LOGINSetelah tiga bulan menjalani pernikahan bersama Althaf, ternyata benar seperti yang dikatakan Mbok Mirna, Althaf memang jarang sekali pulang ke rumah. Biasanya hanya dua minggu sekali, bahkan kadang sampai tiga minggu baru sekali pulang. Itupun hanya sebentar, langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa sempat bertegur sapa.
Awalnya Mbok Mirna sering bertanya-tanya, kenapa majikannya jarang sekali pulang meski sudah menikah. Aku sempat berbohong, mencoba menutupi. Namun, seiring berjalannya waktu, Mbok Mirna akhirnya paham—pernikahan kami memang jauh dari kata normal. Hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku tetap kuliah, dan di sela waktu kosong, aku bekerja sebagai kasir di sebuah kafe. Bukan karena aku kekurangan. Uang bulanan dari Althaf sudah lebih dari cukup, bahkan fantastis jumlahnya. Tapi aku punya alasan lain. Aku ingin menabung sebanyak mungkin. Aku tidak pernah tahu sampai kapan pernikahan ini bertahan, dan ketika semua ini berakhir, aku ingin punya bekal untuk hidup normal tanpa Althaf. Di rumah, aku mencoba sibuk dengan hal-hal sederhana. Kadang aku membantu Mbok Mirna memasak atau belanja ke pasar. Bahkan aku mulai berkebun. Di samping kolam renang ada sebidang tanah kecil yang dulu tak terurus, hanya ditumbuhi rumput liar. Aku menyulapnya menjadi taman mungil dengan bunga-bunga warna-warni. Melihat mereka tumbuh pelan-pelan, entah kenapa membuat hatiku sedikit lebih tenang. Tentang Ibu, aku sungguh bersyukur. Kondisinya kini jauh membaik. Bulan lalu, aku membelikan sebuah rumah kecil tak jauh dari kontrakan lama, menggunakan uang pemberian Althaf, tentu saja. Di depan rumah itu, Ibu membangun warung nasi sederhana, dibantu Mira, sepupuku. Itu memang impian Ibu sejak lama—punya warung nasi sendiri. Dan aku lega bisa membantu mewujudkan mimpinya. Sore itu aku sampai di rumah Ibu setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan dengan motor. Dari kejauhan aku melihat beliau sedang sibuk melayani pelanggan di warung kecilnya. Beberapa meja dipenuhi orang, aroma masakan menyeruak hangat ke jalan. Pemandangan itu membuat dadaku terasa hangat. Tanpa pikir panjang, aku segera turun dan ikut membantu. Mira tampak kewalahan, wajahnya basah oleh keringat, namun tetap tersenyum ramah pada para pelanggan. “Ya ampun, Jani… kapan kamu datang, Nak?” sapa Ibu dengan suara riang, meski tangannya masih cekatan menuangkan sayur ke piring pelanggan. “Baru saja, Bu. Kebetulan ada tugas dekat sini, jadi sekalian mampir.” Aku tersenyum kecil, berbohong halus. Aku tak mungkin bilang sebenarnya aku memang sengaja datang untuk menginap. Kalau Ibu tahu, beliau pasti akan bertanya kenapa Althaf tidak ikut bersamaku. “Kamu sudah izin sama suamimu, kan?” tanyanya sambil melirik sekilas, nada suaranya penuh keibuan. “Sudah, Bu. Mas Althaf kebetulan lagi ada pekerjaan di luar kota. Jadi Jani mau nginap di sini, kangen sama Ibu.” Aku langsung memeluk Ibu erat-erat, manja, seperti anak kecil yang merindukan rumah. Ibu terkekeh kecil lalu membalas pelukanku. Hangat, menenangkan, dan membuatku sejenak lupa pada segala beban di rumah besar itu. *** Malam itu warung sudah ditutup. Lampu bohlam kuning di beranda memantulkan cahaya temaram, menemani kami duduk berdua. Udara malam terasa lembut, tapi hati kecilku justru gelisah. Ibu menaruh secangkir teh hangat di depanku, lalu duduk di sampingku. Tangannya sibuk mengibas-ngibas sisa asap dapur dari bajunya, wajahnya tampak lelah, namun senyumnya tetap tulus. “Jani, Ibu senang kamu datang,” ucapnya sambil menepuk pelan pahaku. “Rumah ini jadi lebih ramai kalau ada kamu.” Aku tersenyum, mencoba menguatkan hati. “Jani juga senang, Bu. Warungnya ramai banget, Ibu hebat.” Ibu terkekeh, matanya berkilat lembut. “Kalau bukan karena kamu, warung ini nggak akan berdiri. Kamu yang wujudin mimpi Ibu.” Aku terdiam. Senyum di wajahku perlahan memudar. Sakit rasanya mendengar ucapan itu. Bukan aku yang mewujudkan impian Ibu… tapi uang dari Althaf. Uang dari pernikahan yang bahkan tak kudapati arti dari pernikahan ini. Ibu menoleh padaku, seolah bisa membaca isi hatiku. Tatapannya menusuk lembut, membuatku sulit bersembunyi. “Senjani…” suaranya pelan, tapi tegas. “Kamu bahagia, Nak? Dengan pernikahanmu?” Aku tercekat. Kata ‘bahagia’ rasanya terlalu berat untuk kujawab. Aku ingin bilang iya, ingin membuatnya lega. Tapi hatiku menolak. Aku mengangkat wajah, memaksa tersenyum. “Jani baik-baik aja, Bu. Jangan khawatir.” Ibu menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku. Genggamannya hangat, tapi terasa seperti tamparan halus. “Baik-baik saja belum tentu sama dengan bahagia, Senja.” Dadaku sesak. Air mata rasanya mendesak ingin keluar, tapi aku buru-buru menunduk, pura-pura meniup tehku yang sudah dingin. “Ibu cuma ingin kamu benar-benar bahagia,” lanjutnya lirih. “Bukan cuma terlihat kuat.” Kali ini aku tak bisa menahan lagi. Setitik air mata jatuh ke punggung tanganku. Aku buru-buru menghapusnya, berharap Ibu tidak melihat. Tapi aku tahu, beliau selalu bisa melihat lebih dari apa yang kutunjukkan. Dalam hati aku berbisik doa, semoga suatu hari nanti aku benar-benar bisa menunjukkan kebahagiaan yang nyata pada Ibu—bukan sekadar kepura-puraan. Ibu menatapku dengan tatapan tak terbaca sebelum berkata. “Kamu harus menghormati suamimu. Jaga dia baik-baik, Jani. Althaf anak yang baik. Dia beberapa kali main ke sini kalau kebetulan ada kerjaan dekat sini. Kalau datang, nggak pernah dengan tangan kosong. Selalu bawain makanan kesukaan Ibu.” Aku terdiam. Cangkir teh di tanganku hampir terlepas. Apa? Althaf sering datang ke sini? Tanpa sepengetahuanku? “Althaf suka sekali dengan tempe orek dan sayur bacem masakan Ibu,” lanjut Ibu sambil tersenyum mengenang. “Katanya mirip dengan masakan almarhumah ibunya. Kalau datang, dia selalu minta Ibu masakin itu. Kapan-kapan kamu masakin juga untuk suamimu, ya. Ingat, Nak… masak untuk suami itu pahalanya besar.” Hatiku mendadak sesak. Aku baru tahu hal itu. Kenapa Althaf bisa begitu hangat pada Ibu, sementara padaku… seolah aku hanya orang asing di rumahnya? “Ibu nggak nyangka, anak orang kaya seperti Althaf suka makanan kampung buatan Ibu.” Ibu terkekeh kecil. Wajahnya terlihat bahagia. Aku hanya mampu mengangguk, lalu meraih tangannya, mengusap lembut. Senyumku tipis, tapi dadaku penuh dengan tanda tanya besar. Rasa getir, haru, dan bingung bercampur menjadi satu. *** Siang itu, setelah mata kuliah selesai, seperti biasa aku langsung bekerja di kafe tak jauh dari kampus. Hari ini, Layla dan Revan sudah duduk manis di sudut kafe tempatku bekerja. Mereka sengaja menungguku, karena sesuai janji, setelah aku selesai shift kami akan menonton film untuk tugas analisis dari Bu Yuanita. Minggu ini tugas itu harus dikumpulkan, jadi kami sepakat menyelesaikannya bersama. Dari kejauhan kulihat mereka bercanda, tawa mereka terdengar renyah menembus riuh rendah musik kafe. Aku membawa sepiring kecil berisi kue kering, lalu menghampiri meja mereka. “Nih, gratis buat kalian, karena sudah berbaik hati nungguin gue kerja.” Aku meletakkan piring itu di meja sambil tersenyum. Layla menyambut dengan mata berbinar. Tanpa basa-basi ia langsung menyomot satu kue dan menggigitnya. “Makasih ya, Sen. Tahu gitu, gue sering-sering nemenin lo kerja biar dapet cemilan gratis.” Revan menatapnya tajam, seolah kesal. “Cuma lo doang, orang kaya tapi hobinya ngemis makanan gratis.” Layla terkekeh, tak ambil pusing dengan komentar Revan. “Namanya juga makanan gratis. Monyet aja seneng dikasih pisang, apalagi gue.” “Ye, memang lo monyet,” balas Revan dengan nada menggoda. Layla meledak tertawa, sementara aku ikut tersenyum. Rasanya hangat bisa melihat mereka bercanda seperti itu. Aku sudah hendak menimpali, tapi tiba-tiba bunyi kerincing di pintu kafe membuat langkahku terhenti. Refleks aku menoleh, menyambut pelanggan yang baru datang. “Selamat dat—” Deg. Kalimatku terhenti. Jantungku langsung berdetak tak karuan. Althaf. Ia berdiri di ambang pintu bersama Bu Yuanita. Pandangan kami bertemu sepersekian detik—dan saat itu rasanya seluruh tubuhku membeku. Namun, sama cepatnya, Althaf mengalihkan tatapannya. Seolah aku hanyalah orang asing. Dan yang lebih menusuk hatiku… tangannya menggenggam tangan Bu Yuanita erat-erat.Empat tahun telah berlalu, namun rasa syukur yang mengalir di hatiku tak pernah berkurang barang sedikit pun. Semuanya terasa seperti mimpi yang tak ingin kusudahi.Sinar matahari sore yang keemasan kini memayungi hamparan pasir putih di depan kami. Suara deburan ombak berpadu mesra dengan gelak tawa yang begitu damai—suara yang kini menjadi musik favoritku setiap hari. Di tepian air, aku melihat Althaf sedang berlarian kecil, mengejar seorang gadis mungil yang tak henti-hentinya tertawa kegirangan.Renjana Arunika Dirgantara.Putri kecil kami yang kini telah berusia empat tahun. Banyak yang bilang ia adalah jiplakanku—mulai dari mata bulatnya yang jernih hingga senyumnya yang manis dan hangat. Namun, sifat keras kepala dan cara bicaranya yang cerdas jelas merupakan warisan mutlak dari ayahnya.“Papa, ayo kejar Njana!” teriaknya sambil berlari menghindari ombak kecil. Gaun pantai putihnya tampak berkibar tertiup angin, membuatnya terlihat seperti
Theresa menopang dagu, menatap Keenan yang sekarang asyik memainkan sendok es krimnya dengan saksama. “Iya. Dulu, waktu aku mengandung Keenan, ada satu fase di mana aku benci banget melihat muka Mas Althaf. Padahal ya... dia ada di sana terus, menemani aku.”Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum tipis. “Lucu ya, kata orang tua dulu kalau kita benci sama seseorang saat hamil, anaknya malah jadi mirip orang itu. Sepertinya mitos itu terjadi padaku.”Ia lalu beralih menatapku. Sorot matanya kini berkilat, menyimpan rahasia yang membuatku semakin sesak.“Tapi kenyataannya, memang Mas Althaf yang paling banyak membantuku saat itu. Kamu pasti tahu kan, rumor yang beredar di luar sana? Kami memang sedekat itu. Bahkan sampai Keenan lahir, Mas Althaf nggak pernah absen untuk memastikan kami berdua baik-baik saja.”Darahku terasa berdesir dingin. Kalimat Theresa barusan seolah membenarkan semua ketakutan yang selama ini hanya berputar di kepalaku sebagai go
Baru saja suasana menjadi damai, ponselku kembali bergetar nyaring. Nama ‘My hubby 🤍’ muncul di layar. Aku segera mengangkatnya, menyadari betapa cepatnya ‘laporan pandangan mata’ dari Pak Jaka sampai ke telinganya.“Halo, Mas?”“Sayang, kamu di mana? Barusan Pak Jaka bilang Revan nyamperin meja kamu?” Suara Mas Althaf terdengar berat dan cemas. Nada posesifnya yang khas langsung keluar begitu saja.Aku tertawa kecil, melirik ke arah Pak Jaka yang memang tetap setia mengawasi dari kejauhan. “Tenang, Mas. Revan cuma mampir sebentar buat ngucapin selamat, kok. Semuanya baik-baik saja, sekarang dia sudah pergi.”Terdengar helaan napas panjang di seberang sana, seolah beban beratnya baru saja terangkat. “Baguslah kalau dia tahu diri. Terus, bekal kamu gimana? Salmonnya dihabiskan, Senjani? Jus alpukatnya juga jangan lupa diminum, ya. Itu bagus buat dedek bayi.”Aku melirik kotak bekalku yang sudah hampir kosong. “Ini lagi aku makan, Mas. Tin
Sejak kabar bahagia itu, Althaf benar-benar berubah menjadi pria yang sepuluh kali lipat lebih protektif. Kini, aku bahkan dilarang keras menyentuh dapur. Di apartemen kami sekarang sudah ada asisten rumah tangga yang membantu membereskan rumah, memasak, dan bersih-bersih. Beliau hanya datang pagi hingga sore hari, karena Althaf bersikeras tidak ingin ada orang lain yang mengganggu privasi kami saat malam tiba.Soal makanan, perhatiannya sudah di tahap luar biasa. Dia tidak lagi mengizinkanku jajan sembarangan di kantin kampus. Semua asupan harus sesuai dengan standar gizi ibu hamil. Bahkan untuk ke kampus pun, ia meminta asisten kami menyiapkan bekal lengkap; mulai dari menu utama, potongan buah segar, hingga jus murni tanpa gula.Awalnya aku merasa Althaf berlebihan, tapi lama-lama aku sadar bahwa ini adalah caranya mencintaiku. Karena kesibukan kantor yang sedang padat-padatnya membuat ia tidak bisa mengantar-jemputku setiap saat, ia sampai menyewa sopir pribadi
Althaf mulai memotong steak di piringnya dengan gerakan tenang. Sesekali ia melirikku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di hadapannya malam ini, bukan sekadar imajinasi. Setelah suapan pertama, matanya sedikit terpejam, menikmati rasa masakan yang kusajikan.Ia meletakkan garpu sejenak, lalu menatapku dengan binar mata yang begitu hangat.“Senjani,” panggilnya pelan, suaranya berat namun terdengar sangat lembut. “Kalau setiap hari kamu masak kayak gini, sepertinya aku harus siap-siap ganti semua ukuran celanaku jadi lebih besar.”Aku tertawa kecil mendengarnya, refleks menutupi mulutku karena malu. “Maksudnya, Mas mau bilang kalau masakan aku terlalu banyak lemak, ya?”“Bukan begitu,” sanggahnya cepat. Ia menjangkau jemariku di atas meja, mengusap punggung tanganku dengan ibu jari secara perlahan. “Maksudku, masakanmu ini berbahaya. Bikin nagih. Aku bisa gemuk karena aku nggak akan pernah mau makan di luar lagi kalau di rumah saja ada koki
Layla menghela napas panjang. Ia menggenggam tanganku lebih erat, seolah ingin menyalurkan kekuatannya. Tatapannya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi sangat serius.“Sen, dengerin gue,” ucap Layla tegas. “Lo jangan naif dan jangan kebiasaan buat berpikir buruk sebelum mencoba. Gue tahu pernikahan kalian awalnya emang nggak biasa, tapi lo lihat sendiri gimana perlakuan Pak Althaf ke lo belakangan ini. Apa menurut lo perhatiannya itu cuma akting?”Aku terdiam. Memoriku kembali berputar, membayangkan cara Mas Althaf menatapku di depan kafetaria tadi pagi, juga betapa hangat pelukannya semalam.“Dia itu sayang banget sama lo, Senjani,” lanjut Layla meyakinkan. “Dan gue berani jamin, dia pasti bahagia denger kabar ini. Bagi laki-laki kayak Pak Althaf, punya anak dari perempuan yang dia cintai itu bukan beban, melainkan anugerah. Jadi, berhenti buat skenario buruk di kepala lo sendiri.”Aku menatap Layla dengan ragu. “Tapi gimana kalau ternyata gue salah, Lay? Gimana kalau sebenerny
Tanganku reffleks meremas celemek yang kukenakan. Pandangan itu menyesakkan-melihat Althaf masuk kafe, bukan sebagai suamiku, melainkan bersama seorang wanita lain... dosen kami sendiri, Bu Yuanita.Aku mencoba menegakkan senyum ramah, menyembunyikan getaran di dada. "Silakan masuk," ucapku terbata
“Eh, gue denger kabar… Pak Althaf udah nikah.”Ucapan Revan terdengar begitu ringan, tapi bagiku seperti palu besar yang menghantam dadaku.Sendok di tanganku berhenti di udara. Mataku refleks melebar, napasku tercekat. Sejenak, suara di sekitar kafetaria seakan lenyap, hanya degup jantungku yang t
Aku mengetuk tiga kali pintu kayu besar dengan ukiran elegan itu. Setelah terdengar sahutan singkat dari dalam, perlahan aku membuka pintu dan melangkah masuk ke ruang kerja Althaf.Ruangan itu luas, berwibawa, dan sunyi. Sebuah meja kerja besar berdiri kokoh di tengah, menghadap langsung ke jendel
Pernikahan itu akhirnya berlangsung tiga minggu setelah aku mengatakan pada Althaf bahwa aku menerima tawarannya. Tiga minggu yang terasa seperti berjalan di atas bara, antara ragu dan pasrah, antara luka dan harapan.Segala syarat yang ia tuliskan dalam kontrak pernikahan menjadi belenggu sekaligu







