MasukAnne Putri Atmaja, putri tunggal seorang konglomerat yang tertimpa nasib buruk sejak meninggalnya kedua orang tuanya. Keduanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil saat perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Kecelakaan itu pula telah membuat Anne harus kehilangan pendengarannya, yang membuat dirinya harus memakai alat bantu dengar. Tapi di sisi lain, Anne merasa beruntung ketika menyadari bahwa sang mama yang telah meninggal, jauh hari sebelumnya telah menyiapkan jodoh dan keluarga baik untuk masa depannya kelak. Rintangan apa saja yang harus Anne dan Hanzel lalui untuk bisa bersatu? Silahkan simak di dalam novel ini
Lihat lebih banyakLi Xian telah tiada. Ini adalah kabar yang sungguh menggembirakan!
Pengepungan besar di Grave Hills baru saja berakhir, tetapi sebelum hari kedua tiba, berita tersebut telah menyebar dengan cepat di seluruh dunia kultivasi, melampaui laju pertempuran.
Baik keluarga besar maupun kultivator individu di pegunungan itu sedang membicarakan pengepungan ini, yang dipimpin oleh empat keluarga besar dan diikuti oleh ratusan keluarga lainnya.
"Luar biasa, ini benar-benar berita yang menggembirakan! Siapakah yang berhasil mengakhiri hidup Li Xian ini?" tanya seseorang.
"Siapa lagi kalau bukan adik muridnya, Wang Cheng. Keempat keluarga besar, Hangzhou Zhang, Suzhou Li, Beijing Liu, dan Nanjing Wang, telah berjuang di garis depan, mengorbankan hubungan keluarga mereka demi mengakhiri 'Grave Hills', markas Li Xian."
"Aku harus mengakui, dia telah tiada."
Dengan suara lantang, seseorang bersorak, "Benar, dia sudah tiada!" Li Xian hanya akan menjadi warga biasa yang mengembara di pasar desa sepanjang hidupnya jika bukan karena Suzhou Li yang mengadopsi dan membesarkannya.
Pemimpin keluarga Suzhou Li sebelumnya telah memperlakukan Li Xian seperti anak kandung, tetapi Li Xian justru berkhianat, menjadi musuh bagi semua keluarga, memalukan Suzhou Li, dan hampir saja membuat seluruh anggota keluarga tersebut mati secara tragis. Inilah definisi pengkhianatan! Lihatlah!
"Wang Cheng telah membiarkan orang itu bertindak sewenang-wenang begitu lama. Kalau aku berada di posisinya, saat Li Xian berkhianat, aku tidak hanya akan menusuknya sekali, tapi akan langsung membersihkan rumahnya. Kalau tidak, dia takkan punya kesempatan untuk melakukan kegilaan seperti sekarang. Bagi orang semacam itu, tidak ada gunanya membicarakan tentang persahabatan sesama murid atau teman masa kecil."
"Tapi apa yang kudengar tidak seperti itu? Bukankah Li Xian mati karena praktek sihirnya sendiri yang berbalik melawannya, lalu dia diterkam dan dimakan oleh hantu yang dia kendalikan? Aku dengar dia benar-benar digigit sampai hancur."
"Hahaha... itu yang disebut karma instan. Aku sudah ingin mengatakannya dari dulu, hantu-hantu yang dia kendalikan itu seperti sekumpulan anjing gila yang tak terkendali, menggigit siapa saja di mana saja, dan akhirnya menggigit dirinya sendiri. Dia mendapat apa yang pantas dia terima!"
"Meskipun begitu, kalau bukan karena Wang Cheng yang merencanakan pengepungan Grave Hills berdasarkan kelemahan Li Xian, masih sulit untuk mengatakan apakah itu akan berhasil atau tidak. Kamu jangan lupa akan apa yang ada di tangan Li Xian, bagaimana ribuan kultivator terkenal mati dalam semalam."
"Bukankah itu lima ribu?"
"Tiga ribu, lima ribu, semuanya sama saja. Kupikir lima ribu lebih mungkin."
"Sungguh keji..."
Sebelum dia meninggal, dia menghancurkan 'Simbol Harimau Yin'. Setidaknya dia telah mengumpulkan sedikit kebajikan. Kalau tidak, meninggalkan benda itu untuk terus merusak dunia, akan lebih berdosa.
Ketika kata 'Simbol Harimau Yin' diucapkan, tiba-tiba menjadi hening, seolah-olah semua orang sedang mempertimbangkan sesuatu.
