered.
Love sucks, but Alpha Thane sucks even more.
A harsh voice pulled me out from my little “That book belongs to the pack, you can't take it. You theif!"
I held unto it tighter. I'm not a thief!
I ignored them as best as I could, putting all my energy into getting away from them. The night air reeked of smoke and pain. My heart was pounding in my chest, as I tore through the woods.
A blur of black fur lunged at me from the darkness. I twisted, barely dodging the razor-sharp claws that sliced through the air where my head had been just moments before. That was close.
I fell roughly to the ground, a low growl escaping my lips. However, I barely had time to nurse the pain. Rolling to my feet, I met the golden eyes of my attacker—Derek, Thane’s right hand man.
He never liked me from the start!
My fingers tightened around the leather-bound tome I had taken—secrets of the old world pressed between its brittle pages. Secrets that could change everything. Secrets that no one could read or comprehend, no one but me!
“Give it to us, Mira. Now!” he snarled, his eyes flickering to a deeper shade. “You don’t know what you’re dealing with.”
The other three men had caught up, they stood behind me, baring their fangs at me.
I refused to be intimidated. I wasn’t the same quiet librarian they thought I was. The one they played with like some tool. “Neither do you.”
The leader lunged at me at this point. I almost didn't see it coming, but I dodged right in time. I fell to the ground, grabbing as much sand as I could. I threw it in his eyes, dashing past him without wasting another second.
I felt my legs begin to weaken beneath me, but I didn't stop. A deafening howl split the night—a warning. Reinforcements were coming.
Ugh! Give up already, Thane!
Pain was all I felt. That type that threatened to tear your heart apart, and shook your entire being. Yes, that kind of pain!
What do you do when your secret mate announces to the entire pack that he had found his mate, and it isn't you?
As for me, I was in denial. He couldn't possibly do that to me, could he?
Until it dawned on me. He rejected me, tossed me aside like a used tissue paper. He caused this, and everything else that's coming for him.
If the last thing I do is take my revenge, then I will, or die trying.
My thoughts distracted me, and I didn't realize that my company had all shifted into their wolves. “Shit!" I cursed.
Desperately, I attempted to reach my wolf all over again. I couldn't. I don't know what they did to me, I felt so human at that point.
How am I supposed to get past them without my wolf?
The sound of snapping jaws filled the air as the first wolf lunged. I ducked, barely avoiding the gleaming fangs that snapped shut just inches from my face. My heart pounded in my ears, my legs burning from the relentless chase.
Another wolf — sleek and black with eyes like molten gold — circled around to cut off my path. Derek!
“Mira,” he growled, voice thick even in his wolf form. “There’s nowhere left to run.”
But I wasn’t done yet.
I spun, hurling a jagged branch I’d snatched off the forest floor at the closest wolf. It wasn’t much—barely a distraction—but it gave me a sliver of space to bolt deeper into the trees. Branches tore at my skin, and my breath came in sharp, panicked gasps.
They were faster. Stronger. And I still couldn’t reach my wolf.
Claws raked across my calf, white-hot pain exploding down my leg. I stumbled, crying out as I hit the ground hard. Leaves and dirt pressed into my palms as I clawed forward, desperate to keep the book safe, desperate to stay ahead of them.
Another set of claws hooked into the back of my shirt, dragging me back as I screamed. My nails tore at the earth, kicking wildly, but they were relentless — a pack trained to hunt, and I was their prey.
“Hold her down!” Darek’s voice barked through the chaos.
I twisted, and for a brief second, I locked eyes with him. There was no mercy there. Not even triumph. Just cold, dutiful purpose.
With the last bit of energy I had left, I reached for a large stone beside me, hurling it at the wolf above me. He dodged it, but I also escaped. It felt futile, they are still going to catch up with me.
What do I do?
A hand clamped over my mouth, yanking me backward into the thick shadows of the forest.
I thrashed wildly, kicking and clawing, but the grip was ironclad. My vision swam with panic as the snarling wolves burst into the clearing, their glowing eyes sweeping the trees—searching for me.
But whoever had me knew how to disappear.
The hand shifted, pressing two fingers to the side of my neck. A sharp sting bloomed where they touched, and then—nothing. My body went limp, and the world tilted sideways. I hit the ground, my fingers still curled around the book, even as darkness swallowed me whole.
