Share

103 - Kritis

Author: vrimerose
last update publish date: 2026-03-21 21:56:45

Ratu berdiri dengan tubuh gemetar melihat Mahardika terbaring tak berdaya. Lelaki itu sudah dibawa ke paviliun Ratu untuk diberi penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Mega yang punggungnya terluka, sudah sadarkan diri dan diobati di kediamannya. Ia masih lemas, tetapi baginya rasa sakit di punggungnya tak seberapa daripada rasa sakit karena ia telah membuat Mahardika celaka.

Di depan kamarnya, para petugas dari kantor peradilan sudah menunggu Mega. Perempuan itu akan ditahan karena telah menc
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   157 - TAMAT

    Pagi-pagi sekali, Yudhistira sudah menyapa Bramantya dengan mengajak sang mantan raja itu sarapan bersama.“Pemandangan di sini sungguh indah. Sepagi ini, bisa melihat matahari terbit dari kediaman jenderal,” puji Bramantya sambil memandang matahari yang mulai menampakkan diri.“Terima kasih, Pangeran. Maafkan saya jika semalam belum menemui Pangeran. Jika boleh saya tahu … apa Pangeran hendak tinggal di Jayastamba? Atau sekadar berkunjung ke negeri kami ini?” Yudhistira bertanya sopan.Berita tentang Bramantya yang menyerahkan takhta pada Arya sudah menyebar sampai ke Jayastamba. Para nelayan atau pun pedagang sudah sering membicarakannya. Ada yang mengasihani Bramantya, tetapi ada juga yang berharap kepemimpinan Arya bisa lebih baik.Bramantya menghela napas berat. Setelah keluar istana, dirinya benar-benar menikmati hidup sebagai rakyat biasa, melakukan banyak hal yang dulu tidak pernah bisa dilakukannya.“Sebenarnya … maksud saya ke Jayastamba adalah mencari seseorang … saya dengar

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   156 - Kabar dari Amartapura

    Tok! Tok!Suara ketukan pintu membangunkan Nirmala. Untuk sesaat, ia merasa linglung. “Bukankah tadi aku sedang bicara dengan Pangeran Bramantya di kamar ini?” tanyanya dalam hati. Kepalanya terasa pusing.Ketukan itu kembali terdengar. “Nirmala … ini aku,” ucap suara dari luar.Mendengar suara Yudhistira, Nirmala menjadi lega. Ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi. Tidak mungkin Bramantya berani ke kamar Nirmala. Di depan kamar itu selalu ada penjaga yang diperintahkan Yudhistira untuk menjaga Nirmala.“Kamu sudah pulang? Bukankah kamu akan menginap di istana?” tanya Nirmala setelah membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di hadapannya.“Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.” Yudhistira masuk dan segera mengunci pintu. “Maaf jadi membangunkanmu.”Nirmala menggeleng pelan. “Aku belum lama tidur. Ada Pangeran Bramantya di kamar tamu. Apa pelayan sudah memberitahumu? Maaf karena aku tidak meminta izin terlebih dahulu padamu.”“Tidak apa-apa, Nirmala. Saat aku ke Amartapura, mema

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   155 - Rindu Terlarang

    Nirmala ingin mundur dan berbalik agar tidak menemui dua orang yang tak asing baginya. Namun, pelayan yang berjalan di depannya, langsung membuka suara sehingga kedua orang itu menyadari keberadaan Nirmala yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.“Tenang, Nirmala, mereka tidak akna mengenalimu,” ucap Nirmala dalam hati. Ia melangkah mendekati dua tamu itu.“Maaf mengganggu Nyonya Yudhistira sore hari begini,” ucap salah satu lelaki yang memakai baju biru muda. Pembawaan lelaki itu tetap tidak menghilangkan statusnya yang pernah menjadi raja Amartapura.Nirmala menatap lelaki itu, Bramantya yang juga menatapnya lekat. “Tidak apa-apa, Tuan. Maaf kalau Jenderal sedang tidak ada di sini. Kemungkinan nanti malam baru pulang,” ucap Nirmala sedikit canggung.Bramantya mengangguk, matanya tidak lepas dari kedua mata Nirmala. Seolah-olah ingin mencari tanda yang meyakinkannya kalau wanita di hadapannya adalah Nirmala, wanita yang dicarinya.“Kalau tidak keberatan, kami bermaksud untuk menumpan

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   154 - Tamu

    Bab 154-“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Arya begitu Paramitha berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat rapi dan masih cantik seperti trakhir kali Arya melihatnya.“Hamba datang untuk memberi penghormatan kepada Yang Mulia Raja Arya,” ucap Paramitha sembari membungkukkan badannya.Mata Arya menyipit, mencoba menebak apa yang diinginkan perempuan itu. Tidak mungkin Paramitha datang begitu saja hanay untuk memberi salam kepadanya. Apa perempuan itu tidak takut dengan kemarahan Arya?Meskipun Arya sudah menerima Nirmala dan mencintainya, tetap saja ia masih tak terima kalau mengingat Paramitha kabur di hari pernikahan mereka.“Apa yang kamu inginkan setelah dulu kabur karena tidak ingin menikah denganku, Nona Paramitha?” tanya Arya dengan wajah tanpa senyuman. Sorot matanya tajam penuh intimidasi.Perlahan, Paramitha menegakkan badannya, senyum tipis terukir di wajahnya yang cantik, walau ada sedikit gurat kecemasan di kedua matanya. Ia tahu betul pertanyaan itu pasti akan

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   153 - Paramitha?

    Tiga bulan telah berlalu setelah penobatan Arya menjadi Raja. Sempat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para pendukung Bramantya, tetapi bisa Arya hadapi dan menangkap pelakunya.Fraksi kanan sudah menyatakan diri bergabung dengan Arya, hal itu membuat kepemimpinan Arya semakin kuat.“Yang Mulia, petisi yang meminta Anda mundur sudha berkurang. Rakyat sudah mulai menerima Yang Mulia dna merasakan perubahan ke arah yang lebih baik,” ucap Prama yang sedang menemani Arya membaca laporan.Tiga bulan ini, Arya melakukan perombakan di dalam jajaran pemerintahan. Beberapa menteri fraksi kanan yang terbukti bersih tetap ia pertahankan untuk menjaga keseimbangan, sementara posisi-posisi penting lainnya kini diisi oleh orang-orang kepercayaannya dari fraksi kiri dan para petinggi aliansi gunung.Di bawah kepemimpinannya yang tegas dan tanpa kompromi, Amartapura yang semula goyah pasca-kudeta perlahan mulai stabil. Rakyat yang awalnya cemas kini bisa bernapas lega karena roda ekonomi dan k

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   152 - Penobatan

    Penobatan Arya sebagai raja baru di Amartapura, harus dihiasi duka karena kematian Ibu Suri. Tadi pagi, saat pelayan hendak membangunkan Ibu Suri, wanita itu sudah tergeletak tak bernyawa di pembaringan.Bramantya tak menyangka kalau sang ibu lebih memilih mengakhiri hidup daripada menyerahkan diri. Ia merasa telah gagal menjadi raja dan juga gagal menjadi anak. Hidupnya kini berubah dalam semalam.“Acara penobatan akan dilakukan setelah pemakaman Ibu Suri,” ucap Arya. Ia memakai baju berkabung yang sama seperti Bramantya. Kini, hanya tersisa mereka berdua pewaris kerajaan ini. Perlahan, istana semakin sunyi karena penghuninya pergi satu per satu.“Terima kasih karena kamu mau mendahulukan pemakaman ibuku,” sahut Bramantya. Meski berusaha tegar, matanya terlihat berkaca-kaca.Tak ada anak yang baik-baik saja ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia bisa membayangkan bagaimana dulu Arya kecil harus menangis sendirian saat tahu ibunya meninggal. Tanpa pernah melihat jasadnya.Meski tak dibena

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 78 - Taruhan

    Di pemukiman, Nirmala masih menunggu Arya. Luka di punggungnya sudah sembuh, ia ingin segera kembali ke istana agar bisa selalu bersama Arya. Seperti janjinya saat nyawanya terancam di lautan, ia akan bersikap baik pada lelaki itu jika kembali ke istana.Tanpa Nirmala ketahui, di istana, tepatnya d

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 77 - Pengakuan

    Pagi-pagi, Arya sudah berada di kediaman Anindiya untuk melihat kondisi perempuan itu. Semalam hujan, sehingga Arya tidak jadi menyusul Nirmala. “Pangeran belum menjemput Putri Nirmala?” tanya Anindiya begitu melihat Arya datang. Dirinya sedang menikmati udara pagi di gazebo.Beberapa dayang berdi

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 72 - Gangguan

    Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! T

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   71 - Pertemuan (2)

    “Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status