LOGINTanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.
Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata, meski suaraku terdengar nyaris bergetar. Althaf sama sekali tak menoleh ke arahku lagi. Ia justru berjalan lebih dulu, masih dengan genggaman tangan Bu Yuanita yang membuat langkahku terasa goyah. Seakan sengaja, Bu Yuanita terkekeh kecil, nada tawanya ringan, terlalu manis untuk seorang dosen di depan mahasiswanya. Aku bisa merasakan dua pasang mata mengawasi dari sudut kafe. Layla mencondongkan tubuhnya ke arah Revan, lalu berbisik pelan tapi cukup jelas kudengar. "Eh, lihat deh. Kayaknya Bu Yuanita genit banget sama Pak Althaf, ya?" Revan mendengus sambil mengangkat alis, ekspresinya sinis. "Genit apaan, itu sih udah kelewatan. Mereka masuk kafe aja gandengan tangan, Lay. Kayak... bukan dosen dan kolega, tapi pasangan." "Gila sih. Padahal Bu Yuanita dosen, bukan mahasiswi. Masa iya dia segitunya?" Layla menggeleng, wajahnya penuh tanda tanya. Aku menunduk, pura-pura sibuk merapikan piring kosong di meja sebelah. Suara mereka menusuk telingaku. Ingat Senjani, pernikahan ini bukan perrnikaan normal. Apa yang kamu harapkan dari Althaf? Merasa bersalah karena bergandengan tangan dengan Bu Yuanita? Minta maaf padamu? Jangan bermimpi Senjani. Aku menelan ludah, berusaha mengendalikan napas. Tenang, Senja. Jangan tunjukkan apa pun. Jangan sampai mereka curiga. Sementara itu, di meja ujung kafe, Bu Yuanita tertawa renyah mendengar sesuatu yang dikatakan Althaf. Ia bahkan menyentuh lengannya, terlalu akrab untuk sekadar kolega. Sedangkan Althaf... wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun, tatapan dinginnya membuatku semakin merasa kecil dan tak berarti. Layla kembali berbisik dengan nada tak percaya. "Serius deh, Van, lo nggak ngerasa aneh? Kok Bu Yuanita bisa segitu lengketnya sama Pak Althsambunbaf?" Revan hanya menyilangkan tangan di dada. "Ya jelas aneh. Gue nggak ngerti lagi. Kalau mahasiswa yang genit sama dosen, masih wajar lah. Tapi ini dosen ke dosen. Dan lihat deh, Bu Yuanita keliatan banget yang ngejar." "Bener. Kasihan banget istrinya di rumah," balas Revan ketus sambil menggeleng pelan. Ucapannya membuat darahku seolah berhenti mengalir. Aku ingin menegurnya, tapi lidahku kelu. Layla justru malah menepuk tangan dengan antusias. "Eh, gue ada ide! Gimana kalau kita gangguin mereka aja. Kita gabung yuk di meja mereka." Matanya berkilat penuh keberanian. Aku menoleh kaget. "La, jangan..." bisikku cemas, tapi Layla sudah lebih dulu menarik pergelangan tanganku. Revan mendengus, tapi akhirnya ikut berdiri juga, mungkin karena tidak tega meninggalkanku sendiri. Langkah Layla ringan, bahkan terlalu bersemangat, sementara kakiku terasa seperti diseret batu besar. Napasku tidak beraturan. Aku bisa melihat jelas Bu Yuanita masih tersenyum sambil merapikan rambutnya, dan Althaf... meneguk kopinya pelan tanpa ekspresi. "Eh ada Bapak dan Ibu dosen kesayangan kita. Boleh gabung di sini nggak?" ucap Layla ramah, suaranya dibuat seceria mungkin, tapi aku tahu betul senyum itu hanya topeng. Tampak Althaf dan Bu Yuanita sedikit terkesiap. Tatapan mereka sempat bertukar, seakan menimbang sesuatu. Bu Yuanita yang lebih dulu bereaksi, tersenyum lebar meski agak kaku. "Oh... tentu, silakan. Ramai-ramai juga lebih seru, kan, Pak Althaf?" Ia menoleh dengan manja, berharap persetujuan. Althaf hanya mengangguk tipis, wajahnya tetap dingin. Pandangannya sekilas menembusku, lalu kembali ke arah kopinya, seolah aku hanyalah bayangan. Layla langsung menarik kursi dan duduk dengan penuh percaya diri. Revan duduk di sebelahku, tubuhnya tampak tegang, sementara aku memilih kursi paling pinggir-berusaha membuat diriku sekecil mungkin. "Wah, kebetulan banget ya bisa ketemu di sini," sambung Layla dengan nada dibuat-buat. "Ibu lagi ngajarin Pak Althaf tentang... apa ya, romantisme klasik, gitu? Sama kayak di mata kuliah Ibu" godanya sambil tersenyum sinis. Bu Yuanita terkekeh, meski suaranya terdengar agak canggung. "Aduh, kamu bisa aja, Layla. Kita cuma ngobrol soal tugas saja kok." Revan mencondongkan tubuh, menyilangkan tangan di dada. "Tugas? Tugasnya sampai gandeng-gandengan tangan gitu, Bu?" sindirnya tajam. Suasana langsung hening. Musik jazz yang tadi samar kini terdengar begitu jelas, menusuk ruang hampa di antara kami. Aku menunduk dalam-dalam, wajahku panas, dada terasa sesak seolah udara di kafe itu mendadak menipis. Gelak tawa Layla yang tadi riuh kini seperti teredam. Hening menekan kami, menyisakan detak jantungku yang berdentum nyaring di telinga sendiri. Dengan senyum kaku, aku berusaha mencairkan suasana yang mendadak beku. "Silakan dinikmati, Pak Althaf, Bu Yuanita. Cheesecake ini best seller di kafe kami," ucapku pelan, suaraku terdengar hampir bergetar. "Oh, ya? Pantas saja rasanya seenak ini," sahut Bu Yuanita riang sambil mencicipi cheesecake dengan tatapan berbinar. Ia tampak santai, sama sekali tak menyadari pusaran kegugupan yang menggulung di meja ini. Revan tiba-tiba mendorong piring berisi cheesecake ke hadapanku. "Lo juga makan deh, Jani. Dari tadi gue perhatiin lo belum nyentuh apa pun." Aku tertegun, kaku di tempat. Saat itu juga, Althaf yang sedari tadi hanya menunduk, menatap minumannya tanpa suara, akhirnya mengangkat kepala. Mata kami bertemu. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuatku merasa terintimidasi, seakan semua rahasia dan kegelisahanku terbaca jelas di sana. Tatapan itu tajam, dingin, penuh sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk, jari-jariku meremas ujung rok yang kukenakan. "Makasih, Van. Tapi gue lagi nggak pengen cheesecake," jawabku kaku, berusaha menutup celah yang bisa menimbulkan salah paham lagi. Namun Revan tak menyerah. Senyumnya muncul lagi, tulus tapi juga sedikit menantang. "Kalau gitu gimana? Sebelum nonton kita makan ramen favorit lo dulu. Gue tahu tempat yang enak." Aku membuka mulut hendak menjawab, tapi Bu Yuanita mendadak menimpali dengan suara ceria yang menusuk telinga. "Kalian mau nonton film? Wah, saya sudah bisa nebak, sih... memang Senja dan Revan ini kelihatan punya hubungan spesial." Ia melirikku, lalu mengerling manja ke arah Althaf. "Soalnya dari cara Revan menatap Senja, jelas banget kalau dia punya rasa lebih." Aku tersenyum kaku, wajahku makin memanas. Ujung mataku menangkap Revan yang sedang menatapku-dengan sorot mata teduh, dalam, tapi sulit kutebak. Sementara itu, di sisi lain, Althaf menegang. Rahangnya mengeras, tangannya meremas gelas di hadapannya begitu kuat hingga jemarinya memutih. Aku mencoba menjawab, suara tercekat di tenggorokan. "Bu Yuanita salah paham, sepertinya. Saya dan Revan murni cuma berteman. Kami sudah berteman sejak-" "Benar, Bu," potong Revan tiba-tiba, suaranya dalam, mantap, dan nyaring di telinga semua orang. "Saya memang menaruh hati pada Jani." Deg. Seolah ada petir yang menyambar tepat di tengah meja. Dadaku berdegup kencang tak karuan. Tenggorokanku kering, lidahku kelu. Revan menatapku lurus, seakan ingin meyakinkanku sekaligus menantang siapa pun yang berani