LOGINCHAPTER 115
Suara tepuk tangan memenuhi lapangan utama Royal Crest Academy College.“Baik, orientasi hari pertama selesai sampai di sini,” ujar salah seorang senior dari atas panggung. “Jangan lupa besok datang tepat waktu. Sampai jumpa.”Para mahasiswa baru mulai meninggalkan barisan masing-masing. Lapangan yang sejak pagi dipenuhi instruksi dan sambutan resmi perlahan berubah ramai oleh percakapan. Beberapa mahasiswa segera berjalan menuju asrama, sementara yang lain berkumCHAPTER 143 Sejak pagi, polisi memeriksa rekaman dari pintu masuk arena, lorong atlet, dan koridor di depan ruang penyimpanan medis. Penemuan mengenai botol Dylan membuat perhatian mereka tertuju pada setiap orang yang sempat menyentuh tas pendingin sebelum dibawa ke sisi kolam. Rekaman dari pintu samping memperlihatkan seorang pria berseragam medis memasuki arena sehari sebelum pertandingan. Kartu akreditasinya lolos pemeriksaan, sehingga petugas keamanan membiarkannya menuju area atlet. Pria itu kemudian menerima tas pendingin dari salah seorang petugas resmi dan membawanya ke ruang penyimpanan. Tidak ada kamera di dalam ruangan tersebut, tetapi ia berada di sana sendirian selama beberapa menit. Setelah keluar, tas itu kembali diletakkan di tempat semula. Keesokan harinya, petugas lain mengambilnya dan membawanya ke sisi kolam tanpa memeriksa botol-botol di dalamnya. Seluruh tutup masih tersegel dan label nama atlet tetap terpasang seperti saat persediaan tersebut disiapkan. “Pr
CHAPTER 142 Summer menahan napas ketika jemari Dylan bergerak di dalam genggamannya. Tekanannya begitu lemah hingga ia sempat mengira hanya perasaannya, tetapi beberapa detik kemudian jari-jari itu kembali menggenggam tangannya. “Dylan?” Kelopak mata Dylan perlahan terbuka. Pandangannya belum terarah dan ia membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali Summer yang duduk di sisi tempat tidur. “Kamu...” Suaranya terdengar sangat lemah. “Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan itu membuat air mata Summer kembali mengalir. Ia mengangguk berkali-kali sambil menggenggam tangan Dylan dengan kedua tangannya. “Aku baik-baik saja. Kamu yang membuatku takut.” Dylan berusaha mengangkat tangan, tetapi tenaganya belum cukup. Summer membantunya hingga telapak tangan laki-laki itu dapat menyentuh sisi wajahnya. “Jangan menangis.” “Kamu baru sadar dan masih memikirkan aku.” “Aku melihatmu menangis.”
CHAPTER 141 Summer hampir menekan tombol pembayaran ketika Cloud menghentikannya. “Tunggu. Kami akan ikut denganmu.” Summer mengangkat wajah. Cloud sudah berdiri di hadapannya bersama Dre, Axl, dan Tom. Tidak ada keraguan pada wajah mereka meskipun keputusan itu berarti meninggalkan London dalam beberapa jam. “Kalian tidak perlu ikut,” ujar Summer. “Aku bisa pergi sendiri.” “Nggak bisa,” sahut Axl. “Dylan menyuruh kami menjaga kamu selama dia pergi.” “Dia juga bilang tidak ada satu pun dari kami yang boleh meninggalkan London,” lanjut Tom. “Kalau kami membiarkan kamu pergi sendirian sekarang, dia bakal membunuh kami setelah sadar.” Kalimat terakhir Tom membuat semua orang terdiam sesaat. Tidak ada yang berani membayangkan kemungkinan Dylan tidak akan membuka mata lagi. Cloud mengambil ponselnya. “Biar aku yang mengurus penerbangannya. Pesawat keluargaku bisa disiapkan dalam dua jam.” Summe
CHAPTER 140 Logan menyelam melewati tali pembatas begitu melihat tubuh Dylan semakin jauh dari permukaan. Dua petugas penyelamat melompat dari sisi lain, tetapi Logan mencapai Dylan lebih dahulu dan menarik tubuhnya ke atas. Kepala Dylan muncul dalam keadaan terkulai. Ia tidak bereaksi ketika Logan menahan wajahnya agar tetap berada di atas air. “Beri jalan!” teriak salah seorang petugas. Beberapa orang di tepi kolam membantu mengangkat Dylan. Tubuhnya dibaringkan di atas lantai, sementara tim medis segera memeriksa napas dan denyut nadinya. Arena yang beberapa detik lalu dipenuhi sorakan mendadak berubah kacau. Para perenang lain menghentikan perlombaan setelah petugas memberikan tanda, sedangkan penonton berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Dylan tidak memberikan respons. Seorang dokter mulai memberikan tekanan pada dadanya, sementara petugas lain memasang alat bantu pernapasan. Air keluar dari mulut Dyl
CHAPTER 139Malam sudah larut di London, tetapi lounge pribadi kelompok Dylan masih dipenuhi suara. Axl dan Tom menguasai meja dengan berbagai makanan ringan, sementara Cloud sibuk menghubungkan siaran pertandingan ke layar besar di dinding. Emma membantu Summer menutup tirai agar cahaya dari luar tidak memantul pada layar.“Dylan benar-benar menyuruhmu menyiapkan makanan?” tanya Axl setelah melihat pesan terakhir yang diterima Summer.Summer meletakkan ponselnya. “Dia hanya tidak mau aku lupa makan.”“Dia pergi untuk bertanding, tapi masih sempat mengatur makananmu dari Australia,” sahut Tom. “Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali Axl makan, Sum.”“Lo ingat waktu makan sendiri saja sudah cukup,” balas Axl sambil menarik mangkuk keripik menjauh darinya.Tawa mereka memenuhi lounge. Jess baru saja duduk ketika Dre datang membawa selimut tipis dan meletakkannya di pangkuan gadis itu.“Aku tidak kedinginan,” ujar Jess.“Nanti kamu akan kedingin
CHAPTER 138Aula pameran utama RCA telah dipenuhi tamu ketika Summer tiba bersama Emma dan Jess. Para mahasiswa memenuhi bagian depan, sementara dosen, seniman, kolektor, dan tamu undangan Jeffrey berbincang di antara deretan karya yang disusun mengelilingi ruangan. Beberapa jurnalis seni juga terlihat menyiapkan kamera di dekat panggung.Lukisan Summer berada di bagian tengah aula dengan pencahayaan yang membuat dua bayangan di belakang sosok perempuan terlihat jelas.Yuta berdiri tidak jauh dari sana untuk menyambut tamu sebagai salah satu perwakilan mahasiswa tingkat akhir, sedangkan Naoki masih memeriksa panel pencahayaan agar warna lukisan Summer tidak berubah saat lampu utama diredupkan.Cloud, Dre, Axl, dan Tom sudah duduk di barisan yang disediakan bagi keluarga serta teman peserta. Mereka datang lebih awal seperti yang dijanjikan kepada Dylan, meskipun Axl sempat mengeluh karena Tom menghabiskan hampir seluruh makanan ringan yang disediakan panitia.
CHAPTER 1 PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini r
AUTHOR’S NOTE & DISCLAIMER 𓂃✍︎Selamat datang, dan terima kasih karena sudah membuka halaman pertama dari cerita ini.Sebelum kalian memulai perjalanan bersama Summer, izinkan penulis menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu.Cerita ini adalah karya fiksi yang lahir dari imajinasi, emosi, dan ban
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin







