MasukTarun yang ingin memberitahukan kebenaran tentang dirinya yang merupakan seorang petinggi perusahaan ternama pada istri dan ibu mertuanya, benar-benar tidak menyangka istrinya akan tidur dengan pria lain yang merupakan pegawai perusahaannya di rumahnya sendiri. Dirinya juga dipaksa oleh mertuanya untuk menceraikan isterinya dan pergi dari rumah itu. Akhirnya Tarun dan istrinya kembali bertemu di perusahaan yang Tarun miliki. Pada saat itulah Tarun memanfaatkan situasi untuk membalaskan dendamnya. Apakah Tarun akan benar-benar bisa membalaskan dendamnya? Atau dirinya kembali dibuat sakit hati oleh mantan istrinya?
Lihat lebih banyakMy wife gave me two sons. Life gave me you. – Brute to Taz
Jasmine opened her eyes and looked around at the strange room. Her uncle Brute sat on the side of her bed holding her hand. He was resting his cheek on his arm that lay on the top of the side rail.She tried to move her head to look for her parents. Her head didn’t seem to be able to move. Trying to lift her left arm, she discovered she couldn’t do that either.
Whatever was in her throat hurt, and she wanted it out. Pulling her right hand out of her uncles hand, Brute woke up.
“Don’t do that, sweetheart.” He said gently laying her hand back on the bed. He pushed the handheld call button on the long cord.
“Nurse Williams.” A crackling female voice said. “How can I help?”
“She’s awake.” Brute said as Jasmine looked around confused.
“I’ll let the doctor know.” Came the response.
“It’s OK, sweetheart.” Brute said as he called his wife. “Hey babe, she’s awake.”
The door opened and Jasmine turned her eyes to see an older man and two nurses walking in. The doctor smiled at her and gave some quiet instructions to the nurses.
“Let’s get that breathing tube out of you.” The gray haired man said gently to Jasmine.
The nurse gave instructions gently to the seven year old girl and warned her that it would be uncomfortable. Next to be removed was the feeding tube going down her nose.
Jasmine gagged and coughed hoarsely for a moment. She tried to speak but her throat hurt too much.
The second nurse held a cup of water with a straw in it for Jasmine. “Little sips, precious.”
The first sip burned so bad that it came back up. The little girl began to cry and her uncle kissed her temple.
“I know, baby, I know.” He whispered against her hair as tears fell.
“Let’s try again, precious.” The nurse urged.
The second sip still burned, but it also soothed as it went down.
“Daddy?” she hoarsely whispered looking at her uncle.
“Your throat is going to be sore for a little while.” The doctor told her as he removed the neck brace. “I know you have questions, but let’s try not to talk. Does that feel better? Just nod or shake your head.”
Jasmine nodded as she continued to cry.
“Good. I’ll order a few tests.” He said taking out his pen light and looking in her eyes. “Can you follow the light? Good. Now open up wide and let me see inside. Hmmmm… just as I suspected.”
He looked at the nurse still in the room. “This patient is in dire need of a chocolate ice cream treatment. Should probably be administered as quickly as possible. Follow up therapy at least twice a day.”
“I’ll notify the pharmacy.” The nurse replied handing him a syringe.
“This will help with the pain and may make you drowsy.” He said injecting the medicine in her IV. “You’ll be on soft foods for a few days. I hope you like banana pudding.”
Jasmine smiled up at him.
“I’m glad you decided to come back to us.” Brute said gently as his eyes filled with tears. Wiping them away, he turned to see her aunt enter the room. “You’re a lucky girl.”
The doctor left them alone as her aunt shed her own tears hugging the little girl. He did not envy them. They had to shatter the little girl’s world.
Her parents, brothers and several others were dead. Of the nearly thirty victims, she was the only survivor.
