Share

Bab 5 Wanita Lain

Penulis: vrimerose
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:27:38

Nirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.

Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.

“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.

Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.

“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.

Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. 

Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan. Kejadian semalam dengan Nirmala adalah pertama kali untuknya.

Entah Arya harus bersyukur atau menghukum orang yang telah memberinya obat perangsang. Ia pernah beberapa kali mengalaminya, tetapi ia selalu bisa mengendalikan diri. Memilih berendam di air dingin atau berolahraga untuk menghilangkan efek obat itu.

Dalam kepalanya, sudah ada satu nama yang pasti menjadi pelakunya.

***

Tawa kencang terdengar menggema saat Pangeran Mahardika mendapat laporan dari salah satu pengawalnya bahwa semalam Pangeran Arya dan Putri Nirmala tidak keluar kamar.

Akhirnya, jebakannya berhasil. Mahardika tertawa puas. “Pertahananmu runtuh juga, Pangeran Arya,” gumamnya.

Selama ini, Mahardika selalu mencari celah kelemahan sang adik. Arya sangat sulit ditebak. Tahta dan harta tidak bisa membuatnya bertekuk lutut. Sehingga Mahardika beberapa kali menguji Arya dengan menghadirkan wanita penggoda.

Arya sama sekali tidak tertarik. Wanita-wanita yang datang padanya selalu ia abaikan. Beberapa ada yang pulang sambil menangis karena Arya memarahi wanita itu dengan kata-kata pedas.

“Nirmala … wanita itu memang berbeda.” Mahardika tersenyum miring. Putri Mega yang mendengar pujian sang suami pada wanita lain, langsung berwajah masam. Ia semakin tidak suka pada istri pengganti Pangeran Arya itu.

“Jangan menyebut nama wanita itu lagi di hadapanku, Pangeran. Aku cemburu,” sela Putri Mega dengan nada tajam sembari mengibaskan kipasnya dengan kasar. “Tidak ada yang istimewa dari wanita rendahan itu.”

Mahardika melirik istrinya, tawanya mereda berganti dengan tatapan licik. “Jangan cemburu, Mega. Justru ini menguntungkan kita. Jika Arya mulai terikat dengan Nirmala, kita punya alat untuk menghancurkan kewarasannya.”

Dari dulu, Mahardika tidak menyukai Pangeran Arya. Menurutnya, kalau bukan karena belas kasihan raja, Arya pasti sudah mati seperti ibunya. Mahardika dan Bramantya dilahirkan oleh Ratu Nareswati, sedangkan Arya lahir dari selir Indhira yang dianggap rendahan.

"Kita hanya perlu menunggu," sambung Mahardika sembari menyesap tehnya yang telah dingin. "Jika benar Arya telah menyentuhnya, apakah selanjutnya ia akan mengabaikan Nirmala atau justru memberi perhatian pada wanita itu. Yang pasti, permaisuri tidak akan membiarkan Nirmala mengandung keturunan Arya sebelum Putra mahkota atau aku memiliki anak."

Mendengar tentang anak, wajah Mega semakin muram. Dua tahun menikah, dirinya belum juga hamil. Itu membuat perhatian Mahardika sedikit berkurang padanya. Sudah banyak tabibi yang memeriksa dan memberi obat, tetapi belum berhasil.

Pangeran pertama dan pangeran kedua sama-sama belum memiliki anak, tentu membuat istana khawatir menantikan penerus kerajaan selanjutnya. Apabila Nirmala lebih dulu hamil, tentu saja akan banyak ketegangan di kerajaan.

***

Langit sudah terang saat Bibi Lastri mengantarkan sup pada Nirmala. Suasana kamar juga sudah rapi seperti semula. Nirmala sudah membersihkan diri dan tampak lebih segar. Ada setitik bahagia dalam hatinya. Sementara Pangeran Arya pergi setelah lelaki itu membersihkan diri.