Keanu, sangat gembira menyambut kepulangan Papanya. Melompat-lompat kegirangan, saat Ardi turun dari mobil, langsung memeluknya erat."Welcome Home Papa," bisik Keanu saat memeluk Papanya, dan menuntun Ardi, duduk di sofa."Ck, adik lu, manis banget, sumpah!" ucap Dinda, berjalan dan duduk di sebelah Ardi."Pi, kalau kontrol nanti biar sama aku aja ya?" tawar Dinda melirik Catherine, berdecak padanya."Nggak, biar Papa gwa yang antar, kalau lu yang antar, takutnya di bawa kemana-mana lagi!""Cih, anak Papi, ih....., pelit banget sih!""Ya udah, nanti kalian berdua saja yang antar Papa," balas Ardi, membuat girang Dinda. Setidaknya, ada alasan bagi Dinda, bertemu Dokter cintanya! Melihat waktu di jamnya, Dinda segera pamitan kembali ke Boutiquenya."Keanu ikut juga ya Pa?" bujuk Keanu, menatap kepergian Dinda."Jangan Keanu, rumah sakit nggak baik buat anak-anak." Ardi mengelus rambut dan memberi pengertian buat Kean
Belum beranjak dari posisinya, Arnold masih menatap emosi, pintu ruangan, tempat Papa dirawat saat ini. Tidak rela, wanita yang di cintainya, menikahi pria lain, Arnold berdiri dan memutuskan akan meminta putrinya baik-baik sebagai pendampingnya.Berjalan dengan percaya diri, Arnold terkejut, melihat seseorang yang sudah lama, tidak pulang ke rumah, Kakaknya Aiden. Mencoba berpikir, untuk apa masuk ruangan tersebut? Sedangkan dia, belum pernah memberitahukan siapa pun, tentang Catherine. Aiden kan Spesialis kanker? Apa Papanya Catherine, punya penyakit kanker? Tidak ingin menebak-nebak, Arnold akan memastikan dulu, pada Kakaknya. Duduk menunggu, tidak jauh dari kamar pasien.Melihat Aiden keluar dari kamar tersebut, Arnold mengikuti langkah Aiden, menuju ruangannya. Tanpa mengetuk pintu, Arnold langsung masuk, dan duduk di depan Aiden, yang terkejut."Sedang apa kau disini?" tanya Aiden heran. Adiknya ini, bukan tipekal orang, yang memiliki banyak wa
Aiden mendorong pelan Dinda, menatap tajam gadis kurang ajar di depannya ini. Berani sekali menyentuhnya! Maju dan menarik kasar Dinda, lalu membuka pintunya. "Keluarlah, dan jangan muncul lagi di depanku!" geram Aiden kesal. "Aiden, itu first kissku, jangan lupakan,manisnya!" pesan Dinda mengganjal pintu dengan kakinya. "Singkirkan kakimu!" "Sepertinya aku akan bermimpi indah malam ini," ucap Dinda mendorong pintu kuat, dan segera mengecup pipi Aiden kembali, lalu kabur sebelum Aiden marah. Lima hari sejak kejadian itu, Dinda tidak pernah lagi bertemu dengan Aiden, karena pekerjaannya yang sedang overload. Menatap tumpukan sketsa wedding dress di depannya. "Ck, sepertinya aku hanya membuatkan gaun untuk orang lain saja. Entah, kapan bisa merancang untuk gaunku sendiri." Mengambil ponsel dan membaca pesan masuk di salah satu aplikasinya. Mengetik beberapa kata, lalu mengirimnya, "Naik saja ke lantai 2, pintu mer
Pagi ini, Dinda datang kembali ke rumah sakit tanpa Rosa. Membawa bekal, untuk Papi Ardi dan Dokter cintanya. Melewati pusat informasi, Dinda berhanti, dan menanyakan letak ruang Aiden, dan jadwal kunjungan ke ruangan Papinya.Bersiul dengan riang, sampai di ruangan Papinya, menyapa Papinya dan Catherine dengan semangat."Papinya Dinda, yang paling tampan di kamar ini, apa kabar?" gurau Dinda, meletakkan menu bekalnya, dan memberikan satu bekal buat Catherine ."Ck, yah pasti paling tampan, pria sendiri di sini," cibir Catherine menerima bekal tersebut. Tidak membalas cibiran Catherine, lalu mengambil kursi duduk di sebelah Papinya. Senyum Dinda mengembang, saat pintu kamar di ketuk, dan melihat Dokter cintanya datang."Pi, Dinda udah cakep belum?" bisik Dinda, dan diangguk Ardi menahan senyum. Dinda berdiri langsung, dan mempersilahkan Dokter tersebut memeriksa Papinya lebih dulu."Keadaan Pak Ardi semakin membaik, nanti saya jadwalkan untuk kemot
"Stop!" teriak Arnold menghentikan langkah Catherine sesaat. Lalu segera berlari dan dan bersembunyi di balik semak-semak, agar tidak di ikuti Pria tersebut.Dirasa aman, Catherine kembali pulang ke rumahnya, dia harus segera bersiap-siap, untuk makan siang dengan calon keluarga suaminya siang ini
Catherine menatap tak percaya dengan suasana cuaca dari balik jendela di kamarnya, angin menumbangkan beberapa pohon di sekitar penginapan mereka. Bahkan dua mobil rusak parah di timpa pohon tersebut. Sudah hampir 2 jam mereka semua di dalam penginapan ini. Tapi suasana bukannya membaik, malah s
"Ini restoran yang kamu maksud?" "Ya, aku bahkan sering melihatmu makan di sini bersama Om disini.""Kau tahu," ucap David terhenti, membuat Catherine berhenti memotong daging rendangnya, dan menatap balik David."Sebelum kita di jodohkan, aku bahkan ingin mendekatimu lebih dulu.""Aku pernah 10 h
"Caty,sudah punya kekasih?" tanya Papanya, saat mereka sedang makan malam. Mencoba menarik nafas, mengurai rasa sakit yang menjalar. Beberapa kali Pak Ardi mencoba metode tarik-hembus nafas, sampai dadanya berkurang rasa sakitnya."Belum ada yang seperti Papa," ucap Catherine tersenyum menggoda Pap






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.