بيت / Rumah Tangga / A Mother's Justice / 4. Meminta Keadilan

مشاركة

4. Meminta Keadilan

مؤلف: Dea Anggie
last update تاريخ النشر: 2026-03-10 14:44:05

Keesokan harinya, Angelica pergi ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah. Kedatangannya rupanya tak disambut dengan baik. Tak ada satupun Guru yang mendampinginya. Dia bahkan menunggu hampir dua jam demi untuk bisa bertatap muka dengan kepala sekolah.

"Oh, ada tamu rupanya. Maafkan saya terlambat. Ada urusan mendesak tadi," kata kepala sekolah.

Angelica menganggukkan kepala pelan tanpa menjawab. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Kepala sekolah duduk di meja kerjanya, "apa ada keperluan, Nyonya?" tanyanya.

"Saya ingin mendengar penjelasan pihak sekolah tentang kejadian yang menimpa putra saya, Nathan. Apakah pihak sekolah sudah melakukan penyelidikan?" tanya Angelica. Yang masih berusaha tenang meski sebenarnya emosinya meluap-luap.

"Penyelidikan? Untuk apa diselidiki. Itu 'kan murni kecelakaan yang disebabkan kelalaian diri sendiri. Bukan karena orang lain. Apa anda nggak salah bicara, Ibu Nathan?" tanya kepala sekolah.

"Nggak disangka, kalau berpakaian rapi dan dilihat dari dekat begini, ternyata wanita ini sangat cantik. Waktu itu penampilannya berantakan, sehingga aku melihatnya kayak gelandangan. Dia ini nggak punya suami 'kan? Hehe ..." dalam hati kepala sekolah. Mulai berpikiran kotor.

"Jadi, pihak sekolah hanya akan bungkam dan tidak melakukan penyelidikan?" tanya Angelica.

"Itu benar. Pihak sekolah tidak akan melakukan penyelidikan apapun. Soal Nathan yang terluka. Sekolah akan memberikan santunan dana untuk membantu anda meringankan biaya rumah sakit. Kalau biaya rumah sakitnya kurang, saya pribadi yang akan menanggung biayanya. Tentu saja tidak gratis. Anda bisa mencicilnya perlahan," jawab kepala sekolah dengan tatapan nakalnya, seolah sedang menggoda Angelica.

Kedua tangan Angelica mengepal erat, "sialan! Dasar babi berengsek. Beraninya dia menggodaku dan meremehkanku. Siapa yang butuh uang recehmu itu," katanya dalam hati.

"Apa maksud anda dengan mengatakan ini, Pak kepala sekolah? Kalau ada kejadian yang menimpa siswa dan kejadiannya di sekolah. Bukankah seharusnya sekolah mengusut tuntas. Melakukan penyelidikan dan memberikan penjelasan yang memuaskan itu wajib. Nyawa anak saya dipertaruhkan di sini. Bagaimana bisa anda bersikap santai dan tenang-tenang saja?" kata Angelica protes.

"Saya dengar, saat kejadian, jam pelajaran masih berlangsung. Ada siswa yang melihat Nathan dan beberapa temannya pergi ke atap gedung sekolah. Bagaimana anda menjelaskan ini?" tanya Angelica.

Kepala sekolah mengerutkan dahinya, "ternyata wanita ini nggak mudah ditangani. Kalau gitu biar uang yang bicara. Aku nggak percaya dia yang miskin tak tergiur uang," katanya dalam hati.

"Maksud anda. Ada pihak yang sengaja melukai anak anda, begitu?" tanya kepala sekolah.

"Bisa jadi. Karena dokter menemukan banyak luka hantaman dan benda tumpul di tubuh anak saya. Saya tak pernah memukul, lantas dia mendapat luka itu dari mana? Saat berangkat sekolah dia juga masih baik-baik saja. Saya tak melihat ada luka atau apapun," jelas Angelica.

"Jangan coba-coba berdalih denganku. Kalau nggak mau aku obrak-abrik satu sekolah ini," kata Angelica dalam hati.

Kepala sekolah diam beberapa saat. Sampai dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Selembar cek di letakkan di atas meja dan diberikan kepada Angelica.

"Jangan terbawa emosi, Nyonya. Silakan anda ambil cek ini. Cek ini bernilai 100 Juta. Ini adalah ketulusan sekolah kepada Nathan. Alangkah baiknya, jika masalah ini sampai di sini saja. Kalau sampai berlarut-larut, nama baik sekolah akan rusak. Kalau sampai Reputasi sekolah rusak, sekolah akan mengalami kerugian. Anda mengerti maksud saya 'kan?" kata kepala sekolah tersenyum.

Angelica tersenyum miring, "anda terlalu banyak melihat drama ya, Pak kepala sekolah. Apa anda pikir, saya akan tergoda dengan cek itu? Nyawa anak saya itu mahal. Bukan hanya untuk 100 juta. Anda paham?" katanya meninggikan suara.

Kepala sekolah memukul meja dengan keras dan membentak Angelica.

"Cukup! Saya sudah berbaik hati, tapi anda malah melunjak. Saya bilang tidak ada penyelidikan ya tidak ada. Masalah kecil seperti ini nggak perlu dibesar-besarkan. Lagipula, anak-anak yanh bersama Nathan itu bukanlah anak-anak biasa. Mereka adalah anak-anak dari kalangan orang ternama. Bukan sesuatu yang bisa anda jangkau. Apa anda mengerti ucapan saya?" kata kepala sekolah.

