Modi Sang Penakluk
Modi Sang Penakluk
Author: Leni Nuryani

FITNAH DARI MASYARAKAT

Bab 1

FITNAH DARI MASYARAKAT

"Dasar Miskin!" seru Ibu Mumun saat mendapati Modi tengah berada di dekat jemurannya.

"Dia ini 'Si Miskin gak tau diri' pasti dia mau curi jemuran kita!" Hinaan dan tuduhan Alvina pada Modi. "Lihat saja, dia sedang memegang celana jeansku. Lepaskan celana jeansku dari tangan kotormu!" Teriak Alvina penuh kebencian.

Modi terdiam akan seluruh cacian dan hinaan yang didapatkan. Modi menatap Alvina dengan sangat tajam. Pandangan mereka saling beradu. Tak merasa segan sedikitpun dengan apa yang telah dituduhkan.

Siang itu, Modi akan pulang ke rumahnya yang terletak di pinggir sawah. Setelah selesai melakukan aktivitasnya sebagai kuli panggul di pasar saat ia melewati rumah Ibu Mumun.

"Mohon maaf sebelumnya! Saya hanya membantu membenahi jemuran yang kabur terkena angin. Jika jemuran ini tidak saya tangkap, jemuran ini akan jatuh ke got." Modi mencoba menjelaskan apa yang terjadi sehingga dia masih memegang jemuran itu.

"Apa kamu yakin hanya mau membantu?" Pertanyaan Ibu Mumun nadanya sangat sadis.

"Saya gak percaya! Kamu itu sangat miskin pasti mau menjual jemuran keluargaku untuk menyambung hidupmu Kan?" Alvina mengucapkan itu semua penuh penekanan.

Tersirat dari pandangan Alvina sangat membenci Modi. Alvina sangat membenci pria yang sering kali menjadi bahan ejekan teman-temannya agar Alvina berjodoh dengan Modi.

"Maaf Alvina dan Ibu Mumun, sebelumnya! Saya memang miskin, tetapi saya memiliki harga diri. Lebih baik berhutang makan, daripada mengambil barang yang bukan hakku!" Modi berucap tak kalah sarkas pada wanita yang telah tega menuduhnya. "Lihat ini! Aku rasa uang 30 ribu ini, cukup untuk memenuhi kebutuhan makan hari ini." Modi menunjukan uang hasil kerjanya.

Modi sangat kesal bahkan tatapannya pun sulit diartikan. Selama ini dia hanya diam ketika dihina, tetapi saat ini ceritanya berbeda. Modi harus melawan untuk menunjukan bahwa masih memiliki harga diri.

"Bahkan mencari sayuran bayam liar atau kangkung di pinggir sawah, bisa untuk dijadikan lauk makan tanpa harus mengambil pakaian butut ini. Jika aku ingin mencuri kenapa bukan pakaian yang baru saja yang ada di pasar. Bukankah itu lebih banyak menghasilkan uang? Pekerjaanku di pasar, bahkan aku sangat hafal jam berapa saja suasana pasar sepi. Aku bukanlah Kau yang selalu mengemis pada orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidup." Modi semakin naik darah ketika menjelaskan itu semua.

Bagi seorang Modi, tak apa dihina. Namun, jangan sekali-kali memfitnahnya melakukan tindakan kriminal yang tidak dilakukan.

'Jleb'

Ucapan yang dikatakan Modi langsung tepat sasaran. Alvina tak mampu menjawab apapun yang dikatakan Modi.

"Jangan bohong kamu!" Teriak Alvina yang masih mencoba agar Modi dihukum. "Aku tau orang miskin macam kamu berkelakuan seperti apa--," lanjut Alvina yang tercekat sebelum melanjutkan ucapannya.

"Alvina cukup!" Teriak Ratna yang menjadi penengah juga menyelamatkan Modi.

Modi menoleh melihat betapa anggunnya wanita yang membelanya itu. Tatapan Modi penuh rasa kagum pada Ratna, yang menjadi kembang desa juga anak juragan terkaya di kampung itu. 

"Kok, kamu membela dia sih? Inget Ratna dia itu orang miskin gak pantes bergaul sama kita. Dia itu bukan hanya miskin tapi benar-benar mlarat bantat." Hinaan yang dilontarkan Alvina terus saja bertubi-tubi pada Modi.

"Tidak seharusnya Kau berbicara seperti itu Alvina. Aku mengenal Modi kok! Dia tidak seperti yang Kau tuduhkan." Ratna masih kekeh membela Modi.

Alvina dan Ibu Mumun tak dapat berkutik jika berurusan dengan Ratna.

Hati Modi merasakan sakit teramat sakit pada wanita itu. Bukan karena Modi menyukainya lalu di tolak melainkan hinaannya itu melampaui batas. Modi diam tak berkata apapun lagi. Segera Modi menyerahkan celana jeans yang dipegang pada Alvina.

'Dek'

'Sebegitu hinakah orang miskin di matanya? Sungguh sikap dan sifat Alvina tak mencermin-kan wanita yang baik apalagi sholeha,' ucap Modi di dalam hatinya.

"Terimakasih Ratna!" tutur Modi dengan lembut lalu melanjutkan perjalanan yang tertunda menuju rumahnya.

Terluka yang didapatkan Modi saat ingin menolong orang. Tak adakah yang bisa mengetahui ketulusan Modi. Ingin rasanya dia meninggalkan kampung ini, tetapi Modi tak tau arah dan tujuan. Tabungan Modi pun belum cukup untuk bekal berkelana keluar daerahnya.

***

Di rumah, Modi selalu teringat jika Ratna sering membantu dirinya. Ada hasrat yang menggelegar di dalam sana yang ingin diungkapkan, tetapi apalah daya Modi belum memiliki keberanian itu.

Termenung dalam kesendirian dan terasing dalam kehidupan. Modi mencoba menjalani itu dengan ikhlas. Modi sadar kelak ada kebahagiaan yang akan dia rasakan. Namun, Modi tak akan hanyut dalam lamunan. 

"Kapankah aku akan berani mengungkapkan perasaanku pada Ratna? Jika aku seperti ini terus bagaimana mungkin Ratna mengetahui perasaanku?" gumam Modi di selah lamunannya. 

Modi mencoba memupuk hatinya dan memberi semangat. Memberanikan diri berbicara pada wanita pujaan hatinya. Modi menekadkan untuk memberitahu Ratna esok hari.

***

Pagi hari, sehabis subuh Modi segera bergegas menuju pasar tempatnya mengais rezeki. Modi memulai aktivitasnya dengan semangat karena sepulangnya bekerja dia akan mengatakan perasaan-nya pada sang pujaan hati.

"Mod, semangat banget Kau mengangkat karung-karung berisi beras itu? Sedang jatuh cinta sepertinya ya?" tanya Bang Toni si pemilik toko beras yang menggunakan jasa Modi.

"Hehehe, bisa saja si Abang ini. Saya memang sedang jatuh cinta. Namun, saya gak tahu apa wanita itu mau menerima saya." Kejujuran yang Modi ungkapkan.

"Semangatlah, Kau! Jangan nyerah gitu! Memang benar di kampung Kau itu penuh dengan wanita sombong. Aku tak suka melihatnya. Tapi hanya Kau yang mampu bertahan dari hinaan mereka. Lagi pula mereka yang menolakmu itu pasti rugi. Pria kaya banyak, tetapi pria berhati tulus macam Kau itu seribu berbanding satu." Bang Toni membeberkan panjang lebar tentang Modi. 

Sepulang Modi bekerja, dia langsung menuju rumah Ratna. Modi bukanlah pria yang tak bertanggung jawab. Modi akan menyatakan perasaan yang terpendam itu di depan orang tua Ratna. Modi menyiapkan mental yang kuat serta tekad yang besar untuk memiliki Ratna.

Tok tok tok…

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamualaikum."

Modi mengetuk pintu rumah Ratna berkali-kali. Namun, belum juga ada yang membukakan. Setelah lama menunggu akhirnya ayah dari Ratna membukakan pintu itu.

"Waalaikumsalam!" jawab pria paruh baya itu. "Ada apa Kamu kemari? Di rumah saya tidak ada pembagian zakat atau sembako," ucap juragan Salim dengan sinis melihat pakaian yang dikenakan Modi.

"Punten, Juragan! Saya mau bertemu dengan Neng Ratna. Apa boleh saya menemuinya?"

"Ada masalah apa Kamu ingin menemui anakku?" ucapan Sang Juragan semakin sinis. Tatapan yang meremehkan serta keangkuhan yang menunjukkan jika dia penguasa di kampungnya itu.

Modi yang mendapat perlakuan seperti itu menanggapi dengan ketenangan. Ratna dari dalam kamar, mendengar ayahnya bersikap sarkas pada Modi pun akhirnya keluar.

"Modi…"

Comments (1)
goodnovel comment avatar
ci panda
awalnya aku pingin baca gara2 sinopsisnya yang menarik,dan chapter 1 nya ga mengecewakan! ga sabar pingin baca semuanya 😊 btw author gaada sosmed kah? aku pingin follow~
VIEW ALL COMMENTS
DMCA.com Protection Status