หน้าหลัก / Romansa / Binar / Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

แชร์

Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

ผู้เขียน: iyanalmasalbantani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-26 15:32:39

Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.

Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.

Rumah.

Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.

Aku berdiri sebentar di depan pintu.

Mereka lagi makan.

Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung menyahut dari ruang makan, diikuti bunyi kursi yang bergeser. "Kakak baru pulang?"

"Iya, Mah."

Aku meletakkan helm di rak dekat pintu, melepas jaket, menggantungnya di tempat yang sudah hafal sendiri.

Ayah dan ibu duduk berhadapan di meja makan.

Ibu pakai daster bunga-bunga kecil warna biru muda, rambut dicepol asal seperti biasa malam hari, bukan karena tidak sempat, tapi karena di rumah ini sudah tidak ada yang perlu dirapikan untuk siapa-siapa. Ayah pakai celana training hitam dan kaos putih polos yang sudah sedikit kekuningan di bagian kerahnya. Ada satu sendok nasi yang masih menggantung di tangannya, terhenti di tengah jalan karena baru saja mendengar sesuatu yang mamah katakan sebelum aku masuk.

Keduanya menoleh.

"Eh, kakak." Ibu langsung tersenyum. "Udah makan belum?"

"Udah, Mah. Tadi di rumah Milo."

"Di rumah Milo?" Ayah meletakkan sendoknya. "Tumben mampir ke sana."

"Kebetulan aja lewat, Pah."

Ayah mengangguk pelan. Aku menarik kursi di ujung meja yang bukan di sebelah Ayah, bukan juga di sebelah ibu, tapi yang sudut. Tempat yang tidak terlalu dekat ke mana-mana, tapi tetap satu meja.

Sudah lama seperti ini aku menjadi canggung ketika berada didekat ayah.

Bukan karena tidak sayang. Bukan karena ada yang salah di antara kami. Tapi ada jarak yang tumbuh pelan-pelan sejak aku masuk SD aku merasa ada jarak yang tidak pernah diucapkan, tidak pernah dipermasalahkan, tapi ada. Seperti dua orang yang berbicara bahasa yang sama tapi dengan dialek yang sedikit berbeda, dan keduanya terlalu sopan untuk meminta yang satunya menyesuaikan.

Ibu yang selalu jadi jembatan di antara kami. Tanpa pernah diminta. Tanpa pernah mengeluh.

"Gimana ospeknya, Kak?" tanya ibu, menyendokkan sayur ke piringnya sendiri.

"Seru, Mah. Tadi outbound. Lumayan."

"Basah-basahan?" Ibu tersenyum.

"Dikit. Lengan kiri doang."

Ayah terkekeh pelan dari ujung meja. "Kalau outbound nggak basah, bukan outbound namanya."

Aku tersenyum tipis. "Bener juga, Pah."

Hening sebentar. Televisi di ruang tengah masih menyala, suaranya mengalir masuk samar-samar. Di luar, sesekali terdengar suara motor yang lewat.

"Teman-temannya gimana?" tanya ayah lagi.

"Lumayan. Ada yang seru, ada yang masih malu-malu."

"Wajar." Ayah mengangguk. "Hari pertama emang begitu. Nanti lama-lama cair sendiri."

"Iya, Pah."

Dan dari sana percakapan mengalir ke ibu lagi karena lebih mudah, dan lebih alami. Ibu yang bertanya lebih banyak, aku yang menjawab lebih banyak, ayah yang sesekali menimpali dari sisi mejanya. Seperti biasa. Seperti yang sudah berjalan bertahun-tahun dan sudah menemukan ritmenya sendiri meski tidak pernah ada yang merancang ritme itu.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Aku sudah lama belajar untuk tidak mempermasalahkannya.

"Oh iya, Mah, Pah ..." Aku mengeluarkan bungkusan kertas minyak dari plastik yang kubawa dari tadi. "Ini dari Tante Rina. Tempe goreng. Katanya salam buat Mamah."

