ログインKeesokan harinya, Angelica pergi ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah. Kedatangannya rupanya tak disambut dengan baik. Tak ada satupun Guru yang mendampinginya. Dia bahkan menunggu hampir dua jam demi untuk bisa bertatap muka dengan kepala sekolah.
"Oh, ada tamu rupanya. Maafkan saya terlambat. Ada urusan mendesak tadi," kata kepala sekolah. Angelica menganggukkan kepala pelan tanpa menjawab. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Kepala sekolah duduk di meja kerjanya, "apa ada keperluan, Nyonya?" tanyanya. "Saya ingin mendengar penjelasan pihak sekolah tentang kejadian yang menimpa putra saya, Nathan. Apakah pihak sekolah sudah melakukan penyelidikan?" tanya Angelica. Yang masih berusaha tenang meski sebenarnya emosinya meluap-luap. "Penyelidikan? Untuk apa diselidiki. Itu 'kan murni kecelakaan yang disebabkan kelalaian diri sendiri. Bukan karena orang lain. Apa anda nggak salah bicara, Ibu Nathan?" tanya kepala sekolah. "Nggak disangka, kalau berpakaian rapi dan dilihat dari dekat begini, ternyata wanita ini sangat cantik. Waktu itu penampilannya berantakan, sehingga aku melihatnya kayak gelandangan. Dia ini nggak punya suami 'kan? Hehe ..." dalam hati kepala sekolah. Mulai berpikiran kotor. "Jadi, pihak sekolah hanya akan bungkam dan tidak melakukan penyelidikan?" tanya Angelica. "Itu benar. Pihak sekolah tidak akan melakukan penyelidikan apapun. Soal Nathan yang terluka. Sekolah akan memberikan santunan dana untuk membantu anda meringankan biaya rumah sakit. Kalau biaya rumah sakitnya kurang, saya pribadi yang akan menanggung biayanya. Tentu saja tidak gratis. Anda bisa mencicilnya perlahan," jawab kepala sekolah dengan tatapan nakalnya, seolah sedang menggoda Angelica. Kedua tangan Angelica mengepal erat, "sialan! Dasar babi berengsek. Beraninya dia menggodaku dan meremehkanku. Siapa yang butuh uang recehmu itu," katanya dalam hati. "Apa maksud anda dengan mengatakan ini, Pak kepala sekolah? Kalau ada kejadian yang menimpa siswa dan kejadiannya di sekolah. Bukankah seharusnya sekolah mengusut tuntas. Melakukan penyelidikan dan memberikan penjelasan yang memuaskan itu wajib. Nyawa anak saya dipertaruhkan di sini. Bagaimana bisa anda bersikap santai dan tenang-tenang saja?" kata Angelica protes. "Saya dengar, saat kejadian, jam pelajaran masih berlangsung. Ada siswa yang melihat Nathan dan beberapa temannya pergi ke atap gedung sekolah. Bagaimana anda menjelaskan ini?" tanya Angelica. Kepala sekolah mengerutkan dahinya, "ternyata wanita ini nggak mudah ditangani. Kalau gitu biar uang yang bicara. Aku nggak percaya dia yang miskin tak tergiur uang," katanya dalam hati. "Maksud anda. Ada pihak yang sengaja melukai anak anda, begitu?" tanya kepala sekolah. "Bisa jadi. Karena dokter menemukan banyak luka hantaman dan benda tumpul di tubuh anak saya. Saya tak pernah memukul, lantas dia mendapat luka itu dari mana? Saat berangkat sekolah dia juga masih baik-baik saja. Saya tak melihat ada luka atau apapun," jelas Angelica. "Jangan coba-coba berdalih denganku. Kalau nggak mau aku obrak-abrik satu sekolah ini," kata Angelica dalam hati. Kepala sekolah diam beberapa saat. Sampai dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya. Selembar cek di letakkan di atas meja dan diberikan kepada Angelica. "Jangan terbawa emosi, Nyonya. Silakan anda ambil cek ini. Cek ini bernilai 100 Juta. Ini adalah ketulusan sekolah kepada Nathan. Alangkah baiknya, jika masalah ini sampai di sini saja. Kalau sampai berlarut-larut, nama baik sekolah akan rusak. Kalau sampai Reputasi sekolah rusak, sekolah akan mengalami kerugian. Anda mengerti maksud saya 'kan?" kata kepala sekolah tersenyum. Angelica tersenyum miring, "anda terlalu banyak melihat drama ya, Pak kepala sekolah. Apa anda pikir, saya akan tergoda dengan cek itu? Nyawa anak saya itu mahal. Bukan hanya untuk 100 juta. Anda paham?" katanya meninggikan suara. Kepala sekolah memukul meja dengan keras dan membentak Angelica. "Cukup! Saya sudah berbaik hati, tapi anda malah melunjak. Saya bilang tidak ada penyelidikan ya tidak ada. Masalah kecil seperti ini nggak perlu dibesar-besarkan. Lagipula, anak-anak yanh bersama Nathan itu bukanlah anak-anak biasa. Mereka adalah anak-anak dari kalangan orang ternama. Bukan sesuatu yang bisa anda jangkau. Apa anda mengerti ucapan saya?" kata kepala sekolah. "Anda meremehkan dan merendahkan saya seperti ini. Apa nggak keterlaluan? Oh, saya mengerti sekarang, rupanya memang ada sesuatu dan orang tua anak-anak itu meminta anda tutup mulut. Benar 'kan?" kata Angelica. Kepala sekolah terkejut, "ma-masalah apa? Jangan sok tahu anda. Tidak ada masalah apa-apa. Cepat ambil ini dan sebaiknya anda pergi. Jangan membuat onar di sekolah," katanya. "Batas kesabaran saya menipis. Saya tidak peduli apa urusan anda atau apa hubungan anda dengan orang tua yang lain. Saya datang hanya meminta keadilan untuk putra saya, tidak lebih dan tidak kurang. Saya tidak butuh uang. Yang saya inginkan hanyalah penjelasan yang masuk akal," kata Angelica menegaskan. Kepala sekolah berdiri dari tempatnya duduk, dan berjalan mendekati Angelica. "Nyonya, anda mau apa jika nggak mendapatkan penjelasan? Saya 'kan sudah katakan, tidak ada penjelasan apapun. Kejadian itu sudah dianggap nggak pernah terjadi di sekolah. Jangan membuang waktu lagi," kata kepala sekolah. "Anda bertindak semena-mena seperti ini. Apa pihak yayasan tahu? Anda nggak takut dipecat?" tanya Angelica. Mendengar perkataan Angelica, kepala sekolah langsung tertawa lebar. "Anda terlalu banyak berpikir, Nyonya. Pihak yayasan sangat percaya dengan saya. Kinerja saya bagus, untuk apa mereka memecat orang sekompeten saya?" kata kepala sekolah dengan sombongnya. Angelica menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. "Orang ini beneran nggak bisa dipertahankan. Kepala dan isinya sudah busuk," kata Angelica dalam hati. "Baiklah, jika anda tetap keras kepala. Nikmati baik-baik jabatan kepala sekolah ini selagi bisa," kata Angelica yang langsung pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Kepala sekolah tersenyum miring, menatap kepergian Angelica. "Dasar penjual buah nggak tahu diri!" ucap kepala sekolah nengatai Angelica. Sementara itu di luar gedung sekolah, Angelica tampak sedang berbincang dengan seseorang di telepon. " ... Maafkan saya, Nyonya. Saya akan segera menindaklanjuti masalah yang terjadi dan memberikan penjelasan yang memuaskan. Redakan amarah anda," kata seseorang di ujung panggilan. "Redakan amarah? Mudah sekali berkata seperti itu. Anda tidak mengalami apa yang saya rasakan, jadi anda bisa dengan mudahnya meminta saya untuk tenang. Saya beri waktu sampai besok. Selidiki kejadian yang menimpa anak saya dan beri saya penjelasan yang memuaskan. Kalau tidak, saya akan langsung mengirim anda ke pedalaman tanpa sungkan. Apa