Home / Romansa / 720 Jam / V. Berbohong

Share

V. Berbohong

Author: twonefr
last update Last Updated: 2021-07-30 12:37:32

Di dalam rumah keluarga Radiga memiliki perpustakaan yang cukup luas dengan koleksi buku dari berbagai macam bahasa. Terdapat novel, buku self improvement, psikologi, bisnis, ekonomi, politik, budaya dan juga agama. Selesai melakukan salat isya, Anita terkadang menghabiskan waktunya di dalam perpustakaan jika kedua orang tuanya sibuk berduaan di kamar mereka dan juga ketika pikirannya sedang penat, Anita akan menghabiskan malamnya di dalam perpustakaan yang memiliki suasana yang tenang ini.

Anita duduk di kursi santai yang menghadap balkon sembari membaca buku yang baru ia beli minggu kemarin bersama sang adik ketika berkunjung ke negara tetangga untuk melakukan kunjungan bisnis dan mengikuti acara seminar, keduanya memang sengaja menyempatkan diri untuk belanja buku. Anita yang tengah fokus membaca tiba-tiba terhenti setelah mendengar ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.

Perempuan itu membaca pesan yang baru saja masuk, ekspresinya berubah setelah membaca pesan itu dan sekarang membaca buku saja tidak cukup untuk menenangkan pikirannya itu, ia harus melakukan sesuatu seperti memakan es krim misalnya. Anita segera bangkit dari duduknya setelah meletakkan kembali buku yang ia baca ke dalam rak lalu melangkah ke luar perpustakaan atau lebih tepatnya mencari sang adik untuk menemani dirinya ke toko es krim yang tak jauh dari komplek perumahan mereka ini.

Nihil, ternyata adiknya itu belum pulang dan juga ketidakberuntungannya tidak berhenti sampai di situ saja karena ia juga tidak menemukan Ivan di seluruh penjuru rumah. Anita memutuskan untuk pergi sendiri diantarkan sang supir keluarga mereka setelah perempuan itu mengambil sweater di kamarnya dan ponsel yang tidak lupa ia bawa untuk membayar es krim nantinya.

"Ma, Pa. Tata, pergi ke luar sebentar." ujar Anita saat melalui pintu kamar orang tuanya yang berada pas di bawah tangga.

"Pak, anter saya ke toko es krim simpang tiga bisakan?" tanya Anita menghampiri pak Raman yang sedang duduk di dekat pos gerbang rumah mereka.

"Bisa, non. Sebentar, saya siapkan mobil dulu." Pak Raman bergegas pergi menuju garasi.

Mobil melaju keluar komplek perumahan elite itu dengan kecepatan santai, Anita tidak berminat sama sekali dengan ponselnya perempuan itu memilih memandangi ke luar jendela yang sedang menampilkan aktivitas sibuknya suasana jalanan padahal hari sudah gelap.

Mobil Fortuner putih itu sampai, sebelum turun Anita menanyakan kepada supirnya itu apakah menginginkan es krim juga atau tidak dan ternyata jawaban seperti biasa yang ditolak dengan gelengan halus membuat Anita tersenyum lalu turun dari mobil.

Saat akan mendorong pintu kaca toko, gerakan Anita terhenti karena melihat seseorang yang sangat ia kenali sedang membukakan pintu untuk perempuan lain, Anita hanya terdiam melihat itu, dirinya sama sekali tidak bereaksi saat melihat orang itu sudah berdiri di depan matanya.

"Ta..." panggil orang itu membuat Anita tetap tak bereaksi, untuk hanya sekadar menoleh, mendongak ataupun bergerak sesenti pun tidak, perempuan itu hanya diam di tempatnya berdiri.

"Tata..."

Lagi, suara itu memanggil Anita yang membuat perempuan itu tersadar dari keterdiamannya. Anita cepat bereaksi lalu memegang saku celananya, mencoba mencari hal yang bisa membuat dirinya lenyap dari tempat itu secepatnya. "Masya Allah, dompet aku." ujar Anita pura-pura tersadar bahwa dompetnya ketinggalan di mobil.

Perempuan itu berbalik, sedikit berlari menuju mobil yang bahkan mesinnya belum mati tak menghiraukan panggilan orang itu. Anita masuk ke dalam mobil dengan wajah yang sulit ditebak. "Jalan, pak." ujar Anita mencoba menormalkan suaranya agar pak Raman tidak curiga.

Mobil melaju sesuai perintah, pak Raman hanya berani melirik sebentar dari kaca spion tengah untuk melihat kondisi putri majikannya itu, ia mengetahui apa yang terjadi di depan pintu toko es krim itu walau Anita berusaha dengan keras untuk menutupinya seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Tidak ada ada air mata yang keluar, Anita hanya diam memandangi jalanan yang ramai dan hal yang sekarang ingin ia lakukan adalah mengurung diri di kamar tanpa gangguan siapapun. Mobil yang membawa Anita sampai, perempuan itu turun tanpa mengatakan apapun kepada pak Raman, ia hanya ingin segera masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri.

Ivan yang melihat sang adik tiba-tiba masuk tanpa mengucapkan salam dan menyapanya bingung lalu laki-laki itu mencari tahu apa yang telah terjadi kepada sang adik melalui pak Raman yang baru saja selesai memarkirkan mobil di garasi rumah. "Pak Raman, sebentar." ujar Ivan melangkah mendekati pria paruh baya itu.

"Tata kenapa, pak?" tanya Ivan langsung tanpa basa-basi.

"Non Tata tadi ngeliat mas Habib di depan toko es krim barengan sama perempuan lain, den." cerita pak Raman.

Ivan yang mendengar perempuan lain segera mengeluarkan ponselnya mencari sesuatu. "Perempuan ini?" tanya laki-laki itu sembari menunjukkan layar ponsel yang sedang menampilkan gambar seorang perempuan yang baru selesai ia cari informasinya.

"Nah iya, den. Ini perempuan yang bareng sama mas Habib tadi."

Setelah mendengar pernyataan pak Raman seketika rahang Ivan mengeras tanda bahwa amarah laki-laki itu sedang diuji. "Tapi den, non Tata gak nangis ataupun marah. Non Tata cuma diam waktu mas Habib nyamperin dia terus kayak lagi akting kalo dompetnya ketinggalan terus masuk lagi ke mobil suruh saya jalan padahal non kan memang gak pernah bawa uang cash kalau pergi. Non Tata gak nunjukin emosinya, den." jelas pak Raman.

Ivan terdiam mendengar penjelasan itu lalu seperti seakan teringat sesuatu ia lalu mengucapkan terima kasih lalu pergi lebih tepatnya menghampiri Anita yang berada di kamar perempuan itu. "Tata, buka sebentar mas mau bicara." ujar Ivan lembut sembari mengetuk pintu pelan.

Tak lama pintu terbuka menampilkan wajah Tata yang terlihat biasa saja, tidak ekspresi sedih, kecewa ataupun marah dan hal itu malah semakin membuat Ivan semakin khawatir. "Tata, lagi apa?" tanya Ivan selembut mungkin agar sang adik tenang diajak berbicara.

"Baru selesai baca Al-Qur'an, mas. Ada apa, mas? Mau bicara di balkon?" tawar Anita tersenyum.

Hati Ivan sakit melihat senyuman Anita yang terlihat tulus itu. "Tata, gak papa?" tanya laki-laki itu pelan.

Sementara itu senyum Anita perlahan memudar. "Tata... Tata sakit, mas. Sakit sekali di sini rasanya tau mas Habib bohong, Tata udah coba untuk nenangi diri dengan membaca Al-Qur'an tapi tetep gak bisa, mas."

Air mata Anita turun membasahi pipi perempuan itu sembari tangannya yang mulai memukuli dadanya yang terasa sesak, Ivan yang melihat itu langsung merengkuh tubuh sang adik ke dalam pelukannya. "Tata, jangan dipukuli begitu. Ayo sayang, perlahan atur napas kamu." ujar Ivan mengingatkan bahwa perempuan itu memiliki asma yang dapat kambuh kapan saja.

"Tata, harus kayak gini. Harus jujur sama perasaan Tata sendiri, kalau memang sakit dan Tata gak bisa tahan lagi gak papa Tata nangis gini di depan mas. Gak papa, Tata keluarin aja semuanya." ujar Ivan mengusap punggung sang adik sembari memenangkan perempuan yang sangat ia sayangi itu.

Anita menangis tersedu-sedu, hatinya begitu sakit karena telah dibohongi dengan orang yang sangat ia sayangi dan Ivan paham akan hal itu. "Udah, Tata. Gimana udah naikkan hatinya?" tanya Ivan melepaskan pelukannya menatap sang adik yang sibuk menghapus air matanya.

Anita mengangguk. "Mau roti bakar bang Igob, mas." ujarnya tersenyum membuat Ivan yang mendengar permintaan itu ikut tersenyum juga. "Yaudah, ayo mas belikan."

Anita mengangguk lalu mengambil hoodie berwarna salam yang diberikan oleh Ivan sewaktu ia berulang tahun dua tahun yang lalu. "Adit udah pulang belum ya, mas? Nanti dibelikan aja deh, takut kecapean kalau diajak ikut beli." ujar Anita mengoceh di samping Ivan yang membuat laki-laki hampir genap berumur 30 itu tertawa dalam hati karena berhasil membuat Anita melupakan kesedihannya akibat dibohongi tunangannya sendiri. Miris sekali nasib adiknya itu.

☁️☁️☁️

See you next part 👋

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 720 Jam   LVI. Suami Siaga

    Pagi yang seharusnya tenang setelah makan malam yang hangat itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan kecil. Gibran, yang biasanya paling terakhir bangun jika sedang libur, kini sudah melompat dari tempat tidur sejak subuh karena mendengar suara Anita di kamar mandi.Kondisi Anita pagi ini berbeda dari biasanya. Morning sickness yang kali ini menyerang tampak jauh lebih hebat. Wajahnya yang biasa segar dan elegan kini pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya, dan ia tampak sangat lemas hingga harus berpegangan kuat pada wastafel."Sayang, sudah... jangan dipaksa bangun dulu," ucap Gibran dengan nada sangat khawatir sambil memapah Anita kembali ke tempat tidur.Namun, baru saja kepala Anita menyentuh bantal, rasa mual itu kembali datang. Anita mencoba untuk duduk, tetapi kepalanya terasa berputa

  • 720 Jam   LV. Semuanya Normal

    Akhirnya, "badai" di rumah keluarga Radiga benar-benar berlalu. Setelah fase air mata untuk pohon dan fase ngidam bakso 3.5cm dan kuah sebening kristal, Anita kembali ke mode aslinya. Pagi ini, meja makan tidak lagi dipenuhi jangka sorong atau batu gunung api. Anita duduk dengan tenang, menyesap teh hangat sambil mencoret-coret sketsa di tabletnya.Tidak ada lagi permintaan aneh, dia hanya meminta sarapan nasi goreng buatan Talita yang standar, tanpa menuntut nasi gorengnya harus disusun membentuk piramida. Begitu masuk kantor, aura Anita benar-benar berbeda. Ia berjalan menuju ruang rapat dengan langkah mantap. Timnya—Hega, Rifa, Raja, dan Miko—awalnya sempat ragu, bahkan Raja sempat menyembunyikan kotak bekalnya karena takut diprotes sudut potongannya.Namun, Anita membuka rapat dengan sangat profesional."Semuanya, lupakan keributan kemarin. Fokus ke

  • 720 Jam   LIV. Kembali Normal

    Pagi itu, suasana di rumah keluarga Radiga terasa sangat aneh karena... sunyi. Tidak ada suara tangisan meratapi nasib bantal, tidak ada drama simpati pada semut, dan tidak ada omelan soal bau ketiak yang mirip toko bangunan.Anita turun dari tangga dengan mengenakan setelan kerja blazer berwarna nude yang sangat elegan, hijabnya dibentuk rapi, wajahnya dipulas make-up natural yang segar, dan sorot matanya kembali tajam namun tenang—khas seorang arsitek senior yang profesional.Ivan dan Adit yang sedang sarapan di meja makan mendadak membeku, memegang sendok mereka di udara seolah takut bergerak sedikit saja akan memicu "ledakan" hormon seperti hari-hari sebelum

  • 720 Jam   LIII. Keluarga Lain

    Ada tamu tak terduga datang setelah Anita pulang dari dokter kandungan bersama Radiga dan Talita, Habib datang bersama kedua orangtuanya. Suasana di ruang tamu yang tadinya tegang perlahan-lahan mencair, meski tetap terasa sangat canggung. Hadid dan Nisa, duduk dengan raut wajah yang tulus, meski ada guratan penyesalan di sana. Sementara Habib sendiri hanya menunduk, sesekali memaksakan senyum tipis yang terlihat getir."Kami benar-benar ikut bersyukur mendengar kabar ini, Radiga, Talita," ucap Hadid dengan suara rendah. "Mendengar Anita sedang mengandung, hati kami ikut tenang."Nisa mengangguk, matanya menatap Anita dengan lembut. "Iya, Ta. Mama sama Papa ikut seneng denger kamu kehamilan kamu. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan ini. Kami sering mendengar betapa Gibran sangat menjaga kamu. Jujur, kami membandingkannya dengan Habib..." Nisa menghela napas panjang sambil melirik putranya."Sampai

  • 720 Jam   LII. Keramaian

    Malam itu, halaman rumah keluarga Radiga sudah seperti zona merah. Adit mencegat rombongan dari firma arsitek—Hega yang terlihat tenang sebagai senior, Rifa dan Raja yang membawa keranjang buah besar, serta Miko yang sudah membawa kado kecil—tepat di bawah lampu taman."Dengerin gue baik-baik," bisik Adit dengan wajah sangat serius, seolah sedang memberikan instruksi misi rahasia. "Jangan bahas soal proyek yang tunda, jangan bahas soal gedung yang miring, dan yang paling penting... jangan ketawa kalau dia ngomong hal yang nggak masuk akal. Anggap aja dia itu presiden yang lagi pidato. Ngerti?"Miko menyengit. "Bang Adit lebay banget deh. Mbak Tata kan biasanya paling kalem di kantor.""Mbak Tata yang lo kenal udah 'pindah' ke planet lain, Miko," sahut Ivan yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dengan mata lelah. "Masuk aja, tapi gue udah peringatin ya."

  • 720 Jam   LI. Kabar Bahagia II

    Pagi itu suasana rumah keluarga Radiga jauh lebih tenang. Matahari masuk melalui celah jendela, menerangi Anita yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah. Karena baru saja menyelesaikan proyek besar di firma arsiteknya, Anita memiliki waktu libur yang sangat ia butuhkan—terutama untuk menata emosinya yang masih naik-turun.Setelah sarapan, Anita memutuskan untuk menelpon ibu mertuanya. "Halo, Mama... Anita mau kasih kabar," ucap Anita dengan suara lembut namun bergetar. "Alhamdulillah, Anita positif hamil, Ma."Di seberang telepon, terdengar jeritan bahagia yang sangat kencang hingga Anita harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Tak butuh waktu lama, hanya dua jam setelah telepon ditutup, bel rumah berbunyi dengan heboh.Mama Bela datang tidak sendirian; ia memboyong Gesa, adik bungs

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status