Mag-log inKisah tentang dua insan yang dipertemukan saat sedang menguntit pasangan mereka yang tengah berselingkuh. Karena merasa senasib, hubungan keduanya pun berlanjut lebih intim. Namun mereka bimbang, apakah hubungan ini memang atas dasar cinta atau hanya ingin balas dendam kepada pasangan mereka yang telah berkhianat. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berpisah agar bisa menata hati dan mencari keyakinan dengan perasaan tersebut. Beberapa tahun berlalu, tanpa sengaja mereka dipertemukan kembali di sebuah pernikahan sahabat. Apakah mereka masih menjalin hubungan dengan pasangan mereka masing-masing? Atau justru telah berpisah dan sedang mencari penggantinya?
view moreSatu-satunya penunjuk waktu yang dipercayai Maorielle saat ini hanyalah jam di pergelangan kirinya yang terus berdetak tanpa ampun. Detaknya beradu dengan suara napasnya yang memburu. Maorielle masuk ke ruang kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia dengan langkah berat. Rambutnya yang tadi pagi rapi kini sudah sedikit berantakan.
Matanya menyapu deretan mahasiswa, mencari seseorang. Di barisan tengah, seorang gadis mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat 'aku ada di sini'.
"Aku hampir menyerah menjaganya untukmu," Erina menyeringai, lalu menyodorkan susu cokelat pada temannya yang sudah duduk di sampingnya. "Ini mata kuliah terakhir. Semangat, semangat!"
Maorielle menerima susu coklat dan segera meminumnya. "Aku harus bertahan," gumamnya pelan lalu menyedot isinya hingga tandas.
Erina terkekeh melihat wajah sahabatnya. "Lagian kamu aneh. Kenapa nekat ambil empat mata kuliah maraton di hari Senin? Kamu mau menguji batas kesabaran nyawamu?"
Maorielle mengembuskan napas panjang, terdengar sangat menderita. "Kamu pikir aku mau? Waktu aku mau ambil kelas yang sama denganmu, kuotanya sudah penuh. Aku terpaksa ambil mata kuliah ketiga hari ini. Jadinya ya begini, terjebak di kampus dari pagi sampai sore tanpa jeda."
Maorielle melirik Erina dengan tatapan iri. "Kamu sih enak bisa pulang ke kos lebih dulu," sindir Maorielle lemas. Ia kemudian teringat sesuatu dan meraih lengan Erina dengan sisa tenaga yang ada. "Mana burger yang aku pesan?" rengek Maorielle.
Sang penyelamat, Erina, akhirnya menyodorkan bungkusan burger hangat yang dipesan. "Cepat dimakan. Kelas dimulai dalam waktu lima menit lagi"
Maorielle menyambar burger itu seolah nyawanya bergantung pada asupan karbohidrat tersebut. "Aku harus makan kalau tidak mau pingsan," gumam Maorielle lemas. Ia segera membuka bungkusan burger itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelaparan.
Aroma daging panggang dan saus barbekyu langsung menyeruak, membuat perut Maorielle berbunyi nyaring seolah memberikan tepuk tangan. Tanpa memedulikan citra dirinya sebagai mahasiswi psikologi yang biasanya rapi, ia menggigit burger itu dengan beringas. Pipinya menggembung penuh. Untuk beberapa detik, ia merasa dunianya kembali berwarna.
"Pelan-pelan, Mao. Nanti tersedak," Erina tertawa kecil sambil menyodorkan air mineral.
Erina melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 13.00 tepat. "Sudah jam satu. Entah kenapa dosennya belum juga datang. Sepertinya terlambat. Aku lihat di SIAKAD sih dosen senior"
"Siapa pun dosennya aku tidak peduli," sahut Maorielle setelah berhasil menelan gigitan pertamanya. Ia bicara dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Jam satu siang di hari Senin begini. Siapa pun yang berdiri di depan sana dengan materi tata bahasa adalah musuhku. Aku cuma ingin makan, checklist presensi, dan kalau bisa tidur."
Di sisi kanan Maorielle, sisi yang bukan ditempati Erina, seorang pria dengan hoodie abu-abu sejak tadi duduk diam dalam tudungnya. Dia tiba-tiba menghentikan gerakan pensil di atas buku sketsanya. Pria itu sedikit memiringkan kepala, melirik ke arah tangan Maorielle yang sedang makan dengan nikmat.
"Kalian tahu siapa dosen mata kuliah ini?" tanya pria itu datar.
Suaranya rendah dan tenang, namun cukup untuk membuat Maorielle tersentak hingga nyaris tersedak potongan acar. Maorielle buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menoleh dengan tatapan heran ke arah pria misterius di kanannya.
"Kami tidak tahu, di jadwal KRS ada namanya. Siapa Erina?" Tanya Maorielle pada Erina agar ikut membantu menjawab.
Erina menghentikan aktivitasnya merapikan alat tulis. Ia ikut menoleh pada pria misterius di sebelah Maorielle. "Ehm, kalau tidak salah namanya Pak Bambang. Kenapa, Mas?" tanya Erina dengan nada penasaran yang kental.
Pria berhoodie abu-abu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap buku sketsanya yang kini tertutup, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Saya dengar dia orangnya cukup detail. Terutama soal ketertiban kelas," jawab pria itu pendek.
Maorielle yang baru saja berhasil menelan potongan terakhir burgernya, mendengus pelan. "Detail itu bahasa halus untuk 'rewel', kan? Duh, Erina, firasatku makin tidak enak. Sudah jam satu siang, dosen rewel, mata kuliah umum pula. Paket lengkap penderitaan hari Senin."
Maorielle kembali melirik pria di sebelahnya dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kamu tahu? Kamu kenal dosennya?"
Pria itu hanya memberikan gumaman samar yang tidak bisa diartikan sebagai ya atau tidak. Ia kemudian memasukkan buku sketsanya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri. Kursi lipatnya berdentang pelan, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Mau ke mana? Dosennya sebentar lagi masuk, lho," Erina mengingatkan, mengira pria itu ingin bolos sebelum kelas dimulai.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melangkah tenang ke depan kelas. Maorielle mengawasinya dengan alis bertaut, memperhatikan punggung berbalut hoodie abu-abu itu yang berjalan lurus menuju meja dosen di depan sana.
Begitu sampai depan, pria itu bukan hanya meletakkan tas, tapi juga melepas jaket hoodie-nya dan menyampirkannya di kursi dosen, menyisakan kemeja gelap yang membungkus tubuh tegapnya. Maorielle dan Erina kompak menahan napas.
Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap seolah oksigen di sana baru saja ditarik paksa. Beberapa orang mengamati apa yang dilakukan pria itu, termasuk Maorielle dan Erina. Mereka penasaran apa yang dilakukannya.
Pria itu melirik jam tangannya dengan gerakan presisi, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru kelas.
"Sudah pukul 13.05," ujarnya dengan suara rendah yang menggema di ruang yang hening.
"Bisakah kita mulai kelas sekarang, atau masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi?" lanjutnya.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang bisa diartikan persetujuan untuk memulai kelas. Dia terlihat mengambil spidol hitam, lalu menuliskan satu nama dengan karakter tegas dan besar di papan putih: KHAI.
Dia membalikkan badan, menumpu kedua tangannya di pinggir meja dosen sambil menatap ke arah kerumunan mahasiswa. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada satu titik di barisan tengah.
"Selamat siang semuanya," suara rendah dan tenang itu kini bergema melalui pengeras suara ruangan, terdengar jauh lebih berwibawa.
"Saya Khairen, kalian bisa memanggilku Khai. Dosen yang menggantikan pak Bambang mengajar kalian mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester ke depan."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keterkejutan menyelimuti kelas itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Semua orang berbisik riuh. Memang benar mereka tidak mengenal dosen bernama pak Bambang karena ini mata kuliah umum. Tapi, penggantinya adalah dosen muda yang terlihat tampan dan menarik.
"Saya mencoba berbaur dengan kalian di kelas pertama ini," ujar Khai sambil mengangguk kecil, seolah sedang mengevaluasi hasil eksperimen sosialnya sendiri.
Khai kemudian melipat tangan di depan dada, menatap deretan mahasiswanya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kelas yang unik," tambahnya singkat.
