LOGINNirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.
Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.
“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.
Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.
“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.
Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran.
Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan. Kejadian semalam dengan Nirmala adalah pertama kali untuknya.
Entah Arya harus bersyukur atau menghukum orang yang telah memberinya obat perangsang. Ia pernah beberapa kali mengalaminya, tetapi ia selalu bisa mengendalikan diri. Memilih berendam di air dingin atau berolahraga untuk menghilangkan efek obat itu.
Dalam kepalanya, sudah ada satu nama yang pasti menjadi pelakunya.
***
Tawa kencang terdengar menggema saat Pangeran Mahardika mendapat laporan dari salah satu pengawalnya bahwa semalam Pangeran Arya dan Putri Nirmala tidak keluar kamar.
Akhirnya, jebakannya berhasil. Mahardika tertawa puas. “Pertahananmu runtuh juga, Pangeran Arya,” gumamnya.
Selama ini, Mahardika selalu mencari celah kelemahan sang adik. Arya sangat sulit ditebak. Tahta dan harta tidak bisa membuatnya bertekuk lutut. Sehingga Mahardika beberapa kali menguji Arya dengan menghadirkan wanita penggoda.
Arya sama sekali tidak tertarik. Wanita-wanita yang datang padanya selalu ia abaikan. Beberapa ada yang pulang sambil menangis karena Arya memarahi wanita itu dengan kata-kata pedas.
“Nirmala … wanita itu memang berbeda.” Mahardika tersenyum miring. Putri Mega yang mendengar pujian sang suami pada wanita lain, langsung berwajah masam. Ia semakin tidak suka pada istri pengganti Pangeran Arya itu.
“Jangan menyebut nama wanita itu lagi di hadapanku, Pangeran. Aku cemburu,” sela Putri Mega dengan nada tajam sembari mengibaskan kipasnya dengan kasar. “Tidak ada yang istimewa dari wanita rendahan itu.”
Mahardika melirik istrinya, tawanya mereda berganti dengan tatapan licik. “Jangan cemburu, Mega. Justru ini menguntungkan kita. Jika Arya mulai terikat dengan Nirmala, kita punya alat untuk menghancurkan kewarasannya.”
Dari dulu, Mahardika tidak menyukai Pangeran Arya. Menurutnya, kalau bukan karena belas kasihan raja, Arya pasti sudah mati seperti ibunya. Mahardika dan Bramantya dilahirkan oleh Ratu Nareswati, sedangkan Arya lahir dari selir Indhira yang dianggap rendahan.
"Kita hanya perlu menunggu," sambung Mahardika sembari menyesap tehnya yang telah dingin. "Jika benar Arya telah menyentuhnya, apakah selanjutnya ia akan mengabaikan Nirmala atau justru memberi perhatian pada wanita itu. Yang pasti, permaisuri tidak akan membiarkan Nirmala mengandung keturunan Arya sebelum Putra mahkota atau aku memiliki anak."
Mendengar tentang anak, wajah Mega semakin muram. Dua tahun menikah, dirinya belum juga hamil. Itu membuat perhatian Mahardika sedikit berkurang padanya. Sudah banyak tabibi yang memeriksa dan memberi obat, tetapi belum berhasil.
Pangeran pertama dan pangeran kedua sama-sama belum memiliki anak, tentu membuat istana khawatir menantikan penerus kerajaan selanjutnya. Apabila Nirmala lebih dulu hamil, tentu saja akan banyak ketegangan di kerajaan.
***
Langit sudah terang saat Bibi Lastri mengantarkan sup pada Nirmala. Suasana kamar juga sudah rapi seperti semula. Nirmala sudah membersihkan diri dan tampak lebih segar. Ada setitik bahagia dalam hatinya. Sementara Pangeran Arya pergi setelah lelaki itu membersihkan diri.
“Ini sup untuk menghangatkan badan,” kata Bibi Lastri menyodorkan mangkuk berisi sup yang terlihat enak.
“Apa Bibi tahu ke mana Pangeran pergi?” tanya Nirmala sambil mengambil sup dengan sendok di tangannya.
