INICIAR SESIÓNDemi menyelamatkan sang Papa yang dijebak hingga dipenjara, Sara menerima sebuah misi gila dari mantan istri calon suami misteriusnya. Tugas Sara, menggoda suaminya, membuatnya sembuh dari impotensi, lalu pergi agar sang mantan istri bisa kembali demi ambisinya. Namun, seiring waktu, misi demi misi mendekati pria dingin itu justru membuat pernikahan palsu mereka terasa semakin nyata. Ketika semua kebenaran terkuak, Sara dihadapkan pada pilihan yang rumit—menyelamatkan Papa, atau mengkhianati pria yang mulai ia cintai?
Ver más虹見市の夜は、神崎家のために明かりが灯されている。
パーティー会場はまばゆい光に包まれ、多くの招待客で賑わっている。
その中で、|神崎澪《かんざき みお》だけが、一人壁際に佇んでいた。
手の中で固く握り締めたグラスへ視線を落とすと、揺れる琥珀色の酒面には、時間をかけて整えたにもかかわらず、誰一人として気づいてくれない自分の化粧が映っていた。
まるで、自分だけが場違いな存在だった。
トレイを手に忙しく行き交う使用人たちでさえ、彼女の目の前で遠慮なく声を潜めて噂話をしている。
「本物のお嬢様だなんて笑わせるわ。イブニングドレス一つ着こなせないなんて、やっぱり貧乏育ちね」
澪はドレスの裾をぎゅっと握り締めた。
指先が白くなるほど力が入る。
神崎家へ来て、もう二年。
父・|昴《すばる》の叱責も、母・|深雪《みゆき》の冷たい態度も、使用人たちの蔑むような視線も、今ではもう慣れっこだった。
後からやって来た余所者なのだから、疎まれるのも当然なのだ。
それでも、彼女には|綾音《あやね》がいた。
血のつながりはなくても、いつも優しく包み込んでくれる姉だった。
この誕生日パーティーも、綾音が自ら企画してくれたものだった。
あの日、綾音は澪の腕を優しく取り、微笑みながらこう言ってくれたのだ。
「澪、この家に来てもう二年になるのに、ちゃんとお祝いしてあげられなかったでしょう。今年は、お姉ちゃんが素敵なパーティーを開いてあげるね」
澪はその言葉を信じた。
そして、ほんの少しだけ期待してしまった。
自分がいい子でいれば、いつか両親も笑顔を向けてくれるのではないか、と。
「澪、こんなところにいたのね」
背後から、柔らかな声が響く。
振り返ると、そこには完璧なまでに美しい綾音が立っていた。
ダイヤモンドを散りばめた高級オートクチュールドレスをまとい、左腕には深雪、右には昴。
まるで、その三人こそが本当の家族であるかのようだった。
澪はそっと足元へ目を落とす。
レンタルしたドレスは身体に合わずぶかぶかで、裾からはほつれた糸が覗いていた。
「お父様、お母様……」
「なんだ、ちゃんと口は利けるんだな」
昴の視線は冷え切ったまま、澪を射抜く。
「神崎家へ来て二年にもなるのに、挨拶一つまともにできんのか」
「お父様、澪を責めないであげて」
綾音が甘く穏やかな声で間に入る。
「澪は小さい頃から田舎で育ったんですもの。マナーのレッスンについていけないのも仕方ありませんわ」
そう言うと、綾音は一歩前へ踏み出した。
次の瞬間――
澪が反応する間もなく、足元に強い衝撃が走った。
綾音のヒールが、床に引きずっていた澪のドレスの裾をしっかりと踏みつけたのだ。
勢いよく身体が前へ投げ出される。
ドン――。
膝が大理石の床へ激しく叩きつけられた。
安物のドレスは無残にも大きく裂け、片脚がそのまま会場中の招待客の前へ晒されてしまう。
辺りから息を呑む音が上がり、必死に笑いをこらえる気配があちこちで漏れた。
「澪……急に立ち上がるから、ぶつかっちゃったじゃない」
綾音の声音には、絶妙な困惑と、まるで自分が被害者であるかのような響きが滲んでいた。
「綾音、大丈夫?」
深雪は慌てて綾音の腕を支えると、一転して澪を鋭く睨みつける。
「なんてはしたないの!神崎家の人間として恥ずかしくないの!」
昴も忌々しげに手を振った。
「さっさと失せろ。これ以上ここで恥を晒すな」
「……はい」
澪は俯いたまま、這うように立ち上がる。
裂けたドレスを必死に押さえながら、ふらつく足取りでその場を後にした。
◇
控室の鏡に映る自分の姿を、澪はじっと見つめていた。
乱れた髪。
涙で滲んだアイメイク。
そして、大きく裂けたドレス。
悔しさで唇を強く噛み締めると、こらえていた涙がまた視界を滲ませた。
それでも、彼女は綾音を恨まなかった。
姉は自分を嫌っているわけではない。
ただ、自分が現れたことで両親の愛情を奪われることを恐れているだけなのだと、そう信じていた。
そもそも――
ここにいること自体が、自分の間違いだったのだ。
神崎家へ戻れば人生は変わる。
そう信じていた。
けれど、この二年間、この家が一度でも本当の意味で自分を受け入れてくれたことなど、一度もなかった。
「泣いているのか?」
冷え切った声が背後から降ってくる。
澪が勢いよく振り返ると、そこには非の打ちどころのない端正な顔立ちがあった。
「修……」
恋人の|九条修《くじょう しゅう》が、仕立ての良いスーツを隙なく着こなし、控室の入口に立っていた。
どこか奔放さを感じさせる短髪。
百八十五センチの長身。
その圧倒的な存在感が、澪へ静かな威圧感を落としていた。
「修……いつからそこに?」
澪は慌てて手の甲で涙を拭った。
しかし、そのせいでメイクは余計に崩れてしまう。
これ以上こんな姿を見られたくなくて、彼女は慌てて俯いた。
「もう十分くらい前からだ。お前は隅に閉じこもったままで、俺のほうを一度も見ようとしなかったな」
修は眉をひそめ、いつものぶっきらぼうな口調で言うと、腕に掛けていたトレンチコートを広げ、彼女に拒む暇すら与えず肩へ掛けた。
コートの丈はちょうどよく、裂けたドレスをきれいに隠してくれる。
ふわりと漂う白檀の香りが、まるで彼自身に抱き締められているような安心感を与えた。
澪は溺れる者が流木にしがみつくように、無意識のうちに襟元をぎゅっと握り締める。
ドクン――と胸が大きく鳴った。
誰一人、自分の存在など気にも留めないこの家で。
修だけが、彼女にとって唯一息をつける場所だった。
「修……」
名前を呼びかけたものの、その先の言葉は喉の奥で消えた。
今日、彼は何か言葉をくれるのだろうか。
あるいは、誕生日プレゼントを。