"Anda meremehkan dan merendahkan saya seperti ini. Apa nggak keterlaluan? Oh, saya mengerti sekarang, rupanya memang ada sesuatu dan orang tua anak-anak itu meminta anda tutup mulut. Benar 'kan?" kata Angelica.

Kepala sekolah terkejut, "ma-masalah apa? Jangan sok tahu anda. Tidak ada masalah apa-apa. Cepat ambil ini dan sebaiknya anda pergi. Jangan membuat onar di sekolah," katanya.

"Batas kesabaran saya menipis. Saya tidak peduli apa urusan anda atau apa hubungan anda dengan orang tua yang lain. Saya datang hanya meminta keadilan untuk putra saya, tidak lebih dan tidak kurang. Saya tidak butuh uang. Yang saya inginkan hanyalah penjelasan yang masuk akal," kata Angelica menegaskan.

Kepala sekolah berdiri dari tempatnya duduk, dan berjalan mendekati Angelica.

"Nyonya, anda mau apa jika nggak mendapatkan penjelasan? Saya 'kan sudah katakan, tidak ada penjelasan apapun. Kejadian itu sudah dianggap nggak pernah terjadi di sekolah. Jangan membuang waktu lagi," kata kepala sekolah.

"Anda bertindak semena-mena seperti ini. Apa pihak yayasan tahu? Anda nggak takut dipecat?" tanya Angelica.

Mendengar perkataan Angelica, kepala sekolah langsung tertawa lebar.

"Anda terlalu banyak berpikir, Nyonya. Pihak yayasan sangat percaya dengan saya. Kinerja saya bagus, untuk apa mereka memecat orang sekompeten saya?" kata kepala sekolah dengan sombongnya.

Angelica menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.

"Orang ini beneran nggak bisa dipertahankan. Kepala dan isinya sudah busuk," kata Angelica dalam hati.

"Baiklah, jika anda tetap keras kepala. Nikmati baik-baik jabatan kepala sekolah ini selagi bisa," kata Angelica yang langsung pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.

Kepala sekolah tersenyum miring, menatap kepergian Angelica.

"Dasar penjual buah nggak tahu diri!" ucap kepala sekolah nengatai Angelica.

Sementara itu di luar gedung sekolah, Angelica tampak sedang berbincang dengan seseorang di telepon.

" ... Maafkan saya, Nyonya. Saya akan segera menindaklanjuti masalah yang terjadi dan memberikan penjelasan yang memuaskan. Redakan amarah anda," kata seseorang di ujung panggilan.

"Redakan amarah? Mudah sekali berkata seperti itu. Anda tidak mengalami apa yang saya rasakan, jadi anda bisa dengan mudahnya meminta saya untuk tenang. Saya beri waktu sampai besok. Selidiki kejadian yang menimpa anak saya dan beri saya penjelasan yang memuaskan. Kalau tidak, saya akan langsung mengirim anda ke pedalaman tanpa sungkan. Apa anda mengerti?" kata Angelica yang langsung mengakhiri panggilan.

***

Di rumah...

Angelica bertemu Ervan. Dia sedang mendengarkan penjelasan dari Ervan tentang apa yang menimpa Nathan.

" ... Ada kemungkinan saat menuruni tangga, Tuan Muda kehilangan keseimbangan dan terguling jatuh. Untuk lebih lengkapnya saya akan selidiki lebih lagi," kata Ervan.

"Tidak hanya penyelidikan, tapi keterangan pelaku juga diperlukan. Apa kamu sudah mencari tahu siapa saja yang bersama anakku saat kejadian?" tanya Angelica.

Ervan memberikan sebuah amplop cokelat berisikan data-data siswa yang merundung Nathan beserta data lainnya.

Angelica membuka dan melihat isi amolop cokelat besar itu, diremasnya kuat kertas yang dipegangnya. Amarah Angelica kembali memuncak.

"Darah harus dibayar darah!" ucap Angelica dengan suara dingin.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
moo
semangat minta keadilan!
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • A Mother's Justice   106. Obrolan Santai

    Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny

  • A Mother's Justice   105. Pendekatan Aktif

    Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur

  • A Mother's Justice   104. Mengenal Keluarga (2)

    Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban

  • A Mother's Justice   103. Mengenal Keluarga (1)

    Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m

  • A Mother's Justice   102. Kedatangan Kakek

    Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o

  • A Mother's Justice   101. Papa?

    Keesokan harinya ...Mendengar cucunya sudah sadar, Andrew yang sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri langsung bergegas pulang. Dia sangat senang dan tidak sabar ingin bertemu sang cucu.Setibanya dibandara, Andrew tidak mau diantar pulang. Dia mau langsung ke rumah sakit.*Rumah sakit ...Keadaan Nathan semakin membaik. Meski belum bisa banyak bergerak, Nathan sudah mulai lancar bicara. "Ma ... " panggil Nathan."Ya?" jawab Angelica. Bergegas menghmpiri Nathan. "Ada apa, sayang?" tanya Angelica. "Ma, kapan kita pulang?" tanya Nathan."Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kenapa?" tanya Angelica setelah menjawab pertanyaan putranya."Ma, om-om kemarin, siapa? Pacarnya Mama?" tanya Nathan."Pacar apaan. Dia itu Papa kandungmu," jawab Angelica."Papa kandung?" tanya Nathan tidak yakin dengan ucapan Mamanya."Kaget, ya? Awalnya Mama juga keget. Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku Papamu. Dia bawa hasil tes dan wajahnya mirip denganmu. Setelah dipastikan dia memang Papa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status