“Biasanya Pangeran Arya pergi ke kedai yang ada di kota.” Bibi Lastri menghela napas. “Jangan heran kalau besok atau lusa akan ada yang datang dan melaporkan kalau Pangeran Arya membuat masalah. Selalu begitu. Anak itu seperti bocah saja.”
Kedua alis Nirmala berkerut. “Masalah apa?”
“Kalau Pangeran ke kota, selalu membuat keributan, kadang mabuk, mengambil dagangan, menghajar orang. Tergantung suasana hati sang pangeran.” Wanita paruh baya itu berkata sambil menggeleng.
Pantas saja nama Pangeran Arya terkenal dengan sebutan Pangeran kejam. Lelaki itu memang senang membuat onar.
“Dulu … Pangeran Arya adalah pangeran yang paling manis dan baik hati,” tutur Bibi Lastri sambil memandang jauh. Ingatannya jatuh pada saat Arya dan kedua pangeran masih kecil. Ketiganya adalah anak-anak kesayangan raja. Tidak ada yang dibedakan.
“Apa … Pangeran Arya berubah setelah ibunya meninggal?” tanya Nirmala hati-hati. Meski sikapnya kejam, ia bisa melihat rasa kesepian di mata lelaki itu.
Bibi Lastri terdiam. Terlalu banyak cerita di dalam istana ini. Ia menjadi saksi bagaimana Arya kecil tumbuh dan mengasingkan diri setelah Ibunya pergi.
Wanita itu mengangguk dan berkata, “Pangeran Arya sempat bangkit dan kembali ceria. Namun saat Putri Anindiya menikah dengan putra mahkota, Pangeran Arya semakin menutup diri dan berbuat sesuka hati.”
“Putri Anindiya? Apakah Pangeran Arya menyukainya?”
“Puri Anindiya adalah satu-satunya orang yang selalu menghibur Pangeran Arya setelah kematian Selir Indhira. Ia sangat marah pada raja dan juga putra mahkota. Itulah awal ketegangan di keluarga kerajaan.”
Nirmala tertegun. Pantas saja kemarin tatapan Arya pada Anindiya sedikit berbeda. Ternyata wanita itu adalah orang yang dicintai Arya.
Ia meletakkan sendok perlahan, selera makannya mendadak menguap begitu saja. Rasa hangat dari sup itu tak lagi mampu mengusir hawa dingin yang kini merayapi hatinya. Nirmala merasa keberadaannya tak lebih dari seorang figuran.
Kedatangannya ke istana karena menggantikan Paramita. Menjadi istri dari lelaki yang tak pernah ia bayangkan. Nirmala kira perlahan mereka akan bisa membuka hati meski hanya seratus hari dan posisinya akan tergantikan oleh Paramitha.
Ternyata, ada wanita lain yang lebih dulu tertulis di hati sang pangeran. Nirmala tersenyum miris. Menertawai nasibnya yang tak selalu diabaikan. Oleh keluarganya sendiri, dan kini oleh suaminya.
Ia jadi menyesali kejadian semalam.
Bibi Lastri mengusap tangan Nirmala. “Jangan berkecil hati, cobalah untuk meluluhkan hati Pangeran Arya. Kamu gadis yang baik, Nirmala, tak peduli apa yang terjadis eratus hari ke depan, untuk sekarang, kamulah yang memiliki Pangeran Arya. Meski tampak kejam dan dingin, dalam hatinya penuh kerapuhan.”
Nirmala tak menyahut. Ia hanya berpikir bagaimana caranya menyelamatkan diri sendiri.
“Ini … ramuan yang diminta Pangeran Arya.” bibi Lastri sedikit ragu menyodorkan mangkuk kayu pada Nirmala.
“Apa ini?”
“Ramuan pencegah kehamilan, Pangeran Arya ta—”
Nirmala tertawa hambar. Benar saja, tidak mungkin Pangeran Arya mau memiliki anak dari wanita sepertinya.
-
Bersambung
Nirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan.
“Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar
Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuc
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha."Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman.""Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di waja
“Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.Saat keluarga ker