……けれど、そんなことを尋ねる勇気はなかった。
こんな惨めな自分に、彼から贈り物を受け取る資格などあるはずがない。
恋人としてそばにいてくれるだけでも、自分には過ぎた奇跡なのだから。
それでも――
ほんの少しでも、何かがあれば。
どれほど救われるだろう。
言葉を飲み込む澪を見つめ、修の喉仏がわずかに動いた。
本能に突き動かされるように指先を伸ばし、彼女の涙を拭おうとする。
しかし、その瞬間。
澪は反射的に一歩後ろへ下がり、その手を避けてしまった。
修の瞳から、すっと光が消えていく。
付き合い始めて、もうすぐ二年。
それでも澪は、一度たりとも彼に身体へ触れさせようとはしなかった。
彼が手を伸ばすたび、彼女は決まって無意識に身を引いてしまう。
――やはり、綾音の言っていた通りなのだろうか……。
修は苛立ちを押し殺すように、心の中で小さく舌打ちした。
だが、今はその理由を問い詰める気にはなれない。
紳士らしい距離を保ったまま、淡々と告げる。
「用がないなら戻るぞ。この誕生祭は、主役のお前がいなければ始められないからな」
意味深な言葉だけを残し、修は最後に澪をじっと見つめると、そのまま背を向けて立ち去った。
その言葉の本当の意味を、澪はほどなくして思い知ることになる。
この時の彼女は、まだ夢にも思っていなかった。
待ち焦がれていたはずの誕生日プレゼントが、自分を標的にした最悪の――「公開処刑」になることなど。
Sara beranjak bangkit dan mencoba mengejar untuk memeriksa siapa sosok di balik kamera itu. Namun rumah megah ini mendadak sunyi. Tak ada jejak siapa pun di sekitar. Satu hal yang Sara yakini, ada seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi Sara di rumah ini. Siapa yang memberi instruksi? Sara mencurigai beberapa pihak. Deana, atau seseorang di keluarga Vincent—Ibu mertuanya atau mungkin Kakek. Jika dipikir, pertemuan terakhir Sara dengan sang Ibu mertua adalah di hari pernikahannya. Hingga saat itu, Sara yakin wanita paruh baya yang kerap dipanggil Nyonya Martha itu masih belum sepenuhnya menerima Sara. Vincent juga tak pernah membahas beliau. Dan, tak ada tanda-tanda Nyonya Martha berencana menemui Sara. Tampaknya ada sesuatu di balik itu. Sara harus menanyakan hal ini pada Vincent. Walau sebenarnya Sara tak ingin mengambil pusing. Karena toh dia hanya sementara di rumah ini. Tetapi, bagaimana jika misinya membutuhkan waktu lebih lama? Jangan-jangan pihak yang tak me
"Kenapa? Karena aku menciummu? Karena aku tidur denganmu?” pekik Sara, lekas membuat Vincent memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mengusap wajah, tampak frustasi.Bi Laila dan seorang pelayan lain yang sedang berada di dapur berjalan keluar ruangan dengan kepala menunduk, berpura-pura tak mendengar ucapan Sara yang barusan lolos tanpa filter.Sementara itu, Eric di ambang pintu bergeser kikuk, memindahkan tubuhnya agar berada di ruangan sebelah.Vincent membuka mulut, tampak akan memprotes ucapan Sara, namun wanita itu lebih dulu memotongnya,“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?”“Dengar. Aku nggak suka, kamu bertemu banyak orang. Nggak ada yang bisa jamin kamu nggak akan bertemu kembali dengan orang-orang seperti Yuta.” Vincent menatapnya tajam, penuh tekanan. “Paham?”Sara semakin mengernyit, menunjukkan penolakan keras, “Kamu mau mengurungku di rumah?”“Kamu bisa kembali latihan bermain gitar.” ucap Vincent memberi solusi.Iya, mungkin benar. Tetapi Sara kini kehilangan momen
