Home / Romansa / 720 Jam / III. Janji

Share

III. Janji

Author: twonefr
last update Last Updated: 2021-07-16 12:55:03

Setelah seminggu pulang dari rumah sakit, segala aktivitas Anita baik urusan pekerjaan atau urusan hal lain dibatasi oleh Radiga. Pria itu tidak menginginkan putrinya masuk rumah sakit untuk kedua kalinya maka dari itu selain membatasi kegiatan Anita, Radiga juga memutuskan Ivan akan bekerja menjadi sekretaris perempuan itu tanpa menerima penolakan ataupun protes sama sekali.

Saat ini, Radiga sedang berbincang dengan Ivan di ruang tamu sembari menunggu Anita yang masih bersiap-siap di kamarnya. "Inget ya Van, pesen tadi." ujar Radiga akhirnya setelah melihat sang putri kesayangannya turun.

Ivan mengangguk, wajah tegasnya tampak serius. Laki-laki itu adalah anak angkat Radiga yang sejak umur 5 tahun sudah diasuh oleh Radiga dan Talita, saat itu keduanya sudah memiliki Anita yang belum genap berumur setahun. Radiga membawa Ivan dari panti asuhan karena tidak ada yang berniat untuk mengadopsi Ivan karena anak itu memiliki sikap buruk dan suka melawan.

Radiga yang melihat Ivan sendirian merasa iba lalu ia putuskan untuk mengadopsi Ivan sebagai putra sulungnya dan anak laki-laki itu mulai berubah mungkin karena sikap Talita yang lembut dan penyayang. Radiga memang tidak mengutus Ivan sebagai sulung untuk mengurus perusahaan bukan karena pilih kasih atau karena status Ivan sebagai anak angkat tetapi karena ia tahu anak sulungnya itu tidak suka mengurus hal-hal terikat yang tidak laki-laki itu inginkan sama sekali.

Maka dari itu Radiga hanya mengutus Ivan sebagai sekretaris pribadinya dan juga sang putri agar dapat melakukan pekerjaannya tidak terlalu tertekan, tetap bebas dan dapat membantu kedua adiknya. Ivan juga sangat menyukai bidang seni seperti melukis ataupun bermain musik dan laki-laki itu juga memiliki hobi menulis.

"Ngobrolin apa sih? Serius amat sampai aku gak boleh denger pa, mas." Perempuan itu duduk di samping sang papa sembari sibuk memasukkan beberapa kertas dan berkas yang ia bawa turun tadi ke dalam map yang sejak kemarin dibawa oleh Ivan.

"Jadi hari ini ke mana, Tata?" tanya Radiga mengalihkan perhatian Anita ke pembicaraan mereka sebelumnya.

Anita yang mendengar pertanyaan itu menatap sang papa curiga. "Serius pa, mau aku jawab?" kini perempuan itu bertanya balik menghadap sang papa yang hanya memasang senyum hangat.

"Adit mana, pa? Belum selesai juga?"

"Udah, masih ke belakang tadi sama mama kamu gak tau lagi ngapain."

Selang beberapa menit Adit muncul dengan tiga buah paper bag di tangannya. "Mama nyuruh bawa bekal biar jangan sampai telat makan." Selesai laki-laki itu berkata seperti itu tangannya membagikan masing-masing paper bag kepada Ivan dan Anita.

Ivan, Anita dan Adit pamit setelah Talita bergabung bersama mereka. Ivan yang duduk di samping supir sibuk dengan tab di tangannya sementara Anita dan Adit sibuk mengobrol sejak mobil keluar dari gerbang rumah mereka. "Jadi Radila kapan pulang, Dit?" tanya Anita setelah mereka mengobrol panjang membahas proyek Adit yang ada di Bogor selesai.

"Pulang dua minggu lagi, lanjut ke Maluku seminggu untuk bantu tenaga medis di sana." Adit berujar lesu karena Anita membuatnya teringat akan percakapannya dengan Radila malam tadi.

"Yang sabar ya, diperpanjang masa LDR-annya." Bukan Anita yang mengatakan hal itu melainkan Ivan yang sejak tadi tampak sibuk tetapi tetap menyimak pembicaraan kedua saudaranya itu.

"CK, jahat banget si lo mas gak ada kasiannya sama gue." Adit mendengus keras-keras mendengar ejekan yang dilontarkan Ivan untuknya.

Seakan teringat sesuatu senyum Adit mengembang lebar. "Eh, bukannya lo sekarang jomblo ya, mas?" tanya laki-laki itu tersenyum menang.

Ivan yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum masam, sialan dari mana bocah ini tau. batinnya tak terima dihina seperti itu apalagi melihat senyum Adit yang semakin lebar dari kaca spion tengah mobil.

"Sudah-sudah jangan saling mengejek." Anita berujar menghentikan perdebatan yang takkan usai jika ia tidak turun tangan. "Pak Raman aja santai yang sudah halal, kalian malah sibuk mengejek bukannya banyak berdoa supaya cepat halal." tambah Anita yang langsung membuat keduanya bungkam.

Ivan kembali sibuk dengan tabnya sementara Adit memilih menghidupkan ponselnya untuk mengecek sesuatu. Pemberhentian pertama mereka sampai di Perusahaan Raisl Group, Adit turun setelah pamit kepada kedua saudaranya.

"Kadang dia ngeluh sama gue, Ta." celetuk Ivan setelah mobil yang membawa mereka kembali melaju.

Alis Anita terangkat bingung. "Ngeluh gimana, mas?" tanya perempuan itu penasaran karena Ivan jarang bercerita seperti ini.

"Kenapa enggak elo aja yang ngurus perusahaan tapi setelah ngomong gitu dia kayak mikirin sesuatu terus senyum ke gue, mbak gue yang cantik itu gak boleh capek." cerita Ivan.

Anita yang mendengar itu tersenyum. Udah dewasa kamu, dek. batin Anita tersenyum senang. "Terus tanggepan kamu gimana, mas?"

Ivan yang mendengar itu menghentikan kegiatan menggeser tabnya lalu menghadap ke kursi belakang tepatnya menghadap Anita. "Ya gimana lagi selain senyum bangga bahwa pemikiran Adit udah dewasa dan sudah mulai ikhlas untuk ngurus perusahaan, bukan karena pemaksaan papa lagi dan dia juga udah gak berisik soal kenapa bukan gue aja yang ngurus, kenapa harus dia."

Anita mengangguk. "Kamu mau ke cabang ya, mas?" tanya perempuan itu baru sadar sejak tadi Ivan sedang sibuk dengan beberapa berkas.

"Iya, tadi papa pesen harus ke cabang ada beberapa hal harus dicek secara langsung di sana. Tata, bisa sendirikan?" tanya Ivan tanpa melihat, masih sibuk menyusun berkas yang ada di pangkuannya.

Anita yang mendengar pertanyaan itu tersenyum. "Bisa dong, mas. Apa sih yang gak Tata bisa." ujar perempuan itu membuat Ivan tersenyum mendengarnya.

Mobil sampai di tempat lokasi proyek yang sedang Anita kerjakan sebelum perempuan itu turun Ivan mengatakan sesuatu. "Nanti makan siang bareng. Ada beberapa hal yang mau dibicarain."

Anita mengangguk. "Iya, aku tunggu. Mas, kabari aja kalau sudah sampai tempat proyek."

Anita menunggu mobil itu melaju pergi lalu melangkah ke area pembangunan, perempuan itu tidak sengaja melihat Gibran yang baru saja turun dari mobilnya dan laki-laki itu juga melihat dirinya. "Eh, Anita tunggu." Gibran sedikit berlari menyusul Anita yang ingin melanjutkan langkahnya.