Setelah sejenak, seseorang menghela nafas dan berkata:
"Ah... kalau bicara tentang Li Xian, dia juga adalah putra dari keluarga terkenal di antara para dewa, dan bukan tidak pernah memiliki prestasi. Dia terkenal di usia muda, begitu menonjol dan bebas... Bagaimana bisa sampai pada titik ini..."
Topik berubah, dan suara diskusi mulai muncul lagi.
"Dari sini kita bisa melihat, dalam berlatih, kita harus mengikuti jalan yang benar. Jalan setan, sementara tampaknya sangat sombong dan hebat? Heh, apa akhirnya?"
Dengan suara yang menggelegar: "Mati tanpa mayat utuh!"
"Bukan semuanya karena jalan berlatih. Pada akhirnya, itu karena Li Xian memiliki karakter yang buruk, dan dia dibenci oleh semua orang. Seperti yang dikatakan, baik dan buruk pasti akan dibalas, dan roda karma berputar..."
...
Setelah kematian, penilaian akhir dibuat. Isi pembicaraan hampir sama, ada suara lemah yang berbeda, tapi segera ditekan.
Namun, setiap orang masih memiliki sedikit kegelapan di hati mereka yang tak bisa dihapus.
Meskipun dikatakan bahwa Li Xian, leluhur Endless City, telah mati di Grave Hills, setelah semuanya selesai, dia tak bisa dipanggil.
Rohnya, mungkin telah dimakan oleh ribuan hantu pada saat itu, atau mungkin telah melarikan diri.
Kalau itu yang pertama, tentu saja semua orang sangat senang. Tapi, leluhur Endless City memiliki kemampuan untuk mengubah dunia dan memindahkan gunung - setidaknya begitulah rumor yang beredar. Kalau dia menolak pemanggilan roh, itu bukanlah hal yang sulit.
Begitu dia kembali ke posisi aslinya suatu hari nanti, dan merebut kembali kehidupannya, saat itu, ratusan keluarga, bahkan seluruh dunia, pasti akan menghadapi balasan dan kutukan yang lebih mengerikan, jatuh ke dalam kegelapan dan badai darah.
Oleh karena itu, setelah menekan seratus dua puluh patung batu di atas Grave Hills, semua keluarga besar mulai sering melakukan upacara pemanggilan roh, sambil memeriksa secara ketat penjajahan, mengumpulkan fenomena aneh dari berbagai tempat, dan sepenuhnya waspada.
Tahun pertama, damai dan tenang.
Tahun kedua, damai dan tenang.
Tahun ketiga, damai dan tenang.
...
Tahun ketiga belas, masih damai dan tenang.
Sampai di sini, semakin banyak orang yang percaya, mungkin Li Xian tidak sehebat itu, mungkin dia benar-benar telah lenyap.
Meski pernah mengubah cuaca dengan mudah, pada akhirnya ada hari di mana dia menjadi yang terbalik.
Tidak ada orang yang akan selamanya ditempatkan di atas altar dewa, legenda hanyalah legenda.
Suasana tenang melingkupi area pemakaman Al Azhar memorial garden. Sepeninggal Dewangga pulang bersama polisi, Atmaja-pun pulang dianter Federick, sementara Anne ditemani Hanzel melanjutkan sekalian ziarah di makam orang tuanya. Apalagi besok adalah hari pernikahan mereka.Keduanya tampak khusyuk bersimpuh di depan dua makam di depan mereka. Di batu nisannya, bertuliskan Darren Atmaja, sementara yang satunya Sherly Putri Sudjatmiko. Ya, mereka adalah mama dan papa Anne."Ma, Pa, dia adalah pria yang mama pilihkan untuk Anne, namanya Hanzel," gumamnya di atas pusara orang tuanya.Dua netra bening telah dipenuhi dengan kaca-kaca yang hanya dengan sekali kedipan mata, akan luruh menjadi hujan."Om, Tante, terima kasih telah mempercayai saya untuk menjadi penjaga wanita ini, saya akan berusaha keras untuk menjaganya. Besok kami akan menikah, tenanglah di sana, semoga Allah menempatkan kalian di syurga-Nya," gumam Hanzel di depan pusara kedua orang tua Anne.