“Ini sup untuk menghangatkan badan,” kata Bibi Lastri menyodorkan mangkuk berisi sup yang terlihat enak.

“Apa Bibi tahu ke mana Pangeran pergi?” tanya Nirmala sambil mengambil sup dengan sendok di tangannya.

“Biasanya Pangeran Arya pergi ke kedai yang ada di kota.” Bibi Lastri menghela napas. “Jangan heran kalau besok atau lusa akan ada yang datang dan melaporkan kalau Pangeran Arya membuat masalah. Selalu begitu. Anak itu seperti bocah saja.”

Kedua alis Nirmala berkerut. “Masalah apa?”

“Kalau Pangeran ke kota, selalu membuat keributan, kadang mabuk, mengambil dagangan, menghajar orang. Tergantung suasana hati sang pangeran.” Wanita paruh baya itu berkata sambil menggeleng. 

Pantas saja nama Pangeran Arya terkenal dengan sebutan Pangeran kejam. Lelaki itu memang senang membuat onar.

“Dulu … Pangeran Arya adalah pangeran yang paling manis dan baik hati,” tutur Bibi Lastri sambil memandang jauh. Ingatannya jatuh pada saat Arya dan kedua pangeran masih kecil. Ketiganya adalah anak-anak kesayangan raja. Tidak ada yang dibedakan.

“Apa … Pangeran Arya berubah setelah ibunya meninggal?” tanya Nirmala hati-hati. Meski sikapnya kejam, ia bisa melihat rasa kesepian di mata lelaki itu. 

Bibi Lastri terdiam. Terlalu banyak cerita di dalam istana ini. Ia menjadi saksi bagaimana Arya kecil tumbuh dan mengasingkan diri setelah Ibunya pergi.

Wanita itu mengangguk dan berkata, “Pangeran Arya sempat bangkit dan kembali ceria. Namun saat Putri Anindiya menikah dengan putra mahkota, Pangeran Arya semakin menutup diri dan berbuat sesuka hati.”

“Putri Anindiya? Apakah Pangeran Arya menyukainya?”

“Puri Anindiya adalah satu-satunya orang yang selalu menghibur Pangeran Arya setelah kematian Selir Indhira. Ia sangat marah pada raja dan juga putra mahkota. Itulah awal ketegangan di keluarga kerajaan.”

Nirmala tertegun. Pantas saja kemarin tatapan Arya pada Anindiya sedikit berbeda. Ternyata wanita itu adalah orang yang dicintai Arya.

Ia meletakkan sendok perlahan, selera makannya mendadak menguap begitu saja. Rasa hangat dari sup itu tak lagi mampu mengusir hawa dingin yang kini merayapi hatinya. Nirmala merasa keberadaannya tak lebih dari seorang figuran.

Kedatangannya ke istana karena menggantikan Paramita. Menjadi istri dari lelaki yang tak pernah ia bayangkan. Nirmala kira perlahan mereka akan bisa membuka hati meski hanya seratus hari dan posisinya akan tergantikan oleh Paramitha.

Ternyata, ada wanita lain yang lebih dulu tertulis di hati sang pangeran. Nirmala tersenyum miris. Menertawai nasibnya yang tak selalu diabaikan. Oleh keluarganya sendiri, dan kini oleh suaminya.

Ia jadi menyesali kejadian semalam.

Bibi Lastri mengusap tangan Nirmala. “Jangan berkecil hati, cobalah untuk meluluhkan hati Pangeran Arya. Kamu gadis yang baik, Nirmala, tak peduli apa yang terjadis eratus hari ke depan, untuk sekarang, kamulah yang memiliki Pangeran Arya. Meski tampak kejam dan dingin, dalam hatinya penuh kerapuhan.”

Nirmala tak menyahut. Ia hanya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diri sendiri.

“Ini … ramuan yang diminta Pangeran Arya.” bibi Lastri sedikit ragu menyodorkan mangkuk kayu pada Nirmala.

