Ada sesuatu tentang fiksi fantasi yang selalu membuat aku merasa seperti anak kecil yang menemukan pintu rahasia ke dunia lain. Aku suka bagaimana fantasi bisa memperbesar simbol dan emosi, mengubah konflik batin jadi makhluk besar, perang besar, atau perjalanan epik yang visual—semua itu membantu menyampaikan tema yang dalam tanpa harus menulis semuanya secara literal. Dalam karya fantasi, aturan dunia baru diciptakan lalu konsisten diikuti; itu memberi kebebasan penulis untuk memakai metafora raksasa: naga bisa jadi representasi ketakutan, sihir bisa jadi cara menggambarkan trauma, dan quest adalah metafora untuk proses penyembuhan. Pembaca setuju untuk menerima 'perjanjian' itu, lalu emosi jadi terasa murni karena segala sesuatu ditingkatkan sampai ke intinya.
Di sisi lain, fiksi realistis memaksa perhatian pada detail sehari-hari—suara teko di pagi hari, cara orang canggung menyapa, kebiasaan kecil yang mengungkap karakter. Aku menikmati bagaimana realisme menuntut pengamatan tajam: makna muncul dari nuansa, dari pilihan kata yang tampaknya sepele tapi memotong jauh ke dalam. Konflik di sini seringkali lebih halus, lebih intim; bukan monster yang harus dikalahkan, melainkan kompromi moral, kehilangan yang sunyi, atau rasa malu yang menempel lama. Keduanya tetap bisa menyentuh hal yang sama—cinta, kehilangan, identitas—tapi caranya berbeda: fantasi sering meneriakkan tema lewat simbol dan aksi, sementara realis mengetuk pintu perlahan dengan detail.
Untukku, kombinasi keduanya yang paling memikat. Ketika sebuah novel fantasi memiliki elemen realis yang kuat, atau sebuah karya realis memakai struktur yang hampir mitis, efek emosionalnya sering kali lebih berlapis. Itu seperti menaruh lensa makro dan teleskop di kaca yang sama: keduanya membantu melihat kebenaran manusia dari sudut berbeda, dan aku biasanya menikmati perjalanan yang bisa bergerak effortlessly di antara keduanya.