Anita menghentikan langkahnya. "Ada apa, bang? Ada hal urgen?"

"Gak ada, Nit. Kemarin pak Renaldi pesen ke saya hari ini kamu harus follow up semuanya ke kantor pusat." Gibran berujar sembari berjalan di samping Anita menuju rest room untuk meletakkan barang-barang yang mereka bawa.

"Wah bersyukur banget aku hari ini bawa map yang lumayan berat ini kalau ternyata memang diperlukan." Anita tersenyum lalu meletakkan map di atas meja rapat lalu menduduki salah satu kursi.

"Sebenernya mulai besok kamu gak ke sini lagi juga gak masalah, Nit. Proyek sudah tahap finishing kok, biar asisten kamu aja yang handle." ujar Gibran yang sudah duduk di seberang Anita, laki-laki itu menghidupkan laptopnya untuk menuliskan report yang harus ia selesaikan dan kirimkan hari ini juga.

Anita menghentikan aktivitas membaca dokumennya lalu mendongak melihat Gibran. "Lagi gak ngusir saya kan, bang?" tanya Anita dengan wajah serius.

Gibran yang mendengar itu mendongak cepat hampir keseleo leher laki-laki kalau saja tidak hati-hati. "Pertanyaan kamu kok seperti itu?"

"Habisnya saya merasa seperti sedang diusir."

Gibran terdiam mendengar pernyataan itu lalu memandang ke arah lain, tidak sanggup melihat wajah Anita yang baginya adalah penenag yang ampuh untuk dirinya. Ya, memang saya sedang mencoba mengusir kamu dari hati dan pikiran saya, Nit. batin Gibran ingin sekali berteriak memberitahu Anita yang sebenarnya ada di dalam hatinya tapi ia tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk hanya sekadar bergumam saja.

☁️☁️☁️

See you next part 👋

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 720 Jam   Epilog

    Mendekati HPL, rumah keluarga Radiga sudah tidak lagi terasa seperti rumah biasa, melainkan seperti pusat komando operasi militer. Semua orang berada dalam mode siaga penuh. Anita membuat checklist terakhir. Ia memastikan "Hospital Bag" sudah berada tepat di samping pintu utama dengan posisi yang paling mudah disambar."Mas, kalau kita berangkat jam 2 pagi, rute tercepat adalah lewat jalan tikus di belakang pasar, tapi kalau jam 8 pagi, kita harus lewat tol karena jalur utama akan macet total," ucap Anita sambil memetakan rute di kepalanya.Gibran hanya mengangguk patuh, meski ia sudah menghafal semua rute itu di luar kepala. "Semua sudah siap, Sayang. Mobil sudah penuh bensin, ban sudah dicek, dan Papa sudah menyiagakan sopir cadangan kalau-kalau Mas terlalu tegang untuk menyetir."Satu hari menjelang hari

  • 720 Jam   LX. Tanda Pasti

    Rumah keluarga Radiga kini telah berubah menjadi sebuah "Pusat Kendali Keamanan" tingkat tinggi. Sejak keputusan Anita untuk bekerja dari rumah (WFH) di usia kehamilan 35 minggu ini, ia tidak pernah dibiarkan sendirian barang satu menit pun.Karena Gibran, Ivan, dan Adit harus tetap menjalankan tugas profesional mereka di luar, "Shift Penjagaan" pun dibentuk dengan sangat rapi oleh para orang tua.Pagi hari adalah Sesi MamaTalita & Mama Bela) Pagi hari dimulai dengan kehadiran Mama Bela yang datang membawa berbagai jenis jamu ibu hamil dan buah-buahan segar. Bersama Ibu Talita, mereka menjadi "polisi nutrisi"."Anita kalau kamu duduk terus di depan laptop, aliran darah ke kaki jadi tidak lancar," ujar Mama Bela sambil memijat lembut betis Anita yang mulai bengkak. "Betul," timpal Ibu Talita. "Laptopnya Papa pindahkan ke meja yang lebih tinggi supaya kamu ti

  • 720 Jam   LIX. Tanda Tanda?

    Memasuki usia 35 minggu, Anita memang mulai sering merasakan Braxton Hicks atau kontraksi palsu. Perutnya yang sudah besar sering kali mengeras secara tiba-tiba, menciptakan sensasi tidak nyaman yang menjalar dari pinggang ke perut bawah.Siang itu, di ruang rapat yang dingin, suasana sedang sangat intens. Anita sedang memaparkan detail struktur untuk proyek resort terbaru. Namun, di tengah penjelasannya, ia tiba-tiba berhenti. Tangannya refleks bertumpu pada meja, sementara tangan lainnya memegang perut bawahnya."Mbak? Mbak Tata oke?" Miko yang duduk paling dekat langsung siaga, matanya membelalak panik."Sebentar..." bisik Anita. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya dengan sangat teratur. In

  • 720 Jam   LVIII. Orang dari Masa Lalu

    Malam minggu di sebuah supermarket menjadi saksi pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan. Gibran yang baru saja kembali dari dinas luar kota selama seminggu, tampak sangat manja dan siaga menjaga sang istri yang perutnya sudah membuncit. Ia mendorong troli dengan satu tangan, sementara tangan lainnya merangkul bahu Anita, seolah ingin membayar waktu yang hilang selama seminggu terakhir."Sayang, kamu mau buah naga atau alpukat? Aku baca alpukat bagus untuk perkembangan otak si kecil," tanya Gibran lembut sambil menciumi pelipis Anita.Anita tertawa kecil. "Dua-duanya boleh, Mas. Variasi nutrisi itu lebih—"Kalimat Anita terhenti seketika. Di depan rak susu, berdiri seorang wanita dengan pakaian yang sangat mencolok dan riasan tebal. Wanita itu adalah Gina, sosok yang dulu menghancurkan hubungan A

  • 720 Jam   LVII. Pengganggu

    Sore itu, udara terasa sejuk dan langit berwarna jingga keemasan. Anita, yang perutnya kini mulai sedikit menonjol di balik gaun hamilnya yang longgar, berjalan santai di taman kompleks sambil menggandeng lengan Gibran. Suasana sangat damai sampai sebuah suara memecah ketenangan mereka."Anita?"Keduanya menoleh. Di sana, berdiri Habib yang sedang berjalan ke arah berlawanan. Penampilan laki-laki itu tampak rapi, namun ada sorot mata yang sulit disembunyikan saat ia menatap Anita, sorot mata penuh kerinduan dan penyesalan yang masih tertinggal."Bang Habib," sapa Anita ramah namun formal.Habib mendekat, matanya seolah terkunci pada wajah Anita, lalu turun ke arah perut Anita yang membuncit. Wajahnya seketika berubah mendung, ada gurat pedih yang melintas cepat. "Kamu... apa kabar? Sepertinya kamu sangat bahagia," ucap Hab

  • 720 Jam   LVI. Suami Siaga

    Pagi yang seharusnya tenang setelah makan malam yang hangat itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan kecil. Gibran, yang biasanya paling terakhir bangun jika sedang libur, kini sudah melompat dari tempat tidur sejak subuh karena mendengar suara Anita di kamar mandi.Kondisi Anita pagi ini berbeda dari biasanya. Morning sickness yang kali ini menyerang tampak jauh lebih hebat. Wajahnya yang biasa segar dan elegan kini pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya, dan ia tampak sangat lemas hingga harus berpegangan kuat pada wastafel."Sayang, sudah... jangan dipaksa bangun dulu," ucap Gibran dengan nada sangat khawatir sambil memapah Anita kembali ke tempat tidur.Namun, baru saja kepala Anita menyentuh bantal, rasa mual itu kembali datang. Anita mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berputa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status