Vincent merebahkan kepalanya yang penat di atas bantal. Matanya dipejamkan kuat-kuat. Tangannya memijit pelan pelipis.‘Kamu boleh tidur di kamarku.’Kalimat yang dia ucapkan tadi itu terus terngiang di kepala. Bagai mimpi buruk yang mencekik kewarasannya. Dia sendiri menyesali kebodohannya yang belakangan ini begitu mudah takluk pada pesona Sara. Segala yang ada pada wanita itu, entah sejak kapan menggoyahkan pertahanannya hingga luluh lantak.Suara yang kadang terdengar manja, tatapan mata yang berbinar indah, bibir yang ranum …Dan sentuhan hangat yang menari lembut di bibirnya ….Semua berkelebat liar di kepala Vincent. Mengacaukan debar jantungnya hingga tanpa sadar tangannya mencengkeram rambutnya kuat. Pria itu menghela napas berat. Sejujurnya, dia menikahi Sara tanpa diiringi niat untuk ‘hadir’ sebagai suaminya. Jangankan menjadi suami, menikah kembali pun dia tak berminat.Namun kini … apa hatinya mulai goyah? Sekarang … apa yang dia inginkan?“Vin ….” Vincent membuka mata
“I-itu ….” Sara membelalak ketika Vincent mengernyit menatap layar ponsel Sara. Buru-buru direbutnya benda pipih itu dari tangan Vincent. Namun, pria itu menahannya.“Itu cuma spam! Bukan pembelian!” Sara berseru panik. Tangannya mencoba merampas ponsel yang dicengkeram erat oleh Vincent. “Lepas! Berikan ponselku!” pekiknya seraya mendelik kesal.“Kalau hanya spam, lantas kenapa kamu sepanik ini?” Vincent menatap Sara lekat, guratan curiga menggantung di wajahnya. Pria itu semakin mendekat, membuat Sara refleks menjauh.“Ada yang kamu sembunyikan?” desaknya dengan suara rendah.Sara meneguk ludah. Ini gawat. Kalau sampai Vincent berhasil mengakses ponsel Sara, bukan hanya pembelian barang-barang mesum itu, tetapi juga pesan rahasianya dengan Deana yang bisa terbongkar.Sara menarik paksa ponselnya dalam satu sentakan cepat. Namun, gerakan itu membuat Vincent yang memegang ponsel ikut tertarik. “Aakkkh!”Bagai dihisap gravitasi, tubuh Sara miring ke belakang, kepalanya nyaris terjere
“Bermalam?” Sara menggeleng tak percaya. Ditatapnya Yuta penuh curiga. Berkelebat dalam pikirannya beragam skenario buruk yang mungkin terjadi bila dia menurut. Mulai dari kemarahan Vincent, sampai …Alasan mengapa Yuta menahannya di sini.Wajah pria itu kini tampak berbeda. Sinar matanya yang hang
“Apa?” Sara memekik lantang, alisnya saling bertaut.Di hadapannya, Vincent menyandarkan punggung, tak meredakan sorotnya yang membekukan, “Saya minta dibelikan kopi. Bukan dibuatkan.” “Kenapa nggak perjelas saja dari awal?”“Kenapa nggak tanya kalau kurang jelas?”Sara menarik napas dalam-dalam.
“Buru-buru sekali?” Yuta menatap Sara yang lekas berdiri begitu pria itu mengakhiri kelas.“Iya, saya harus ke money changer di gedung XY setelah ini.” Sara memeluk bukunya, lalu membungkuk dan berjalan keluar.“Chotto—ah, Tunggu, Sara!” Yuta berdiri, hampir menyusul Sara. Namun urung karena wanita
Debar jantung Sara menghentak kian cepat. Suara detik jarum jam dinding memecah senyap, menegaskan ketegangan yang menggetarkan. “Kamu ….” tatapan Vincent menghunus. Pria itu memangkas jarak, membuat Sara mengeratkan tangannya yang mendadak gemetar. Hingga, kening pria itu mendarat di dahi Sara.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás