MasukRumor yang mengatakan Edgar bermasalah tentang orientasi seksualnya, membuat Nesa berada diposisi yang tidak mungkin Edgar lepaskan begitu saja untuk pergi dari kehidupannya. Kejadian satu malam yang membuat Nesa merasakan rasa sesal yang luar biasa. Edgar membuatnya terjebak, Edgar tidak akan melepaskan Nesa begitu saja—lelaki itu mengikat Nesa untuk tetap berada di kehidupannya selama sisa hidupnya. Ini sulit, terlebih Nesa memiliki tujuan hidup sederhana dengan lelaki yang menjadi pilihannya. Edgar akan diam saja? Tentu saja tidak, Nesa sudah menjadi miliknya sejak malan itu.
Lihat lebih banyakPesona seorang Radega Edgar Naratama memang tidak bisa ditolak oleh siapapun—termasuk oleh Vanesa. Walaupun lelaki itu sangat menyebalkan, tetapi berhasil membuat getaran aneh muncul di hatinya. Dulu, membayangkan mempunyai hubungan lebih dari hanya seorang bawahan dan atasan di kantor saja Vanesa tidak berani. Rasa-rasanya Edgar tidak akan tergapai olehnya, lelaki itu terlalu luar biasa. Memutuskan resign untuk menghindari lelaki itu, tetapi berujung pada sebuah pernikahan. Pernikahan yang diawal begitu banyak konflik dan kesalahpahaman, pernikahan yang hampir saja berada pada garis perceraian—tetapi siapa sangka Vanesa akan berada di titik ini, bahkan mempunyai buah hati bersama lelaki itu. Terlalu bulshit jika mengatakan pernikahan mereka baik-baik saja tanpa adanya pertengkaran bahkan setelah hari di mana mereka sama-sama terbuka tentang perasaan keduanya. Beberapa kali ada perdebatan dan pertengkaran—tetapi memang itu adalah bumbu pernikahan bukan? Walaupun sebenarnya Van
"Tidurkan di kasur sayang, tangan kamu tidak pegal memang, hm?" Nesa mendelik menatap suaminya. "Maaf...." kata Edgar sembari mengusap bekas air mata di pipi putranya yang sedang terlelap dipangkuan Nesa. "Minta maaf sama Gavin dulu! Bisa-bisanya ya sama anak aja cemburuan, ngga mau ngalah!" dumel Nesa tetap menatap suaminya dengan delikan tajam. Edgar sedikit menekuk bibirnya. "Saya bisa memberi semua yang Gavin inginkan, tapi... kamu kan punya saya. Lagian Gavin sudah punya kamar sendiri, masa mau tidur terus sama kita?" Nesa menggeleng-gelengkan kepalanya. Edgar benar-benar seperti anak kecil saja, kepada anaknyapun tidak mau mengalah. Jadi, Gavin—putra mereka yang sudah berusia empat tahun memang sudah dibuatkan kamarnya sendiri, tetapi tetap saja yang namanya anak-anak sering masih ingin tidur dengan orang tuanya—seperti malam ini, Gavin sudah tidur ditengah-tengah mereka, tetapi dengan sengaja Edgar memindahkan Gavin yang sudah terlelap ke kamarnya, alhasil bocah itu menan
"Gue ngga perlu jelasin serinci mungkin, Nes. Suami lo jelas pasti tahu semuanya." Nesa menatap Edgar dengan kening mengernyit, seolah bertanya tentang kebenaran dari ucapan Bian. "Udah sih, gue ngga papa, ngga usah natap gue kasihan gitu!" katanya. Walaupun begitu tetap saja, ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Nesa. Ini jelas berita besar—dan yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana perasaan Bian selama ini? Pasti lelaki itu sudah melalui banyak hari yang berat. "Sudah berapa bulan?" tanya Bian mempersilahkan Nesa untuk duduk. "Jalan enam bulan," jawab Nesa semangat, mencoba bersikap seperti biasanya. "Apa suami lo memperlakukan lo dengan baik?" Nesa mengangguk tanpa ragu. "Mas Edgar mencintai aku... sangat!" "Bagus! Kalau dia ngga memperlakukan lo dengan baik, mending sama gue aja." Nesa terkekeh pelan, menggeleng lalu memeluk perut Edgar yang sedari tadi masih berdiri di dekatnya. "Nanti Mas Edgar sendirian, kasian." Bian menatap Edgar dengan tatapan yang
"Mas...." Edgar terlihat menghela napas, melepaskan perlahan tangan Nesa yang melingkar di lengannya. "Mas masih marah ya?" tanya Nesa memanyunkan bibirnya, kembali mencoba melingkarkan tangannya di lengan Edgar, walaupun suaminya itu kembali melepaskannya. "Iya maaf, ngga jadi Mas. Tadi aku cuman bercanda kok," lanjutnya. "Saya berangkat," katanya terkesan jutek walaupun sebelumnya mencium kening Nesa sebagai rutinitas wajib pagi mereka sebelum Edgar berangkat kerja. "Ah Mas Edgar...." Nesa kembali merengek, menghalang langkah suaminya. "Aku minta maaf, jangan marah." "Saya ada meeting Vanesa." "Tuh kan! Panggilan sayangnya mana?" Edgar kembali menghela napas pelan, menampilkan senyum yang sebenarnya tidak sampi hati itu. "Saya berangkat kerja ya, ada meeting pagi ini sayang," kata Edgar mengulang pernyataannya. Melingkarkan tangannya memeluk pinggang Edgar, Nesa mencium pipi kanan suaminya dengan lembut. "Aku beneran cuman bercanda tadi, jangan ngambek lagi yaa... dan semoga
"Hah....."Baik Nesa maupun Edgar sama-sama terengah. Nesa yang berada di atas tubuh Edgar sampai tumbang, jatuh memeluk tubuh suaminya erat, menenggelamkan wajahnya tepat di dada Edgar."Saya masih belum selesai," kata Edgar menampilkan smirknya, mengusap bagian atas rambut Nesa.Masih dalam posisi ya
Riuh tepuk tangan terdengar ketika lelaki yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh pengunjung caffe selesai menyanyikan lau terakhirnya. Manik mata Edgar benar-benar tidak pernah lepas menatap ke arahnya, si lelaki yang ditatap juga jelas menatap ke arah Edgar—dari banyaknya pelanggan caffe, soso
Kenapa bisa memakai mobil milik Nesa? Untuk pertanyaan ini, karena mobil yang ada di rumah itu hanya milik Nesa yang ada. Edgar membawa mobil sebelumnya, tetapi digunakan oleh kedua orang tuanya untuk kembali ke rumah, karena baik Rudi maupun Mia sendiri tidak membawa mobil ke rumah itu. Sebelum be
“Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Bian.” “....” Tidak ada tanggapan dari lelaki di sampingnya, membuat Nesa menghela napas panjang. Wajahnya yang memang sudah terlihat dingin dan ketus bawaan lahir, terlihat semakin tidak terlihat bersahabat saja. “Aku sudah tidak ada hubungan apapun denga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.