เข้าสู่ระบบReana tidur telentang menatap langit-langit kamar dengan kening berkerut. Sejak bangun tidur tadi pagi hanya itu yang dilakukannya. Sedangkan pikirannya berkelana ke kejadian tadi malam, tepatnya ketika ia melarikan diri dari Issa yang sudah berbaik hati mengantarnya pulang.
“Ah… Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? Dasar bodoh!” Reana menggerutu kesal sambil menepuk-nepuk keningnya sendiri. Memangnya Reana pikir sedekat apa hubungan mereka sampai berani langsung diantar pulang? Kemudian gadis itu juga ingat saat ia buru-buru masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Issa pergi. Bahkan tidak ada salam perpisahan sopan yang seharusnya ia lakukan. Sebenarnya Reana bersikap agak tidak sopan seperti itu karena merasa tidak nyaman kalau Issa harus mengantarnya masuk. Mengingat pembicaraan Issa ditelepon, mungkin saja ada perempuan lain yang sedang menunggunya pulang. Oh Tuhan, entah apa yang akan lelaki itu pikirkan setelah malam tadi. Rasanya, Reana tidak ingin bertemu lagi dengan Issa. Walaupun itu seperti mustahil karena mereka berada dibawah naungan perusahaan yang sama sekarang. Tapi… Saat Issa yang malam itu—mungkin—tanpa sengaja menyentuh lengannya, jantung Reana berdetak sangat kencang, sampai-sampai ia khawatir Issa akan bisa mendengarnya. Belum lagi, Reana kebingungan menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan Ibunya saat tadi pagi orang suruhan Arland datang ke rumahnya untuk mengantarkan mobil yang ia tinggalkan di hotel. Memang, tadi malam ketika sampai rumah Ayah dan Ibunya sudah tertidur, jadi mereka tidak tahu Reana pulang tanpa mengendarai mobilnya sendiri. Jadilah saat mobil itu diantarkan orang lain, Ibunya bertanya-tanya dengan siapa ia pulang tadi malam. “Ada Oliver di bawah!” Seru Nyonya Oswald tiba-tiba, sambil seperti biasa, membuka pintu kamar Reana tanpa merasa perlu mengetuk terlebih dulu. Reana bangun dari posisi telentangnya dan duduk di tepi tempat tidur. “Oliver?” “Iya, sana cepat temui dia.” Ucap Nyonya Oswald lalu kembali menutup pintu. Reana hanya menyisir rambutnya asal sebelum turun ke lantai bawah di mana Oliver Sebastian sedang menunggunya di ruang tamu. Lelaki yang sudah Reana kenal sejak Sekolah Menengah Pertama itu terlihat rapi dengan setelan jas hitam dan rambut yang dipotong pendek. Dia tersenyum lebar melihat Reana menuruni tangga, kedua tangannya terulur memberikan sebuket bunga mawar merah muda yang cantik dan segar. “Selamat atas penerbitan novel pertamamu, penulis Rea Oswald.” Katanya. Mau tidak mau, Reana tertawa, menerima buket bunga yang diberikan Oliver dengan senang hati. “Terima kasih, kamu memang sahabatku yang terbaik.” Oliver mengangguk-angguk. “Maaf aku tidak bisa datang ke acara mu tadi malam.” “Tidak apa-apa, aku mengerti kamu sibuk.” Padahal, Reana sangat mengharapkan Oliver datang ke acara penerbitan novelnya. Karena setidaknya, akan ada satu orang yang ia kenal baik selain Arland dan Samuel. Namun lelaki itu melakukan perjalanan dinas ke Perancis untuk menghadiri sebuah acara seminar di salah satu Universitas di sana. “Jadi, apa acaranya menyenangkan?” Tanya Oliver antusias. “Sangat. Aku tidak menyangka akan mendapatkan respon sebaik ini untuk cetakan pertama.” Reana bercerita dengan mata berbinar bangga. “Sudah aku katakan kamu pasti berhasil. Lalu bagaimana pestanya? Kamu ada di sana sampai selesai?” “Ya. Sampai nyaris pukul dua belas malam. Dan lucunya, aku terlalu banyak minum wine.” “Direkturmu itu, Arland Finley, dia memang suka pesta. Tapi selain itu dia orang yang baik dan direktur yang hebat. Aku menghormatinya.” Reana mengangguk setuju. “Kamu benar.” Reana memang sudah mengetahui bahwa Oliver dan Arland saling mengenal. Keluarga mereka berdua, secara turun-temurun, sama-sama memiliki perusahaan properti ternama, bisa dikatakan mereka adalah pesaing dalam bisnis di bidang tersebut. Namun sejauh yang Reana tahu dari cerita-cerita Oliver, mereka tetap berhubungan baik dan bersaing secara sehat. Makanya saat ia bercerita tentang Arland pada Oliver, lelaki itu sangat mendukungnya. “Jadi kamu mabuk? Lalu dengan siapa kamu pulang?” Pertanyaan Oliver entah kenapa membuat Reana gugup. “Eh, itu… Aku… Pulang dengan taksi.” Reana tau dirinya baru saja berbohong dan itu membuatnya merasa semakin gugup. Bukan perkara mudah berbohong di hadapan sahabat yang sudah saling mengenal dengan baik, ‘kan? Apalagi Reana tidak mengerti kenapa ia harus berbohong. Katakan saja pulang diantar oleh Issa Saverio! Oh, justru itulah yang sulit! Reana berteriak dalam hati. Bayangkan apa yang akan dipikirkan Oliver kalau Reana mengatakan dirinya diantar pulang pada tengah malam oleh pria beristri padahal mereka baru saja saling mengenal selama empat jam. Hanya empat jam! Meski tidak ada apapun yang terjadi antara Reana dan Issa, tetap saja, rasanya terlalu… “Kalau saja aku ada di sana kamu tidak perlu pulang menggunakan taksi, aku akan dengan suka rela mengantarkan kamu.” “Tidak apa-apa, bukan masalah besar. Ngomong-ngomong, kamu harus baca novelku. Aku tau kamu tidak begitu suka cerita fiksi, tapi tetap saja aku berharap kamu membacanya.” Reana mengalihkan pembicaraan. Oliver tertawa. “Ya, baiklah. Akan aku baca nanti saat aku punya waktu luang. Dan, maafkan aku lagi Rea, aku tidak bisa lama-lama ada di sini, aku harus kembali ke kantor.” Reana melihat jam yang tergantung di dinding, tiga puluh menit lagi menuju pukul satu siang. “Hm, tidak apa-apa. Terima kasih untuk bunganya. Aku suka.” Oliver beranjak dari duduknya. “Aku akan menghubungi kamu nanti, sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibumu. “ Setelah mengantar Oliver sampai pintu, Reana kembali ke kamar, berniat pergi ke Reading Delights untuk menggantikan Ayahnya berjaga. Dan untuk menyingkirkan Issa Saverio dari dalam kepalanya. ••• Issa duduk di depan laptop, bermaksud memeriksa beberapa pekerjaan walaupun hari ini hari Sabtu dan ia tidak perlu bekerja. Namun Issa benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi selain bekerja. Saat akan mengecek email masuk Issa melihat ada beberapa pemberitahuan dari situs resmi perusahaan. Ia langsung membuka situs tersebut, dan ternyata itu adalah beberapa artikel dan galeri foto yang baru saja diunggah dari acara semalam. Dari pesta penerbitan novel Letterbox yang ditulis Reana. Issa menggulir layar perlahan, melihat beberapa foto para tamu, suasana pesta, hingga akhirnya perhatiannya berhenti pada satu foto. Reana. Jarinya terhenti di atas trackpad. Dalam foto itu, Reana terlihat begitu berbeda dari perempuan yang biasa ia temui di Reading Delights. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat jatuh melewati bahu dalam gelombang lembut. Di bawah sorot lampu, mata hazelnya tampak lebih terang, memantulkan semburat cokelat keemasan yang membuatnya terlihat semakin hidup. Wajahnya putih bersih dengan riasan yang tidak berlebihan. Bibirnya melengkung sempurna dengan warna natural yang lembut. Dan gaun pink yang dikenakannya membuat kecantikan itu semakin menonjol. Potongan gaun tersebut memperlihatkan bahunya yang indah dan garis tubuhnya yang ramping serta semampai. Ada sesuatu yang elegan dalam penampilannya malam itu—sesuatu yang membuat Issa tanpa sadar menatap foto tersebut sedikit lebih lama. Ia menggulir ke foto berikutnya. Reana lagi. Kemudian foto berikutnya. Lagi-lagi Reana. Issa mengembuskan napas kecil, nyaris seperti menertawakan dirinya sendiri. Namun bukannya menutup halaman itu, ia justru kembali ke foto sebelumnya. Entah kenapa, ingatannya tiba-tiba kembali pada malam ketika ia membantunya turun dari mobil. Tangannya masih bisa mengingat lembutnya lengan Reana ketika ia menggenggamnya. Begitu halus. Dan ketika perempuan itu berdiri di dekatnya, ia sempat mencium aroma lembut dari rambutnya. Wangi yang ringan, bersih, dan samar—tetapi cukup untuk melekat di ingatannya hingga sekarang. Issa mengalihkan pandangan dari layar sejenak. Aneh. Ia bahkan tidak yakin mengapa hal-hal kecil seperti itu masih ia ingat. Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas pula wajah Reana muncul dalam pikirannya. Bukan hanya Reana dalam gaun pink yang elegan. Justru Reana yang selama ini ia lihat di Reading Delights. Dengan celana jeans sederhana dan kemeja longgar yang terkadang sedikit kusut setelah seharian bekerja. Rambut panjangnya yang diikat seadanya. Wajah polos tanpa riasan. Tidak ada gaun indah, tidak ada tata rambut sempurna, tidak ada sorot lampu yang membuatnya tampak memukau. Hanya Reana. Sederhana. Natural. Tapi entah mengapa, Issa menyukai versi itu sama besarnya. Mungkin bahkan lebih. Pandangan Issa kembali jatuh pada layar laptop. Foto Reana masih terpampang di sana. Cantik. Sangat cantik. Tetapi untuk pertama kalinya, Issa menyadari bahwa yang membuatnya terus memikirkan perempuan itu bukan sekadar kecantikannya. Melainkan karena, dalam versi apa pun, Reana selalu berhasil menarik perhatiannya. •••Samuel menatap Reana lekat-lekat setelah mereka selesai membahas tentang naskah baru yang ditulis oleh perempuan itu dan harus banyak direvisi di sana-sini. Berbeda dengan Letterbox yang langsung Samuel terima lengkap, kali ini ia menuntut Reana harus menulis minimal dua puluh halaman setiap minggu. Tidak mudah memang menulis dikejar oleh batas waktu, karena si penulis mau tidak mau harus memaksa inspirasi hadir setiap hari kalau tidak mau si editor meneror setiap menit. Dan Samuel cukup kagum pada Reana, sebagai penulis baru sejauh ini dia selalu bisa konsisten. Namun bukan itu alasannya menatap lekat-lekat Reana yang duduk tepat di hadapan. Lelaki bermata biru itu yakin ada sesuatu yang terjadi di antara Reana dan salah satu sahabatnya—Issa Saverio. Dan sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin bertanya sejak beberapa waktu lalu namun Samuel cukup bijaksana untuk tidak ikut campur ke dalam masalah pribadi siapapun. Jika tebakannya benar, ia yakin tidak akan lama lagi Issa akan mengakui
Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta. Bisa saja pada dia yang sudah menemanimu sejak masih remaja, atau pada dia yang bersamamu pernah menghabiskan waktu di suatu malam. Mungkin juga pada dia yang selalu membuatmu kesal tapi di saat yang sama mampu memberikan getaran yang tak biasa. Itu juga barangkali yang dirasakan Reana sekarang. Ia memang belum bisa mengatakan kalau Issa Saverio adalah cinta matinya, namun ketika ia bertindak mengikuti kata hati, ia merasa benar. Sama sekali tidak ada setitik pun penyesalan dalam hatinya setelah memutuskan untuk mau belajar saling mencintai bersama lelaki itu. Kejujuran yang Issa katakan dengan apa adanya mengenai perasaan membuat Reana terenyuh. Dan baru kali ini ia mendapatkan pernyataan cinta tanpa diiming-imingi janji-janji manis yang sebenarnya belum tentu bisa terpenuhi. Maka dengan apa adanya pula ia mau memberikan hatinya. Lalu, ada hal yang sangat lucu. Reana kira diusianya sekarang yang sudah menginjak dua puluh
"Aku menyukaimu."Tegas.Tanpa ragu.Tanpa aba-aba.Reana yakin ia tidak salah dengar, bahkan sekarang jantungnya berdetak semakin cepat, darahnya berdesir, wajahnya menghangat dan Issa masih memaku sepasang matanya dengan tatapan tajam.Demi Tuhan, ia gugup setengah mati!Sesaat Reana mengira waktu baru saja berhenti. Hanya tetesan air hujan di luar sana yang tetap jatuh silih berganti. Namun suara petir yang tiba-tiba terdengar membuatnya tersadar, ia pun berkedip untuk memutuskan kontak mata dengan lelaki di hadapannya, lalu tertawa.Benar-benar tertawa sampai perutnya terasa sakit dan ujung matanya berair.Issa mengernyit dan mengerucutkan bibir, sama sekali tidak merasa ada sesuatu yang lucu di antara mereka. Atau, apa pernyataannya barusan terdengar seperti sebuah lelucon?"Kenapa tertawa?" Lelaki itu bertanya.Reana melihat ke arahnya sekilas, masih tertawa geli sambil sesekali mengibaskan tangan dan memukul meja."Kamu lucu,” ucapnya di sela tawa, "dari semua leluconmu, ini ya
Tidak ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.Sudah tak terhitung berapa kali Reana mendengar kalimat itu. Bahkan sahabatnya sendiri pun, Oliver Sebastian, pernah mengatakannya. Namun ia hanya tertawa seraya mengibaskan tangan seolah apa yang ia dengar adalah omong kosong belaka. Hanya sebuah teori.Reana bahkan selalu dengan bangga mengatakan kalau teori itu terbukti salah, karena ia dan Oliver tetap bersahabat meski telah enam belas tahun mereka bersama. Hanya orang-orang yang terlalu mudah terbawa perasaan yang akan menyukai sahabatnya sendiri, begitu katanya.Nyatanya, malam ini, bukti yang ada justru semakin menguatkan teori itu.Benar, Reana lupa.Ia benar-benar lupa kalau suatu hubungan bisa disebut sebagai hubungan karena dilakukan oleh lebih dari satu pihak. Boleh saja dirinya dengan bangga berkata kalau ia menganggap Oliver hanya sebagai sahabat dan tidak akan pernah berubah selamanya. Namun ia lupa memikirkan dari sisi yang lain. Dari sudut pandang Oliver. Ia lupa per
Seharusnya, saat ini Issa sedang berada di tahun 1980. Sebagai pemuda yang menjadi sukarelawan membersihkan jenazah korban kekerasan. Kemudian ia akan berpindah ke tahun 1985, sebagai seorang jurnalis yang berkali-kali ditampar oleh personil tentara saat diinterogasi. Setelah itu ia akan ke tahun 1990, 2002, dan 2010.Itulah Issa setiap kali berduaan dengan sebuah novel. Ketika tubuhnya duduk nyaman di sofa ditemani oleh secangkir kopi hitam, tangannya sibuk membuka halaman, matanya sibuk membaca setiap kata, jiwanya justru seolah ditarik masuk ke dalam cerita. Dalam pikirannya, ia menjelma menjadi si tokoh utama atau hanya sekadar menjadi penonton tak kasat mata.Tapi malam ini berbeda.Sudah sekitar satu jam matanya tertuju pada salah satu halaman novel Human Acts yang ditulis oleh Han Kang enam tahun lalu, namun Issa tidak benar-benar sedang membaca. Novel yang menceritakan tentang aksi demonstrasi warga Gwangju, Korea tahun 1980 itu malam ini tidak berhasil membawa jiwa dan pikira
Arland yakin sahabatnya satu ini sudah gila. Mungkin tanpa sengaja minum obat diare milik Lue—kucing kesayangannya—atau kerasukan hantu. Tidak heran, gedung apartemen tempat Issa tinggal ini memang sudah lama dirumorkan angker, dan sepertinya salah satu makhluk tak kasat mata itu sedang berada dalam diri Issa saat ini. "Aku mulai merinding melihatmu semakin aneh,” ucap Arland sambil menyentuh tengkuk, seolah membuktikan kata-katanya. Issa tidak menghiraukan Arland sama sekali, mata dan kedua tangannya seharian ini sibuk dengan ponsel. Sesekali ia menyeringai atau tertawa geli, namun tidak ingin mengatakan apa yang sedang ia lakukan maupun apa yang ia lihat pada sahabatnya. "Apa telingamu itu hanya pajangan?" Lagi, Arland mencari perhatian, kesal karena terus menerus diabaikan. "Issa!" Arland meraih sebutir anggur dari piring di atas meja dan melemparnya pada Issa yang berbaring santai di sofa di hadapannya. "Aduh!" Akhirnya kata pertama sejak kedatangan Arland terlontar dari mulu