“Apa ini?”

“Ramuan pencegah kehamilan, Pangeran Arya ta—”

Nirmala tertawa hambar. Benar saja, tidak mungkin Pangeran Arya mau memiliki anak dari wanita sepertinya.

-

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 75 - Tak Sama

    Tepat setelah cambukan ke-20, Wistara tak sadarkan diri. Alih-alih iba, Arya yang melihatnya justru semakin murka. Ia membayangkan saat Nirmala duduk di kursi pesakitan dan menerima cambukan. Apa yang diterima Wistara belum seberapa dibanding dengan penderitaan yang dialami Nirmala.“Bawa ia ke ruang tahanan!” seru Arya. “Obati lukanya. Pastikan ia hidup untuk menerima cambukan besok. Setiap hari, beri 20 kali cambukan, hingga genap seribu sampai hari ke-50.”Kepala Tahanan yang mendengarnya langsung menerima perintah dengan sikap tegap. “Kami akan melakukan perintah Anda, Pangeran.”Arya kemudian melangkah menuju ruangannya. Ia menatap ruangan berisi sebuah meja di depan dan beberapa meja yang dibuat melingkar. Kalau bukan karena Nirmala, mungkin Arya tidak pernah terpikirkan untuk masuk ke ruangan peradilan ini. Beberapa bukti kematian ibunya sudah ia dapatkan dari orang-orang di pemukiman pegunungan. Mereka mencari informasi dari mulut ke mulut. Namun, Arya tahu bukti sesungguhnya

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 74 - Hukuman

    “Setelah melakukan penyelidikan kembali terhadap kejadian Putri Nirmala, maka Yang Mulia Raja memutuskan bahwa itu bukanlah kejahatan ….” Sekretaris Kerajaan membacakan keputusan Raja di hadapan para menteri. Ketiga pangeran berdiri sejajar paling depan. Ini adalah rapat pertama bagi Arya. Tadi, sebelum matahari terbit, dirinya baru sampai ke istana bersama utusan Putra Mahkota.Suasana hening menyelimuti aula besar itu. Semua orang menunggu pengumuman selanjutnya. Kalau Putri Nirmala tidak bersalah, maka pihak yang melaporkan dan memberi hukuman semena-mena harus diberi sanksi.Wajah Wistara sudah pucat. Ia hanya bisa menunduk menerima tatapan tajam dari sang raja. Para menteri juga melirik ke arahnya, ia benar-benar tidak punya wajah saat ini. Fraksi kanan benar-benar telah membuangnya.“... dan membebaskan Putri Nirmala dari segala tuduhan. Adapun kepada Pejabat Wistara yang telah membuat tuduhan palsu, akan dihukum dengan hukuman cambuk seratus kali dan diturunkan jabatannya dari

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 73 - Tunggu Aku

    Nirmala terbangun saat hari semakin gelap. Di ruangan itu hanya ada sebuah lentera kecil yang menyinari. Cahaya redupnya tak mampu menerangi seluruh ruangan. Pemandangan yang biasa ia temui saat masih di rumahnya.“Kamu sudah bangun?” Suara Arya membuat Nirmala menengok ke arah kursi. Di sana, Arya sedang duduk ditemani secangkir teh.Nirmala merasa punggungnya sedikit berat, ada selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya. Ia merapikan baju belakangnya di balik selimut sebelum mengangkat kepala dan duduk di pinggir ranjang.Meski tidak sebesar tempat tidur di istana, ranjang itu cukup untuk dua orang dengan posisi yang saling rapat. Gerakan perempuan itu tak luput dari perhatian Arya. Dengan rambut sedikit berantakan dan wajah polos tanpa riasan, Nirmala membuat gairah sang pangeran perlahan bangkit.“Sepertinya aku tidur sangat lama, sampai tidak sadar kalau Daya sudah pergi.” Nirmala coba mencairkan kecanggungan di ruangan itu.Sejak bertemu lagi dengan Arya, Nirmala merasa dadanya jad

