แชร์

Bab 5 : Pertemuan Kedua

ผู้เขียน: Kim Hwang Ra
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-19 21:13:59

Beberapa hari terakhir, Alia justru sering berada di luar rumah. Pagi berangkat, siang pulang sebentar, lalu pergi lagi. Kampus baru itu menyita waktunya—berkas, tanda tangan, perkenalan singkat yang melelahkan. Namun anehnya, Alia tidak keberatan. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa… hidup.

Rendra tak benar-benar menyadarinya.

Alia selalu pergi setelah urusan rumah selesai. Sempat terlintas keinginannya untuk bercerita, tapi ia mengurungkan niat. Diam terasa lebih aman.

Saat menunggu pesanan kopi di sebuah kafe di jalan utama, pandangan Alia tanpa sengaja terpaku ke satu sudut ruangan.

“Rendra?”

Alisnya mengernyit. “Dan itu… Siska?”

Tak salah lagi. Suaminya duduk berhadapan dengan perempuan itu—karyawan baru di kantor Rendra. Ingatan Alia langsung melompat pada insiden air minum yang membuatnya dimarahi beberapa hari lalu.

Alia menelan ludah.

“Kalau aku samperin, pasti dia bilang urusan kerja,” gumamnya. “Tapi…”

Kalimatnya terputus saat Siska tertawa kecil dan jemarinya menyentuh ujung lengan baju Rendra. Sentuhan singkat, tapi cukup membuat dada Alia sesak.

“Dasar—”

Alia baru melangkah satu langkah ketika seseorang menghadangnya. Seorang pria berjaket kulit, bertubuh lebih tinggi darinya.

“Kamu?”

Pria itu tampak kikuk. “M-maaf, Mbak. Aku cuma penasaran. Dari tadi lihat Mbaknya kayak kenal dan benar saja, mbak yang waktu itu.”

“Minggir,” potong Alia dingin. “Kita nggak kenal.”

Ia mencoba melewatinya, tapi lagi-lagi langkahnya tertahan oleh tubuh tinggi didepannya.

“Kamu bisa minggir nggak? Orang aneh,” ucap Alia tajam.

“Aku mau minta maaf soal kecelakaan itu, jadi—”

Alia menghela napas kasar. Pandangannya kembali ke arah meja tadi.

Kosong.

“Nah kan,” ucapnya getir. “Gara-gara kamu, suamiku pergi.”

Alih-alih merasa bersalah, pria itu justru tersenyum tipis, lalu melipat kedua tangannya dengan santai. Kemudian ia mengambil kopi pesanannya dan beranjak dari sana usai mengatakan,

“Harusnya Mbak berterima kasih,” katanya tenang. “Kalau bukan karena aku, mungkin Mbak sudah berdiri di sana… dan melihat sesuatu yang lebih menyakitkan.” Dan dia kembali melanjutkan langkahnya keluar dari cafe.

Alia menyusul langkah laki-laki itu yang juga setelah mengambil pesananya, bukan untuk mengucap terima kasih—apalagi merasa berutang budi.

“Hei!” panggilnya tajam.

Pria itu berhenti. Baru kali ini Alia melihat wajahnya lebih jelas. Rahangnya tegas, sorot matanya santai seolah tak merasa bersalah sama sekali.

“Kamu sudah keterlaluan,” kata Alia tanpa basa-basi. “Kamu terlalu ikut campur urusan orang lain.”

Alih-alih meminta maaf, pria itu justru tersenyum lebar, nyaris terlalu bersemangat.

“Wah, galak juga ya, Mbak.” katanya ringan. “Kenalin, Arhan Dirgantara.”

Ia menjulurkan tangan, tapi Alia sama sekali tak menyambutnya.

“Aku nggak butuh kenalan,” balas Alia dingin. “Apalagi sama orang yang seenaknya menghalangi orang lain.”

Arhan menurunkan tangannya, sama sekali tidak tersinggung. “Santai, Mbak. Aku cuma merasa… Mbak tadi kelihatan butuh waktu buat mikir, bukan buat ribut.”

“Itu bukan urusanmu.”

“Sekarang mungkin belum,” sahut Arhan cepat. “Tapi bisa jadi nanti.”

Alia mendengus kesal. “Apa lagi maumu?”

Arhan menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menatap Alia dengan ekspresi jauh lebih serius dibanding sebelumnya.

“Jujur aja, aku lagi butuh kerjaan,” katanya. “Dan aku lihat Mbak… kayaknya butuh sopir pribadi.”

Alia terdiam sejenak.

“Sopir?”

“Iya. Aku bisa nyetir, hafal jalan kota, jam fleksibel. Dan tepat waktu, janji.” Senyum Arhan kembali muncul. “Anggap aja barter. Aku cari uang, Mbak cari kenyamanan, gimana?”

Alia menatapnya lama, seolah memastikan laki-laki ini waras atau tidak.

“Kamu pikir aku bakal percaya sama orang asing yang baru saja bikin masalah?”

Arhan mengangkat bahu. “Percaya itu bisa dibangun. Tapi kesempatan… biasanya cuma lewat sekali.”

Alia hendak membalas, namun kata-katanya tertahan.

Alia menatap Arhan dari ujung rambut sampai sepatunya, dengan terang-terangan. Raut kesalnya sama sekali tak ia sembunyikan.

“Kamu serius?” tanyanya sinis. “Dengan penampilan kayak gini, kamu bilang butuh uang?”

Arhan mengangkat alis. “Penampilan emang suka nipu, sih. Namanya juga anak muda.”

“Jaket kulit, jam tangan mahal, motor sport,” Alia menyebut satu per satu. “Kamu kelihatan seperti orang yang tinggal mikir mau liburan ke mana, bukan cari kerja.”

Arhan tertawa kecil, tapi kali ini terdengar hambar.

“Kalau kelihatan kaya berarti punya banyak uang? Gimana kalau ini cuman ngutang?”

Alia menyilangkan tangan. “Aku nggak tertarik. Dan aku juga nggak butuh sopir. Jadi berhenti ngotot.”

Ia berbalik, bersiap pergi. Namun Arhan melangkah cepat dan kembali berdiri di depannya.

“Tunggu,” katanya. “Dengar dulu.”

“Aku bilang nggak.”

“Aku tahu,” sahut Arhan pelan. “Tapi aku juga lagi nggak punya banyak pilihan.”

Nada suaranya berubah. Tidak lagi santai, dan tidak lagi bercanda. Itu yang membuat langkah Alia terhenti.

Arhan menghela napas panjang. “Kecelakaan kemarin itu… sampai ke telinga ayahku.”

Alia menoleh, ragu tapi penasaran.

“Dan seperti dugaan,” lanjut Arhan, “semua ATM-ku dibekukan. Kartu kredit, akses rekening, pokoknya semuanya yang selama ini menjadi penyelamat masa mudaku.”

Alia mengernyit. “Sampai segitunya?”

“Ayahku orang yang nggak suka anaknya bikin masalah,” jawab Arhan singkat. “Dan caranya menghukum, ya begini. Disuruh hidup sendiri.”

Ia tersenyum tipis, pahit.

“Aku disuruh cari kerja buat makan, bayar kos, bayar hidupku dengan usaha sendiri.”

“Kos?” Alia mengulang refleks.

“Iya. Kos-kosan kecil dekat kampusku,” kata Arhan. “Aku juga dipindahkan ke sana. Katanya biar aku belajar rasain hidup normal.”

Alia terdiam. Cerita itu terdengar terlalu jujur untuk sekadar mengarang.

“Tapi itu tetap bukan urusanku,” katanya akhirnya, meski suaranya tak setajam tadi.

Arhan mengangguk. “Aku tahu. Makanya aku nggak maksa Mbak buat kasihan.”

“Terus?”

“Aku cuma minta kesempatan,” ujarnya mantap. “Kalau Mbak nggak cocok, Mbak bisa pecat aku kapan aja. Tanpa ada drama segala.”

Alia menatapnya lama. Untuk sesaat, ia melihat bukan laki-laki sok santai yang mengganggunya di kafe tadi, tapi seseorang yang sedang jatuh dari dunianya sendiri. Meski Alia tidak tahu apakah dia benar atau mengarang tapi setidaknya dia punya alasan dan justru itu yang membuat hatinya makin waspada.

“Orang sepertimu,” ucap Alia pelan, “biasanya yang suka membawa masalah.”

Arhan tersenyum kecil. “Aku nggak menyangkalnya.”

Alia terdiam cukup lama. Pikirannya berputar, menimbang hal-hal yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jadwal kampusnya akan semakin padat. Mengajar, rapat, administrasi, semuanya menuntut waktu dan tenaga. Dan jujur saja, menyetir sendiri di tengah kemacetan akan membuatnya kelelahan sebelum hari benar-benar dimulai.

“Kalau cuma buat antar jemput,” ucap Alia akhirnya, masih terdengar ragu, “dan nggak banyak ikut campur urusanku, sepertinya bisa dipertimbangkan.”

Arhan tersenyum lega. “Deal.”

Alia menghela napas, lalu mengangguk kecil.

“Baiklah. Kita coba.”

Arhan segera menjulurkan tangannya. “Terima kasih, Mbak—”

Alia menyambut uluran itu. Telapak tangan mereka baru saja bersentuhan ketika—

“Alia?”

Suara itu datang dari arah belakang. Tubuh Alia seketika menegang dan jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat sebelum berdentum keras di dadanya. Perlahan, ia menoleh.

Rendra berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya sulit dibaca, pandangannya jatuh tepat pada tangan Alia yang masih berada dalam genggaman Arhan.

Alia refleks menarik tangannya, napasnya tercekat. Untuk sepersekian detik, ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dan tidak ada harapan untu bernafas lega.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 143: Dimana Alia?

    "Ini... ini tulisan dia," bisik Arhan, suaranya tercekat di tenggorokan.Rendra yang sejak tadi menahan napas langsung menoleh tajam. "Siapa? Kamu tahu siapa bajingan ini?!""Bagas," jawab Arhan, matanya melotot menatap kosong. "Dia mahasiswa bimbingan Kak Alia juga, satu kelas denganku. Dia anak kesayangan jurusan. Aku sering liat tulisan tangan ini di papan tulis waktu dia presentasi tugas kelompok. Nggak salah lagi, ini tulisan Bagas!"Mendengar nama itu, Rendra tidak membuang waktu. Rendra langsung mengerahkan seluruh koneksi dan tim keamanan siber perusahaannya, sementara Arhan memberikan segala detail informasi mengenai Bagas.Bagas layaknya hantu. Semenjak tulisan yang dia kirim dibelakang polaroid, dia hilang seperti di telan bumi bahkan tempat tinggalnya kosong dan pemilik kosan bilang kalau dia sudah pindah sebulan yang lalu, dan tidak tahu kemana dia pindah setelahnya. Bagas yang hilang begitu juga Alia, tak ada yang tahu dia kemana seakan dunia dua pria itu hancur melihat

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 142: Penculikan

    Deru mesin sepeda motor, dia tidak memedulikan angin malam yang menghantam wajahnya tanpa ampun, ataupun beberapa kali bannya selip saat melewati jalanan berbatu yang sepi."Bertahan, Kak... please, bertahan," bisik Arhan di balik helmnya, napasnya memburu.Begitu sampai di koordinat yang dituju, Arhan langsung mengerem keretanya dengan kasar hingga menciptakan bunyi decitan panjang di atas tanah kering. Arhan melompat dari motornya tanpa mencabut kunci. Dia berlari menerobos pintu besi gudang yang sudah berkarat dan setengah terbuka."Kak Alia?! Kak?!" teriak Arhan, suaranya menggema parau di dalam ruangan luas yang pengap dan berdebu itu.Dia menyalakan senter dari ponselnya, mengarahkan cahayanya ke segala penjuru arah. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi penyergapan atau baku hantam dengan bajingan yang nekat menculik dosennya.Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Gudang itu kosong, sampai akhirnya sorot senter ponselnya menangkap sebuah kursi kayu yang tegak di tengah

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 141: Drama Apa Ini?

    Hanya dalam hitungan detik, dada Alia terasa sesak, pandangannya yang memang sudah kabur oleh air mata langsung diselimuti titik-titik hitam yang berputar cepat, hingga akhirnya kesadarannya tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas, jatuh pasrah di dalam dekapan pria asing bertopeng tersebut.Pria itu mendengus pelan, memastikan korbannya benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mengangkat tubuh Alia yang pingsan ke atas bahunya, menyambar koper pakaian Alia di sudut ruangan, lalu melangkah keluar melalui pintu penghubung rahasia di dalam kamar mandi yang entah bagaimana bisa dia akses. Kamar hotel nomor 204 itu kembali sunyi senyap, menyisakan bau kimia yang menguar tipis di udara dan selimut yang acak-acakan di atas ranjang.Sementara itu, di luar gedung hotel Arhan berjalan gontai menyusuri trotoar. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Dia merogoh saku celananya, berniat mengambil kunci sepeda motor namun kedua sakunya k

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 140: Siapa Dia?

    "Benar, Pak Rendra..." cicit Arhan, suaranya dibuat bergetar seolah ketakutan setengah mati pada wibawa Rendra. Dia mengeluarkan beberapa map folio dan sebuah laptop kecil dari dalam tasnya, memperlihatkannya kepada Rendra dan dua pria tegap di belakangnya. "Aku cuma mengantar berkas-berkas ini atas perintah Bu Alia. Tadi sore setelah urusan di rektorat selesai, aku kembali ke ruang dosen untuk mengambil barang-barang ini. Karena jalanan macet dan aku harus mengurus administrasiku dulu, aku baru aja sampai di hotel ini. A ku gak ada niat macem-macem kok, Pak."Rendra menatap map-map folio yang ditunjukkan Arhan dengan tatapan tidak percaya. Dia melirik ke arah salah satu pria berjas kulit di belakangnya. Pria itu, yang ternyata adalah seorang mantan interogator kepolisian yang disewa Rendra, maju selangkah lalu menatap intens ke arah gestur tubuh Arhan dan Alia."Bu Alia," pria tegap itu membuka suara, nadanya menyelidik. "Pelacakan kami menunjukkan adanya panggilan dari nomor satelit

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 139: Melindungi Monster

    "Arhan... cinta itu bukan seperti ini," bisik Alia pelan, suaranya terdengar sangat lelah. "Kamu gak bisa maksa seseorang buat tinggal dengan cara membakar seluruh dunianya."Arhan menunduk, bahunya bergetar lagi. "Aku tahu, Kak... aku tahu aku bodoh. Tapi tolong... tolong jangan tinggalin aku. Aku bakal kerja apa aja setelah ini. Aku bakal keluar dari kampus kalau Kakak mau. Aku bakal buru-buru cari kerjaan legal, kumpulin uang buat beli susu bayi ini. Asalkan... asalkan Kak Alia ada di sampingku. Tolong, Kak..."Suasana di dalam kamar hotel melati itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Arhan yang perlahan mereda menjadi helaan napas pasrah. Alia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Hidupnya sudah bergeser dari satu drama pernikahan yang dingin, masuk ke dalam lingkaran obsesi anak muda yang berbahaya.Arhan perlahan bangkit dari posisi berlututnya. Dia meletakkan ponsel murah berisi rekaman video itu di atas kasur, tepat di depan Alia."Ini... aku sera

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 138: Pengakuan

    Arhan mematikan rekaman suara di ponselnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jaket dengan gerakan santai. Dia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka, membuat Alia terus mundur ketakutan hingga bagian belakang lututnya membentur tepian ranjang."Maaf ya, Kak Alia sayang... aku terpaksa harus main kotor kayak gini," ucap Arhan, suaranya kembali normal, namun nadanya terdengar begitu dingin dan penuh manipulasi.Arhan membungkukkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Alia yang dipenuhi air mata keputusasaan. "Siang tadi di koridor, aku sadar satu hal saat melihat Rendra membelamu. Pria dewasa yang mapan kayak dia gak bakal pernah bisa dikalahin oleh bocah kayak aku. Kalau aku main bersih, Kak Alia cepat atau lambat pasti bakal milih balik sama dia karena kemapanannya, atau Kak Alia bakal milih hidup mandiri dan ninggalin aku."Arhan menyunggingkan senyuman liciknya, tangannya perlahan terangkat untuk mengusap air mata di pipi Alia yang kaku karena syok."Aku gak mau ke

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status