anda mengerti?" kata Angelica yang langsung mengakhiri panggilan. *** Di rumah... Angelica bertemu Ervan. Dia sedang mendengarkan penjelasan dari Ervan tentang apa yang menimpa Nathan. " ... Ada kemungkinan saat menuruni tangga, Tuan Muda kehilangan keseimbangan dan terguling jatuh. Untuk lebih lengkapnya saya akan selidiki lebih lagi," kata Ervan. "Tidak hanya penyelidikan, tapi keterangan pelaku juga diperlukan. Apa kamu sudah mencari tahu siapa saja yang bersama anakku saat kejadian?" tanya Angelica. Ervan memberikan sebuah amplop cokelat berisikan data-data siswa yang merundung Nathan beserta data lainnya. Angelica membuka dan melihat isi amolop cokelat besar itu, diremasnya kuat kertas yang dipegangnya. Amarah Angelica kembali memuncak. "Darah harus dibayar darah!" ucap Angelica dengan suara dingin.Seorang wanita masuk ke dalam sebuah gedung perusahaan dengan langkah terburu-buru. Di belakangnya ada Asistennya yang mengikuti."Ayo cepat!" perintah perempuan itu pada Asistennya."Bu... kenapa kita ke sini? bukankah rapat besar baru akan digelar minggu depan? apa rapatnya dimajukan?" tanya si Asisten."Nanti kamu juga tahu sendiri," jawab wanita itu."Kalau rapatnya dimajukan, bukankah seharusnya mereka memberiktahuku dulu? aneh... " kata Asisten dalam hati bingung. Dia merogoh saku jasnya damn mengeluarkan ponsel. Memeriksa apakah ada pesan masuk atau panggilan tidak terjawab."Tuh kan, nggak ada informasi apa-apa. Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi, yang membuat Bu Bos harus datang ke sini. Mungkin karena itu rapatnya dimajukan," kata Asisten dalam hati.Asisten itu tanpa banyak berpikir lagi mengikuti Bosnya dengan patuh. Sampai tiba di depan ruang CEO dan bertemu dengan Ervan."Bu Rosella," sapa Ervan. "Asisten Ervan, di mana ketua? oh, maksudku Bu CEO," tanya Rosella."A
Udara begitu dingin, hujan turun dengan lebatnya disertai petir yang menyambar. Seorang lelaki sedang berdiri termenung menatap dinding kaca yang berembun. Tangannya menggenggam sebuah cincin berlian langka yang tak bisa sembarang orang memilikinya. Dia memikirkan sebuah kejadian masa lalu yang tak bisa dia lupakan.Saat itu, dia sedang menghadiri sebuah jamuan. Ternyata ada oknum yang memanfaatkan kesempatan itu dengan memberinya minuman yang sudah diberi obat. Dalam keadaan terdesak dan setengah sadar, dia kebetulan bertemu seorang perempuan muda cantik. Dilihatnya perempuan itu juga sedang kesulitan. Keduanya pun menghabiskan malam panas bersama tanpa tahu identitas masing-masing. Sebab keesokan paginya saat terbangun, lelaki itu tak menemukan perempuan yang semalambercinta dengannya. Pergulatan malam itu hanya menyisakan bercak darah tanda keperawanan dan sebuah cincin berlian bernilai fantastis."Delapan belas tahun sudah berlalu. Dan perempuan itu masih belum bisa kutemukan. S
Di rumah sakit ...Angelica masuk ke dalam ruangan tempat Nathan di rawat. Begitu masuk, dia disambut oleh seseorang yang begitu dia rindukan."Sudah pulang?" kata seorang lelaki tua berumur 65 Tahun yang adalah Papa dari Angelica, Andrew.Angelica terkejut, "Pa-pa ..." panggilnya.Angelica langsung berlari memeluk sang Papa. Dilepaskan pelukan dan ditatapnya Andrew, "papa kok bisa di sini?" tanya Angelica."Kenapa? Papa nggak boleh tahu keadaanmu dan anakmu?" tanya Andrew.Angelica menggelengkan kepala, "bukan seperti itu. Hanya ... Ah, sudahlah. Lupakan saja. Seharusnya aku sudah menduga hal ini. Ervan nggak mungkin diam saja patuh," katanya."Bukan Ervan. Jangan salahkan dia," kata Andrew."Iya, iya. Bukan dia. Terus saja bela dia," keluh Angelica.Andrew menatap dan mengusap kepala putri kesayangannya, "delapan belas tahun kamu pergi meninggalkan Papa tanpa menjelaskan apapun. Apa sekarang papa nggak boleh tahu alasanmu pergi saat itu?" tanyanya."Pa ..." panggil Angelica. Memega
Sepupu Papa Theo murka. Dia begitu marah melihat dua bawahannya diserang Angelica. "Kamu, beraninya kamu ..." kata sepupu Papa Theo yang langsung mengeluarkan pistol dan menodongkan ke arah Angelica."Serahkan dirimu sekarang, atau kutembak?" tanya sepupu Papa Theo.Angelica menatap sepupu Theo dengan santai," kamu mengancamku? memangnya kamu pantas?" katanya dingin.Sorot mata Angelica langsung berubah. Tatapan tajamnya bagai tombak yang siap menghunus. Membuat sepupu Papa Theo langsung kelabakan."Aneh sekali. Ke-kenapa ta-tapannya begitu menyeramkan. Apa dia masih orang yang sama. Sepertinya bukan. Jangan-jangan dia ..." kata sepupu Papa Theo dalam hati berpikir. Diusapnya keringat yang mulai menetes di pelipisnya, "ka-kamu ... Cepat serahkan dirimu," kata sepupu Papa Theo lagi, memerintah."Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Angelica pura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah dia lakukan."Ka-kamu ... " kata sepupu Papa Theo yang tak bisa lagi berkata-kata."Dia kenapa? Aneh
Organisasi Mawar Biru, adalah salah satu dari lima organisasi besar yang mendunia. Pemimpin Organisasi Mawar Biru adalah seorang wanita bernama Rosella. "Bu," Panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Rosella berada."Ada apa? Kalau nggak bawa kabar soal ketua jangan kembali," ucap Rosella tanpa menatap seseorang itu."Aku harus berusaha menjelaskan dengan baik. Supaya Bu Rose mau mendengarkan," kata seseorang itu dalam hati."Nona, keberadaan ketua memang tidak bisa kami lacak. Kami sudah memakai koneksi sana sini, dan semuanya sia-sia. Saya juga nggak bisa apa-apa," kata seseorang itu memberikan penjelasan.Rosella memalingkan pandangan, "jadi, kita harus menyerah?" tanyanya."Bukan begitu juga. Kita sudah delapan belas tahun mencari, tapi sama sekali nggak ada petunjuk. Kemungkinanya cuma satu," kata seseorang itu dengan dugaannya."Aku bahkan sampai menyewa detektif ternama dalam dan luar negeri demi mencari keberadaan ketua. Dan hasilnya nol besar. Ketua in
Keesokan harinya, di sekolah. Ketua yayasan mengumpulkan semua orang yang terlibat, termasuk Angelica dan wali kelas. "Semua sudah berkumpul. Saya nggak akan berbelit-belit. Kali ini ditemukan adanya kejanggalan, dan pihak sekolah tak memberikan penjelasan yang memuaskan kepada keluarga Nathan. Saya selaku ketua yayasan meminta adanya penyelidikan agar semuanya jelas," kata ketua yayasan. "Tidak bisa seperti itu, Pak. Anak saya tidak bersalah." "Anak saya juga tidak. Dia siswan teladan. Mana mungkin melakukan perundungan. Ini tuduhan palsu." "Saya setuju. Saya tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan kepada anak saya." Papa Theo menatap kepala sekolah, membuat kepala sekolah ketakutan. "Pak ketua, bukankah ini hanya masalah sepele? Lebih baik saya menangani. Anda duduk manis saja di kantor," bisik kepala sekolah. Ketua yayasan langsung menampar kepala sekolah, "kurang ajar. Beraninya kamu menyuruhku hanya duduk manis di kantor. Ada hal serius seperti ini. Bukannya







