LOGINSuasana di kamar Anita kini jauh lebih tenang. Lampu tidur yang temaram memberikan kesan hangat, kontras dengan kekacauan yang terjadi di taman dan dapur tadi sore. Anita duduk bersandar di tumpukan bantal, memegang ponselnya dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar.Di layar ponsel, wajah Gibran tampak sangat jelas. Dia masih mengenakan kemeja kantor yang sudah kusut, duduk di pinggir tempat tidurnya dengan wajah yang tegang sekaligus penuh harap. "Jadi... hasilnya gimana, Sayang?" tanya Gibran pelan, suaranya serak karena menahan cemas.Anita tidak langsung menjawab. Dia menunjukkan testpack itu ke arah kamera. Begitu melihat dua garis merah di sana, Gibran seketika menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. "Ya Allah... beneran, Ta? Kita... kita bakal punya anak?" Gibran tersenyum
Karena Gibran berada di luar kota, suasana di rumah menjadi semakin kocak sekaligus tegang. Adit dan Ivan merasa memegang tanggung jawab besar untuk menjaga "bom waktu" yang bernama Anita.Adit dan Ivan segera melipir ke teras depan, menjauh dari jangkauan indra pendengaran Tata yang mendadak jadi sekuat radar militer. Adit menekan tombol loudspeaker setelah panggilan tersambung."Halo, Mas Gibran! Mas, ini darurat!" bisik Adit tanpa basa-basi."Darurat kenapa, Dit? Ada apa? Rumah kemalingan? Tapi ya gak mungkin sih." suara Gibran di seberang sana terdengar sangat khawatir.Ivan menyambar ponsel itu, "Bukan Bran, ini Anita! Dia barusan nangisin pohon mahoni karena katanya pohonnya kesepian nggak bisa pelukan. Terus sekarang dia marah-marah gara-gara bau sabun cuci piring. Udah Gib, lo jujur deh, lagi ada masalah ya sama Tata?" tanya Ivan penuh selidik.Terdengar helaan napas panjang dan lelah dari ujung telepon. "Aduh, kalian juga kena ya? Dari kemarin lewat telepon dia juga gitu ke a
Saat ini Anita sedang duduk di kursi taman bersama dengan Ivan yang sedang melukis di sampingnya, keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing, Anita sedang membaca novelnya yang seminggu lalu dihadiahkan oleh adik sang pacar.Suasana tenang diantara mereka berdua tiba-tiba terganggu saat Ivan mendengar suara tangisan kecil, laki-laki itu langsung melihat adiknya yang sudah terisak kecil tapi tetap menatap novel yang sedang di bacanya dengan tenang itu. "Tata kenapa?" tanya Ivan pelan mendekat sembari mengusap bahu adiknya."Keluarganya jahat banget, mas. Udah dibuang dari kecil, pas udah sukses malah dimanfaatin. Kenapa sih orang tega banget?" ucap Anita sesenggukan. Air matanya jatuh membasahi halaman novel yang malang itu.Ivan menghela napas lega, mengira itu hanya karena cerita fiksi. "Namanya juga novel, Ta. Kan biar pembacanya terbawa suasana dan masuk ke dalam cerita, Ta. Sudah, jangan nangis lagi, nanti matanya bengkak loh." ujar Ivan lalu menurunkan tangannya memberi jarak
Rutinitas subuh baru mereka adalah menelpon satu sama lain secara bergantian atau lebih tepatnya siapa yang bangun lebih awal, orang itu yang akan menelpon terlebih dahulu dan pagi ini Anita lah yang lebih dahulu bangun, wanita itu langsung mencari ponselnya untuk menghubungi sang suami yang sedang jauh di sana.Nada sambung yang pertama belum terangkat.Nada sambung keduaKetiga dan akhirnya nada sambung keempat panggilan dijawab."Masss" panggil Anita lembut."Iya sayang?" jawab Gibran dari seberang dengan nada yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu."Mas sakit? Atau lagi ngerasakan gak enak?" tanya Anita khawatir.Sedikit jeda dari pertanyaan itu dan Anita menunggu dengan tegang karena mendengar hembuskan napas kecil sang suami. "Mas kayaknya lagi diare, sayang. Sakit sama lemes banget ini." ujar laki-laki itu akhirnya."Ya Allah, masss." balas Anita sedih."Sayang sudah dulu ya, mas mau siap-siap subuh nanti mas video call ya." ujar Gibran yang langsung dijawab Anita setuju.
Gibran sudah berangkat, subuh ini wanita itu bangun dengan suara telepon yang berdering bukan alarm melainkan telepon dari suaminya. "Assalamualaikum sayang, sudah bangun?" tanya seseorang dari seberang telepon ketika Anita menggeser ke arah tombol hijau layarnya."Waalaikumsalam, mas. Sudah baru aja, mas sudah selesai subuh?" tanya Anita melirik jam digital besar yang ada di dinding kamarnya."Ini masih mau subuh, mas mau cek kamu dulu sudah bangun atau masih tidur." ujar Gibran diujung sana."Yasudah, mas. Kamu sholat duluan ya, Tata mau siap-siap dulu nanti selesai Tata video call ya, mas ku sayang." ujar wanita itu yang langsung diangguki oleh Gibran.Anita segera turun dari ranjang, ia segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersih-bersih karena sudah masuk waktu subuh. Biasanya pagi akan disambut dengan suara gerakan dari Gibran yang bangun terlebih dahulu daripada dirinya tapi pagi ini menjadi hari pertamanya untuk bersiap siap sendiri.Selesai bersih-bersih dan menunaikan iba
"Loh anak papa kenapa mukanya mendung gitu?" tanya Radiga melihat Anita turun dari lantai dua, melihat wajah sang putri yang pagi ini tidak seperti biasanya."Papaaaa" rengek Anita, berjalan gontai ke arah Radiga yang duduk di sofa."Sini sayangg, bilang sama papa siapa yang udah buat kamu sedih. Kok berani banget dia." ujar Radiga seperti berbicara dengan gadis kecil, sudah lama ia tidak melihat wajah Anita dan sifatnya yang seperti ini. "Mbak Mbak..." ucapan Adit terpotong melihat wajah Anita yang hampir ingin menangis lalu ia panik mendekati Anita yang duduk bersama dengan papanya."Mbak kenapa?" tanyanya khawatir, Adit paling tidak bisa melihat wajah Anita yang seperti ini."Mbakmu mau ditinggal suaminya jadi sedih, Dit." ucap Ivan yang baru turun dari lantai dua lalu duduk bergabung bersama mereka.Mendengar hal itu Adit menegakkan tubuhnya lalu duduk di samping kakak perempuannya itu. "Ohh, kirain kenapa Mbak." "Udah ah mbak jangan sedih lagi, lagi pula kan kita bisa nyusul ma