Ibu langsung menerimanya dengan tangan terbuka. "Aduh, Rina. Baik banget." Ia membuka bungkusannya sedikit, mengintip isinya, lalu tersenyum kecil. "Gosong dikit, ini pasti Milo yang goreng."

"Tante Rina yang goreng, tapi emang gosong dikit."

"Sama aja." Ibu tertawa pelan. "Rina kalau goreng pasti keasikan ngobrol sama orang sampai lupa kompor."

"Ih, Mama," kata papah dari seberang meja, tapi nada suaranya jelas menahan tawa. "Orang lagi baik-baik kirim tempe."

"Mamah nggak ngomongin jelek, Pa. Mamah ngomongin karakter."

"Sama aja itu mah artinya."

"Beda!"

Ayah menggeleng pelan tapi senyumnya tidak hilang. Ibu masih memegang bungkusan tempe sambil pura-pura tidak memperhatikan ekspresi ayah yang jelas sedang menahan sesuatu.

Aku memperhatikan mereka berdua dari ujung meja.

Ada sesuatu yang aku tidak bisa jelaskan tapi selalu aku rasakan ketika melihat mereka seperti ini. Bukan sesuatu yang besar. Bukan momen yang akan ada di film dengan musik latar yang menyentuh. Hanya dua orang yang sudah terlalu lama bersama untuk berpura-pura di depan satu sama lain, yang berdebat soal hal kecil bukan karena marah tapi karena memang begitu cara mereka berbicara.

Dua orang yang sudah saling hafal sampai ke cara tertawa masing-masing.

Mungkin itu yang namanya cocok, pikirku. Bukan yang tidak pernah berbeda pendapat. Tapi yang bahkan berbeda pendapat pun terasa ringan.

"Pa, masih mau nasi?" tanya ibu sembari tangannya sudah memegang centong.

"Setengah aja."

"Setengah centong atau setengah piring?"

"Setengah centong."

Ibu menyendokkan nasi. Ayah menerimanya tanpa berterima kasih dengan kata-kata hanya mengangguk sedikit, dan mamah sudah tahu itu artinya makasih. Sudah hafal. Tidak perlu diterjemahkan.

"Mah, tadi Rina bilang kapan kita ketemu?" tanya ayah tiba-tiba.

Ibu menoleh ke aku. "Rina bilang apa ke kakak?"

"Katanya mau ketemu Mamah. Minggu depan kayaknya."

"Nah." Ibu menunjuk ayah dengan sendoknya. "Makanya Mamah tadi bilang kita harus sering-sering main ke sana."

"Mamah yang nggak pernah ngajak."

"Papah juga nggak pernah."

"Mamah yang—"

"Papah—"

Keduanya berhenti. Lalu tertawa bersamaan, bukan tawa keras, tapi tawa kecil yang lepas, jenis tawa yang muncul ketika dua orang menyadari bahwa mereka baru saja melakukan hal yang persis sama untuk kesekian kalinya dan masih saja merasa lucu.

Aku menunduk ke meja, menyembunyikan senyum.

"Kak, kamu senyum apa?" Ibu langsung menangkap.

"Nggak."

"Pasti senyum."

"Nggak, Mah."

Ayah melirikku dari seberang. "Ketahuan, Kak."

"Paph juga senyum tadi."

"Papah nggak senyum."

"Senyum, Pah."

Papah pura-pura batuk. Ibu tertawa lagi.

Dan meja makan kecil yang hanya dihuni tiga orang itu, untuk beberapa menit, terasa lebih penuh dari biasanya.

"Kakak nggak mau makan lagi?" tanya ibu ketika aku mulai berdiri.

"Udah kenyang, Mah. Tadi di sana udah banyak."

"Ya udah." Ibu mengangguk. "Mandi dulu sana, baru tidur. Jangan langsung tidur."

"Iya, Mah."

"Dan taruh baju kotornya di ember, jangan di lantai."

"Iya."

"Dan—"

"Mah."

"Apa?"

"Kakak udah gede."

Ibu mengangkat alis. "Terus?"

Aku tidak melanjutkan. Tidak ada gunanya. Ibu akan tetap bilang hal yang sama besok malam, dan malam setelahnya, dan malam setelah itu. Dan mungkin memang begitu caranya bilang bahwa ia masih ada, bahwa ia masih memperhatikan, bahwa tidak peduli semester berapa, anak sulungnya tetap anaknya.

"Selamat malam, Mah. Pah."

"Selamat malam, Kak." Suara ibu.

"Malem." Disusul suara ayah, singkat seperti biasa. Tapi nadanya hangat.

Aku berjalan ke kamar.

Kamar.

Gelap. Kuhidupkan lampu meja saja yang kecil, di sudut, yang cahayanya cukup hangat untuk tidak membuat mata langsung kaget. Aku meletakkan ponsel di atas kasur, melepas sepatu, kaos kaki, menaruhnya di tempat yang benar karena mamah tadi sudah mengingatkan lebih dulu.

Ke kamar mandi. Cuci muka.

Air dingin menyentuh wajahku satu kali, dua kali, tiga kali. Aku menatap cermin sebentar. Wajah yang sama seperti pagi tadi, tapi entah kenapa terasa seperti sudah melewati hari yang lebih panjang dari yang seharusnya. Bukan dalam arti buruk. Hanya panjang.

Outbound. Milo. Tante Rina. Mamah dan papah yang berdebat soal siapa yang tidak pernah mengajak main duluan.

Dan satu nama yang sudah disebut dua kali hari ini sesekali oleh Milo, sekali olehku sendiri.

Aku mengeringkan wajah dengan handuk, keluar dari kamar mandi, duduk di tepi kasur.

Ponsel masih tergeletak di tempatnya. Tidak ada notifikasi yang mencolok, hanya grup angkatan yang masih ramai seperti biasa, dan beberapa aplikasi yang tidak penting.

Aku meletakkan ponsel kembali. Berbaring. Menatap langit-langit.

Cicak yang kemarin ada di dekat lampu sudah tidak ada. Atau mungkin pindah tempat. Atau mungkin itu cicak yang berbeda.

Besok masih ada ospek, pikirku. Cukup balas senyumnya.

Dari luar kamar, samar-samar masih terdengar suara ibu dan ayah, percakapan yang sudah turun volumenya, lebih pelan, lebih lambat. Malam yang pelan-pelan menutup diri.

Aku memejamkan mata.

Di tempat yang berbeda, malam yang sama.

Kamar Melva lebih terang dari kamar Awan, lampu utama masih menyala, bukan hanya lampu meja. Ada gantungan kunci berbentuk beruang kecil di handel pintu yang bergoyang pelan setiap kali angin dari jendela yang setengah terbuka lewat. Di meja belajarnya, ada buku yang terbuka tapi tidak dibaca.

Melva duduk di tepi kasur.

Piyama motif kotak-kotak kecil warna sage. Hijab instan yang dipakai agak miring karena baru saja dibenerin setelah hampir lepas saat tiduran tadi. Di tangannya, ponsel yang layarnya masih menyala.

Ia menggulir percakapan di grup angkatan sebentar. Tidak ada yang benar-benar ia baca. Matanya bergerak tapi pikirannya tidak mengikuti.

Ia keluar dari grup.

Membuka chat yang berbeda. Nama yang baru ada di kontaknya sejak kemarin malam.

Layar kosong. Tidak ada percakapan hari ini hanya chat semalam yang sudah selesai dengan tanda centang biru yang rapi.

Melva menatap layar itu beberapa detik.

Jarinya bergerak.

"Wan.."

Ia mengirimnya sebelum sempat berpikir dua kali.

Lalu meletakkan ponsel di samping bantal, menghadap atas, menatap langit-langit kamarnya yang ada stiker bintang kecil yang sudah mulai mengelupas di satu sudutnya.