“Svarga mana? Kok enggak keliatan?” Tante Zara yang baru saja datang bersama Om Arkana bertanya.“Itu Tante … lagi di kamar sama Sazhy.” Zaviya menjawab dengan senyum kecut, di dalam hati merasa kesal kepada suaminya yang malah bersembunyi disaat acara syukuran kelahiran putri ke tiga mereka akan dimulai.“Oooh … sekali lagi selamat ya, Sayang.” Tante Zara memeluk dan mencium pipi Zaviya kemudian bergantian dengan Om Arkana.“Ghaza katanya dateng telat, dia anter anaknya ke dokter gigi dulu.” Om Arkana memberitahu.“Iya ….” Zaviya menanggapi disertai senyum ironi dan tatapan penuh arti pasalnya om jailnya Svarga itu selalu menggoda Zaviya dengan konflik di masa lalu di mana Ghazanvar pernah meminta ijin kepada Svarga untuk menikahinya.Memang di luar nalar, tapi tidak ada yang masuk akal bila berhubungan dengan keluarga dari suaminya itu termasuk kekayaan yang mereka miliki.Tante Zara dan om Arkana pergi ke area belakang rumah di mana taman yang luas disulap menjadi sebuah venue deng
Dengan alasan agar restoran Zaviya tetap buka untuk pelanggan setia di hari Sabtu ini maka Ballroom sebuah hotel mewah dipilih menjadi venue Baby shower Reygan.Banyak tamu dari kalangan kaum jet set hadir dalam pesta tersebut termasuk keluarga besar Gunadhya-keluarga dari pihak mamanya Svarga dan tentunya keluarga besar Byantara-keluarga dari ayahnya Zaviya.Keluarga besar bunda yang kebetulan berdomisili di Jakarta dan Bandung menyempatkan untuk datang.Selain yang disebutkan tadi, Baby shower Reygan juga kedatangan tamu istimewa dari Jerman yaitu aunty Kalila dan uncle King yang jarang sekali datang ke Indonesia.Aunty Kalila adalah kakak keduanya mama Kejora yang menikah dengan cucu dari orang terkaya nomor empat di dunia.Luar biasa, bukan?Sang billioner terpikat salah satu gadis dari klan Gunadhya.Zaviya pernah bertemu mereka saat pesta pernikahannya di Jerman.Usut punya usut, kedatangan aunty Kalila dan uncle King ke Indonesia bukan hanya menghadiri Baby shower Reygan tapi j
Biasanya bila ada pesta, seorang ibu atau seorang istri lah yang paling report dalam mempersiapkannya.Semuanya harus sempurna, semuanya harus sesuai keinginan, semuanya harus yang terbaik.Tapi bukan Zaviya namanya kalau mau direpotkan dengan hal semacam itu.Merasa memiliki suami Konglomerat maka Zaviya menggunakan uang suaminya untuk mendapatkan semaksimal mungkin apa yang dia mau dengan seminimal mungkin keterlibatannya dalam mewujudkan keinginan tersebut.Buktinya, hanya untuk membuat Baby shower Reygan saja—Zaviya mempercayakannya kepada Event Organizer ternama, terkenal dan termahal di Negaranya tercinta ini.Awalnya meeting untuk membentuk konsep pesta itu dilakukan di rumah Zaviya di mana Zaviya mengungkapkan semua keinginannya yang dirangkum oleh tim Event Organizer kemudian dibuatkan list-list apa-apa saja yang akan ada di pesta nanti.Dan setelah meeting tersebut Zaviya hanya mendapat kiriman pesan singkat mengenai pilihan seperti undangan, warna tema dekor, jenis souvenir
Alih-alih kecewa kepada kedua orang tua dan mertuanya yang lupa memberitahu Svarga mengenai persalinannya, Zaviya malah tertawa sewaktu mereka berempat menceritakan.Memiliki suami seperti Svarga yang terkadang tidak bisa diandalkan membuat Zaviya mandiri dan tidak mempermasalahkan hal-hal kecil seperti dulu bahkan hal besar seperti ini pun Zaviya santai menghadapinya.Siapa suruh Svarga pulang larut dari kantor sehingga tidak bisa mengikuti momen kelahiran putranya.Hari telah berganti sewaktu Svarga datang ke rumah sakit.Justru pria itu yang tampak kesal karena kedua orang tua dan kedua mertuanya tidak ada yang ingat satupun padanya.Baik kedua orang tua Svarga maupun kedua orang tua Zaviya yang diwakili bunda Venus sudah meminta maaf kepada Svarga namun tetap saja Svarga masih dongkol.Svarga tidak habis pikir, momen besar seperti ini sampai tidak ada yang mengingatnya.Setelah selesai bersalaman dengan kedua orang tua dan kedua mertuanya, Svarga mendekat ke ranjang Zaviya.“Hey …






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore