Se connecterSetelah menyelesaikan konser Day 2 di Vantelin Dome selama tiga jam lebih, Samudera tidak menunggu para membernya selesai makan. Setelah mandi singkat dan ganti baju di venue, Samudera langsung bergegas menuju hotel tempat istrinya menginap.Pintu utama suite mendadak berbunyi klik, disusul oleh derit halus saat daun pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka. Samudera melangkah semakin dalam, menangkap sosok istrinya yang sedang berdiri di dekat meja makan.“Sayang…” panggil Samudera dengan suara baritonnya yang parau dan amat rendah.Pria itu melangkah cepat, mengikis jarak di antara mereka. Ia menghentikan langkahnya tepat satu meter di depan Seraphine. Mengingat batasan ketat yang dipasang sang istri sejak pagi tadi, Samudera menahan jemari besarnya agar tidak langsung meraih pinggang Seraphine, meski seluruh sel tubuhnya berteriak ingin memeluk wanita itu erat-erat.Seraphine membalikkan tubuhnya anggun. Ia menatap suaminya dari atas ke bawah dengan mata hazelnya yang tajam dan
Selama tiga jam berikutnya di pusat perbelanjaan Sakae, Seraphine benar-benar melampiaskan seluruh gejolak emosi di kepalanya melalui aksi shopping spree yang fantastis.Ia melangkah masuk dari satu boutique mewah ke boutique mewah lainnya—mulai dari Hermès, Chanel, Cartier, hingga toko perhiasan berlian ternama di Nagoya. Setiap kali memilih barang, Seraphine tidak pernah menanyakan harga. Ia hanya menunjuk dua set gaun malam haute couture, tiga tas kulit exotic, dan satu set kalung berlian berpotongan emerald yang bernilai miliaran rupiah.Dan setiap kali membayar di kasir, Seraphine selalu menyerahkan Centurion Black Card atas nama Samudera Adikara Wicaksana.Bip!Transaction Approved: ¥ 4,500,000 (Hermès Sakae)Bip!Transaction Approved: ¥ 12,000,000 (Cartier Nagoya)Bip!Transaction Approved: ¥ 8,200,000 (Chanel Boutique)Di area backstage Vantelin Dome Nagoya, suasana di ruang ganti Motion13 sedang sibuk-sibuknya jelang persiapan rehearsal panggung terakhir untuk Konser Day 2.S
Pukul satu siang tepat, pintu Presidential Suite bernomor 4001 diketuk pelan dari luar. Seraphine yang sedang merapikan tas tangannya berjalan mendekati pintu dan membukanya. Di luar, lima sahabatnya—Anya, Valerie, Karin, Gisela, dan Bianca—sudah berdiri anggun dengan gaya busana streetwear-luxury masing-masing, siap untuk menguasai pusat perbelanjaan Nagoya. "Siang, Queen!" sapa Valerie ceria, melangkah masuk pertama kali sambil mengibaskan rambut cokelatnya. "Gimana tidur semalem? Nyenyak di atas penderitaan suami?" Karin terkekeh sinis, menyusul masuk sambil melipat tangan di dada. "Gue liat dari muka lo yang udah segeran gini, kelihatannya drama semalem berakhir dengan kemenangan mutlak di tangan Kirana Group." "Masuk dulu," sahut Seraphine tenang, memberikan ruang bagi para sahabatnya untuk melangkah ke ruang tamu yang luas. Gisela mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu matanya terhenti pada kasur tambahan (extra bed) berukuran single yang masih sedikit kusut d
Pukul sembilan pagi tepat, bel pintu suite kembali berbunyi. Seraphine berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu.Di luar, berdiri Dokter Hendra—dokter pribadi tim medis agensi yang mendampingi Motion13 selama tur Asia—bersama Yosua dan Mahesa."Pagi, Kak Sera," sapa Mahesa berbisik pelan dengan senyum canggung, memegang tas medis milik Dokter Hendra. "Kita boleh masuk?""Masuk," sahut Seraphine dingin, melangkah mundur memberikan jalan.Yosua masuk terlebih dahulu, matanya langsung tertuju pada Samudera yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menghabiskan gelas jus apelnya. Begitu melihat piring-piring di atas meja makan yang sudah bersih dan rapi, helaan napas lega yang teramat sangat keluar dari bibir sang vice-leader."Demi Tuhan... piringnya bersih," gumam Yosua menepuk dadanya sendiri, menatap Mahesa dengan mata berbinar. "Gue gak halu kan, Hes? Leader kita beneran makan nasi sama sup?""Gak halu, Bang!" bisik Mahesa kegirangan. "Pawangnya ada di sini, ya jelas dimakanlah!"S
Pukul tujuh pagi, Seraphine sudah terbangun. Ia sudah mandi dan berganti pakaian—mengenakan sweater oversized berbahan cashmere berwarna gading dan celana kulot sutra hitam. Rambut panjangnya dijepit seadanya di belakang kepala, menampilkan leher jenjangnya yang mulus. Seraphine berdiri di dekat jendela besar, di samping extra bed tempat Samudera masih terlelap. Ia memegang cangkir berisi espresso yang masih hangat, menyesapnya perlahan sambil menatap ke luar jendela, ke arah jalanan kota Nagoya yang mulai disibukkan oleh lalu lintas pagi hari. Di belakangnya, suara pergerakan selimut dari atas extra bed memecah kesunyian. Samudera terbangun. Pria itu mengucek matanya yang masih agak bengkak, lalu mengedarkan pandangan di dalam kamar yang temaram. Begitu matanya menemukan punggung semampai Seraphine yang berdiri membelakanginya di dekat jendela, senyum lega langsung terukir di wajah tirusnya. Pria itu menyingkap selimut putih tebal, berdiri dari tempat tidur tambahan yang sempit it
Samudera membeku. "Maksud kamu... apa, Sayang?"Seraphine berjalan menuju area sudut kamar tidur utama. Di sana, di samping tempat tidur king size mewah berseprai putih, sudah berdiri sebuah extra bed (kasur tambahan) berukuran single yang telah dirapi-rapikan oleh staf hotel lengkap dengan selimut dan bantal tebal.Seraphine menunjuk kasur single itu dengan dagunya."Itu tempat tidur kamu malam ini," tegas Seraphine tanpa keraguan.Samudera membelalakkan matanya, merasa seolah baru saja disiram air es di tengah musim dingin. "S-Sayang?! Kamu bercanda kan?! Itu kasur tambahan!""Aku gak pernah bercanda soal batas kepemilikan aku," sahut Seraphine dingin. "Kamu udah jujur, aku udah dengar penjelasan kamu, dan aku udah kasih kamu makan. Tapi bukan berarti aku udah maafin kamu seratus persen. Dosa kamu belum bersih, Samudera."Samudera membelalakkan matanya, rasa terkejut dan ketakutan seketika menyambar dadanya. "S-Sayang?... Di extra bed? Kenapa gak di kasur utama sama kamu?""Karena a
Tiga hari ternyata berlalu dengan cepat.Di balik dinding kaca gedung World Entertainment yang dingin, sebuah draf pernyataan sedang ditinjau oleh Ardhaka Wicaksana untuk terakhir kalinya. Samudera, yang biasanya menghabiskan waktu di ruang latihan hingga ototnya mati rasa, kini duduk di sofa asram
Pagi itu, Samudera memarkirkan SUV hitamnya di basement gedung World Entertainment. Dia datang lebih dulu daripada kedua belas membernya yang masih antri mandi di dorm. Tujuannya datang lebih awal hanya satu: menemui Papanya di lantai atas gedung agensi.Samudera mematikan mesin mobilnya. Sisa arom
Seraphine mendengus, ia meletakkan garpu dengan denting halus yang mengisi keheningan galeri. “Kita ketemu cuma sekali karena kerjasama produk parfum gue, Samudera. Pertemuan formal itu nggak membuat kita jadi teman lama yang bisa sharing rahasia masing-masing dalam satu atap. Secara teknis, kita c
Pagi itu, di kasur asramanya yang dingin. Samudera menatap kartu nama Seraphine. Setelah perdebatan panjang dengan Papanya dan interogasi dengan para member, Samudera memutuskan untuk mengambil inisiatif.Papanya memang menyuruh Samudera untuk menghubungi Seraphine, mengatur janji untuk makan malam