menyangkalnya. Aku bisa merasakan udara di sekelilingku mendadak membeku. Dari sudut mataku, kulihat Althaf terpaku. Sorot matanya gelap, dalam, penuh sesuatu yang tak terucapkan. Amarah? Luka? Aku tak tahu. Yang jelas, tatapan itu menusuk, membuatku hampir tak bisa bernapas. Aku meremas pangkuanku makin erat, berusaha menahan getar tubuh. Ya Tuhan masalah apalagi yang akan ku hadapi saat ini.Empat tahun telah berlalu, namun rasa syukur yang mengalir di hatiku tak pernah berkurang barang sedikit pun. Semuanya terasa seperti mimpi yang tak ingin kusudahi.Sinar matahari sore yang keemasan kini memayungi hamparan pasir putih di depan kami. Suara deburan ombak berpadu mesra dengan gelak tawa yang begitu damai—suara yang kini menjadi musik favoritku setiap hari. Di tepian air, aku melihat Althaf sedang berlarian kecil, mengejar seorang gadis mungil yang tak henti-hentinya tertawa kegirangan.Renjana Arunika Dirgantara.Putri kecil kami yang kini telah berusia empat tahun. Banyak yang bilang ia adalah jiplakanku—mulai dari mata bulatnya yang jernih hingga senyumnya yang manis dan hangat. Namun, sifat keras kepala dan cara bicaranya yang cerdas jelas merupakan warisan mutlak dari ayahnya.“Papa, ayo kejar Njana!” teriaknya sambil berlari menghindari ombak kecil. Gaun pantai putihnya tampak berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti
Theresa menopang dagu, menatap Keenan yang sekarang asyik memainkan sendok es krimnya dengan saksama. “Iya. Dulu, waktu aku mengandung Keenan, ada satu fase di mana aku benci banget melihat muka Mas Althaf. Padahal ya... dia ada di sana terus, menemani aku.”Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum tipis. “Lucu ya, kata orang tua dulu kalau kita benci sama seseorang saat hamil, anaknya malah jadi mirip orang itu. Sepertinya mitos itu terjadi padaku.”Ia lalu beralih menatapku. Sorot matanya kini berkilat, menyimpan rahasia yang membuatku semakin sesak.“Tapi kenyataannya, memang Mas Althaf yang paling banyak membantuku saat itu. Kamu pasti tahu kan, rumor yang beredar di luar sana? Kami memang sedekat itu. Bahkan sampai Keenan lahir, Mas Althaf nggak pernah absen untuk memastikan kami berdua baik-baik saja.”Darahku terasa berdesir dingin. Kalimat Theresa barusan seolah membenarkan semua ketakutan yang selama ini hanya berputar di kepalaku sebagai go
Baru saja suasana menjadi damai, ponselku kembali bergetar nyaring. Nama ‘My hubby 🤍’ muncul di layar. Aku segera mengangkatnya, menyadari betapa cepatnya ‘laporan pandangan mata’ dari Pak Jaka sampai ke telinganya.“Halo, Mas?”“Sayang, kamu di mana? Barusan Pak Jaka bilang Revan nyamperin meja kamu?” Suara Mas Althaf terdengar berat dan cemas. Nada posesifnya yang khas langsung keluar begitu saja.Aku tertawa kecil, melirik ke arah Pak Jaka yang memang tetap setia mengawasi dari kejauhan. “Tenang, Mas. Revan cuma mampir sebentar buat ngucapin selamat, kok. Semuanya baik-baik saja, sekarang dia sudah pergi.”Terdengar helaan napas panjang di seberang sana, seolah beban beratnya baru saja terangkat. “Baguslah kalau dia tahu diri. Terus, bekal kamu gimana? Salmonnya dihabiskan, Senjani? Jus alpukatnya juga jangan lupa diminum, ya. Itu bagus buat dedek bayi.”Aku melirik kotak bekalku yang sudah hampir kosong. “Ini lagi aku makan, Mas. Tin