Dua orang pria tua duduk saling berhadapan dan saling membisu, tatapan mata keduanya bertemu akhirnya saling membuang wajah. Puluhan menit berlalu, tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibir keduanya."Kau ga ingin menghajarku?" tanya pria tua yang memakai baju Oren bertuliskan tahanan di punggungnya."Kau meledekku, hah? berdiri saja aku tidak mampu," jawab pria tua yang duduk di kursi roda."Tak kusangka Andini memilih pria lemah sepertimu," ejek pria berbaju oren.Keduanya tertawa miris. Ya, mereka adalah Atmaja dan Dewangga. Setelah sekian puluh tahun tak saling bertemu, tak saling menyapa, dan tak saling memberi kabar, akhirnya kini Tuhan mempertemukan mereka, di tempat yang tidak seharusnya.Ya, kini Dewangga ada di dalam penjara. Di tempat yang sama dengan Raka ditahan.Pagi ini Atmaja menjenguknya, menjenguk pria yang telah menghabisi anak semata wayangnya, Darren Atmaja."Apa tempatnya nyaman untukmu?" tanya At
Anne melangkah turun dari mobil dengan terburu-buru, sementara Hanzel mengawalnya di belakang. Mereka kini telah berada di kantor polisi, untuk menemui kakek Dewangga. Ada banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam benaknya tentang alasan Dewangga menembak Raka. Anne menangkap keanehan tentang sikap Dewangga padanya. Mestinya pria tua itu tidak perlu mengorbankan dirinya meringkuk di penjara untuk orang yang baru sehari dia kenal, bukankah ini sangat aneh?Akan tetapi gadis itu sangat bersyukur pria tua yang baru dia kenal kemarin, telah melakukan sesuatu untuk mereka di saat yang tepat. Anne tidak bisa membayangkan jika Dewangga datang terlambat satu menit saja, akan lain ceritanya. Pasti saat itu kepala Hanzel yang harus terluka terkena pukulan Raka. Bagaimanapun semua pertanyaan itu harus terjawab hari ini.Finn yang sudah lebih dulu di kantor polisi, menyambut mereka dengan wajah penuh tanya."Kenapa, Hanz?" tanya Finn."Kakek Dewangga," jawab Hanzel
"Bunuh aku sekarang, Ka, aku ikhlas jika harus mati sekarang," jawab Anne lemah.Raka tertawa melihat Anne meringkuk di sudut kamar sambil ketakutan. Kemudian pria itu berjalan mendekatinya dengan bertelanjang dada, sementara Anne tampak semakin panik dan ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Hiks ..."Hahaha ... kemari, Ann!" ujar Raka di sela tawanya."Jangan mendekat, Ka!" pekik Anne."Hey, jangan teriak-teriak, Ann," ujar Raka menahan tawa."Pergi, Ka, pergi!" jerit Anne, mulai terisak.Raka geli melihat ekspresi Anne yang ketakutan. Padahal dia sebenarnya hanya bermaksud mengerjainya saja, supaya Anne berkata bersedia menjadi istrinya, tidak di sangka Anne benar-benar ketakutan melihatnya melepaskan kaosnya. Gadis itu mengira Raka akan melakukan hal yang tidak senonoh kepadanya, hingga membuatnya ketakutan. Baginya ini lebih menakutkan daripada dibunuh."Ann, udah, aku cuma becanda, ya ampun," hibur Raka, tapi Anne terlan
Federick membaca berkas laporan yang dikirim seseorang di email-nya. Dari ekspresi wajahnya menampakkan keseriusan, seolah sedang memeriksa laporan penting."Hmmm, jadi begini, dasar licik," desisnya geram.Dia masih begitu serius membaca email itu, ketik
"Tolong ... siapapun, tolong kami .... " Di tengah malam buta, saat cahaya rembulan sedang bersembunyi di balik awan gelap. Sedangkan bintang-bintang juga sedang begitu malas menampakkan diri. Sebuah mobil yang meluncur membelah jalan raya menuju punc
Ketika Anne melangkah keluar dari ruang depan asrama tuna rungu, dia berpapasan dengan dua orang pria yang salah satunya Anne kenal. Beliau adalah Om Federick papanya Hanzel. Sedang pria satunya kemungkinan relasi bisnis Om Federick, jika dilihat dari
Miska telah sampai di mansion ketika rembulan menggantung sendirian di langit. Entah kenapa malam ini bintang-bintang enggan menampakkan diri. Mungkin sedang malas melihat kehidupan di dunia yang semakin porak poranda karena ambisi dan kerakusan manusia.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak