Share

Bab 6 Gelanng Kaki

Author: vrimerose
last update Last Updated: 2026-01-21 07:07:06

Di sebuah kedai minuman, Arya duduk sambil memegang gelas di tangan. Tak peduli meski hari masih pagi dan perutnya masih kosong, ia meminum air di gelasnya hingga tandas.

“Selama ini aku selalu bisa menjaga diri dari hasrat seperti itu, kenapa semalam aku melakukannya?” gumam Arya. Ia masih tak percaya bisa melakukan hubungan suami istri dengan Nirmala, wanita yang baru dikenalnya.

Prama, lelaki muda yang duduk di hadapan Arya, menggeleng. “Artinya Pangeran adalah lelaki normal. Apalagi di usia seperti kita sekarang, hasrat itu sangat tinggi. Wajar bila Pangeran melakukannya dengan wanita yang sudah menjadi istri. Kenapa harus disesali?”

Arya mendengkus. “Bukankah seluruh negeri tahu kalau Nirmala bukanlah pengantin yang aku inginkan? Saat pernikahan, aku berjanji tidak akan menyentuhnya. Hanya ingin bermain-main dengan wanita itu. Sialnya, jebakan Pangeran Kedua kemarin membuatku lengah.” Wajah Arya seperti ada penyesalan.

Ia tidak mencintai Nirmala, tentu saja itu salah satu alasannya kenapa ia menyesal. Kedua, meski ia selalu mabuk, sebisa mungkin menjaga diri dari berbuat hal mesum. Baginya, perbuatan itu terlalu menjijikan.

“Walau begitu, Pangeran menikmatinya, ‘kan?” Prama berbisik. “Kalau hamba boleh tahu, berapa kali?”

“Dua kali,” jawab Arya tak sadar. Ia langsung menatap tajam Prama karena menjebaknya dengan pertanyaan konyol.

Prama ingin tertawa lebar. “Menyesal tapi sampai dua kali. Dasar lelaki!” gumamnya dalam hati. Ingin  berteriak seperti itu, tetapi ia masih sayang dengan nyawanya.

Tangan kanan Arya mengambil botol baru yang masih terisi minuman, dengan mulutnya ia membuka tutup botol dan meminumnya langsung. Ia merasa benar-benar sudah gila karena melakukan hal itu dengan Nirmala.

Mungkin, kalau wanita itu adalah Paramitha, ia tidak keberatan. Namun, Nirmala? Ah, wanita itu bukanlah idamannya sama sekali.

“Jangan minum lagi, Pangeran,” kata Prama, “lebih baik segera pulang ke istana. Kasihan istri Pangeran, pasti menunggu dengan khawatir.”

Arya tersenyum kecut. “Istri? Wanita itu membuat tidurku tidak nyenyak. Ia sangat berisik.”

“Lebih baik berisik daripada kesepian di istana,” tutur Prama. Lelaki seumuran Arya itu sudah lama berteman dengan sang pangeran, jadi tahu bagaimana kehidupan Arya di istana. “Dengan begitu, Pangeran tak sendirian, ada teman untuk bicara dan bercerita.”

“Selama ini pun aku tidak kesepian di istana. Ada Bibi Lastri,” sangkal Arya. 

“Tetapi Bibi Lastri tidak bisa tidur satu kamar dengan Pangeran ‘kan? Atau jangan-jangan selama ini Pangeran menaruh hati pada wanita tua itu?”

Pletak!

Botol minuman yang dipegang Arya mengenai kepala Prama. Tidak terlalu kencang, tetapi menimbulkan bunyi nyaring. Prama mengaduh sambil mengusap kepalanya.

“Aku yang minum, kenapa kamu yang mabuk?” tanya Arya menyindir. “Jangan membicarakan tentang Nirmala lagi. Aku kemari untuk menghindarinya. Jangan sampai aku menutup mulutmu dengan batu karena terus membahas wanita itu.”

Prama tak menggubris. Ia tetap menggoda Arya dengan statusnya yang kini bukan lagi perjaka. Untung saja kedai sedang sepi, sehingga tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.

“Menurut hamba, Nirmala tidak kalah cantik dari Paramitha. Benar ‘kan?” Prama menoleh, menunggu persetujuan Arya.