Sejak kabar bahagia itu, Althaf benar-benar berubah menjadi pria yang sepuluh kali lipat lebih protektif. Kini, aku bahkan dilarang keras menyentuh dapur. Di apartemen kami sekarang sudah ada asisten rumah tangga yang membantu membereskan rumah, memasak, dan bersih-bersih. Beliau hanya datang pagi hingga sore hari, karena Althaf bersikeras tidak ingin ada orang lain yang mengganggu privasi kami saat malam tiba.Soal makanan, perhatiannya sudah di tahap luar biasa. Dia tidak lagi mengizinkanku jajan sembarangan di kantin kampus. Semua asupan harus sesuai dengan standar gizi ibu hamil. Bahkan untuk ke kampus pun, ia meminta asisten kami menyiapkan bekal lengkap; mulai dari menu utama, potongan buah segar, hingga jus murni tanpa gula.Awalnya aku merasa Althaf berlebihan, tapi lama-lama aku sadar bahwa ini adalah caranya mencintaiku. Karena kesibukan kantor yang sedang padat-padatnya membuat ia tidak bisa mengantar-jemputku setiap saat, ia sampai menyewa sopir pribadi
Althaf mulai memotong steak di piringnya dengan gerakan tenang. Sesekali ia melirikku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di hadapannya malam ini, bukan sekadar imajinasi. Setelah suapan pertama, matanya sedikit terpejam, menikmati rasa masakan yang kusajikan.Ia meletakkan garpu sejenak, lalu menatapku dengan binar mata yang begitu hangat.“Senjani,” panggilnya pelan, suaranya berat namun terdengar sangat lembut. “Kalau setiap hari kamu masak kayak gini, sepertinya aku harus siap-siap ganti semua ukuran celanaku jadi lebih besar.”Aku tertawa kecil mendengarnya, refleks menutupi mulutku karena malu. “Maksudnya, Mas mau bilang kalau masakan aku terlalu banyak lemak, ya?”“Bukan begitu,” sanggahnya cepat. Ia menjangkau jemariku di atas meja, mengusap punggung tanganku dengan ibu jari secara perlahan. “Maksudku, masakanmu ini berbahaya. Bikin nagih. Aku bisa gemuk karena aku nggak akan pernah mau makan di luar lagi kalau di rumah saja ada koki
Layla menghela napas panjang. Ia menggenggam tanganku lebih erat, seolah ingin menyalurkan kekuatannya. Tatapannya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi sangat serius.“Sen, dengerin gue,” ucap Layla tegas. “Lo jangan naif dan jangan kebiasaan buat berpikir buruk sebelum mencoba. Gue tahu pernikahan kalian awalnya emang nggak biasa, tapi lo lihat sendiri gimana perlakuan Pak Althaf ke lo belakangan ini. Apa menurut lo perhatiannya itu cuma akting?”Aku terdiam. Memoriku kembali berputar, membayangkan cara Mas Althaf menatapku di depan kafetaria tadi pagi, juga betapa hangat pelukannya semalam.“Dia itu sayang banget sama lo, Senjani,” lanjut Layla meyakinkan. “Dan gue berani jamin, dia pasti bahagia denger kabar ini. Bagi laki-laki kayak Pak Althaf, punya anak dari perempuan yang dia cintai itu bukan beban, melainkan anugerah. Jadi, berhenti buat skenario buruk di kepala lo sendiri.”Aku menatap Layla dengan ragu. “Tapi gimana kalau ternyata gue salah, Lay? Gimana kalau sebenerny
“Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku.Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang t
Aku mengetuk tiga kali pintu kayu besar dengan ukiran elegan itu. Setelah terdengar sahutan singkat dari dalam, perlahan aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang kerja Althaf.Ruangan itu luas, berwibawa, dan sunyi. Sebuah meja kerja besar berdiri kokoh di tengah, menghadap langsung ke jendel
Pernikahan itu akhirnya berlangsung tiga minggu setelah aku mengatakan pada Althaf bahwa aku menerima tawarannya. Tiga minggu yang terasa seperti berjalan di atas bara, antara ragu dan pasrah, antara luka dan harapan.Segala syarat yang ia tuliskan dalam kontrak pernikahan menjadi belenggu sekaligu
Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.Althaf menutup pi







