로그인Sekarang, hanya tersisa mereka berdua. Sepasang Alpha. Sepasang kepala batu yang hatinya sama-sama hancur lebur namun menolak untuk mengibarkan bendera putih terlebih dahulu.Seraphine tetap berdiri di tengah ruangan. Ia menghela napas pendek sebelum membelakangi Samudera, sengaja menatap deretan kemeja panggung yang tergantung di rak besi. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian membelai pinggiran rantai aksesoris panggung dengan gerakan yang sangat tenang.Di sudut ruangan, Samudera menggerakkan kakinya. Derap langkah sepatu boot panggungnya berdenting berat di atas lantai kayu. Pria itu melangkah perlahan, mendekati posisi istrinya. Aura dominan, berbahaya, dan sarat akan penderitaan fisik maupun mental terpancar sangat kuat dari tubuh tingginya.Mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Tidak ada yang mau mengalah. Dua orang alpha. Dua manusia berdarah dingin dengan tingkat ego dan kekerasan kepala yang berada di puncaknya.Sampai akhirnya, suara Samudera memecah kesunyian tersebu
Setelah konser berakhir, Seraphine memimpin melangkah melewati koridor utama menuju ruang tunggu VIP Motion13. Di depan pintu ruang ganti utama, tiga belas member Motion13 baru saja selesai mengelap keringat dan melepaskan aksesoris panggung yang berat. Begitu pintu koridor terbuka lebar dan memperlihatkan kedatangan Seraphine beserta rombongannya, suasana yang tadinya ramai mendadak senyap seketika.“Kak Sera!” Mahesa menjadi orang pertama yang bersuara. Pria jangkung itu melangkah maju mendekati Seraphine. “Makasih banget, Kak. Gue pikir lo beneran gak sudi dateng kesini.”Seraphine menghentikan langkahnya, menatap Mahesa dengan seulas senyum tipis yang amat dingin namun berwibawa. "Kan gue udah bilang di telepon, Hes. Jangan biarin leader lo mati di panggung. Dan lo berhasil jalanin tugas lo."Seraphine menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Tatapan matanya yang tajam dan berwibawa menyapu wajah adik-adik ipar dan sahabat-sahabat suaminya itu satu per satu. Senyum tipis y
Udara malam di Nagoya terasa sangat menusuk. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi semangat penggemar Motion13 yang sudah memenuhi area Vantelin Dome Nagoya sejak sore tadi. Dan di dalam salah satu suite VIP Box privat yang terletak di lantai paling atas stadium, Seraphine duduk disana bersama kelima sahabatnya.Ia mengenakan trench coat cashmere berwarna beige-grey dan trousers hitam bermerek Celine. Makeup tegas dengan garis eyeliner tajam dan perona bibir nuansa deep rose membuat sosoknya memancarkan aura seorang pimpinan eksekutif Kirana Group yang tak tersentuh."Gue masih gak nyangka kita beneran mendarat di Nagoya jam tiga sore tadi tanpa ngasih tahu satu orang pun dari tim manajemen Motion13," gumam Valerie sambil memutar gelang emasnya. "Gue rasa Mahesa atau Jauzan bisa kena serangan jantung kalau tahu lo ada di VIP Box ini sekarang, Ra.""Gue di sini bukan buat bikin kejutan romantis," sahut Seraphine dingin, matanya menatap lurus ke arah screen raksasa di panggung yang menam
Di suite mewah hotel bintang lima di Kawasan Paradeplatz, Zurich, udara sore hari terasa mulai semakin dingin. Seraphine sedang duduk di sofa velvet, dikelilingi oleh kelima sahabatnya. Keadaan di dalam kamar itu mulai membaik setelah perdebatan sengit kemarin mengenai analogis bisnis Gisela dan teguran keras dari Karin.Tiba-tiba, ponsel Seraphine—yang ia nyalakan tadi pagi sesuai saran dari Valerie—yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan internasional.Mahesa Motion13 calling...Seraphine menatap layar ponsel itu dengan mata membelalak tipis. Sahabat-sahabatnya seketika menghentikan pembicaraan. Suasana kamar menjadi hening seketika."Mahesa?" bisik Valerie mengintip layar. "Kenapa adik kesayangan suami lo itu nelfon sore-sore gini?"Seraphine memejamkan mata sejenak, menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Suaranya terdengar sangat dingin, datar, dan berwibawa—topeng ketahanan khas seorang Seraphine
