LOGINRaut wajah Ibu Suri langsung suram. Garis-garis di wajahnya menegang. "Apa maksudmu?""Semangat hidup Yang Mulia Kaisar mendadak bangkit kembali. Mungkin karena doa seluruh rakyat," ucap Li Lian lembut, matanya menatap Ibu Suri dengan binar yang terlihat polos namun menusuk. "Beliau baru saja membuka matanya.""Bagaimana bisa?!" Kalimat itu hampir saja terlontar dari mulut Ibu Suri, namun ia berhasil menahannya di ujung lidah. Ia hanya melemparkan tatapan maut ke arah Kasim Zhang. Bagaimana bisa dia bangun? Bukankah kau bilang racunnya sudah tidak terdeteksi dan dosisnya sudah cukup?!Kasim Zhang tampak sama pucatnya. Ia berdiri mematung, benar-benar tidak memahami mengapa obat "penyamar" yang ia banggakan gagal menidurkan Kaisar selamanya.Ibu Suri segera melangkah masuk ke dalam peraduan, diikuti oleh Permaisuri Xiao yang tampak tegang. Dan benar saja—di atas ranjang itu, sang Kaisar membuka matanya. Meski tubuhnya masih kaku dan suaranya tak bisa keluar, sorot mata itu kini memili
Ibu Suri terdiam cukup lama, jemarinya yang mengenakan pelindung kuku emas mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang meresahkan."Jadi, menurutmu aku harus membiarkan harimau kecil itu mendekati mangsanya?""Menurut hamba... kabulkan saja permintaan para menteri itu, Yang Mulia," bisik Kasim Zhang dengan senyum licik yang tersembunyi. "Hamba sudah memerintahkan tabib istana kepercayaan kita untuk memberikan zat penawar sementara ke dalam obat Kaisar pagi tadi. Zat itu akan menyamarkan aliran zat kimia dalam aliran darahnya. Nona Li Lian tidak akan bisa menemukan jejak apa pun."Ibu Suri mengangkat alisnya. "Kamu yakin? Li Lian bukan tabib biasa.""Hamba yakin, Yang Mulia! Bahkan jika dia adalah dewi obat sekalipun, dia tidak akan bisa mendeteksi racun yang sudah menyatu dengan sumsum tulang melalui bantuan zat penyamar itu. Biarkan dia memeriksa Kaisar, biarkan dia gagal, dan biarkan para menteri melihat bahwa Kaisar memang sudah dijemput ajal. Setelah itu, tidak akan ada lagi alasan
"Beliau itu Permaisuri, Li Lian! Dia masih memiliki kedudukan dan dihormati oleh klan besar!" Wu Chen berhenti tepat di depan Li Lian, menunduk untuk menatap wajah wanita itu dengan sorot menghina yang terselubung. "Bagaimana denganmu nanti? Hanya selir! Kau hanya akan menjadi pajangan pemuas nafsu yang nasibnya ditentukan oleh lirikkan mata Ibu Suri!"Li Lian merasakan rahangnya mengeras. Ia memalingkan wajah, menatap ke arah pintu paviliun yang terbuka lebar. Kalimat Wu Chen bukan hanya penghinaan terhadap nasibnya, tapi pengingat betapa rendahnya posisi wanita di mata pria seperti dia—bahkan di saat seperti ini, yang ia pikirkan hanyalah derajat dan status, bukan keselamatan jiwa Li Lian.Kejengkelan Li Lian memuncak. Ia tidak ingin lagi mendengar suara Wu Chen yang seolah-olah peduli padahal hanya meratapi harga dirinya yang terluka karena "miliknya" direbut oleh penguasa yang lebih tinggi.Tiba-tiba saja, kemarahan yang tadinya berkilat di mata Li Lian meredup secara perlahan,
Sakit parah? Wu Chen terpaku. Kabar itu menghantamny. Ia menatap Ibu Suri dengan ngeri yang tak tertutupi. Kemarin malam ia masih mendengar kabar Kaisar sehat, dan tiba-tiba sekarang jatuh sakit saat rencana ini digulirkan?Li Lian melirik ke arah Wu Chen dan melihat ketakutan yang nyata di mata pria itu. Li Lian berpikir, apakah WU Chen baru menyadari bahwasannya Ibu Suri benar-benar kejam. Wanita ini tega melakukan apa saja—bahkan mungkin mencelakai putranya sendiri demi memastikan cucunya, Zhan Feng, naik takhta lebih cepat dengan kekuasaan absolut di bawah kendalinya."Pikirkan baik-baik, Li Lian," ucap Ibu Suri kembali menatapnya. "Besok pagi, dekret itu akan dibacakan secara resmi. Kau akan masuk ke istana batin sebagai selir, dan Zhao Xinyi akan menuju kediaman Jenderal. Ini adalah tatanan baru yang harus kau terima, Li Lian."Suara Ibu Suri mengalun datar, namun setiap katanya terasa seperti paku yang mengunci peti mati bagi kebebasan Li Lian."Ibu Suri, hamba mohon... per
Keheningan di Paviliun Teratai terasa begitu berat, seolah udara di sana telah membeku. Li Lian masih bersujud, merasakan dinginnya lantai marmer merambat ke ujung jemarinya. Di hadapannya, Ibu Suri menyesap teh dengan ketenangan yang membuat semua orang merinding ketakutan, sementara Permaisuri Xiao—ibu dari Pangeran Zhan Feng—memperhatikan Li Lian dengan tatapan yang sulit diartikan— antara kasihan dan perhitungan dingin."Bangunlah, Li Lian," suara Ibu Suri memecah kesunyian. Tidak ada amarah yang meledak, namun otoritasnya terasa seperti beban ribuan ton.Li Lian bangkit perlahan, menjaga punggungnya tetap tegak meski jantungnya berdegup kencang. Ia melirik sekilas ke arah Wu Chen yang berdiri di sampingnya. Mantan suaminya itu tampak tegang. Wu Chen, sang Perdana Menteri yang tiba-tiba "baik" dengan memberikan suaka di paviliunnya, kini tampak seperti harimau yang tertangkap basah menyembunyikan mangsa."Kami telah mengamati situasimu," Ibu Suri memulai, suaranya mengalun renda
Langkah kaki Zhao Xinyi yang menghentak keras akhirnya menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Aroma parfumnya yang menyengat perlahan pudar, menyisakan bau tanah fajar yang masuk melalui jendela.Li Lian tetap berdiri di posisi yang sama. Tubuhnya yang tadi tegak perlahan sedikit lunglai, bukan karena takut, tapi karena energi yang ia gunakan untuk melawan sang Putri baru saja terkuras habis. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih berpacu.‘Kenapa Putri Agung selalu saja menargetkanku? Kalau begini, lebih baik memang aku sekalian berada di dekatnya’Empat pengawal wanita itu masih di sana. Tetap mematung. Kehadiran mereka seolah menjadi pengingat bahwa kemenangan batinnya atas Xinyi hanyalah kemenangan kecil di dalam penjara yang besar.Li Lian melangkah kembali ke meja riasnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia mengambil botol kecil berisi minyak esensial melati. Ia mengusapkannya sedikit ke pergelangan tangannya, lalu mengh







