Home / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 7 : Kenapa Perduli?

Share

Bab 7 : Kenapa Perduli?

Author: Kim Hwang Ra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-10 10:44:42

Petugas UKS masuk sambil membawa kotak obat dan selembar kapas baru. Tatapannya sempat jatuh pada Arhan yang berdiri terlalu dekat dengan ranjang periksa.

“Lukanya tidak dalam kok, Bu,” ujar petugas itu sambil berjongkok di depan Alia. “Tapi sebaiknya jangan banyak jalan dulu.”

“Iya, terima kasih,” jawab Alia pelan.

Petugas itu lalu menoleh ke Arhan. “Kamu kenapa masih di sini? Bukannya kelas sudah mulai?”

Arhan mengangkat bahu santai. “Saya nemenin dosen baru, Bu. Beliau masih belum terlalu hafal lingkungan kampus.”

Petugas UKS mengerling tipis, jelas ragu. “Oh ya?”

“Iya,” Arhan menyahut cepat, seolah sudah biasa berbohong dengan wajah tenang. “Takut nyasar.”

Alia melirik Arhan tajam. “Aku baik-baik saja.”

“Iya, tapi kan—” Arhan menyeringai tipis. “Kalau jatuh lagi bakal repot.... Bu dosen.” akhir kata yang ditekan.

Petugas UKS mendengus kecil. “Kamu ini memang selalu aja ada alasannya.” Lalu ia berdiri. “Sudah, habis ini kamu balik ke kelas. Jangan bikin masalah lagi.”

“Siap,” jawab Arhan ringan.

Begitu petugas itu keluar, suasana kembali hening. Alia merapikan ujung rok panjangnya, lalu bangkit perlahan.

“Kamu kembali ke kelas,” katanya tegas. “Aku juga mau ke ruang dosen.”

Arhan tidak langsung bergerak. Ia menatap Alia, sorot matanya kali ini lebih serius dari sebelumnya.

“Kak, aku serius.”

Alia berhenti. “Soal apa?”

“Soal sering ketemu,” jawab Arhan jujur. “Dan soal aku mau lebih dari sekadar sopir pribadi.”

Alia menghela napas, lelah. “Arhan, kamu mahasiswa itu. Dan aku juga istri orang.”

“Aku tahu,” sahut Arhan cepat. “Justru itu.”

Alia menoleh tajam. “Itu bukan hal yang bisa kamu jadikan tantangan, kamu mau jadi pelakor?”

Arhan tersenyum miring, bukan senyum menggoda, melainkan senyum orang yang terbiasa tidak ditanggapi serius.

“Aku cuma bilang apa yang aku pikirin, toh juga suami kakak ngga bakal tahu.”

Alia mengambil tasnya. “Mulai sekarang, jaga sikap kamu. Di kampus, kamu itu mahasiswa. Di luar kampus, kamu itu sopirku. Itu pun kalau aku jadi pakai jasamu.”

Arhan akhirnya melangkah mundur. “Baik, Bu Dosen.”

Nada itu sengaja ia buat santai, tapi matanya masih menahan sesuatu.

Saat Alia berjalan keluar UKS, langkahnya sedikit pincang, pikirannya jauh lebih kacau daripada lututnya yang terluka. Hari pertama mengajar sudah cukup melelahkan dan entah kenapa, Arhan kembali berada di pusat kekacauan itu.

Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya sekarang:

kelas barunya, atau mahasiswa yang bernama Arhan, atau kenyataan bahwa hidupnya perlahan mulai bergerak ke arah yang tak lagi bisa dikendalikan Rendra.

----------

Kantin kampus siang itu riuh seperti biasa. Suara sendok beradu, tawa mahasiswa, dan obrolan yang tumpang tindih memenuhi ruangan. Beberapa dosen tampak duduk di sudut, menikmati makan siang sambil berbincang pelan.

Alia memilih meja agak pinggir. Ia makan sendiri, mencoba menikmati jeda singkat sebelum kelas berikutnya. Baru beberapa suap, bayangan seseorang jatuh di atas mejanya.

“Bu Alia.”

Alia mendongak.

Arhan berdiri di sana, diapit dua temannya—sama-sama laki-laki, wajah mereka penuh rasa ingin tahu. Salah satu bahkan tersenyum lebar, jelas menyadari situasi yang agak janggal.

Refleks, Alia langsung meraih nampannya, bergerak pindah tanpa suara.

“Tunggu,” kata Arhan cepat.

Tangannya menahan ujung meja, bukan menyentuh Alia, tapi cukup membuat langkah Alia terhenti. Ia menyodorkan selembar kertas terlipat.

“Ini buat kak—eh, buat Ibu.”

Alia mengerutkan kening, lalu menerima kertas itu. Begitu membacanya, napasnya tertahan.

Surat pemberitahuan resmi.

Penetapan dosen pembimbing kepada Bu Alia Salsabila.

Nama mahasiswa: Arhan Dirgantara.

Alia menatap kertas itu lama, lalu mengangkat wajah perlahan. Senyum tipis muncul di bibirnya, terpaksa, namun tetap profesional.

“Oh… begitu,” ucapnya pelan.

Arhan tampak santai. “Mulai semester akhir nanti.”

Salah satu temannya menyenggol bahu Arhan. “Wah, enak banget dapet dosen pembimbing cakep.”

“Diam,” potong Arhan singkat, tapi senyumnya tak hilang.

Alia menahan diri. Ia melipat kembali kertas itu, lalu berdiri sedikit mendekat ke Arhan dan berbisik rendah, nyaris tak terdengar.

“Di kampus, kamu harus panggil saya Bu.”

Arhan menunduk sedikit agar sejajar dengannya. “Kalau Bu dosen terlalu cuek, mungkin....”

Alia menatapnya tajam.

“Aku bakal panggil kak Alia,” lanjut Arhan, santai, penuh keusilan. “Di depan semua orang.”

Dua temannya terkekeh, jelas menikmati ketegangan kecil itu.

Alia menarik napas panjang, menahan kesal yang mulai naik. Senyumnya tetap terpasang, rapi, dan seolah semua baik-baik saja.

“Baiklah” katanya akhirnya, nada datarnya kembali. “Saya duluan.”

Arhan mundur selangkah, masih tersenyum.

“Iya, Bu Dosen.”

Alia kembali melanjutkan langkahnya, dan selera makannya sudah menghilang. Di balik wajah tenangnya, ia menyadari satu hal, dunia barunya di kampus tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.

-----------

 Saat di parkiran Alia menekan tombol starter mobilnya sekali lagi.

Tidak ada suara selain dengusan mesin yang gagal hidup.

“Serius?” gumamnya.

Ia turun dari mobil, berjongkok, lalu menghela napas panjang saat melihat kondisi bannya. Kempes. Jelas bocor. Entah sejak kapan. Alia melirik jam di ponselnya.

Dadanya langsung terasa tidak enak. Rendra sudah mengirim pesan singkat beberapa menit lalu:

Aku pulang cepat. Kita makan di rumah.

Kalimat sederhana, tapi Alia tahu artinya kalau Rendra tidak suka menunggu.

Ia berdiri di samping mobil, bingung harus bagaimana, saat suara motor berhenti tak jauh darinya.

“Kak?”

Alia menoleh. Arhan, dengan helm yang masih terpasang di kepala, mulai menurunkan standar motornya.

“Kenapa?”

“Ban mobilnya bocor,” jawab Alia jujur.

Arhan melirik ban mobil itu sekilas. “Nggak bisa dipaksa jalan. Nanti berbahaya.”

“Aku tahu,” Alia menghela napas. “Tapi aku harus pulang cepat.”

Arhan membuka helmnya, rambutnya sedikit berantakan. “Aku anterin.”

Alia refleks menggeleng. “Nggak usah. Aku bisa—”

“Kak,” potong Arhan tenang. “Aku cuma nganter. Lagian rumah kakak kan nggak jauh.”

Alia ragu. Bayangan wajah Rendra muncul di kepalanya. Nada suaranya. Tatapan dinginnya saat ia terlambat.

Ia menggigit bibir. “Cuma sampai depan rumah aja.”

Arhan tersenyum. “Iya. Naik aja.”

Sepanjang jalan, Alia duduk kaku di jok belakang. Tangannya berpegangan ringan, jaga jarak.

Sementara Arhan… tetap santai. Dari kaca spion, ia sesekali melirik Alia. Senyum kecil tak pernah lepas dari wajahnya.

“Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Alia akhirnya.

“Enggak apa-apa,” jawab Arhan ringan. “lucu aja kalau bayangin aku jadi pelakor.”

“kayaknya kamu bangga ya,” balas Alia cepat.

Tak lama, motor itu berhenti di depan rumah Alia.

“Terima kasih,” ucap Alia sambil turun.

“Iya,” Arhan ikut turun. “Besok aku je--.”

Kalimat itu belum selesai sepenuhnya ketika Alia membeku.

Di depan pintu rumah… Rendra sedang berdiri. Ponsel masih menempel di telinganya, wajahnya tegang melihat Alia. Ia menurunkan ponselnya perlahan saat melihat Alia dan Arhan di depan pagar rumah.

Tatapan Rendra tajam. Dan rahangnya mengeras.

“Kenapa kamu pulang bareng dia?” suaranya rendah, tapi jelas menahan amarah.

Alia menelan ludah. “Mobilku tadi bocor. Dia cuma—”

“Dia?” Rendra melirik Arhan dari ujung kepala sampai kaki. “Laki-laki ini lagi?”

Arhan berdiri tegak. “Pak, saya cuma mengantar—”

“Tidak ada yang nanyain kamu,” potong Rendra dingin.

Alia melangkah setengah maju. “Ren—”

“Masuk,” perintah Rendra singkat. “Sekarang.”

Nada itu membuat Alia terdiam.

Arhan menatap Alia sebentar, ingin bicara, tapi Alia menggeleng pelan.

Rendra membuka pintu rumah lebih keras dari perlu, lalu berhenti di ambang pintu.

“Dan kau,” katanya pada Arhan tanpa menoleh. “Jangan pernah dekatin istriku lagi.”

Pintu tertutup. Menyisakan Arhan di luar dan Alia di dalam rumah, dengan jantung yang berdegup tak karuan. Dan Alia tahu, malam ini… tidak akan berakhir tenang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 94 : Malam Yang Panas

    Awalnya, Arhan menautkan bibir mereka dengan lembut, memberikan lumatan-lumatan kecil yang manis. Namun, ketika dia merasakan Alia menyambut ciumannya dengan antusiasme yang sama, Arhan langsung memperdalam ciuman mereka. Lidah mereka saling bertautan, bertukar saliva di tengah desahan napas yang kian memburu.“Manis sekali, Kak…” gumam Arhan di sela-sela pagutan panas mereka, menghirup napas sedalam mungkin dari bibir Alia.Mereka terus berciuman dengan panas di bawah benderangnya lampu kamar, sesekali menyunggingkan senyum di tengah ciuman saat gairah mereka saling beradu. Didorong oleh adrenalin yang membakar, Alia tiba-tiba membalikkan posisi mereka dengan gerakan yang lincah. Kini, Alia berada di posisi atas, menduduki perut rata Arhan.Dengan gerakan yang perlahan namun pasti, jemari Alia membuka kaos yang dikenakan Arhan satu per satu, lalu menyisihkannya dari bahu kokoh pemuda itu. Begitu kain itu terlepas, terpampanglah bentuk tubuh a

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 93 : Apa Alia Berkhianat?

    Melihat Arhan yang berada di atas tubuhnya dengan jarak sedekat ini, pikiran Alia mendadak terlempar kembali pada sekelumit kejadian traumatis di pesta beberapa jam lalu. Bayangan Rendra yang tersenyum palsu, merayakan pertunangan sandiwara dengan Desy di atas panggung, seketika melintas. Rasa muak, jijik, dan kemarahan atas pengkhianatan suaminya itu membakar dada Alia. Rasa sakit itu menjadi sebuah keputusasaan yang liar. Melihat ketulusan, ketampanan, dan tatapan penuh gairah dari pemuda di atasnya saat ini, Alia seperti kehilangan akal sehatnya. Dia tidak peduli lagi pada dunia. Dia hanya ingin membalas rasa sakit itu dengan cara yang paling ekstrem.“Sepertinya hadiah ulang tahunku dari kamu belum aku terima, kan?” ujar Alia tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu tenang.Bersamaan dengan kalimat itu, kedua lengan Alia bergerak lambat, naik melingkari leher Arhan, menarik tubuh pemuda itu agar semakin merapat. Arhan sedikit terkejut dengan respons berani

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 92 : Malam Berbahaya

    Arhan ikut salah tingkah setengah mati. Ia langsung berdiri tegak, menjauhkan tubuhnya dengan kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Matanya bergerak liar menatap ke segala arah—ke langit-langit, ke lantai, ke pintu—asal tidak menatap langsung ke arah mata Alia."E-eh, iya, Kak! Gak apa-apa! Santai saja, aku tahu Kakak cuma kaget karena takut gelap tadi," sahut Arhan dengan suara yang mendadak cempreng karena gugup. Ia berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya. "Nah... lagian sekarang lampunya sudah menyala. Berarti... semuanya sudah aman, kan?"Alia hanya bisa menunduk dalam-dalam, meremas ujung kaus kekecilan milik Arhan yang digunakannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya mau copot. "Iya... sudah menyala."Arhan mencoba tersenyum, meski senyumannya terlihat sangat kaku karena menahan gejolak di dadanya. "Ya sudah kalau begitu, Kak. Kakak bisa melanjutkan tidurnya dengan tenang. Selamat malam, Kak."

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 91 : Mati Lampu

    Arhan yang menyadari arah pemikiran Alia langsung berdehem pelan, mencoba menghilangkan ketegangan di antara mereka. "Ah, soal itu! Kakak bisa tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah ini, ngga jauh dari ruang keluarga. Perlengkapan di kamar itu sudah lengkap kok, Kak. Kasurnya luas, selimutnya tebal, dan ada kamar mandi dalam juga. Jadi Kakak tidak perlu khawatir, semuanya aman dan privat. Aku tidur di lantai atas."Alia mengembuskan napas lega yang sangat kentara, merasa bersyukur karena Arhan sangat peka dan menghormati batasannya. "Baiklah. Terima kasih."Arhan beranjak menuju kamarnya, begitu sampai di depan lemari pakaiannya, ia mulai membongkar tumpukan baju. Ia menarik beberapa kaus oblong hitam dan abu-abu miliknya, namun begitu membayangkannya, ia langsung menggelengkan kepala."Kausku ukurannya XL semua. Kalau dipake Kak Alia, yang ada tenggelam. Malah kayak daster kebesaran," gumam Arhan pada diri sendiri.Ia terus mencari hingga ke bagian laci paling bawah. Tiba-tiba,

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 90 : Menginap

    Alia menggelengkan kepalanya cepat sambil mengunyah, ia menghapus air matanya dengan tisu yang ada di meja. "Gak... mienya enak banget. Gak kepedesan kok.""Terus kenapa nangis?" tanya Arhan dengan suara yang melembut, matanya menatap lekat penuh perhatian."Aku cuma... aku cuma merasa bodoh," bisik Alia, suaranya parau. "Hari ini ulang tahunku. Aku membayangkan akan makan malam romantis di restoran mewah dengan suamiku. Tapi kenyataannya... aku malah berakhir di sini, makan mie instan di rumah mahasiswaku sambil menangis karena suamiku baru saja bertunangan dengan wanita lain di depan umum."Arhan terdiam, hatinya terasa berdenyut sakit mendengar ucapan Alia. Namun, ia mencoba merubah sudut pandang wanita itu. "Kak, menurutku makan mie instan malam ini jauh lebih terhormat daripada makan makanan mewah di hotel tadi tapi beralaskan kebohongan. Di sini, Kakak bisa jadi diri Kakak sendiri.”Alia menatap Arhan lama melalui sisa air matanya, meresapi kalimat pemuda itu. Benar. Di sini ia

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 89 : Mie Instan Istimewa

    Sepeda motor Arhan melambat, melewati gerbang besi tinggi otomatis yang terbuka perlahan, Alia menghapus sisa air mata di pipinya, memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Di dalam benaknya, ia sempat tertegun. Rumah ini bahkan jauh lebih besar dan megah daripada rumah yang ia tempati bersama Rendra.Suasana di dalam rumah sangat sunyi. Begitu pintu utama dibuka, hanya ada Bi Sumi, asisten rumah tangga paruh baya yang sudah lama bekerja di sana, berjalan tergesa-gesa menyambut mereka."Eh, Den Arhan sudah pulang? Waduh, kok gak bilang-bilang kalau bawa tamu?" tanya Bi Sumi sopan, matanya sempat melirik Alia yang tampak sembab dan kacau meski memakai gaun yang sangat indah."Iya, Bi. Ayah sama Kak Sasha belum pulang kan?" tanya Arhan memastikan."Belum, Den. Kan masih di luar negeri sampai minggu depan.""Ya sudah. Bi, oh ya, Kalau saya gak panggil, Bibi di belakang saja," instruksi Arhan dengan nada dewasa yang jarang ia tunjukkan."Baik, Den. Permisi." Bi Sumi mengangguk pamit

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status