Di luar, malam sudah sepenuhnya diam.

Dan di kamar sebelah, bukan sebelah secara harfiah, tapi di suatu tempat di kota yang sama, di malam yang sama, ponsel Awan menyala sekali.

Satu notifikasi.

Dari nama yang baru saja ia pikirkan sebelum memejamkan mata.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Binar   Ch 8 | Kemeja Dan Kolor

    Alarm berbunyi pukul enam pagi.Aku tidak langsung mematikannya. Membiarkannya berbunyi beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena mengantuk, tapi karena ada sesuatu yang ingin ditunda dari momen sebelum alarm dimatikan. Momen ketika hari belum benar-benar dimulai. Ketika semuanya masih mungkin dan belum ada yang bisa salah.Lalu kutap layarnya. Diam.Aku duduk di tepi kasur.Hari ini hari pertama kuliah.Kalimat itu sudah ada di kepala sejak semalam, sejak aku meletakkan ponsel dan memejamkan mata, sejak tidur yang tidak terlalu nyenyak karena pikiran terus berputar di frekuensi yang tidak bisa dimatikan. Bukan cemas atau mungkin iya, sedikit, tapi bukan jenis cemas yang melumpuhkan. Lebih ke jenis perasaan yang muncul sebelum sesuatu yang besar dan baru dimulai, yang membuat tidur terasa lebih dangkal dari biasanya dan membuat pagi datang lebih cepat dari yang seharusnya.Aku berdiri. Membuka lemari.Zoom pagi, tatap muka sore. Itu jadwal hari ini dua mode yang ber

  • Binar   Ch 7 | Yang Tidak Awan Ketahui

    Di pagi yang sama, di tempat yang berbeda. Kamar Melva lebih rapi dari yang bisa diduga dari seseorang yang baru saja bangun. Kasurnya sudah dirapikan, bukan rapi sempurna, tapi cukup rapi untuk menunjukkan bahwa ini bukan kebetulan, bahwa ada seseorang yang memang terbiasa merapikan tempat tidurnya sebelum melakukan hal lain. Buku-buku di rak tersusun tidak sepenuhnya lurus tapi tidak berantakan. Meja belajarnya bersih kecuali satu gelas yang setengah isinya sudah tinggal sisa air dari semalam. Melva berbaring di atas kasur dengan laptop terbuka di depannya. Bukan untuk belajar. Bukan untuk mengerjakan sesuatu yang produktif. Pagi Minggu tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang produktif, itu prinsip yang tidak pernah ia ucapkan dengan keras tapi selalu ia praktikkan. Jadi laptop terbuka, platform streaming sudah menyala, film yang sudah lama masuk daftar tonton akhirnya mulai diputar. Opening credit masih berjalan. Musik latar yang pelan. Nama-nama yang ia tidak kenal. D

  • Binar   Ch 6 | Tiga Laki-Laki dan Satu Penerjemah

    Tidak ada alarm pagi ini. Hari Minggu. Hari di mana dunia tampaknya menyepakati secara kolektif bahwa tidak ada yang perlu terburu-buru. Aku membiarkan mataku terbuka dengan kecepatan mereka sendiri pelan, malas, menyesuaikan diri dengan cahaya yang sudah masuk dari celah gorden yang tidak pernah benar-benar rapat. Aku berbaring diam sebentar, membiarkan kesadaran kembali pelan-pelan, seperti air yang mengisi bejana dari bawah. Langit-langit kamar. Kipas yang masih berputar. Suara sendok dari arah dapur. Ibu sudah bangun. Tentu saja sudah bangun. Ibu tidak pernah benar-benar tidur sampai siang bahkan di hari libur, ada saja yang dikerjakan, ada saja yang dibenahi, ada saja suara yang keluar dari dapur sebagai bukti bahwa hari ini sedang dimulai oleh setidaknya satu orang di rumah ini. Aku meraih ponsel di sisi kasur. Beberapa notifikasi dari semalam yang belum kubuka. Grup angkatan. Satu pesan dari Milo yang dikirim tengah malam isinya hanya meme yang tidak ada konteksnya, c

  • Binar   Ch 5 | Tadi Kenapa Diem Aja?