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   Bab 72 - Gangguan

    Wangi tubuh Nirmala yang beberapa hari ini Arya rindukan, menyelusup ke dalam indra penciumannya. Memberi ketenangan dan juga gairah yang tak mungkin dihentikan. Mereka masih memakai pakaian lengkap karena Arya tak ingin buru-buru. Ia memiliki banyak waktu untuk menyentuh istrinya itu. Tok! Tok! Tok!Suara ketukan pintu seketika membuat sepasang manusia itu terdiam. Mereka lupa kalau mereka bukan di kediaman Arya yang bisa bebas tanpa gangguan. Di pemukiman kecil ini, orang-orang terbiasa berkunjung ke rumah satu sama lain.“Pangeran, sudah waktunya mengobati luka Nona Nirmala.” Suara Daya di luar pintu.Tiba-tiba, Arya langsung mendorong tubuh Nirmala hingga terjatuh dari ranjang. Ia mengabaikan suara rintihan kecil perempuan itu. Arya melangkah menuju pintu.“Apa harus sekarang?” tanya Arya dingin begitu membuka pintu dan melihat Daya berdiri di hadapannya dengan membawa obat-obatan.“Kenapa? Apa aku mengganggumu? Meskipun kalian suami istri, bukankah masih terlalu siang untuk sali

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   71 - Pertemuan (2)

    “Bagaimana Pangeran bisa ada di sini?” Nirmala masih tak percaya kalau lelaki di hadapannya adalah Arya. “Bukankah Seharusnya Pangeran ke Jayastamba?”“Kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu denganku?” Arya menatap Nirmala datar. Harusnya ia langsung memeluk perempuan di hadapannya itu, bersyukur karena akhirnya bisa menemukan Nirmala.“Bu-bukan begitu, Pangeran.” Nirmala merasa serba salah. Ia hanya tak menyangka akan bertemu Arya di sini, di atas gunung. “Apakah … penduduk di pemukiman ini adalah orang-orang Pangeran?Nirmala teringat ucapan Daya yang mengatakan kalau pemimpin di sini adalah seseorang dari istana. Sepertinya itu adalah Arya. Mengabaikan pertanyaan Nirmala, Arya menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke sebuah bangunan kayu yang berada di paling ujung. Saat masuk, Nirmala melihat ada ranjang dan kursi. Tempat itu juga lebih besar dari rumah Daya.“Ini tempat tinggalku di sini. Kamu bisa menggunakannya … hanya untuk sementara, karena setelah lukamu sembuh, kita h

  • 100 Hari Menjadi Istri Pengganti   70 - Pertemuan

    Sudah tiga hari Arya tinggal sementara di kedai hiburan untuk mencari Nirmala. Belum ada jejak ke mana perginya perempuan itu. Petugas istana pun mengabarkan kalau Nirmala belum kembali.Arya mulai menduga kalau Nirmala sengaja kabur dari istana. Namun, bukan berarti ia melarikan diri dari hukuman, dari awal Arya yakin kalau Nirmala tidak bersalah. Kemungkinan yang masuk akal adalah, Nirmala kabur dari istana untuk hidup bebas dan pergi sebelum perjanjian seratus hari selesai. Jika itu yang terjadi, Arya tidak akan mengampuni Nirmala dan akan mencarinya sampai ketemu.“Pangeran, lebih baik Anda kembali ke istana. Biar petugas yang mencari di sini,” ucap Prama yang dua hari lalu menemui Arya.Dari Prama pula, Arya tahu bagaimana Anila berusaha mengabari Putra Mahkota untuk meminta bantuan. Arya menyesal, andai saja ia tidak ikut mengantar rombongan Jayastamba, mungkin Nirmala masih ada di istana.“Saya benar-benar tidak tahu kalau Putri Nirmala yang dimaksud Anila adalah istri Pangera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status