LOGINPetugas UKS masuk sambil membawa kotak obat dan selembar kapas baru. Tatapannya sempat jatuh pada Arhan yang berdiri terlalu dekat dengan ranjang periksa.
“Lukanya tidak dalam kok, Bu,” ujar petugas itu sambil berjongkok di depan Alia. “Tapi sebaiknya jangan banyak jalan dulu.” “Iya, terima kasih,” jawab Alia pelan. Petugas itu lalu menoleh ke Arhan. “Kamu kenapa masih di sini? Bukannya kelas sudah mulai?” Arhan mengangkat bahu santai. “Saya nemenin dosen baru, Bu. Beliau masih belum terlalu hafal lingkungan kampus.” Petugas UKS mengerling tipis, jelas ragu. “Oh ya?” “Iya,” Arhan menyahut cepat, seolah sudah biasa berbohong dengan wajah tenang. “Takut nyasar.” Alia melirik Arhan tajam. “Aku baik-baik saja.” “Iya, tapi kan—” Arhan menyeringai tipis. “Kalau jatuh lagi bakal repot.... Bu dosen.” akhir kata yang ditekan. Petugas UKS mendengus kecil. “Kamu ini memang selalu aja ada alasannya.” Lalu ia berdiri. “Sudah, habis ini kamu balik ke kelas. Jangan bikin masalah lagi.” “Siap,” jawab Arhan ringan. Begitu petugas itu keluar, suasana kembali hening. Alia merapikan ujung rok panjangnya, lalu bangkit perlahan. “Kamu kembali ke kelas,” katanya tegas. “Aku juga mau ke ruang dosen.” Arhan tidak langsung bergerak. Ia menatap Alia, sorot matanya kali ini lebih serius dari sebelumnya. “Kak, aku serius.” Alia berhenti. “Soal apa?” “Soal sering ketemu,” jawab Arhan jujur. “Dan soal aku mau lebih dari sekadar sopir pribadi.” Alia menghela napas, lelah. “Arhan, kamu mahasiswa itu. Dan aku juga istri orang.” “Aku tahu,” sahut Arhan cepat. “Justru itu.” Alia menoleh tajam. “Itu bukan hal yang bisa kamu jadikan tantangan, kamu mau jadi pelakor?” Arhan tersenyum miring, bukan senyum menggoda, melainkan senyum orang yang terbiasa tidak ditanggapi serius. “Aku cuma bilang apa yang aku pikirin, toh juga suami kakak ngga bakal tahu.” Alia mengambil tasnya. “Mulai sekarang, jaga sikap kamu. Di kampus, kamu itu mahasiswa. Di luar kampus, kamu itu sopirku. Itu pun kalau aku jadi pakai jasamu.” Arhan akhirnya melangkah mundur. “Baik, Bu Dosen.” Nada itu sengaja ia buat santai, tapi matanya masih menahan sesuatu. Saat Alia berjalan keluar UKS, langkahnya sedikit pincang, pikirannya jauh lebih kacau daripada lututnya yang terluka. Hari pertama mengajar sudah cukup melelahkan dan entah kenapa, Arhan kembali berada di pusat kekacauan itu. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya sekarang: kelas barunya, atau mahasiswa yang bernama Arhan, atau kenyataan bahwa hidupnya perlahan mulai bergerak ke arah yang tak lagi bisa dikendalikan Rendra. ---------- Kantin kampus siang itu riuh seperti biasa. Suara sendok beradu, tawa mahasiswa, dan obrolan yang tumpang tindih memenuhi ruangan. Beberapa dosen tampak duduk di sudut, menikmati makan siang sambil berbincang pelan. Alia memilih meja agak pinggir. Ia makan sendiri, mencoba menikmati jeda singkat sebelum kelas berikutnya. Baru beberapa suap, bayangan seseorang jatuh di atas mejanya. “Bu Alia.” Alia mendongak. Arhan berdiri di sana, diapit dua temannya—sama-sama laki-laki, wajah mereka penuh rasa ingin tahu. Salah satu bahkan tersenyum lebar, jelas menyadari situasi yang agak janggal. Refleks, Alia langsung meraih nampannya, bergerak pindah tanpa suara. “Tunggu,” kata Arhan cepat. Tangannya menahan ujung meja, bukan menyentuh Alia, tapi cukup membuat langkah Alia terhenti. Ia menyodorkan selembar kertas terlipat. “Ini buat kak—eh, buat Ibu.” Alia mengerutkan kening, lalu menerima kertas itu. Begitu membacanya, napasnya tertahan. Surat pemberitahuan resmi.Penetapan dosen pembimbing kepada Bu Alia Salsabila.Nama mahasiswa: Arhan Dirgantara. Alia menatap kertas itu lama, lalu mengangkat wajah perlahan. Senyum tipis muncul di bibirnya, terpaksa, namun tetap profesional. “Oh… begitu,” ucapnya pelan. Arhan tampak santai. “Mulai semester akhir nanti.” Salah satu temannya menyenggol bahu Arhan. “Wah, enak banget dapet dosen pembimbing cakep.” “Diam,” potong Arhan singkat, tapi senyumnya tak hilang. Alia menahan diri. Ia melipat kembali kertas itu, lalu berdiri sedikit mendekat ke Arhan dan berbisik rendah, nyaris tak terdengar. “Di kampus, kamu harus panggil saya Bu.” Arhan menunduk sedikit agar sejajar dengannya. “Kalau Bu dosen terlalu cuek, mungkin....” Alia menatapnya tajam. “Aku bakal panggil kak Alia,” lanjut Arhan, santai, penuh keusilan. “Di depan semua orang.” Dua temannya terkekeh, jelas menikmati ketegangan kecil itu. Alia menarik napas panjang, menahan kesal yang mulai naik. Senyumnya tetap terpasang, rapi, dan seolah semua baik-baik saja. “Baiklah” katanya akhirnya, nada datarnya kembali. “Saya duluan.” Arhan mundur selangkah, masih tersenyum. “Iya, Bu Dosen.” Alia kembali melanjutkan langkahnya, dan selera makannya sudah menghilang. Di balik wajah tenangnya, ia menyadari satu hal, dunia barunya di kampus tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.-----------
Saat di parkiran Alia menekan tombol starter mobilnya sekali lagi.
Tidak ada suara selain dengusan mesin yang gagal hidup. “Serius?” gumamnya. Ia turun dari mobil, berjongkok, lalu menghela napas panjang saat melihat kondisi bannya. Kempes. Jelas bocor. Entah sejak kapan. Alia melirik jam di ponselnya. Dadanya langsung terasa tidak enak. Rendra sudah mengirim pesan singkat beberapa menit lalu:Aku pulang cepat. Kita makan di rumah.
Kalimat sederhana, tapi Alia tahu artinya kalau Rendra tidak suka menunggu. Ia berdiri di samping mobil, bingung harus bagaimana, saat suara motor berhenti tak jauh darinya.“Kak?”
Alia menoleh. Arhan, dengan helm yang masih terpasang di kepala, mulai menurunkan standar motornya.
“Kenapa?”
“Ban mobilnya bocor,” jawab Alia jujur. Arhan melirik ban mobil itu sekilas. “Nggak bisa dipaksa jalan. Nanti berbahaya.” “Aku tahu,” Alia menghela napas. “Tapi aku harus pulang cepat.” Arhan membuka helmnya, rambutnya sedikit berantakan. “Aku anterin.” Alia refleks menggeleng. “Nggak usah. Aku bisa—” “Kak,” potong Arhan tenang. “Aku cuma nganter. Lagian rumah kakak kan nggak jauh.” Alia ragu. Bayangan wajah Rendra muncul di kepalanya. Nada suaranya. Tatapan dinginnya saat ia terlambat. Ia menggigit bibir. “Cuma sampai depan rumah aja.” Arhan tersenyum. “Iya. Naik aja.” Sepanjang jalan, Alia duduk kaku di jok belakang. Tangannya berpegangan ringan, jaga jarak. Sementara Arhan… tetap santai. Dari kaca spion, ia sesekali melirik Alia. Senyum kecil tak pernah lepas dari wajahnya. “Kamu kenapa senyum-senyum?” tanya Alia akhirnya. “Enggak apa-apa,” jawab Arhan ringan. “lucu aja kalau bayangin aku jadi pelakor.” “kayaknya kamu bangga ya,” balas Alia cepat. Tak lama, motor itu berhenti di depan rumah Alia. “Terima kasih,” ucap Alia sambil turun. “Iya,” Arhan ikut turun. “Besok aku je--.” Kalimat itu belum selesai sepenuhnya ketika Alia membeku. Di depan pintu rumah… Rendra sedang berdiri. Ponsel masih menempel di telinganya, wajahnya tegang melihat Alia. Ia menurunkan ponselnya perlahan saat melihat Alia dan Arhan di depan pagar rumah. Tatapan Rendra tajam. Dan rahangnya mengeras. “Kenapa kamu pulang bareng dia?” suaranya rendah, tapi jelas menahan amarah. Alia menelan ludah. “Mobilku tadi bocor. Dia cuma—” “Dia?” Rendra melirik Arhan dari ujung kepala sampai kaki. “Laki-laki ini lagi?” Arhan berdiri tegak. “Pak, saya cuma mengantar—” “Tidak ada yang nanyain kamu,” potong Rendra dingin. Alia melangkah setengah maju. “Ren—” “Masuk,” perintah Rendra singkat. “Sekarang.” Nada itu membuat Alia terdiam. Arhan menatap Alia sebentar, ingin bicara, tapi Alia menggeleng pelan. Rendra membuka pintu rumah lebih keras dari perlu, lalu berhenti di ambang pintu. “Dan kau,” katanya pada Arhan tanpa menoleh. “Jangan pernah dekatin istriku lagi.” Pintu tertutup. Menyisakan Arhan di luar dan Alia di dalam rumah, dengan jantung yang berdegup tak karuan. Dan Alia tahu, malam ini… tidak akan berakhir tenang.Keesokan paginya, mereka berdua kembali ke rutinitas masing-masing. Rendra mengantarkan Alia hingga ke depan gerbang kampus sebelum pria itu melesat membelah jalanan menuju kantor pusat perusahaannya.Alia menjalani hari itu seperti biasa. Ia mencoba menenggelamkan seluruh kemelut pikirannya ke dalam lembar-lembar materi perkuliahan. Setelah mengajar di beberapa kelas yang cukup menguras tenaga, sore harinya seluruh jadwal mengajar Alia akhirnya selesai. Lorong-lorong gedung utama lantai dua mulai tampak lengang ketika Alia berjalan perlahan menuju tangga utama yang menghubungkan area tersebut dengan lobi bawah.Namun, tepat saat kakinya baru saja akan menginjak anak tangga pertama, sebuah suara berat yang sangat ia kenali terdengar sayup-sayup dari arah lorong buntu di sebelah kanan tangga—area dekat loker mahasiswa yang memang selalu sepi jika sore hari."Kamu jangan begini, Han. Dari kemarin ditelpon susah banget, dipesan juga cuma dibaca," suara lembut seorang wanita terdengar man
Deg!Mendengar kalimat Rendra, jantung Alia seolah berhenti berdetak seketika. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan hubungan intim dengan suaminya malam ini, sementara belum genap dua puluh empat jam yang lalu, tubuhnya baru saja dipenuhi oleh benih gairah dan sentuhan tanpa ampun dari Arhan?"Rendra... tunggu dulu," ujar Alia cepat, menahan dada Rendra dengan kedua telapak tangannya ketika pria itu mulai memajukan wajahnya untuk mencium bibirnya.Rendra menghentikan gerakannya, dahinya berkerut tipis. "Kenapa, Alia? Ada yang salah?"Alia memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak lemas, lalu memegang kepalanya sendiri. "Tapi... kayaknya tidak enak badan.... bolehkah kita melakukannya lain kali aja?" tolak Alia dengan halus, berharap suaminya bisa mengerti.Rendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah Alia yang memang tampak sedikit pucat di bawah temaramnya lampu kamar."Pusing lagi?" gumam Rendra, nadanya terdengar agak kecewa. "Padahal aku sengaja bawa kamu ke sini biar kita punya wak
Bzzz… Bzzz… Bzzz…Layar ponselnya menyala, Alia buru-buru merogoh tasnya, mematikan dering ponsel tanpa mengangkatnya, lalu menatap Arhan dengan tatapan yang sudah sepenuhnya mengeras."Maaf, Arhan. Aku harus pergi dan untuk tadi malam….. mungkin aku terbawa suasana aja," ujar Alia dengan suara yang bergetar namun tegas.Tanpa menunggu respons, Alia membalikkan badannya. Ia membuka pintu gudang dengan cepat dan melangkah keluar setengah berlari, dan meninggalkan Arhan di sana.Alia tiba di depan mobil Rendra dengan napas yang sedikit memburu. Ia segera membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam, mencoba mengatur raut wajahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa baru saja."Kamu ngambil tas dan berkas aja kenapa bisa sampai dua puluh menit?" omel Rendra sambil mulai menginjak pedal gas. "Selalu saja buat masalah.""Maaf," sahut Alia pendek, matanya menatap lurus ke kaca depan. "Tadi merapikan beberapa dokumen nilai mahasiswa dulu di meja, makanya agak lama."Rendra hanya mendengus, namun