    Satu notifikasi.Aku yang baru saja memejamkan mata membukanya kembali.Layar ponsel menyala di sisi kasur, cahayanya terlalu terang untuk ruangan yang sudah gelap ini. Aku meraihnya setengah sadar, setengah berharap itu hanya notifikasi grup angkatan yang tidak penting.Tapi bukan."Wan.."Dua kata. Bahkan bukan dua kata, satu kata dan dua titik yang menggantung, seperti kalimat yang belum selesai, seperti seseorang yang membuka mulut lalu ragu untuk melanjutkan.Aku duduk.Mataku yang tadi sudah hampir menyerah pada kantuk tiba-tiba tidak lagi mengantuk. Aku membaca pesannya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Bukan karena tidak mengerti isinya hanya dua karakter, tidak ada yang perlu diurai tapi karena ada sesuatu yang aneh dari cara dua titik kecil itu bisa membuat dadaku tidak bisa tenang.Apa maksudnya?Bisa apa saja. Bisa sapaan biasa. Bisa ia mau bertanya sesuatu. Bisa ia lagi iseng. Bisa ia tidak sengaja mengirim. Bisa...Sudah. Jangan dipikirkan terlalu dalam.Aku mengetik."Gima

  • Binar   Ch 4 | Malam yang Tidak Perlu Banyak Kata

    Rumah kami beda komplek, tapi beda komplek yang dekat.Lima menit jalan motor, belok kiri di perempatan, lurus sampai pohon beringin besar yang sudah ada sebelum aku lahir, lalu belok kanan. Pagar besi hitam. Lampu teras yang selalu menyala meski tidak ada yang minta dinyalakan.Rumah.Motor kuparkir di samping mobil, ayah pasti sudah pulang. Dari dalam, samar-samar terdengar suara televisi dan tawa - tawa yang ringan, bukan tawa karena ada yang lucu di televisi, tapi jenis tawa yang tumbuh dari percakapan yang sudah berlangsung lama dan nyaman.Aku berdiri sebentar di depan pintu.Mereka lagi makan.Aku bisa tebak dari baunya, nasi hangat dan sesuatu yang digoreng. Dan dari suaranya, aku tahu mereka berdua. Bukan karena bisa mendengar kata-katanya dengan jelas, tapi karena ada frekuensi tertentu dari dua orang yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun, cara mereka bicara tanpa perlu keras, cara tawa mereka saling menyahut."Assalamualaikum.""Waalaikumsalam..." Suara ibu langsung

  • Binar   Ch3 | Rumah Kedua

    Motor belok kanan di persimpangan yang sudah hafal sendiri.Aku tidak langsung pulang.Sebenarnya tidak ada rencana ke sini. Tapi tangan ini seperti punya memori sendiri ketika pikiran sedang penuh dan badan sudah lelah, jari-jari yang menggenggam setang otomatis memilih jalan ini. Jalan yang lebih sempit, lebih teduh, dengan pohon mangga tua di ujungnya yang sudah tidak pernah berbuah tapi tidak pernah ditebang juga.Rumah Milo.Aku memarkir motor di depan pagar yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat sudah mengelupas sejak dulu, dan tidak ada yang pernah repot-repot mengecat ulang. Ada sandal jepit biru tua di depan pintu. Berarti Milo ada.Aku tidak mengetuk. Tidak perlu."Wan?"Suaranya terdengar dari dalam, dari arah dapur, diiringi bunyi sendok yang beradu dengan gelas."Iya."Beberapa detik kemudian Milo muncul di ambang pintu, kaus oblong abu-abu yang sudah kebesaran, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur padahal sudah hampir sore. Di tangannya ada dua cangkir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status