로그인Demi menyelamatkan sang Papa yang dijebak hingga dipenjara, Sara menerima sebuah misi gila dari mantan istri calon suami misteriusnya. Tugas Sara, menggoda suaminya, membuatnya sembuh dari impotensi, lalu pergi agar sang mantan istri bisa kembali demi ambisinya. Namun, seiring waktu, misi demi misi mendekati pria dingin itu justru membuat pernikahan palsu mereka terasa semakin nyata. Ketika semua kebenaran terkuak, Sara dihadapkan pada pilihan yang rumit—menyelamatkan Papa, atau mengkhianati pria yang mulai ia cintai?
더 보기The scent of blood was thick in the air.
Aria pressed a cloth against the gash running down the young warrior’s shoulder, her small hands steady even though his body trembled beneath her touch. She could feel the way his pulse raced, the heat of his fevered skin, the roughness of his breathing as though each inhale was a battle he was losing. “Hold still,” she whispered, not unkindly. Her voice carried a quiet authority born from practice, though it never carried far enough for anyone to truly listen. “If you move, you’ll tear it open again.” The warrior groaned, biting down on his lip. He couldn’t be more than nineteen, barely out of training, yet already he had been thrown into the chaos of the border skirmishes. The pack was stretched thin, and every able-bodied wolf had been forced to fight. Aria reached for her pouch, pulling out the stitched leather case where she kept her herbs and tools. She had organized them herself, memorizing each small bundle of leaves and dried roots, because she couldn’t afford to waste time searching when lives depended on her. With swift fingers, she crushed dried comfrey, mixing it with water in a small clay bowl until it formed a thick paste. “Apply this twice a day,” she instructed, smoothing the cool mixture over his wound. “It will fight infection and help the skin knit faster.” He gave a faint nod, though his eyes darted away as though ashamed to even acknowledge her help. When she was done bandaging him, he stood quickly, muttered a gruff, “Thanks,” and left the tent before she could say more. Aria exhaled slowly, her gaze dropping to the bloodied cloths scattered across the wooden table. She gathered them with careful hands, dropping them into a pail of water already stained dark red. Around her, the healer’s tent bustled with chaos—warriors staggered in with slashed arms, broken bones, and torn flesh. Groans and cries filled the air, mingling with the smell of sweat, blood, and smoke. “Move aside, Omega,” a harsh voice barked. Aria barely had time to step back before a burly she-wolf shouldered past her, carrying her younger brother with one arm slung over her shoulder. His leg was bent at an unnatural angle, blood dripping down his calf. Her heart clenched at the sight, but the warrior glared at her before she could speak. “You’d better not mess this up,” the she-wolf growled. “He’s worth more to this pack than you’ll ever be.” The words sliced deeper than any blade. Aria swallowed them down, biting the inside of her cheek until the metallic taste of blood filled her mouth. She had heard it all before. Weak. Useless. Rejected. The words clung to her like a second skin, no matter how hard she worked to prove them wrong. She bent to her brother’s side, forcing her hands to remain calm. “You’ll be okay,” she murmured softly. His eyes—so much like hers—met hers for the briefest moment. But then he turned his face away, refusing her comfort, refusing her presence. That rejection, that small, silent dismissal, hurt more than the angry insults of strangers. Because he was her blood. And even he could not bear to be tied to her. By the time the sun dipped low on the horizon, Aria’s hands were stained with blood and herbs, her body aching from hours on her feet. She had reset broken bones, stitched wounds, mixed poultices, and wrapped more injuries than she could count. She stepped outside the tent for a breath of fresh air, her chest heaving as she drew in the cool night air. The moonlight washed over the camp, silver and cold, casting shadows that seemed to whisper of the lives lost on the battlefield. Laughter drifted from a group of warriors gathered near the fire. They sat with mugs of ale, boasting about their kills and scars, their voices loud and careless. “She patched me up earlier,” one of them sneered. “You should’ve seen her hands shake. I thought I’d bleed out before the Omega got her act together.” The others roared with laughter. Another added, “If it weren’t for her herbs, half of us would already be dead—but I suppose that’s the only reason they keep her around. Even a weak Omega can learn to boil leaves.” Aria turned away quickly, pretending she hadn’t heard. But their words sank into her bones, heavy and sharp, until she felt them digging into her chest. She wasn’t weak. She wasn’t useless. She worked harder than any of them, stayed up longer, sacrificed more. But no matter what she did, she would always be the Omega who was rejected. She remembered that day too well. The day her mate looked at her with cold eyes and said the words that shattered her heart: I don’t want you. You’re not good enough for me. The rejection had burned her soul, cutting her off from the bond she had once dreamed of, leaving behind an emptiness that no amount of healing could ever fill. Even now, years later, the sting of it clung to her. Every insult was just a reminder of that day, every sneer a confirmation of what she had already been told: that she was worthless, that she would never be chosen, never be loved. Aria clenched her fists, nails digging into her palms. She refused to cry. Not here, not where they could see her weakness and laugh even harder. Instead, she lifted her chin and returned to the tent. There were still wounds to tend, still lives to save. And if the only way she could find worth was in her work, then she would give everything she had until there was nothing left of her. Hours later, when the camp had grown quiet and most had fallen asleep, Aria sat alone by the dim glow of a lantern. She cleaned her tools meticulously, her movements mechanical, her mind drifting. Her reflection glimmered faintly in the water-filled basin before her. Pale skin, dark shadows beneath her eyes, lips pressed tightly together. She looked tired. Fragile. Forgettable. And yet… there was something in her gaze. A flicker of defiance, a stubborn spark that had not been extinguished despite everything. Let them mock her. Let them reject her. One day, she would prove them wrong. But that day still felt impossibly far away.Sara beranjak bangkit dan mencoba mengejar untuk memeriksa siapa sosok di balik kamera itu. Namun rumah megah ini mendadak sunyi. Tak ada jejak siapa pun di sekitar. Satu hal yang Sara yakini, ada seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi Sara di rumah ini. Siapa yang memberi instruksi? Sara mencurigai beberapa pihak. Deana, atau seseorang di keluarga Vincent—Ibu mertuanya atau mungkin Kakek. Jika dipikir, pertemuan terakhir Sara dengan sang Ibu mertua adalah di hari pernikahannya. Hingga saat itu, Sara yakin wanita paruh baya yang kerap dipanggil Nyonya Martha itu masih belum sepenuhnya menerima Sara. Vincent juga tak pernah membahas beliau. Dan, tak ada tanda-tanda Nyonya Martha berencana menemui Sara. Tampaknya ada sesuatu di balik itu. Sara harus menanyakan hal ini pada Vincent. Walau sebenarnya Sara tak ingin mengambil pusing. Karena toh dia hanya sementara di rumah ini. Tetapi, bagaimana jika misinya membutuhkan waktu lebih lama? Jangan-jangan pihak yang tak me