Sontak Tarun terkejut mendengar fakta yang diberitahukan oleh Rizal. Tarun benar-benar tidak menyangka akan ada seseorang yang melakukan hal itu. Tak terkecuali David. Dia juga terkejut mendengar fakta itu. “Apa jangan-jangan dalangnya adalah kompetitor perusahaan?” tebak David. “Benar juga. Pasti ini semua ulah pesaing bisnis. Bisa-bisanya mereka bermain curang seperti ini.” Tarun benar-benar marah. Ekspresinya langsung berubah seketika. Tangannya mengepal dengan kencangnya. Di sisi lain, Rizal malah mencurigai kalau David adalah dalang di balik semua kekacauan ini. Karena dia merasa David pasti sudah mengetahui rencana Tarun. Tak lama, Ussy datang menghampiri Tarun. Dia menanyakan mengenai perkumpulan para pegawai yang akan dilaksanakan. “Dalam keadaan seperti ini, sepertinya perkumpulannya harus ditunda. Mungkin besok,” jawab Tarun. Setelah mendapatkan konfirmasi dari Tarun, Ussy langsung bergegas pergi. Mendengar hal itu, tiba-tiba terbesit
Rizal terdiam, tak tahu mau menjawab apa. Dia baru teringat kalau dirinya tidak pernah berbicara dengan David sebelumnya. Dia langsung salah tingkah, tak tahu mau bilang apa. David yang melihat gelagatnya yang mencurigakan, tersenyum tipis. Dari awal dirinya sudah yakin kalau Rizal pasti terlibat dalam rencana Tarun. Tarun yang menyadari situasi itu, langsung berusaha mengalihkan pembicaraan. “David, kamu sudah tahu tentang demo di kantor?” “Demo? Demo apa?” jawab David bingung. Dia tidak tahu sama sekali tentang demo yang dibicarakan Tarun. Belum sempat Tarun menjelaskan, tiba-tiba saja ponsel David berdering. Dia langsung saja mengambil ponselnya dan melihat panggilan suara dari Yaslin. “Saya izin pamit dulu ya, Pak. Sekalian pergi ke kantor,” ucap David dan langsung saja pergi dari sana meninggalkan Tarun dan Rizal. Setelah David pergi dari sana, Rizal langsung saja mengatakan pada Tarun tentang kecurigaannya pada David. Dia mengatakan kala
Tarun tersadar dari pingsannya. Dia membuka matanya perlahan, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa begitu sakit. Tapi dirinya malah mendapati perban yang sudah terikat di kepalanya. Tarun melihat sekitar. Dia sadar kalau dirinya sudah ada di ruang rawat rumah sakit. Dia mencoba bangun untuk duduk sambil meringis kesakitan. Sayangnya tubuhnya begitu lemah yang membuatnya terbanting kembali ke ranjang rumah sakit yang ditempatinya. Tubuhnya makin terasa sakit dan membuatnya meringis kesakitan. Di saat yang bersamaan, seorang suster datang dan terkejut melihat Tarun yang sedang meringis kesakitan. Dengan panik, dia langsung bergegas menghampiri Tarun. “Bapak jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kondisi bapak masih belum membaik,” ucap suster itu. “Kenapa saya bisa ada di sini, Sus?” tanya Tarun dengan lemah sambil meringis kesakitan. “Seseorang melihat mobil bapak yang kecelakaan. Dan dia menemukan bapak yang sudah bercucuran darah tak sadarka
12. "Tarun!" panggil Rizal sambil berlari menghampiri Tarun. Dirinya terlihat begitu compang-camping dengan jas lusuh dan rambut acak-acakan. "Bagaimana? Belum mulai kan? Maaf aku telat," sambungnya. Tarun memperhatikan Rizal dari kepala hingga kaki. Dia yang melihat tampilan Rizal yang acak-acakan, merasa bingung. "Kamu dari mana saja, sih? Dari tadi aku sudah menunggumu. Bahkan sampai pertemuannya sudah mau selesai kamu masih belum juga sampai. Dan sekarang, kau baru sampai saat aku sudah ingin pulang dengan tampilan yang acak-acakan seperti ini." Tarun kesal d nahn Rizal. Dia tak pikir panjang untuk memarahi Rizal. Mendengar pertanyaan Tarun, Rizal langsung menunjukkan gelagat yang aneh. Dia terlihat bingung seolah tak tahu apa yang harus dia katakan. "I–itu, ta–tadi aku, a–aku kejebak macet." Rizal seperti sedang berusaha menutup-nutupi sesuatu. Tarun yang melihat gelagatnya yang begitu aneh, menjadi curiga pada Rizal. Tampilanmu acak-acakan, g












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan