เข้าสู่ระบบBeberapa hari terakhir, Alia justru sering berada di luar rumah. Pagi berangkat, siang pulang sebentar, lalu pergi lagi. Kampus baru itu menyita waktunya—berkas, tanda tangan, perkenalan singkat yang melelahkan. Namun anehnya, Alia tidak keberatan. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa… hidup.
Rendra tak benar-benar menyadarinya.
Saat menunggu pesanan kopi di sebuah kafe di jalan utama, pandangan Alia tanpa sengaja terpaku ke satu sudut ruangan.
“Rendra?”
Tak salah lagi. Suaminya duduk berhadapan dengan perempuan itu—karyawan baru di kantor Rendra. Ingatan Alia langsung melompat pada insiden air minum yang membuatnya dimarahi beberapa hari lalu.
Alia menelan ludah.
“Kalau aku samperin, pasti dia bilang urusan kerja,” gumamnya. “Tapi…”Kalimatnya terputus saat Siska tertawa kecil dan jemarinya menyentuh ujung lengan baju Rendra. Sentuhan singkat, tapi cukup membuat dada Alia sesak.
“Dasar—”
Alia baru melangkah satu langkah ketika seseorang menghadangnya. Seorang pria berjaket kulit, bertubuh lebih tinggi darinya.
“Kamu?”
Pria itu tampak kikuk. “M-maaf, Mbak. Aku cuma penasaran. Dari tadi lihat Mbaknya kayak kenal dan benar saja, mbak yang waktu itu.”
“Minggir,” potong Alia dingin. “Kita nggak kenal.”
Ia mencoba melewatinya, tapi lagi-lagi langkahnya tertahan oleh tubuh tinggi didepannya.
“Kamu bisa minggir nggak? Orang aneh,” ucap Alia tajam.
“Aku mau minta maaf soal kecelakaan itu, jadi—”
Alia menghela napas kasar. Pandangannya kembali ke arah meja tadi.
Kosong.
“Nah kan,” ucapnya getir. “Gara-gara kamu, suamiku pergi.”
Alih-alih merasa bersalah, pria itu justru tersenyum tipis, lalu melipat kedua tangannya dengan santai. Kemudian ia mengambil kopi pesanannya dan beranjak dari sana usai mengatakan,
“Harusnya Mbak berterima kasih,” katanya tenang. “Kalau bukan karena aku, mungkin Mbak sudah berdiri di sana… dan melihat sesuatu yang lebih menyakitkan.” Dan dia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari cafe.
Alia menyusul langkah laki-laki itu yang juga setelah mengambil pesananya, bukan untuk mengucap terima kasih—apalagi merasa berutang budi.
“Hei!” panggilnya tajam.
Pria itu berhenti. Baru kali ini Alia melihat wajahnya lebih jelas. Rahangnya tegas, sorot matanya santai seolah tak merasa bersalah sama sekali.
“Kamu sudah keterlaluan,” kata Alia tanpa basa-basi. “Kamu terlalu ikut campur urusan orang lain.”
Alih-alih meminta maaf, pria itu justru tersenyum lebar, nyaris terlalu bersemangat.
“Wah, galak juga ya, Mbak.” katanya ringan. “Kenalin, Arhan Dirgantara.”
Ia menjulurkan tangan, tapi Alia sama sekali tak menyambutnya.
“Aku nggak butuh kenalan,” balas Alia dingin. “Apalagi sama orang yang seenaknya menghalangi orang lain.”
Arhan menurunkan tangannya, sama sekali tidak tersinggung. “Santai, Mbak. Aku cuma merasa… Mbak tadi kelihatan butuh waktu buat mikir, bukan buat ribut.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Sekarang mungkin belum,” sahut Arhan cepat. “Tapi bisa jadi nanti.”
Alia mendengus kesal. “Apa lagi maumu?”
Arhan menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menatap Alia dengan ekspresi jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
“Jujur aja, aku lagi butuh kerjaan,” katanya. “Dan aku lihat Mbak… kayaknya butuh sopir pribadi.”
Alia terdiam sejenak.
“Iya. Aku bisa nyetir, hafal jalan kota, jam fleksibel. Dan tepat waktu, janji.” Senyum Arhan kembali muncul. “Anggap aja barter. Aku cari uang, Mbak cari kenyamanan, gimana?”
Alia menatapnya lama, seolah memastikan laki-laki ini waras atau tidak.
“Kamu pikir aku bakal percaya sama orang asing yang baru saja bikin masalah?”
Arhan mengangkat bahu. “Percaya itu bisa dibangun. Tapi kesempatan… biasanya cuma lewat sekali.”
Alia hendak membalas, namun kata-katanya tertahan.
Alia menatap Arhan dari ujung rambut sampai sepatunya, dengan terang-terangan. Raut kesalnya sama sekali tak ia sembunyikan.
“Kamu serius?” tanyanya sinis. “Dengan penampilan kayak gini, kamu bilang butuh uang?”
Arhan mengangkat alis. “Penampilan emang suka nipu, sih. Namanya juga anak muda.”
“Jaket kulit, jam tangan mahal, motor sport,” Alia menyebut satu per satu. “Kamu kelihatan seperti orang yang tinggal mikir mau liburan ke mana, bukan cari kerja.”
Arhan tertawa kecil, tapi kali ini terdengar hambar.
Alia menyilangkan tangan. “Aku nggak tertarik. Dan aku juga nggak butuh sopir. Jadi berhenti ngotot.”
Ia berbalik, bersiap pergi. Namun Arhan melangkah cepat dan kembali berdiri di depannya.
“Tunggu,” katanya. “Dengar dulu.”
“Aku bilang nggak.”
“Aku tahu,” sahut Arhan pelan. “Tapi aku juga lagi nggak punya banyak pilihan.”
Nada suaranya berubah. Tidak lagi santai, dan tidak lagi bercanda. Itu yang membuat langkah Alia terhenti.
Arhan menghela napas panjang. “Kecelakaan kemarin itu… sampai ke telinga ayahku.”
Alia menoleh, ragu tapi penasaran.
“Dan seperti dugaan,” lanjut Arhan, “semua ATM-ku dibekukan. Kartu kredit, akses rekening, pokoknya semuanya yang selama ini menjadi penyelamat masa mudaku.”
Alia mengernyit. “Sampai segitunya?”
“Ayahku orang yang nggak suka anaknya bikin masalah,” jawab Arhan singkat. “Dan caranya menghukum, ya begini. Disuruh hidup sendiri.”
Ia tersenyum tipis, pahit.
“Kos?” Alia mengulang refleks.
“Iya. Kos-kosan kecil dekat kampusku,” kata Arhan. “Aku juga dipindahkan ke sana. Katanya biar aku belajar rasain hidup normal.”
Alia terdiam. Cerita itu terdengar terlalu jujur untuk sekadar mengarang.
“Tapi itu tetap bukan urusanku,” katanya akhirnya, meski suaranya tak setajam tadi.
Arhan mengangguk. “Aku tahu. Makanya aku nggak maksa Mbak buat kasihan.”
“Terus?”
“Aku cuma minta kesempatan,” ujarnya mantap. “Kalau Mbak nggak cocok, Mbak bisa pecat aku kapan aja. Tanpa ada drama segala.”
Alia menatapnya lama. Untuk sesaat, ia melihat bukan laki-laki sok santai yang mengganggunya di kafe tadi, tapi seseorang yang sedang jatuh dari dunianya sendiri. Meski Alia tidak tahu apakah dia benar atau mengarang tapi setidaknya dia punya alasan dan justru itu yang membuat hatinya makin waspada.
“Orang sepertimu,” ucap Alia pelan, “biasanya yang suka membawa masalah.”
Arhan tersenyum kecil. “Aku nggak menyangkalnya.”
Alia terdiam cukup lama. Pikirannya berputar, menimbang hal-hal yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jadwal kampusnya akan semakin padat. Mengajar, rapat, administrasi, semuanya menuntut waktu dan tenaga. Dan jujur saja, menyetir sendiri di tengah kemacetan akan membuatnya kelelahan sebelum hari benar-benar dimulai.
“Kalau cuma buat antar jemput,” ucap Alia akhirnya, masih terdengar ragu, “dan nggak banyak ikut campur urusanku, sepertinya bisa dipertimbangkan.”
Arhan tersenyum lega. “Deal.”
Alia menghela napas, lalu mengangguk kecil.
Arhan segera menjulurkan tangannya. “Terima kasih, Mbak—”
Alia menyambut uluran itu. Telapak tangan mereka baru saja bersentuhan ketika—
“Alia?”
Suara itu datang dari arah belakang. Tubuh Alia seketika menegang dan jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat sebelum berdentum keras di dadanya. Perlahan, ia menoleh.
Rendra berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya sulit dibaca, pandangannya jatuh tepat pada tangan Alia yang masih berada dalam genggaman Arhan.
Alia refleks menarik tangannya, napasnya tercekat. Untuk sepersekian detik, ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dan tidak ada harapan untu bernafas lega.
Bukannya menjauh, Arhan justru mempererat posisinya. Ia sengaja tetap menunduk, tangannya masih berada di tengkuk Alia, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu yang sangat intim ke telinga dosennya itu. Ia melirik Rendra dari sudut matanya dengan tatapan yang sangat provokatif—sebuah tantangan terang-terangan yang mengatakan bahwa ia tidak takut pada otoritas Rendra."Lepaskan istriku, bajingan!" Rendra menderu, langkahnya yang besar membuat lantai kayu koridor itu bergetar.Arhan perlahan menegakkan tubuh, namun tangannya tetap bertengger di bahu Alia, menahan wanita itu agar tetap di sisinya. "Kenapa? Anda takut kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah Anda jaga dengan baik?" sahut Arhan dengan suara rendah yang tajam."Arhan, lepas." Alia berseru panik. Ia mencoba melepaskan diri dari Arhan, sekaligus ingin menjelaskan pada Rendra. "Rendra, ini ngga kayak yang kamu lihat! Rambutku tersangkut dan—""Diam, Alia!" bentak Rendra. Wajahnya memerah padam, urat-urat di pelipisnya menonj
Alia melangkah masuk ke dalam restoran dengan dagu terangkat, meski hatinya terasa remuk melihat kemesraan Rendra dan Desy di ujung ruangan. Arhan mengekor tepat di belakangnya, wajahnya yang biasanya usil kini berubah menjadi tameng yang kokoh dan protektif.Sesampainya di meja besar yang sudah dipesan Rendra, suasana mendadak hening. Nyonya Sofia menatap Arhan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan."Alia, siapa anak ini? Kenapa dia ikut masuk ke dalam?" tanya Sofia ketus."Ah, dia sopir pribadiku, Ma. Karena Rendra tidak bisa menungguku tadi, aku memutuskan untuk mempekerjakannya agar kita bisa barengan tanpa harus di tinggal lagi," jawab Alia tenang, sembari menarik kursi.Desy menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut. "Aduh, Alia... tapi tidak bagus lho, dilihat orang kalau perempuan yang sudah bersuami sedekat itu dengan laki-laki asing. Apalagi dia kelihatannya masih sangat muda.""Benar kata Desy," timpal Sofia cepat. "Rendra, kamu lihat k
Di ambang pintu, Nyonya Sofia masuk mengekor di belakang Desy dengan wajah yang berseri-seri, seolah-olah baru saja memenangkan lotre. "Rendra! Lihat siapa yang datang!" seru Sofia sambil merangkul pundak Desy. Rendra berdiri, ekspresinya datar. Ada sedikit keterkejutan di matanya, namun ia tetap bersikap sopan. "Desy? Kupikir penerbangan mu besok." "Aku tidak sabar, Rendra. Eh ternyata jadwal penerbanganku dimajukan," sahut Desy dengan suara merdu yang terdengar sangat percaya diri. Ia kemudian menoleh ke arah Alia yang masih berdiri mematung di dekat kursi bimbingannya tadi. "Dan ini... pasti Alia, kan? Hai, aku Desy. Teman lama Rendra." Desy mengulurkan tangan dengan ramah, namun sorot matanya yang tajam seolah sedang menilai penampilan Alia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alia menjabat tangan itu sekilas. "Alia, sayang," suara Sofia memecah kecanggungan, namun nadanya terdengar seperti perintah. "Tolong antar Desy ke kamar tamu di lantai atas. Siapkan semuanya agar dia m
Pagi itu, suasana kampus terasa hambar bagi Arhan. Ia berdiri di depan papan pengumuman jurusan, menatap selembar kertas yang menyatakan bahwa mata kuliah Seni Art hari ini akan diampu oleh dosen pengganti. Firasat buruk yang ia bawa dari gerbang rumah mewah semalam kini semakin nyata. "Dua hari nggak ada kabar, ponsel mati, sekarang kelas diganti... ada yang nggak beres sama Kak Alia," gumam Arhan sambil mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Ia tidak bisa hanya diam menunggu. Arhan melangkah menuju kantor jurusan dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tampak seperti mahasiswa yang sedang frustrasi karena urusan akademik. Di dalam ruangan, ia mendapati Ketua Jurusan, Pak Darmanto, yang sedang sibuk dengan tumpukan berkas. “Permisi, Pak. Saya Arhan, mahasiswa bimbingan Bu Alia,” ucap Arhan dengan nada mengeluh yang dibuat-buat. “Saya mau lapor, Pak. Sudah dua hari saya mencoba menghubungi Bu Alia untuk konsultasi bab terakhir skripsi saya, tapi ponsel beliau tidak akt
Arhan akhirnya memutar kunci motornya. Meskipun hatinya masih terasa berat dan pandangannya terus tertuju pada jendela lantai dua yang gelap itu, ia tahu batasnya. Arhan memacu motornya kembali ke kosan, membiarkan dinginnya angin malam menembus jaket denimnya.----------Di sebuah ruang tamu megah di kediaman ibunya, Rendra duduk dengan dasi yang sudah terlepas, menyesap wiski dengan raut wajah yang masih keruh. Di depannya, sang ibu duduk dengan anggun, namun sorot matanya tajam dan penuh perhitungan."Investasi itu harusnya sudah di tanganmu kalau saja istrimu bisa bersikap sedikit lebih 'berguna', Rendra," ucap ibunya dingin. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada kondisi Alia, baginya menantu hanyalah aset pendukung kesuksesan anaknya."Dia keras kepala, Ma. Alia pikir dia masih punya kuasa seperti dulu ayahnya masih tinggi di perusahaan," Rendra mendesis, membanting gelasnya ke atas meja.Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan rencana lain. "Apa mama bilang
Rendra melemparkan tali pinggangnya ke kursi kulit dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil kunci mobilnya kembali dan merogoh ponsel, menekan nomor ibunya."Halo, Ma? Aku malam ini aku ke rumah, ya. Ada proyek yang harus kubahas dengan relasi di dekat rumah Mama besok pagi," ucapnya dengan suara yang mendadak tenang, seolah-olah tangannya tidak baru saja meninggalkan bilur merah di tubuh istrinya.Tanpa menoleh lagi ke arah gudang, Rendra memacu mobilnya meninggalkan gerbang rumah mewah itu. Ia meninggalkan instruksi mutlak pada kepala pelayan: "Jangan ada yang berani mendekati gudang. Biarkan dia belajar tentang intropeksi dan konsekuensi dari perbuatannya."Di dalam gudang yang pengap, Alia meringkuk di atas lantai semen yang dingin. Perutnya melilit hebat; rasa lapar yang menyiksa berpadu dengan perih di punggung dan lengannya. Ia mencoba merangkak menuju pintu, mengetuknya pelan dengan sisa tenaga yang ada."Tolong...aku haus..." rintihnya parau. Namun, para pelayan di luar