“Aku menginap di rumah teman SMA-ku,” sahut Alia cepat. Suaranya diatur sedatar mungkin. “Kamu pikir aku sanggup pulang kerumah?”Rendra menghela nafas, “Aku tau, tapi….” Rendra menyipitkan matanya. “Teman SMA yang mana, Alia? Setahuku, semua teman SMA-mu yang dekat sudah pindah ke luar kota setelah menikah. Siapa namanya? Di mana rumahnya?”Alia sudah mengantisipasi kecurigaan itu. “Risa. Kamu mungkin ngga bakal ingat karena dia jarang datang ke acara kumpul-kumpul. Dia baru aja pulang dari luar negri sebulan yang lalu karena mutasi kerja dan sekarang ngontrak rumah di daerah dekat pinggiran kota. Apa aku harus memberikan nomor teleponnya juga, biar kamu bisa menginterogasinya seperti penjahat?”Mendengar nada bicara Alia yang mulai meninggi dan penuh penekanan, Rendra tampak goyah.“Tidak.... bukan begitu maksudku,” ujar Rendra, suaranya melunak drastis. Ia menoleh, menatap istrinya dengan pandangan memelas. “Aku cuma panik. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan.”Alia hanya diam, mem
Jam makan siang, Alia duduk sendiri di kantin kampus. Menikmati uap hangat dari kuah bakso untuk meredakan sedikit rasa capeknya, meski bukan capek karena hal kerja. Baru saja Alia hendak menyuap satu bakso kecil ke dalam mulutnya, bayangan tubuh tegap yang sangat familier tiba-tiba menghalangi pantulan cahaya matahari di mejanya."Permisi, Bu Dosen. Boleh kami bergabung? Meja lain udah pada penuh," suara berat Arhan terdengar, disusul dengan tindakan pemuda itu yang langsung menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Alia tanpa menunggu jawaban.Di belakangnya, Rio menyusul sambil membawa nampan berisi nasi ayam. Rio mengambil tempat duduk tepat di depan Alia dan Arhan. "Siang, Bu Alia. Maaf ya Bu, kami lancang langsung duduk. Tapi kantin beneran kayak pasar, rame banget." ujar Rio merasa tidak enak, berbeda dengan Arhan yang tampak sangat santai.Alia meletakkan sendoknya, mencoba memasang wajah formalnya kembali. "Ah, iya, tidak apa-apa."Arhan melirik ke arah mangkuk Alia yang masih
Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka berdua segera bergegas menuju kampus. Begitu sepeda motor milik Arhan mulai memasuki kawasan jalan utama menuju universitas, kegelisahan Alia semakin memuncak. Sepasang matanya terus bergerak gelisah, menatap kerumunan mahasiswa yang mulai memadati trotoar dan area sekitar gerbang kampus."Arhan, stop. di sini aja," ujar Alia tiba-tiba ketika mereka masih berjarak sekitar lima puluh meter dari gerbang utama."Kenapa, Kak? Ini belum sampai di area parkir dalam.""Ngga apa-apa. Kamu tahu sendiri kan gimana cepatnya gosip menyebar di kampus kita?""Siap, Ibu Dosen Cantik. Sampai bertemu di kelas," sahut Arhan pelan, sengaja menekankan kalimatnya sebelum Alia turun dari sepeda motor Arhan.********Tepat jam sepuluh pagi, Begitu memasuki kelas, pandangan Alia secara tidak sengaja langsung bertabrakan dengan sepasang mata hitam milik Arhan yang duduk di barisan belakang bersama sahabatnya, Rio. Arhan langsung menegakkan tubuhnya, menopang dagunya d