“Sepertinya penglihatanmu mulai terganggu, tidak bisa melihat wanita cantik dan tidak,” ucap Arya datar. Ia menyesap air lagi. Kesadarannya masih terjaga. Ia tidak akan mabuk hanya dengan  minum satu atau dua botol saja.

“Di mata hamba, wanita itu ada dua, Pangeran, yaitu wanita yang cantik, dan … sangat cantik.” Prama terkekeh. Arya tak lagi menanggapi.

Tak lama kemudian, Prama pamit dan meninggalkan Arya. Di siang hari, para lelaki biasanya sibuk bekerja atau berdagang.

Meski berada di kota, kedai itu terletak di dalam gang. Arya sering datang ke sini karena selain bisa minum-minum, ia juga bisa mendapat informasi apa pun dari para pengunjung. Malam hari, banyak pejabat atau prajurit yang mencari hiburan di sini.

Arya mengeluarkan sebuah gelang kaki dari kantong bajunya. Gelang perunggu dengan bandul kecil berbentuk bunga mengelilingi sisinya. Ia menggoyangkan tangannya, bandul-bandul kecil itu menimbulkan bunyi nyaring.

“Paramitha … kamu di mana?” lirihnya. 

Jika ada yang bertanya kenapa ia ingin menikah dengan Paramitha, maka jawabannya adalah gelang kaki ini. Setahun lalu, saat dirinya pingsan dan terluka di hutan, seseorang menyelamatkanya. Ia tak tahu siapa, dan menemukan gelang kaki itu di samping tempatnya pingsan.

Setelah beberapa lama, ia akhirnya tahu kalau gelang kaki itu milik Paramitha. Sejak itulah Arya ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya.

***

Hari sudah siang, tetapi Arya belum juga pulang. Nirmala bingung harus melakukan apa. Ramuan yang tadi diberikan Bibi Lastri sudah ia buang. Saat Nirmala akan meminumnya, rasanya sangat pahit sehingga ia memuntahkan lagi. 

Nirmala membuka kotak kayu kecil yang dibawanya dari dumah di hari pernikahan. Ada banyak benda-benda kesayangannya. Hiasan rambut, pena, belati, dan sebuah gelang kaki.

Nirmala mengambil gelang itu, gelang yang kini tinggal satu, padahal harusnya sepasang.

Ia dan Paramitha memiliki gelang yang sama, hanya berbeda bandulnya saja. Kalau milik kakaknya memiliki bandul berbentuk bulat, milik Nirmala bandulnya bentuk bunga.

“Aku belum menemukan pasanganmu, jadi belum bisa memakaimu lagi,” gumamnya menatap benda itu. Ia tidak tahu sebelah gelang lagi hilang di mana.

Setahun lalu, saat membersihkan diri di rumah, ia baru sadar kalau gelang kakinya hilang sebelah. Entah jatuh di hutan atau di jalan, Nirmala tak menyadarinya.

"Mungkin memang sudah takdirnya hilang," desahnya seraya menyimpan kembali gelang itu ke dalam kotak kayu.

-

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 75 - Tak Sama

    Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 74 - Hukuman

    “Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 73 - Tunggu Aku

    Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 72 - Gangguan

    Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   71 - Pertemuan (2)

    “Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   70 - Pertemuan

    Sudah tiga hari Arya tinggal sementara di kedai hiburan untuk mencari Nirmala. Belum ada jejak ke mana perginya perempuan itu. Petugas istana pun mengabarkan kalau Nirmala belum kembali.Arya mulai menduga kalau Nirmala sengaja kabur dari istana. Namun, bukan berarti ia melarikan diri dari hukuman, dari awal Arya yakin kalau Nirmala tidak bersalah. Kemungkinan yang masuk akal adalah, Nirmala kabur dari istana untuk hidup bebas dan pergi sebelum perjanjian seratus hari selesai. Jika itu yang terjadi, Arya tidak akan mengampuni Nirmala dan akan mencarinya sampai ketemu.“Pangeran, lebih baik Anda kembali ke istana. Biar petugas yang mencari di sini,” ucap Prama yang dua hari lalu menemui Arya.Dari Prama pula, Arya tahu bagaimana Anila berusaha mengabari Putra Mahkota untuk meminta bantuan. Arya menyesal, andai saja ia tidak ikut mengantar rombongan Jayastamba, mungkin Nirmala masih ada di istana.“Saya benar-benar tidak tahu kalau Putri Nirmala yang dimaksud Anila adalah istri Pangera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status