로그인Lelah dengan semua pengkhianatanmu, capek dengan semua permainan yang kau sembunyikan, akhirnya aku menyerah, kupilih menjodohkanmu dengan wanita yang kau pilih hingga kau sadar perbandingan antara dia dan aku. Bagaimana pun yang pertama tetap yang utama.
더 보기Summer’s POV
He has me bent over the bed while he shoves his cock into me over and over again. He reached around, grabbing one of my breasts, but that changed the tempo of his rhythm. “No,” I yelled at him, “just fuck me.” He let go of my breast and his rhythm returned. Deeper and faster than it was before. I could feel my orgasm building as he thrusted in and out of me. I feel my orgasm building and I moan as my orgasm builds by the second. My sole concern is my release. I want my needs to be met. I don’t care about his needs. All the moaning I’m doing has made my throat dry.
Zane grabs my butt roughly, making similar sounds while he fills me with his seed and shouting out, thanking the goddess for his release. I wait for him to slip out of me before I collapse on the bed, panting.
He joins me on the bed, breathless, giving me a post-sex kiss. I guess we both have some built-up sexual frustrations. We both laugh as our breathing stabilizes. “Was that as good for you me as it was for me?” He asks me.
I can’t lie, never would. I rolled on top of him, leaning forward. “It was pretty darn good, but it would have been better if your brother had been here as well.” Zane is a twin and the pair of them together give me orgasms to no end. But Blake won’t be home for a week, and I need to be back at school in a few days. “However, if we had sex twice as much, my opinion might change.”He gives a dirty smile before slipping his cock into me again. Giving me orgasm after orgasm throughout the night. I don't think I'll be able to walk in the morning, let alone fight. But it is so worth it.
My name is Summer Blackwood. I am the 22-year-old youngest daughter of the Gamma of the Forest Green Pack. When I was growing up, my dad trained me and my siblings hard. He didn’t want any of his kids to appear weak, especially the girls. Fighting came easily for me; I had fighting skills others could only dream of. But my heart led me to medicine. I wanted to heal people. Both dad and Alpha Stan agreed to fund my medical training in the human world. If I agreed to have strong surgical and obstetric elements. Then I was to work in the pack hospital after I graduated.
Alpha Stan explained to me that our wolves usually healed our bodies, so we didn’t need many pack doctors. But it was during pregnancy or for those that were wolf less, a doctor was an asset to the pack. It would be beneficial for him as I would also be the only female doctor in the country and how the pack would benefit from my skills.
He carried on by telling me that the only male doctor in the pack was sick of being attacked by dominant males. While their mates were pregnant or in labor and had threatened to quit recently because of being physically assaulted. Again. Of course, the answer was yes. It was everything I ever dreamed of.
It was a challenging course, mainly because of the additional courses. But it was the practical element I enjoyed the most. I spent most of my time in the operating theaters and supporting women throughout their pregnancy and labor. I figured every experience would make me a better doctor. I was totally devoted to my pack and believed those experiences would do us all good.
I didn’t socialize whilst I was at medical school. There was no point. There would be no personal gain for me, as I had no intention of staying in touch with anyone afterwards. Other than the she-wolf I met in my final year.
I had goals and aspirations. They expected me to do well. During school breaks, I had to return home and train with the other warriors. It was challenging to do everything, but I was young, I was a wolf, and I was the daughter of Gamma Davis. I also had the backing of my Alpha. I wouldn’t let any of them down.
The school terms were hard mentally, my brain was overworked nearly all the time. But physically, me and my wolf Alexis were so restless and frustrated. We did not feel challenged enough. We would do anything to run and fight as much as possible while we were home. In fact, I was more physically exhausted returning to school than when we left. The other thing I did plenty of while I was home was enjoy lots of sex.
Long ago, the previous Alpha declared that pent-up sexual frustrations caused distractions for wolves. This is especially true during warrior training, where they wear revealing clothing, sweat profusely, and get up close and personal. Apparently, you could cut the sexual tension with a knife.
He declared that if a wolf had not met its mate by the age of 21, they could have sexual relations with others, or could take a chosen mate. A pregnancy is highly unlikely without the mate bond, so no one is worried about that. The mate bond was considered a blessing from the goddess, and thus, once formed, it was expected to be cherished. I fully agree with this decision.
When I used to come home, I would feel very frustrated. I would have multiple partners, which disgusted my family. They couldn't understand that my high libido was the cause of my dissatisfaction. Then I started having sex with the Alpha’s twin sons and they met my needs several times over. We weren’t mates, but they loved the fact I took pleasure from both of them, and I took pleasure from being thoroughly screwed.
Sebulan kemudian setelah pertemuan mengharu biru itu. Mas Alvin tiba tiba menghubungiku. Secara mengejutkan aku yang sedang sibuk di toko melayani pembeli tiba-tiba mendapatkan panggilan dari nomor ponselnya.Agak heran juga mengingat sudah lama dia tidak menghubungiku. Terakhir kali kami bertemu, di saat aku dan dia mengunjungi Mona dan Elena di lapak jagung. Setelah pertemuan yang penuh dengan perasaan sedih itu, Mas Alvin kemudian mengantarkan mantan istri dan anaknya pulang ke rumah, melihat kondisi kos-kosan yang dihuni oleh Mona rasanya miris memang, Mas Alvin nampak sedih, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memberi uang kepada ibu dari putrinya itu, kemudian kami kembali ke ibukota."Halo, selamat pagi.""Pagi, gimana kabarnya?""Baik," jawabku."Gimana anak anak dan keluargamu?""Kami baik," jawabku lagi."Apa kau sibuk hari ini?""Ya, seperti biasa.""Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi elena."Untuk apa dia selalu mengajakku, Apakah canggung rasanya j
"Kupikir kau senang aku bercerai dengan Mona," ucapnya yang sukses menahan langkahku saat hampir saja menarik gagang pintu."Musibah dan ketidaknyamanan yang terjadi di antara kalian memang cukup menghibur untuk dilihat, tapi melibatkan bocah kecil dan membuat dia berada dalam situasi yang malang bukanlah hal yang bagus. Tolonglah sebagai ayahnya bertanggung jawablah, kasihan anak itu. Dia sudah sakit dan menderita dengan berbagai kekurangan yang dia miliki, mempertahankan rumah tanggamu dan tidak boleh menyerah sedikitpun atas anakmu.""Sudah ya, mendengarmu mengatakan ini saja sudah membuatku sangat tersinggung dan sakit hati, sudah cukup menceramahiku.""Kalau tidak demi Elena tentulah Aku tidak mau susah payah datang ke sini," jawabku sambil menjauh."Tunggu, baik ... baik, aku akan ikut denganmu," ucapnya sambil membereskan beberapa tumpukan kertas yang tadinya berserakan di atas meja kerjanya."Ada apa?" tanyaku heran. Sepertinya dia mulai terpengaruh dengan tingkahku yang ing
Sewaktu mobil meluncur Pergi aku kembali memikirkan bagaimana keadaan balita yang tadi masih dalam pelukan ibunya itu. Bagaimanapun dia tidak bersalah sehingga harus menanggung keadaan sepahit itu. Aku heran kenapa Mas ALvin tidak berusaha menahan anaknya tetap berada di sisinya dibandingkan mempercayakan bocah itu kepada Mona.Dia tahu sendiri bahwa keadaan mental dan emosional Mona tidak stabil juga dia tidak punya penghasilan tetap, Jadi bagaimana mungkin Mona bisa menjamin kehidupan Elena dengan benar."Kenapa diam sayang," tanya Mas Eko sambil mengendarai mobil dia menggenggam tanganku yang saat itu sedang menerawang memikirkan bocah tadi."Aku hanya memikirkan nasib bocah tadi dia ter batuk-batuk dalam keadaan kedinginan Mas Mana warung itu hanya ditutupi dengan terpal jadi sebagian air hujan tempias ke arah tempat tidurnya dan itu pasti membuatnya lembab," gumamku."Kau bahkan memperhatikan detail sekecil itu?""Iya.""Aku tidak bisa memaksamu untuk tidak memperhatikan orang la
Ada pemandangan yang mengejutkan ketika aku dan Mas Eko juga anak-anak kami tengah berlibur keluar daerah.Kami tiba di sebuah kota wisata yang cukup sejuk dengan perbukitan dan kebun teh yang membentang. Kuminta suami untuk menghentikan mobilnya di lapas seorang penjual jagung bakar. Terbit seleraku ingin mencicipi setelah dua jam perjalanan di tengah hujan dan cuaca dingin.Kubuka jendela mobil dan meminta pada si penjual agar memberiku jagung bakar dua puluh ribu."Baik, Bu, sebentar ya," jawab wanita itu sambil mendudukkan anak yang tadinya dia pangku seraya mengipasi jagung bakar."Turun aja Bund, pilih yang besar besar," ujar Mas Eko."Iya deh, aku turun," balasku yang segera merapatkan jaket dan turun dari mobil. "Ini jagungnya masih segar ya Bu, baru dipetik ya?" tanyaku pada wanita yang terus sibuk mengipasi dan membolak balikkan jagung di atas bara api."Iya Bu."Secara kebetulan aku dan dia saling berpandangan, aku terkejut, dia juga, entah kenapa begitu. Aku sekarang fam
Beberapa saat aku terdiam sembari memperhatikan Mas ALvin yang perlahan-lahan menjauhi tempat pesta ini."Kenapa kau terdiam?" tanya Mas Eko saat memperhatikan perhatianku teralihkan."Aku kembali mengingat beberapa kejadian dalam hidupku, rentetan kesakitan dan kesulitan, tapi malam ini semuanya terb
Mendengarnya, emosiku membuncah, bukan main sakit hati dan geramnya diri ini mendengar Mona ingin mengambil alih hak anak anak. Masih tidak sampai di akalku bagaimana dengan beraninya dan tanpa rasa sungkan sedikit pun bertanya tentang hal itu.Kupandangi wajahnya, wanita itu tersenyum tipis sambil m
Tak bisa kubayangkan betapa tersinggungnya dia mendengar ucapanku. Aku yakin dia menyimpan dendam yang amat sangat dan rasa kecewa yang tidak bisa digambarkan.Apa boleh buat aku harus mengatakan itu agar dia tidak lagi datang dan menggangguku. Kalau pria sudah sakit hati mereka biasanya tak akan sed
Setelah Elina sedikit tenang dan tertidur kuletakkan dia di box bayi yang kebetulan diletakkan di ruang keluarga, mungkin tujuannya agar Mona bisa bersantai sambil nonton TV sekaligus bisa menjaga bayinya. Kulit akar bayi itu laluku selimuti sementara Mona masih di posisinya duduk dengan tatapan kos
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