Siang itu, reherseal untuk konser hari pertama di Osaka baru saja diselesaikan. Selama hampir tiga jam di atas panggung, Samudera Adikara berdiri tegak bagaikan karang di tengah badai. Otoritasnya sebagai leader Motion13 tidak bergeser satu milimeter pun. Suaranya yang berat dan bertenaga menggelegar melalui mikrofon, koreografinya presisi, dan instruksinya kepada tim teknis mengenai pencahayaan serta tata suara terdengar sangat tajam.Namun, begitu sesi latihan selesai dan lampu panggung dipadamkan, seluruh atmosfer seolah ikut berubah.“Lampu midsage kurang lambat setengah detik pas drop kedua, tolong catat—”Kalimat Samudera terputus. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga panggung belakang mendadak limbung. Pandangannya berputar dan semakin lama semakin menggelap."Bang Sam!" Mahesa yang berjalan tepat di belakang Samudera refleks memburu maju. Tangan besarnya merengkuh dada sang leader sebelum tubuh tinggi itu roboh menghantam anak tangga besi."Sam! Samudera!" Jauzan berter
Sementara itu…Kota Osaka sedang diselimuti rintik hujan gerimis. Di dalam bus eksekutif yang membawa seluruh member Motion13 dari stasiun Shinkansen menuju hotel di Osaka, suasana terasa sangat sunyi dan tegang.Di baris kursi paling belakang, Samudera menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Wajahnya semakin tirus, tulang pipinya menonjol, dan bibirnya pecah-pecah kehitaman akibat dehidrasi serta kekeringan nutrisi yang parah.Meskipun di konser day 2 Tokyo Dome kemarin malam ia berhasil tampil sangat sangar dan ganas di atas panggung, menyembunyikan segala rasa sakitnya di balik profesionalisme leader yang legendaris, begitu lampu panggung padam, tubuhnya langsung ambruk total.Danendra, member termuda yang ditugaskan oleh Jauzan dan Zian untuk memantau pola makan Samudera selama di Osaka, duduk persis di sebelah sang leader. Di pangkuan Danendra, terdapat sebuah kotak bekal berisi hidangan nasi tim ayam yang dimasak khusus oleh koki pribadi agensi agar mudah dicerna.
Pagi itu, saat langit Jakarta masih berwarna biru gelap, tepat pukul 04.30 pagi, Seraphine sudah terjaga. Ia sudah duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil yang sudah ia siapkan semalam. Ada rasa lega yang luar biasa setelah beban proyek Malang diangkat dari pundaknya—semua berkat diplomasi "beri
Pesta malam itu baru hening saat waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Seraphine menyeret langkahnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Kepalanya terasa mulai berdenyut sekaligus berat—efek dari beberapa gelas wine vintage dan obrolan tanpa henti bersama sahabat-sahabatnya.Sesuai perintah Samuder
Paris, pukul sepuluh pagi. Sinar matahari musim semi yang tipis mulai menerangi jalanan berbatu di sekitar hotel mewah tempat Motion13 menginap. Bagi Samudera, ini adalah pagi pertama setelah insiden rinitis yang cukup menghebohkan semalam. Sesuai janjinya pada Seraphine, ia benar-benar tidur cukup
Paris, pukul 22.15 malam. Udara di luar Accor Arena menusuk hingga ke tulang, mencapai titik di bawah 5°C. Di dalam gedung, energi ribuan orang baru saja meledak dan menyisakan keheningan yang mendengung di telinga para member Motion13. Samudera baru saja menyelesaikan lagu penutup, encore yang pe







