LOGINAnita sedang celingukan mencari Ivan yang belum terlihat oleh pandangannya, padahal sang Abang mengatakan bahwa ia sudah duduk di dalam restoran yang lumayan ramai ini karena jam makan siang sedang berlangsung. Di mana sih mas Ivan? batin Anita bertanya-tanya.
Tangan perempuan itu bergerak mengeluarkan ponsel dari tasnya untuk menelpon Ivan, saat ingin melangkah menuju sudut restoran pandangan secara tidak sengaja menangkap keberadaan Habib yang sedang makan dengan seorang perempuan memiliki rambut panjang melebihi bahu beberapa senti.
Saat ingin melangkah menghampiri Habib, tangan Anita ditarik secara halus oleh Ivan menuju meja di sudut restoran tepatnya dekat dengan jendela besar. "Ke mana sih, Tata? Udah ditungguin malah berdiri di depan situ kayak orang bingung." Ivan bertanya saat keduanya sudah duduk.
Anita yang mendengar pernyataan itu tiba-tiba dihinggapi rasa kesal. "Ya, aku memang lagi bingung karena gak ngeliat kamu, mas." ujar perempuan itu dengan nada kesal yang kentara.
Ivan yang melihat ekspresi dan nada bicara sang adik tersenyum. "Yaudah, makan, Tata. Udah dipesenin dari tadi."
Anita mengangguk lalu mengambil sendok yang masih tergeletak rapi di samping piring, seakan teringat sesuatu pandangan beredar mencari keberadaan Habib yang duduk di tempat yang ia lihat sebelumnya. "Mas, itu mas Habib kan ya?" tanya Anita ingin memastikan.
Ivan yang tadinya sibuk menyantap makanannya kini melihat ke arah yang sang adik maksud lalu mengangguk. "Iya Ta, itu Habib. Memangnya kenapa?" tanya laki-laki itu masih belum mengerti apa yang dimaksud Anita mempertanyakan
"Bukan apa-apa, mas. Mas Habib pamit mau ke luar kota untuk tiga hari ke depan tapi hari ini baru hari kedua setelah mas Habib pamit. Apa mas Habib udah pulang atau enggak jadi pergi ya?" ujar Anita bertanya-tanya membuat Ivan juga ikut berpikir.
"Jangan suuzan dulu ya, Tata. Nanti setelah ini kamu tanya baik-baik melalui telepon atau SMS, jangan di sini karena kemungkinan itu bisa aja klien yang sedang konsul sama Habib kan." ujar Ivan memberikan nasihat kepada sang adik agar tidak gegabah.
Anita mengangguki ucapan Ivan lalu memilih menyantap makanannya yang sudah dipesankan oleh laki-laki itu untuknya. Kini keduanya sudah selesai dan akan beranjak keluar dari restoran, Ivan dan Anita yang sedang menunggu supir mereka datang.
Anita masih sibuk dengan ponselnya sementara Ivan sedang memperhatikan sekitar yang secara tidak sengaja untuk kedua kalinya ia melihat Habib bersama seorang perempuan, ia hanya memperhatikan dari jauh tidak ingin mendatangi atau menegur, ia hanya memperhatikan apa yang sedang diperbuat sang calon adik ipar dengan perempuan yang masih ia duga seorang klien.
Mata Ivan sedikit membulat saat melihat Habib membukakan pintu mobil untuk perempuan itu, perasaannya mulai tidak enak lalu tanpa sadar tangannya disentuh oleh Anita. "Mas, pak Raman udah sampai tuh. Ayo! Kenapa bengong?" tanya Anita penasaran melihat tingkah sang Abang.
Ivan yang merasa harus mencari tahu lebih menggeleng untuk menutupi kenyataan bahwa ia baru saja sedang memperhatikan Habib lalu mengikuti Anita yang sudah akan menaiki mobil. Anita kembali ke tempat proyek karena harus pergi dengan Gibran untuk menemui sang direktur di kantor pusat.
☁️☁️☁️
Gibran menghampiri Anita yang baru saja kembali setelah makan siang bersama saudara laki-laki perempuan itu. " Udah selesai, Nit?" tanya Gibran sekadar basa-basi agar dapat menutupi kekakuannya yang tiba-tiba menerpa.
Anita mengangguk tersenyum. "Mau berangkat sekarang, bang?" Perempuan itu bertanya saat melihat Gibran yang seakan sudah siap untuk pergi.
Gibran mengangguk. "Gak papakan, Nit? Soalnya ada beberapa hal yang harus dibereskan sebelum sore ini."
"Loh ya gak papa, bang. Syukur bang Gib mau kasih tumpangan ke saya. Sebentar bang saya mau ambil map dulu." Anita yang akan melangkah pergi terhenti setelah sadar bahwa Gibran sedang menenteng map hitamnya itu. "Loh kok?" ujar perempuan itu bingung.
"Iya tadi sekalian saya bawa, biar kamu gak repot balik ke ruangan untuk cuma ngambil ini." jelas Gibran yang membuat Anita tersenyum mengangguk.
"Ahh terima kasih ya, bang. Sini biar saya aja yang bawa." ujar Anita bermaksud meminta map-nya tapi Gibran hanya menggeleng lalu melangkah menuju mobil laki-laki itu yang mau tidak mau Anita ikuti.
Tidak ada perlakuan manis seperti membukakan Anita pintu karena laki-laki itu bukan Habib melainkan Gibran dan berbicara soal Habib atau baru mengingat bahwa ia harus menanyakan keberadaan laki-laki itu agar tidak ada dosa di dalam pikirannya setelah melihat laki-laki yang kemungkinan mirip dengan Habib di restoran tadi.
Habib Darmawangsa🤍
Mas, kamu lagi di mana?Sudah makan siang?Pesan terkirim, Anita kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas karena mobil Gibran sudah melaju membelah jalanan yang ramai lancar setelah jam makan siang. Keduanya diam, hanya terdengar lantunan radio yang sedang memutarkan lagu Afgan - Jodoh Pasti Bertemu. Anita bersenandung kecil karena menghafal lagu ini dan tentu saja suara perempuan itu masuk ke dalam indera pendengarannya Gibran, laki-laki hanya tersenyum kecil mendengarkan suara Anita yang ternyata cukup merdu walau bukan seorang penyanyi.
Gibran berdeham sekali meminta atensi Anita. "Nita, menurut kamu lagu ini gimana?"
"Gimana?" ulang Anita sedikit bingung. "Ahhh menurut saya, makna lagunya bagus karena dia mencoba untuk ikhlas enggak memaksakan sesuatu yang bukan kehendak dia. Saya respek banget sama orang yang begitu, bang karena dia tahu bahwa semua itu sudah ditakdirkan." jelas Anita.
Gibran tersenyum, andai kamu tahu, Nit dengan kerespekan kamu yang seperti itu aja udah buat saya sesenang ini. batin Gibran. "Saya juga setuju sama pendapat kakmu, Nit karena sesuatu yang dipaksakan juga gak akan berjalan dengan baik." ucap laki-laki itu tersenyum.
Mobil berhenti karena lampu merah, Anita yang selalu senantiasa merasa bosan jika terkena lampu merah melihat ke arah keluar jendela lalu matanya tidak sengaja melihat mobil dan sosok laki-laki yang sedang mengendarai yang sangat-sangat ia kenali dan siapa lagi kalau bukan Habib. Loh itu mobilnya mas Habib? Berarti yang di restoran tadi beneran mas Habib? Astagfirullah semoga bukan sesuatu yang buruk, Ya Allah. batin Anita mencoba menenangkan diri dan pikirannya.
Gibran merasa aneh dengan diamnya Anita yang tiba-tiba, laki-laki itu menoleh sekilas karena harus fokus ke jalanan agar mobilnya tidak terbentur oleh kendaraan lain."Nit, ada apa? Kok tiba-tiba kamu diem?" tanya laki-laki itu hati-hati takut menyinggung perasaan Anita yang mungkin saja sedang mengalami hal buruk secara mendadak.
Anita tersadar lalu tersenyum takut-takut telah mengganggu konsentrasi Gibran yang sedang menyetir di sebelahnya. "Gak papa bang, cuma rasanya hari ini terlalu banyak hal yang mengejutkan terjadi sampai rasanya itu buat sakit kepala." ujar perempuan itu seadanya.
Ekspresi Gibran berubah khawatir, bodoh sekali laki-laki itu yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Anita dan untungnya perempuan itu tidak terlalu menyadari tentang perasaan Gibran. "Jadi masih bisa ikut ke kantor pusatkan, Nit? Atau mau saya anter kamu pulang?" tawar Gibran.
Anita menggeleng cepat. "Eh gak usah, bang. Tambah ngerepotin dong, aku tetep mau ke kantor pusat kok nanti masalah pulang biar aku telepon mas Ivan atau Adit suruh jemput." tolak perempuan itu halus tidak ingin menyakiti niat baik Gibran yang tampak tulus.
"Oh oke, Nit." ujar Gibran seadanya tapi pikiran masih tidak tenang karena perihal ucapan Anita beberapa menit lalu tentang 'sakit kepala' mendadak rasa ingin melindungi perempuan di sampingnya ini muncul di dalam dirinya. Andai, Nit kesempatan itu ada, saya akan pastikan mempergunakannya dengan sebaik mungkin.
☁️☁️☁️
See you next part 👋
"Anita?"Anita dan Gesa menoleh ke sumber suara, keduanya melihat Habib yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Mbak duluan ya, Sa udah gak tahan." ujar wanita itu kepada adik iparnya lalu langsung masuk ke area toilet wanita.Tinggalah Habib dan Gesa yang ada di tempat itu. "Pak Habib?" panggil Gesa dengan nada bertanya karena atasannya di firma itu terus melihat ke arah kakak iparnya menghilang."Eh iya, Sa." jawab Habib sedikit terkejut tapi berhasil ia tutupi dengan cepat."Ada acara di sini juga, pak?" tanya Gesa berbasa-basi."Iya, Sa sama kelurga. Kamu ada acara sama keluarganya Anita?" tanya laki-laki itu.Gesa mengangguk cepat. "Kata mas Gibran, mas Ivan abis menang tender besar jadi mau buat acara syukuran kecil-kecilan makan sama keluarga." jelas perempuan itu semangat.Habib yang mendengar itu seperti merasa dejavu karena dulu juga ia dan keluarganya akan bergabung dengan acara itu juga. "Oh begitu." balas laki-laki itu s
Anita sedang melipati baju Gibran yang akan dibawa suaminya untuk pergi ke luar kota, sementara Gibran masih sibuk di depan laptop karena tiba-tiba harus meeting dadakan dengan pada petinggi lain. Anita berdiri dari duduknya melangkah menuju lemari pakaian, mengambil beberapa celana dan kemeja yang belum sempat ia ambil.Gibran berdiri karena acara meeting sudah selesai, ia melihat Anita yang membawa tumpukan pakaiannya segera membantu sang istri. "Kenapa gak tunggu mas sayang? Kan capek diangkati sendiri kayak gini." ujar Gibran khawatir."Gak papa, mas. Tata ambil cuti kan emang mau bantui mas siap-siap untuk besok." ujar perempuan itu duduk di kasur karena pakaiannya sudah dibawa kan oleh Gibran."Mas, kopernya mana yang mau dipakai untuk besok?"Gibran yang mendengar pertanyaan itu langsung menuju ruangan mengambil koper abu-abunya yang berukuran 24 inchi, ia membuka koper tersebut sementara Anita berdiri dari duduknya mengambil sesuatu dari dal
Anita masih setia duduk di sofa yang ada di area tamu firmanya, menunggu sang suami datang menjemput dirinya. Ia ditemani oleh Rifa yang juga sedang menunggu pacarnya yang akan datang menjemputnya juga. "Mbak jadi masih tinggal di rumah orang tua, mbak?" tanya Rifa membuka topik pembicaraan mereka.Anita mengangguk. "Iya, Fa. Mas Gibran dua hari lagi juga mau berangkat dinas." ujar wanita itu ia merasa moodnya kembali memburuk jika diingatkan kembali tentang hal itu.Ponsel Anita berdering, nama sang suami muncul dilayarnya yang menyala. "Fa, mbak duluan ya mas Gibran sudah sampai di depan. Kamu hati-hati pulangnya." ujar wanita itu diangguki Rifa.Melihat sang istri keluar dari firma, Gibran turun dari mobil lalu berjalan membukakan pintu untuk sang istri. "Terima kasih ya, mas." ujar sang istri mencium pipi sang suami dengan gerakan cepat dan karena adegan kecil itu sekujur tubuh Gibran meremang karena tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti itu dari sang istri."Sama-sama s
Anita mendapat email dari Regan pagi ini setelah selesai melakukan rapat pagi, wanita itu melirik ke arah Rifa yang sudah sibuk di depan layar komputernya Lalu matanya melihat ke arah sudut ruangan. "Raja." panggil wanita itu."Iya mbak Ta?" jawab Raja sudah berdiri di samping meja wanita itu siap diberi arahan."Nanti kamu temani saya ke R & H Law ya. Kemarin mereka minta update, sudah selesai kamu cek kan?" tanya Anita sembari menggulir layar yang ada di depannya."Sudah mbak, nanti saya up di tim." jawab Raja, Anita mengangguk puas. "Setelah makan siang kita berangkat." Setelah mendengar arahan itu, Raja pamit undur diri untuk menyiapkan berkas yang akan mereka bawa nanti. Anita menyandarkan bahunya, mengecek ponsel ia melihat ada pesan dari sang suami yang belum terbuka, senyum wanita itu mengembang setelah membaca pesan lalu segera mengetik balasan untuk sang suaminya.Suamiku : Sayang lagi apa? Lagi sibuk, ya?'Anita segera mengetik balasan chat untuk suaminya. Lagi sedikit
"Sayang." ujar Gibran mengusap puncak kepala sang istri lembut, mencium kening, pipi dan bibir wanita itu dengan lembut. Ia sengaja melakukan hal itu agar sang istri bangun dari tidurnya karena waktu sudah menunjukkan hampir subuh."Sayangku..." ujar Gibran lagi lembut mengusap rambut hitam milik Anita yang baru ia ketahui saat melepaskan hijab sang istri di malam pernikahan mereka.Gibran tersenyum karena panggilannya dibalas erangan kecil dari sang istri yang matanya masih tertutup, laki-laki itu melirik jam kembali mungkin 15 menit lagi adzan akan berkumandang dan sang istri masih sibuk terlelap dalam mimpi.Anita sedikit menggeliat dalam tidurnya, netra coklat tuanya terbuka perlahan ia melihat sang suami sudah berpenampilan segar sedikit terkejut. "Mas..." ujarnya.Gibran tersenyum mendengar panggilan itu. "Pagi sayangnya mas." sapa laki-laki itu tersenyum."Pagi sayangnya Tata." ujar wanita itu tersenyum membalas sapaan sang suami barusan.Anita yang mencoba bangkit dari dudukny
Minggu menjadi hari liburnya aktifitas dan seluruh kegiatan yang diwajibkan atau lebih dikenal dengan hari leha-leha, Anita dan Talita sudah ada di dapur dibantu dengan Adit dan Mbak ART rumah mereka. Adit sedang membantu memotongi wortel membantu sang kakak, sementara sang ibu sedang mengecek rasa masakan yang dibumbui oleh sang putri barusan. "Mas Ivan udah bangun, Dit?" tanya sang ibu, pasalnya sang sulung tidur setelah sholat subuh hingga sekarang sudah hampir pukul setengah delapan. "Udah, ma. Udah gabung kok sama Mas GIbran sama papa di halaman belakang." ujar Adit masih fokus dengan kegiatan memotong dan mengupasnya. "Kamu sendiri kok gak ikutan?" tanya Anita melihat adiknya yang lebih memilih sibuk membantu mereka di dapur, tidak ikut bermain bulu tangkis di belakang rumah. "Enggak, mbak. Capek nanti aku mau jalan sama anak gadis orang." ujar Adit tersenyum sumringah."Ada aja alasan kamu itu, bilang aja males." ujar Anita menyindir sang adik dengan senyuman mengejek."Bi