"Kenapa? Karena aku menciummu? Karena aku tidur denganmu?” pekik Sara, lekas membuat Vincent memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mengusap wajah, tampak frustasi.Bi Laila dan seorang pelayan lain yang sedang berada di dapur berjalan keluar ruangan dengan kepala menunduk, berpura-pura tak mendengar ucapan Sara yang barusan lolos tanpa filter.Sementara itu, Eric di ambang pintu bergeser kikuk, memindahkan tubuhnya agar berada di ruangan sebelah.Vincent membuka mulut, tampak akan memprotes ucapan Sara, namun wanita itu lebih dulu memotongnya,“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?”“Dengar. Aku nggak suka, kamu bertemu banyak orang. Nggak ada yang bisa jamin kamu nggak akan bertemu kembali dengan orang-orang seperti Yuta.” Vincent menatapnya tajam, penuh tekanan. “Paham?”Sara semakin mengernyit, menunjukkan penolakan keras, “Kamu mau mengurungku di rumah?”“Kamu bisa kembali latihan bermain gitar.” ucap Vincent memberi solusi.Iya, mungkin benar. Tetapi Sara kini kehilangan momen
Vincent merebahkan kepalanya yang penat di atas bantal. Matanya dipejamkan kuat-kuat. Tangannya memijit pelan pelipis.‘Kamu boleh tidur di kamarku.’Kalimat yang dia ucapkan tadi itu terus terngiang di kepala. Bagai mimpi buruk yang mencekik kewarasannya. Dia sendiri menyesali kebodohannya yang belakangan ini begitu mudah takluk pada pesona Sara. Segala yang ada pada wanita itu, entah sejak kapan menggoyahkan pertahanannya hingga luluh lantak.Suara yang kadang terdengar manja, tatapan mata yang berbinar indah, bibir yang ranum …Dan sentuhan hangat yang menari lembut di bibirnya ….Semua berkelebat liar di kepala Vincent. Mengacaukan debar jantungnya hingga tanpa sadar tangannya mencengkeram rambutnya kuat. Pria itu menghela napas berat. Sejujurnya, dia menikahi Sara tanpa diiringi niat untuk ‘hadir’ sebagai suaminya. Jangankan menjadi suami, menikah kembali pun dia tak berminat.Namun kini … apa hatinya mulai goyah? Sekarang … apa yang dia inginkan?“Vin ….” Vincent membuka mata
“I-itu ….” Sara membelalak ketika Vincent mengernyit menatap layar ponsel Sara. Buru-buru direbutnya benda pipih itu dari tangan Vincent. Namun, pria itu menahannya.“Itu cuma spam! Bukan pembelian!” Sara berseru panik. Tangannya mencoba merampas ponsel yang dicengkeram erat oleh Vincent. “Lepas! Berikan ponselku!” pekiknya seraya mendelik kesal.“Kalau hanya spam, lantas kenapa kamu sepanik ini?” Vincent menatap Sara lekat, guratan curiga menggantung di wajahnya. Pria itu semakin mendekat, membuat Sara refleks menjauh.“Ada yang kamu sembunyikan?” desaknya dengan suara rendah.Sara meneguk ludah. Ini gawat. Kalau sampai Vincent berhasil mengakses ponsel Sara, bukan hanya pembelian barang-barang mesum itu, tetapi juga pesan rahasianya dengan Deana yang bisa terbongkar.Sara menarik paksa ponselnya dalam satu sentakan cepat. Namun, gerakan itu membuat Vincent yang memegang ponsel ikut tertarik. “Aakkkh!”Bagai dihisap gravitasi, tubuh Sara miring ke belakang, kepalanya nyaris terjere
Penerangan di ruangan itu redup, hanya mengandalkan lampu dinding kecil di dua sudut. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang berada di sekitar. Sara menelan ludah, ragu untuk masuk. Namun rasa ingin tahunya menang. Langkahnya diayun perlahan seiring daun pintu berderit. Suasana gelap memaksa Sar
Langit sudah gelap saat Sara berjalan keluar menuju balkon kamar. Udara dingin malam menusuk kulitnya yang terbalut gaun malam berlapis kimono panjang.Terbayang kalimat dokter saat siang tadi dia temui setelah waktu jenguknya habis.“Secara garis besar, perkembangan kondisi pasien cukup baik. Jika
“Dini hari tadi, sempat terjadi keributan di dalam sel. Pak Henry mengalami luka pukul yang cukup parah di kepala. Saat ini masih dalam perawatan di ICU.”Kalimat itu terngiang bagai mimpi buruk di kepala Sara. Menghantam kesadarannya hingga fokusnya buyar.Setelah panggilan telepon berakhir, Sara
Wajah Vincent bergerak turun. Hembusan napas hangatnya menyapu ceruk leher Sara. Sara menggeliat merasakan sensasi yang menggetarkan tubuhnya. Hingga … Dering ponsel memecah sunyi. Bagai meretakkan kesadaran Vincent dan Sara yang lekas berhenti, saling menatap dengan ritme napas yang berantakan.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
평점
리뷰더 하기